
“Silahkan masuk, nggak perlu sungkan.”
“Baik Bu.”
“Silahkan duduk.”
“Iya, terimakasih Bu.”
“Ada apa?”
“Maaf Bu, kami dari pihak sekolah hanya ingin mengetahui, kenapa Voni sudah lebih dari satu minggu tak pernah masuk sekolah.
“Voni udah nggak tinggal lagi di rumah ini Bu.”
“Maksud Ibu? Voni pindah?”
“Nggak semenjak dia membunuh Papanya sendiri, aku telah mengusirnya dari rumah ini, biarkan saja dia hidup di luar sana, merasakan betapa kejamnya dunia luar.”
“Tapi Voni itu kan perempuan Bu, pasti sangat berbahaya sekali kalau hidup di jalanan, apa lagi di malam hari.”
“Itu resiko yang harus di jalaninya, sekalian sebagai hukuman untuk kelakuannya yang tidak terpuji itu.”
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu Bu.”
“Silahkan.”
Dengan rasa kecewa, Bu Lita pun keluar dari rumah Luna, dia merasa tak senang mendengar jawaban dari Luna, yang sepertinya bangga dengan semua yang dia lakukan.
“Gimana Bu? apakah Voni ada dirumahnya?” tanya Kepsek ingin tahu.
“Nggak Pak, Voni udah di usir Mamanya.”
“Diusir! di usir gimana?”
“Ya, Voni emang telah mereka usir dari rumahnya Pak.”
“Lalu di mana anak itu tidur?”
“Saya nggak tahu Pak. Tapi yang pasti, saat ini Voni telah tidur di jalan, bersama anak jalanan lainnya.”
“Kasihan sekali nasib gadis itu.”
“Iya Pak.”
"Padahal dia sangat pintar dan jenius, o iya Bu, tolong Ibu perintahkan beberapa orang untuk mencari keberadaan Voni, nanti saya yang akan menanggung biaya nya."
"Baik Pak."
“Saya punya ide Pak, gimana kalau setelah kita pulang sekolah nanti kita mencari keberadaan Voni bersama-sama.”
“Ya, saya setuju Bu, nanti setelah kita pulang, kita mulai bergerak untuk mencari keberadaan Voni, semoga saja dia belum jauh dan belum keluar dari kota ini.”
“Ya, semoga saja begitu.”
Setelah kesepakatan terlaksana dan acara belajar mengajar selesai, semua guru langsung bersama-sama mencari keberadaan Voni, anak yatim yang telah di telantarkan oleh Ibu kandungnya sendiri.
Para guru-guru itu, mencari keberadaan Voni hampir ke seluruh sudut kota, bahkan mereka sampai masuk ke pelosok Desa, namun mereka tak ada yang bisa menemukan keberadaannya.
Sementara Voni yang saat itu sedang tertidur, dia mulai terbangun dan melihat semua yang ada di sekitarnya.
“Ya Allah, teryata aku tidur di rumah tua ini semalaman,” gumam Voni pelan.
__ADS_1
Karena lapar, Voni mencoba berdiri dan berjalan kearah luar gedung, di antara begitu banyak yang dia temui, ternyata tak satupun yang dapat mengenali dirinya saat itu.
Voni menjadi semakin sedih, dia tak tahu mesti berbuat apa, lalu voni mencoba duduk diam di pinggir trotoar jalan. Tak berapa jauh dari tempat duduknya, Voni melihat ada seorang perempuan yang sedang menampungkan tangannya untuk meminta belas kasihan orang yang lewat.
Lalu Voni mencoba hal yang sama, dia duduk diam dan menampungkan kedua tangannya ke atas, tak berapa lama kemudian, beberapa orang yang lewat, menjatuhkan beberapa uang logam ketangan Voni.
Setelah di hitung, uang itu cukup untuk membeli nasi bungkus, Voni langsung berjalan mencari warung nasi yang berada di dekat tempatnya berdiri.
“Bu, beli nasinya satu bungkus,” ujar Voni seraya menyodorkan uang logam yang ada di tangannya pada pemilik warung.
“Kau mau sambal apa nak?” tanya pemilik warung.
“Terserah Ibu aja.”
“Kau mau sambal ayam?”
Saat itu Voni berfikir, kalau di belikan sambal Ayam, tentu dia hanya dapat satu bungkus nasi, tapi kalau di belikan sambal telur pasti dia dapat dua bungkus nasi.
“Bu, dengan uang segitu, apakah aku dapat dua bungkus nasi?”
“Kalau sambalnya daging, tentu nggak bisa nak. Tapi kalau sambalnya telur, masih bisa.”
“Baiklah, aku mau sambal telur saja,” jawab Voni pelan.
Setelah permintaan Voni di ambilkan, lalu Ibu itu memberikan dua bungkus nasi itu ke tangan Voni. Dengan senang hati, Voni membawa bungkusan nasi itu ke perempuan yang berada di sebelahnya mengemis.
“Kamu nggak makan?” tanya Voni pada gadis kecil itu.
“Belum Kak.”
“Kenapa nggak makan, kan uang dari hasil mengemisnya udah banyak terkumpul, nanti kalau kau nggak makan, perut mu bisa sakit lho.”
“Uang ini untuk membeli obat Ibu ku kak.”
“Iya.”
“Emangnya Ibu mu sakit apa?”
“Ibu mengalami sakit ginjal, dia bahkan sudah tak bisa lagi bergerak.”
“Ooo, gitu. Tapi kau masih punya Ayah kan?”
“Ayah ku udah lama meninggal.”
“Jadi kau hanya tinggal bersama Ibu mu?”
“Iya Kak.”
“Ya sudah, kau makanlah dulu. Sebentar lagi, Kakak akan bantuin kau mengemis, agar kau bisa membawa uang banyak untuk membeli obat Ibu mu.”
Benar saja, setelah mereka berdua selesai makan, lalu Voni membantu perempuan kecil itu mengemis, hingga magrib tiba, mereka berdua berhasil mengumpulkan uang satu juta lebih.
“Alhamdulillah, kita mendapat uang banyak hari ini Kak. Berarti, aku bisa membeli obat untuk Ibu.”
“Iya, pergilah. Beli obat untuk Ibumu.”
“Lalu gimana dengan Kakak?”
“Udah, nggak perlu pikirkan Kakak, nanti Kakak bisa mengemis lagi kok.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan membeli obat untuk Ibu dulu.”
__ADS_1
“Iya, hati-hati!”
“Iya Kak makasih,” jawab gadis kecil itu seraya berlari meninggalkan Voni.
Setelah gadis itu mendapatkan uang untuk membeli obat Ibunya, diapun berlari kencang mencari toko obat, setengah perjalanan, gadis itu merasa tak enak hati meninggalkan Voni sendirian, lalu diapun kembali lagi dan menarik tangan Voni bersamanya.
“Hei, hei! emangnya kita ini mau kemana sayang?” tanya Voni tak mengerti.
“Pulang ke rumah ku.”
“Pulang ke rumah mu?”
“Iya, emangnya Kakak punya tempat tinggal?”
“Nggak.”
“Ya udah, Kalau begitu Kakak tinggal di rumah ku saja.”
“Apakah Ibu mu nggak marah?”
“Nggak Kak, Ibu malah senang kalau melihat aku punya teman.”
“O ya?”
“Iya, Kak,” jawab gadis kecil itu seraya tertawa senang.
Selesai membeli obat, lalu mereka bergegas menuju rumah yang terletak di tengah kota yang padat dengan penduduknya.
“Kamu tinggal disini?”
“Iya Kak,” jawab Erni, seraya terus menarik tangan Voni untuk mendekati rumahnya.
“Emangnya rumah mu masih jauh?”
“Nggak kak, ini dia rumah ku.”
Saat Erni, memberi tahukan rumahnya pada Voni, gadis itu tampak terdiam, entah apa yang di rasakan voni saat itu, karena rumah Erni sangat kecil sekali persis sebuah gubuk.
Ya Allah, ternyata begitu banyak di kota semewah ini, punya rumah kecil dan bahkan lebih kecil dari kandang sapi.
“O iya, sebenarnya nama mu siapa?”
“Nama ku Erni Kak.”
“Apakah Erni tinggal di rumah ini?”
“Iya Kak.”
“Udah berapa lama?”
“Udah puluhan tahun, yang pasti semenjak Papa meninggal.”
“Papa mu meninggal, kena apa?”
“Dia mendapat serangan jantung Kak.”
“Ooo begitu.”
Didalam gubuk yang reot itu, Erni merawat Ibunya yang tak bisa bergerak lagi, dia sangat lemah sekali dan tak dapat berbuat apa-apa.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*