
“Sebenarnya kuasa hukum Non, nggak mau membuka masa lalu Luna, tapi karena Mama Non bersikeras meminta haknya, maka terpaksa kuasa hukum Non membeberkan di persidangan tentang perselingkuhan itu.”
“Tapi mereka nggak membahas masalah, Mama meracuni Papa, kan Om?”
“Oh, masalah itu nggak ada di bahas di persidangan kok Non.”
“Ya sudah, semoga saja setelah ini, Mama nggak lagi bersikeras merampas semua itu.”
“Sepertinya, Mama Non Voni itu depresi deh.”
“Maksud Om?”
“Gimana nggak depresi Non, di kota besar ini, uang lima juta itu mana cukup untuk biaya hidup selama satu bulan Non.”
“Masih bersyukur, aku nggak menghentikan uang belanja untuknya, kalau saja niat ku jahat, aku nggak akan memberi Mama uang sepersen pun.”
Anum tak dapat berkata apa-apa, karena Anum begitu tahu tentang perselisihan yang sedang di hadapi Voni dengan Mamanya.
“O iya Om, kapan kira-kira Om akan datang kesini?”
“Rencananya besok Non, karena begitu banyak File yang harus Non tanda tangani.”
“Malam ini juga, coba Om minta surat wasiat yang saat ini sedang di simpan oleh pengacara kita, tapi sebelum itu, tolong Om foto kofi dulu, tinggalkan foto kofi nya itu sama pengacara dan bawa yang aslinya padaku.”
“Baik Non.”
“Ya sudah, silahkan Om lanjutkan pekerjaannya.”
“Iya Non baik.”
Anum yang mendengar percakapan mereka menjadi penasaran dengan surat wasiat yang di mintanya pada pengacara.
“Kenapa ya Non, kok surat wasiatnya di minta?”
“Aku ingin melihat tulisan tangan Papa Bi,” ucap Voni berbohong.
Sebenarnya, Voni punya firasat lain tentang surat wasiat itu, sebelum hal buruk terjadi, sebaiknya surat itu dipegangnya sendiri.
Namun sebelum orang suruhan Luna bergerak, surat wasiat itu telah di minta oleh Bayu dan diantarkan pada Voni.
“Ini Non surat yang Non maksudkan.”
“Apakah ada foto kofi nya di sana, Om?”
“Ada Non, bahkan sangat mirip dengan yang aslinya.”
“Bagus.”
“Emangnya kenapa Non, meminta surat wasiat itu?”
“Aku nggak mau surat ini di salah gunakan oleh orang lain untuk Mama, Om.”
“Maksud Non, apa?”
“Nanti Om, akan tahu sendiri, apa yang bakalan terjadi.”
“Ooo, baiklah.”
__ADS_1
“Selain pengacara, siapa saja yang mengetahui tentang surat yang Om ambil ini?”
“Nggak ada Non, tadi Om sudah katakan pada pengacara, kalau ada yang bertanya tentang surat wasiat itu, tolong tunjukan saja yang ini.”
“Ooo, begitu.”
“Ya udah Non, kalau begitu aku akan kembali dulu.”
“Baiklah.”
Karena tugasnya telah selesai, Bayu langsung pergi meninggalkan rumah kos Voni, malamnya, Bayu di datangi oleh Luna. Bayu tak tahu kalau kedatangan Luna hanya sandiwara belaka.
Ketika Bayu sedang asik menikmati acara televisi bersama istri dan anaknya, tiba-tiba pintu utama di ketuk dari luar.
“Bi, tengok siapa yang datang!” perintah Bayu pada pembantunya.
Mendengar perintah majikannya, perempuan itu langsung bergegas menuju pintu, saat pintu di bukanya, Luna telah berdiri tegak di depan pintu.
“Bayu ada Bi?” tanya Luna mendesak perempuan tua itu.
“Ada Nyah, lagi di dalam.”
“Katakan padanya, kalau aku datang.”
“Baik Nyah.”
Bi Atun bergegas masuk kedalam untuk menyampaikan pesan yang dari Luna untuk Bayu. Perempuan itu berjalan tergopoh-gopoh seperti sedang di kejar oleh seseorang.
“Ada apa Bi? kenapa seperti orang lagi ketakutan?”
“Di luar ada Nyonya Luna, Tuan.”
“Nggak tahu Tuan.”
“Ya sudah, biar aku menemuinya.”
“Baik Tuan.”
Setelah Atun pergi ke dapur, Bayu langsung keluar untuk menemui Luna yang sudah menunggu di depan rumah Bayu.
“Dari tahun ke tahun, rumah mu semakin mewah saja Bayu?”
“Pertanyaan macam apa itu? Ibu curiga, kalau selama ini aku korupsi di kantor?”
“Mana aku tahu, yang berlagak seperti pemilik perusahaan itu kan kamu, sementara orang yang telah memilikinya, saat ini persis seperti pengemis.”
“Bukankah jauh-jauh hari, aku sudah memberi masukan pada Ibu, kalau Ibu mau mundur selangkah dan memaafkan semua kesalahan Voni, Ibu pasti nggak menderita seperti sekarang ini.”
“Tutup mulut mu Bayu! itu bukan urusan mu. Kau kira aku nggak tahu, sebesar apa pengaruh mu pada putriku yang bodoh itu!”
“Terserah Ibu, bicara apa, yang paling penting, aku nggak seperti yang Ibu sangkakan.”
“Dasar munafik!”
“Kalau Ibu nggak punya tujuan yang penting, silahkan Ibu kembali saja.”
“Jangan sombong kau Bayu. Ingat! di rumah yang besar ini ada uang suami ku di dalamnya.”
__ADS_1
“Ibu jangan bicara sembarangan, aku mendapatkan rumah ini karena usaha dan kerja keras ku, bukan pemberian Tuan Sanjaya pada ku.”
“Huh…!”
“Terserah Ibu!” ujar Bayu seraya masuk kedalam rumahnya.”
“Tunggu! mau kemana kau Bayu?”
“Mau masuk kedalam.”
“Tunggu dulu, ada yang ingin ku tanyakan padamu?”
“Apa?”
“Tolong kau beritahu aku, dimana Voni tinggal.”
“Aku nggak tahu, karena semenjak dia Ibu usir, kami nggak pernah lagi berhubungan.”
“Bohong, kalau begitu dari mana dia bisa menanda tangani surat wasiat yang di tulis oleh Papanya.”
“Dia datang sendiri bersama seorang pria.”
“Apakah kau nggak bertanya di mana dia tinggal?”
“Nggak.”
“Kau bohong Bayu, aku kenal sekali siapa dirimu, saat kau bohong, matamu nggak akan berani menatap ku, tapi saat kau berkata jujur, kau justru berkata seraya menantang.”
“Kalau Ibu nggak percaya, ya sudah aku nggak bisa memaksa orang untuk bisa mempercayaiku.”
Kedatangan Luna, ternyata hanya tipu dayanya saja, di saat Luna sedang berada di rumah Bayu, beberapa orang anak buahnya telah mendatangi kantor tempat dia bekerja.
Bukan hanya ruang kerja para karyawan, mereka juga mengacak-acak ruangan Bayu dan ruang pengacara.
Setelah mereka semua mendapatkan apa yang di carinya, lalu beberapa orang itu langsung berlari keluar dan meninggalkan kantor.
Keesokan harinya di saat semua karyawan kembali masuk kerja, Oktavia dan yang lainnya jadi terkejut, mereka semua memeriksa file-file penting yang di simpan dalam brangkas.
Tak satu file pun yang hilang dan diambil, mereka semua menjadi heran dengan keanehan itu. ketika Bayu datang salah seorang karyawan mengabarkan berita duka itu padanya.
“Apakah ada barang yang hilang?”
“Nggak Pak.”
“Lalu bagai mana dengan surat penting perusahaan apakah aman.”
Saat mendengar pertanyaan dari Bayu, barulah mereka sadar, kalau ruangan pengacara belum ada yang memeriksanya.
Kemudian mereka semua beramai-ramai mendatangi ruang pengacara, benar saja, ternyata ruang pengacara sama dengan ruangan yang lain.
“Astaga! ruangan ini juga sudah di masukin, tapi apa yang dia cari sebenarnya ya?"
Semua orang yang datang keruangan itu memeriksa seluruh isi ruangan, termasuk dokumen-dokumen penting yang telah disimpan pengacara.
Tak berapa lama kemudian pengacara perusahaan itu datang, betapa terkejutnya mereka saat pengacara itu datang.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*