
“Lalu mana dia?”
“Dia berada di rumah kos, untuk menjalani hukuman yang di jatuhkan kepala sekolah padanya.”
“Kau benar-benar keterlaluan Indah, Intan. Kau tega membiarkan aku sendirian menanggung semua ini,” gumam Lesti marah.
“Ya sudah, kalau begitu, kami pergi dulu, tenangkan hati mu, agar kau segera sembuh.”
“Iya, Von. Makasih ya, kau telah perduli padaku.”
“Iya sama-sama.”
Kemudian Bramono dan Voni pergi untuk mencari sebuah rumah untuk Lesti. Lalu Voni membeli sebuah rumah perumnas untuknya dan mencukupi semua isi rumah itu dengan barang sembakau, agar Lesti bisa berdagang dan dia bisa menjalani hidupnya bersama dengan anaknya nanti.
Voni membeli rumah itu dengan uang kes, Bramono hanya mengikuti saja, apa yang ingin di lakukan gadis itu terhadap sahabatnya.
Setelah membeli rumah dan mengisinya dengan peralatan serta memenuhi kebutuhan Lesti, Voni pun kembali kerumah sakit.
“Lesti, setelah kau sembuh nanti, kau ku beri sebuah rumah dan ini kunci untuk mu, lahirkan bayimu dengan selamat ke duania ini, besarkan dia seperti Ibu mu membesarkan putrinya Lesti. Di dalam rumah itu aku telah lengkapkan seluruh kebutuhan kalian berdua, kau juga bisa buka usaha di sana.”
“Benarkah?” tanya Lesti tak percaya.
“Benar, tapi aku mohon maaf, untuk saat ini aku nggak bisa menemani mu sampai kau bisa kerumah itu.Tapi aku janji akan menemui mu suatu hari nanti.”
“Baiklah, terimakasih atas semua pertolongan dan pengorbanan mu, aku benar-benar minta maaf pada mu, atas semua ucapan ku yang kasar itu.”
“Udah, udah! aku udah memaafkan kamu kok, sekarang kau fokuslah dalam menjalani kehidupan ini.”
“Baik Voni, baik.”
“Nanti sore akan ada orang mengantarkan uang ke sini sebesar lima juta, nanti kau simpan uang itu untuk keperluan hidupmu.”
“Baik Voni, baik. Terimakasih atas semua kebaikanmu.”
Lesti sangat bahagia sekali saat itu, karena tanpa dia duga sama sekali, Voni bersedia berkorban untuknya. Mesti kebaikan Voni tercurah pada Lesti, namun sebenarnya dirinya sendiri begitu rapuh saat itu.
Saat mereka kembali dari rumah sakit, Voni mengajak Bramono ke rumah Mamanya. Saat masih di dalam mobil Voni memberitahukan tentang posisi rumahnya pada kekasihnya itu.
“Benar kau mau mampir ke rumah Mama mu?”
“Benar Bram.”
“Tapi kamu janji, apapun yang terjadi nanti, kau nggak boleh kecewa dan sakit hati dengan ucapan Mama mu.”
Mendengar ucapan Bramono, Voni hanya diam saja, bagai mana bisa dia tersenyum sementara saat itu Orang yang disayanginya berkata kasar.
“Berhenti Bram!” ujar Voni yang masih duduk di dalam mobil.
“Ada apa?” tanya Bramono heran.
“Itu rumah ku!” tunjuk Voni ke sebuah rumah lantai dua yang memiliki dekorasi yang cukup indah, halaman yang luas dan kebun bunga yang tertata rapi.
__ADS_1
“Benar ini rumahmu?”
“Iya Bram, saat ini rumah ku nggak seperti dulu lagi, terlihat udah kusam dan tak terawat."
“Tapi kelihatannya bagus dan masih cantik.”
“Itu karena kau baru melihatnya, dulu sewaktu Papa masih hidup, semuanya terlihat sangat sempurna, karena saat itu Papa memiliki pembantu lebih dari sepuluh orang, belum lagi ajudan dan orang kepercayaannya.”
“Lalu kemana mereka semua?”
“Sewaktu Papa baru meninggal, Mama memecat mereka semua dan hanya tinggal beberapa orang saja yang masih di pertahan kan Mama saat ini.”
“Ooo, begitu.”
“Boleh aku masuk kedalam Bram?”
“Silahkan kalau kau mau.”
“Tapi aku ingin masuk bersama mu.”
“Biar aku disini saja, Voni.”
“Jangan Bram, nanti jika terjadi sesuatu pada ku, lalu siapa yang akan menolong ku!”
“Baiklah, akan ku temani kau kedalam.”
“Makasih Bram.”
Kemudian Voni turun dari mobil, begitu juga dengan Bramono, dengan pelan dan berhati-hati, Voni membuka pintu gerbang yang tertutup rapi dengan tangannya.
“Heh, Non Voni. Selamat sore!”
“Selamat sore Pak, Mama ada?”
“Ada, dia ada didalam saat ini.”
“Boleh aku masuk?”
“Tapi Non, nanti Non bisa di usir lagi sama Mama.”
“Rasanya aku seperti memasuki jurang neraka, saat aku ingin masuk kedalam rumah ku sendiri.”
“Kamu yang sabar sayang, kuatkan hati mu.”
“Iya Bram.”
Dengan berhati-hati sekali, Voni melangkah pelan memasuki halaman rumah yang begitu luas. Dari kejauhan Voni melihat pembantunya Anum yang masih mencoba bertahan di rumah itu.
“Bi! Bi Anum!” teriak Voni dari kejauhan.
“Heh Non Voni!” ujar Anum seraya berlari menghampiri Voni dan memeluk tubuh majikannya itu dengan erat sekali.
__ADS_1
Anum menangis tersedu-sedu, air matanya tak kuasa untuk di bendung, butiran-butiran bening itu jatuh menetes membasahi tubuh Voni.
“Bibi kangen sekali sama Non Voni, hiks, hiks, hiks!”
“Iya Bi, aku juga,” jawab Voni yang ikut menangis di dalam pelukan Anum.
“Ayo masuk sayang.”
“Apakah Mama ada di rumah Bi?”
“Ada, dia dikamar bersama Abi.”
“Aku takut sekali Bi.”
“Kalau begitu kita lewat dari pintu dapur saja Non.”
“Baiklah.”
Dalam genggaman tangan Anum, Voni melangkah memasuki rumah mewah itu dari arah dapur, saat mereka hendak masuk ternyata Luna telah melihatnya dari kejauhan.
“Ayo Non, masuk.”
“Iya Bi,” jawab Voni pelan, diiringi oleh Bramono di belakangnya.
“Anum! usir binatang itu dari rumah ku!” teriak Luna dari ruang tengah.
“Astaga! itu kan suara Mama Bi?”
“Iya Non, biar Bibi aja yang kesana.”
Melihat Anum ketakutan Voni langsung memeluk tubuh Bramono, air matanya tertumpah di pundak pria itu.
“Tenang sayang, tenang.”
“Dia mengatakan aku binatang Bram.”
Mendengar ucapan Voni, air mata Bramono pun mengalir tak tertahan kan, betapa menderitanya gadis yang telah menjadi kekasihnya itu.
Sementara itu Anum yang baru saja menghampiri Luna, mendapat tamparan yang sangat keras sekali saat itu dari majikannya.
“Siapa yang telah mengizinkan mu memasukan binatang kerumah ku ini!”
“Maaf kan saya Nyah, dia itu Non Voni, bukan binatang seperti yang Nyonya katakan,” ucap Anum seraya menangis di hadapan Luna.
“Di mataku sudah tak ada lagi Voni, yang ada hanya binatang yang nggak punya otak! usir dia dari rumah ku, atau kau yang bakal aku usir dari sini!”
Mendengar Anum di ancam oleh Mama nya, Voni langsung berjalan menghampiri Luna, yang masih kekar berdiri tegak menghadap ke jendela.
“Kalau kau nggak mengakui aku sebagai putri mu, nggak apa-apa, tapi ingat, saat ini rumah beserta isinya sudah sah menjadi milik ku, mulai hari ini kau kemasi semua barang mu, dan tinggalkan rumah ku secepatnya!” teriak Voni dengan suara lantang.
Bramono yang mendengar Voni menyebut Mama nya dengan kata Kau, membuat jantungnya mendidih, dia tak menyangka, kalau kesabaran Voni telah berakhir sampai di situ.
__ADS_1
Bersambung...
"Selamat membaca*