
“Jadi, mana dia sekarang?”
“Siapa Voni?” tanya Intan.
“Kau masih bisa bertanya, siapa yang ku maksudkan, Intan?”
“Dia masih di rumah sakit saat ini.”
“Bagai mana keadaannya?”
“Dia kritis, Lesti begitu banyak kehabisan darah.”
“Lalu bagai mana dengan bayinya, apa berhasil kalian bunuh?”
“Apa maksud mu Voni?”
“Apakah kalian berhasil membunuh bayinya?”
“Kami nggak melakukannya Voni.”
“Tangan kalian yang lembut ini memang nggak melakukannya, tapi uang Tino dan kelakuan kalianlah yang telah mencoba untuk membunuh bayi yang nggak berdosa itu.”
“Kalian ini benar-benar nggak ada otaknya ya?”
“Lalu kami mesti gimana lagi? kami udah berusaha mengantarkannya ke sana, tapi nasib buruk selalu menemaninya, sehingga Lesti mengalami pendarahan hebat.”
“Nasib buruk Lesti itu, ya kalian!”
“Yang penting kami udah berusaha menolongnya kan, nggak seperti kamu, punya teman dia biarkan aja seperti itu.”
“Jadi kalian berdua merasa bangga, karena telah berhasil mengantarkan Lesti ke kota untuk menggugurkan kandungannya, begitu?”
“Iya, lalu salah kami itu apa?”
“Salah kalian adalah, kalian telah ikut berbuat dosa, niat kalian membantu Lesti itu udah merupakan dosa besar yang nggak bisa di ampunkan Allah.”
“Alah! kau nggak usah sok mengajar kami Voni, kau sendiri sering kan, bunuh diri, tapi gagal.”
“Baiklah, saat ini kalian berdua, boleh tersenyum manis, tapi sebentar lagi, saat Kepsek memanggil kalian, kalian baru merasa menyesal.”
“Apa maksud mu Voni?”
“Maksud ku, saat ini kalian berdua, di suruh menghadap Kepsek di ruangannya,” ujar Voni seraya berlalu meninggalkan Indah dan Intan.
Sepeninggal Voni, Indah dan Intan saling beradu pandang, mereka begitu takut jika Kepsek menjatuhi sangsi berat pada mereka berdua.
“Gimana ini Indah, aku takut banget?”
“Aku juga, gimana kalau Kepsek mengeluarkan kita dari sekolah, pasti kedua orang tua ku marah.”
“Aku juga,” jawab Intan yang terus berjalan menuju kantor kepala sekolah.
“Sekarang kau aja yang mengetuk pintunya Intan.”
“Jangan gitulah, aku juga ketakutan nih.”
Karena Intan tak berani mengetuk pintu Kepsek, lalu Indah memberanikan diri untuk mengetuknya, dengan pelan dia pun mengucapkan salam.
“Silahkan masuk!” perintah Kepsek saat itu.
Dengan kaki yang gemetaran Intan dan Indah memasuki ruangan Kepsek, dia duduk dengan pelan di hadapan Bramono yang terus saja menatap mereka berdua tanpa berkedip.
__ADS_1
“Mana Lesti?” tanya Bramono pada mereka berdua.
Pertanyaan Bramono yang tiba-tiba itu, membuat jantung keduanya terasa berhenti berdetak. Indah tak langsung menjawab dia menatap wajah Intan dengan harapan dapat memberi jawaban pada pertanyaan yang diajukan Bramono.
Bukan hanya Indah yang ketakutan Intan juga tak bisa bicara saat itu, tubuhnya gemetar dan keringat dingin bercucuran.
“Mana Lesti! apakah kalian nggak mendengar pertanyaan dari Bapak?” tanya Bramono seraya menampar meja dengan kuat.
“De…dengar Pak!” jawab Intan ketakutan.
“Di…dia masih di rumah sakit Pak,” jawab Indah pelan.
“Di rumah sakit? kapan Lesti masuk rumah sakit?”
“Tiga hari yang lalu Pak.”
“Kenapa dia masuk rumah sakit, siang itu Bapak melihat dia masih sehat dan bugar, kok tiba-tiba saja berada di rumah sakit.”
Baik Intan maupun Indah, mereka tak ada yang berani buka mulut, karena mereka takut, kalau Lesti akan di keluarkan dari sekolah itu, jika Bramono tahu, Lesti mencoba menggugurkan kandungannya.
“Kayaknya kalian berdua ini sama-sama sepakat ya, untuk berbohong pada Bapak? baiklah, kalau begitu Bapak punya keputusan untuk mengeluarkan kalian dari sekolah ini.”
“Hah…! keluar? kenapa kami di keluarkan Pak, salah kami itu apa?” tanya Intan ingin tahu.
“Kalian ingin tahu, kesalahan kalian itu apa?”
“Iya Pak.”
“Kesalahan pertama, kalian ikut membuat konspirasi bersama Lesti untuk membohongi Bapak dan menyimpan rahasia tentang kehamilan Lesti. Benar begitu?”
“Be…benar Pak.”
“Yang kedua, kalian berdua telah ikut berusaha untuk membunuh anak Lesti. Sedangkan yang ketiga, apakah kalian mau dengar?”
“Iya Pak.”
“Tapi kami udah ketinggalan pelajaran Pak.”
“Itu kesalahan kalian, kenapa kalian berencana sekotor itu untuk bayi yang di kandung Lesti saat ini?”
“Maaf kan kami Pak, tapi saat itu Lesti meminta bantuan pada kami untuk bisa mengantarnya pergi ke rumah sakit yang di maksud.”
“Apa kamu tahu, dengan resiko yang akan di terima Lesti, jika dia menggugurkan kandungannya?”
“Tahu Pak.”
“Apa resikonya?”
“Pendarahan atau bisa jadi kematian yang akan merenggut nyawanya.”
“Kalian udah tahu resiko itu?”
“Udah Pak.”
“Kenapa kalian masih nekat, kalau memang kalian udah mengetahui bahaya di balik itu?”
“Kami nggak punya pilihan lagi Pak.”
“Pilihan apa!” bentak Bramono keras.
Mendengar suara Bramono yang menggelegar itu, Indah dan Intan hanya bisa terdiam dan menangis. sekarang kalian tidak Bapak izinkan mengikuti pelajaran, sampai Lesti benar-benar ada di sekolah ini.”
__ADS_1
“Tapi Pak!”
“Kalau kalian bicara lagi, maka akan Bapak tambah hukumannya.”
Hati Intan dan Indah benar-benar sakit menerima semua konsekuensi itu, tapi keputusan Bramono tak dapat di ganggu gugat.
“Mulai kapan kami nggak sekolah Pak?” tanya Intan pelan.
“Mulai sekarang!”
“Baik Pak.”
Keduanya tampak menangis saat keluar dari ruang kepala sekolah. Namun Bramono tak perduli dengan semua urusan mereka, semua yang bersalah harus bersedia menerima hukuman yang akan di jatuhi pada mereka.
Setelah Intan dan Indah pergi, Bramono pun memanggil Tino, guru IPS yang ikut andil dalam mendanai aborsi tersebut.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, silahkan masuk!”
“Baik Pak, terimakasih.”
Sesuai perintah Bramono, Tino langsung masuk kedalam ruangan Bramono dan duduk tepat di hadapannya.
Bramono tak langsung bicara saat itu, dia hanya diam dan memandangi Tino yang terlihat gelisah duduk di hadapannya.
“Kamu tahu Tino, kenapa saya memanggil mu?”
“Nggak Pak.”
“Nggak tahu ternyata,” ucap Bramono pelan.
Suara Bramono yang pelan itu, hampir tak terdengar di telinga Tino, sehingga Tino hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya.
“Berapa kau memberi Lesti uang untuk Aborsi yang dilakukannya Tino?”
Mendengar pertanyaan Bramono, darah Tino langsung berdesir dengan kuat, begitu juga dengan jantungnya, berdebar tak menentu. Tino tak menyangka kalau Bramono tahu tentang aborsi yang di lakukan Lesti bersama Intan dan Indah.
“Saya nggak ngasih uang untuk aborsi itu Pak.”
“Benar, kamu nggak ngasih uang pada mereka?”
“Benar Pak.”
“Kamu mau membohongi saya, Tino?”
“Tapi saya berani sumpah Pak, kalau saya nggak pernah memberi Lesti uang untuk melakukan aborsi itu.”
“Lalu dari mana Lesti dapat uang?”
“Saya nggak tahu Pak.”
“Benar kamu nggak tahu?”
“Benar Pak.”
“Jika nanti saya tahu kalau yang mendanai mereka bertiga itu kamu, apakah kamu siap menerima sangsi yang saya jatuhkan?”
“Tapi saya berani sumpah, kalau saya nggak melakukannya sama sekali Pak.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*