Terjebak

Terjebak
Part 82 Skor yang di jatuhkan Kepsek


__ADS_3

“Saya nggak ada memarahinya, serta bicara kasar. Dia aja yang mudah tersinggung.”


“Benar seperti itu?”


“Iya, Pak.”


Bramono tak percaya begitu saja, dia harus mendengar langsung dari Voni, apa yang terjadi di antara mereka berdua. Untuk itu, Bramono menyuruh salah seorang murid memanggil Voni di kelasnya.


Saat Voni masuk ke dalam, Aswadi tampak tertunduk diam, mata Voni yang tajam menatap kearah guru Bahasa itu.


“Ada apa Bapak memanggil ku?”


“Ada urusan apa kamu dengan Pak Aswadi?”


Mendengar pertanyaan yang di ajukan Bramono, Voni merasa sedikit heran, dia pun duduk di hadapan Aswadi, dia menatap guru Bahasa itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Bapak cerita apa saja pada Kepsek?”


“Bapak melaporkan semua kelakuan mu, pada Kepsek.”


“Kelakuan apa?”


“Kelakuanmu, karena kau sering bolos di mata pelajaran Bapak.”


“Pak, aku bolos, karena aku nggak mut belajar, apa lagi Bapak sering keras dan bicara kasar pada ku, aku jadi semakin nggak suka belajar dengan Bapak.”


“Kalau kau sering nggak masuk di jam pelajaran Bapak, jangan salahkan Bapak, kalau nilai pelajaran mu, merah.”


“Itu tergantung, bagaimana aku mengikuti ujiannya nanti, kalau seandainya, aku nggak bisa menjawab soal-soal dari Bapak, ya wajarlah, kalau nilai Bahasa aku rendah dan aku pun nggak bakalan menuntut Bapak dalam ha ini. Tapi...!"


"Tapi apa?"


"Jika nilai ujian ku bagus, namun Bapak tetap memberi ku nilai merah, maka aku bakal tuntut Bapak.”


“Mesti nilai pelajaran mu bagus, jika akhlak mu jahat, percuma saja Bapak memberi nilai bagus pada mu!"


“Ooo, jadi Bapak menilai masalah akhlak ku sekarang? Baik.”


“Baik apa?”


“Bapak tahu tujuan seorang murid belajar?”


“Tahu, karena mereka ingin mendapatkan ilmu yang bisa mereka manfaatkan di masa depan mereka nanti.”


“Bukan hanya itu saja, yang di inginkan seorang murid di sekolah ini Pak.”


“Apa maksud mu?”


“Selain ilmu yang bermanfaat, seorang murid juga menginginkan guru yang mendidiknya, mampu menempa dirinya menjadi manusia yang lebih baik. Jika muridnya tidak baik, jangan salahkan dia! kenapa nggak baik. Lalu, siapa yang mesti di salahkan? maka salahkan gurunya yang tak becus mendidik anak itu menjadi lebih baik.”

__ADS_1


“Kau nggak perlu menceramahi ku disini.”


“Aku nggak menceramahi Bapak, tanya aja pada Kepala sekolah, kalau Bapak nggak percaya.”


Mendengar ucapan Voni, mata Aswadi menatap tajam kearahnya, tatapan itu mengingatkan Voni pada kejadian sebelumnya.


“Kenapa Bapak menatap ku seperti itu?”


“Bisa mu hanya menyalahkan guru, yang telah puluhan tahun mendidik di sekolah ini, tapi kau nggak bisa koreksi dirimu sendiri.”


Ucapan Aswadi memang benar, lagian Voni tak bisa menyalahkan guru seutuhnya, karena selama ini, memang dialah yang selalu membuat keonaran dan masalah di sekolah itu.


“Baiklah, kali ini Bapak benar, aku ngaku kalah deh! aku minta maaf.”


“Bisanya kau hanya minta maaf, setelah kau membuat masalah di sekolah ini, dasar murid kurang ajar!”


Ternyata ucapan Voni tersebut tak di tanggapi Aswadi secara bijak, dia justru bicara kasar di hadapan Bramono, hal itulah yang membuat Voni langsung naik darah.


Tanpa di sadari oleh Bramono dan Aswadi, tiba-tiba saja, Voni mengambil air minum di meja Bramono dan melemparnya ke wajah Aswadi, sehingga airnya membasahi wajah Aswadi serta gelasnya pecah berserakan.


“Voni!” bentak Bramono kasar.


Mesti suara Bramono terdengar jelas di telinga Voni, namun gadis itu tetap mengabaikannya, Voni pergi meninggalkan ruangan itu tanpa bicara sepatah kata pun. Sementara itu Aswadi hanya bisa ternganga dengan kelakuan Voni yang kasar itu.


“Semuanya sudah terjadi, antara kalian berdua, ada beberapa kemungkinan yang harus yang berikan. Sangsi pertama, Voni saya skor satu minggu, sangsi kedua Bapak yang akan saya skor dua minggu.”


“Karena antara Bapak dan Voni, kalian berdua sama-sama melakukan kesalahan.”


“Tapi Bapak lihat sendiri tadi kan? dia telah berbuat kurang ajar pada saya.”


“Voni memang telah berbuat kurang ajar pada Bapak, tapi sebelum dia melakukan itu, bukan kah dia sudah mengaku kalah, dan bahkan dia mengucapkan kata maaf pada Bapak. Kenapa Bapak nggak menanggapi itu secara bijak, bukankah Bapak tahu sendiri sebelumnya kalau Voni adalah gadis yang bermasalah.”


“Tapi bukan seperti ini caranya kan Pak,” jawab Aswadi seraya berdiri dengan kedua tangan terbuka di hadapannya.


“Jika seandainya Bapak yang berada di pihak Voni, apa kira-kira yang Bapak lakukan?”


Aswadi tak menjawab, dia hanya diam saja, seraya berlalu keluar dari ruangan kepala sekolah. Skor yang di jatuhkan Bramono kepadanya tak bisa di tarik kembali, dalam waktu dua minggu, Aswadi hanya bisa duduk dan merenung diri di rumah dinasnya.


Pagi itu setelah mandi, Aswadi terlihat duduk diam di depan rumahnya, Fitri yang melihat suaminya sudah dua hari tak bekerja, membuatnya penasaran.


“Abang nggak kerja?”


“Nggak sayang.”


“Kenapa?”


“Abang kena skor dua minggu.”


“Kena skor, permasalahannya apa Bang?”

__ADS_1


“Apa lagi, kalau bukan gara-gara gadis idiot itu.”


“Voni, maksud Abang.”


“Iya, gadis itu selalu saja membuat kepala Abang pusing dan terasa mau pecah!” ujar Aswadi seraya bicara bergetar dengan kedua gerahamnya di katupkan.


“Kenapa Abang nggak laporkan semua kelakuannya itu, pada Kepala sekolah?”


“Justru, karena Abang yang melapor, Bramono itu jadi semakin marah.”


“Kok bisa gitu, Bang?”


“Karena Voni itu kekasihnya Bramono saat ini.”


“Hah…! jadi Bramono menjalin hubungan dengan Voni?”


“Iya.”


“Ya Ampun, apa mata Bramono itu nggak salah lihat apa, gadis tomboi seperti Voni dia jadikan kekasih?”


“Buktinya, mereka telah menjalin hubungan selama hampir dua tahun.”


“Kok aku baru dengar sekarang ya Bang.”


“Itu lantaran kamu ketinggalan berita!” ujar Aswadi seraya masuk kedalam rumahnya.


Di saat Aswadi merasa galau dengan masalah yang di hadapinya bersama Voni. Voni justru tampak tenang dan santai, mesti Bramono telah menjatuhkan hukuman untuknya, dia masih tetap bersekolah seperti biasa.


Siang itu setelah jam istirahat dia pergi ke kantin bersama Nita dan teman lainnya, Voni mentraktir mereka makan bakso di kantin sekolah.


Belum selesai menyantap bakso yang berada di hadapannya, seorang siswa datang. Dengan nafas yang tersengal dia pun duduk di sebelah Voni.


“Voni kau dipanggil ke ruang BP.”


“Siapa yang manggil?”


“Kepsek!”


“Bilang sama Kepsek, tunggu sebentar, Voni lagi makan bakso.”


“Cepat Voni! tinggalkan aja bakso mu itu, nanti kau bisa di marahi Kepsek!” ujar Nita dengan suara sedikit keras.


“Ah..! kalau baksonya ku tinggal, nanti pas aku datang lagi, semuanya udah mirip seperti cacing gila, tahu nggak!”


jawab Voni seraya terus menikmati bakso yang ada di hadapannya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2