
“Bapak Om nya Voni, ya?”
“Iya Pak, saya Bayu.”
“Ya, saya Bramono, kepala sekolah Voni.”
“Oh, Bapak kepala sekolah Voni.”
“Iya benar.”
“Saya minta maaf, atas kelakuan Voni, Bapak jadi repot datang ke sini.”
“Nggak apa, lagian saya nggak merasa terganggu kok.”
“Terimakasih, Bapak telah menyempatkan diri menjenguk keponakan saya.”
“Gimana keadaan Voni sekarang Pak?”
“Masih dalam penanganan dokter.”
“Gimana ceritanya, kok Voni bisa melakukan hal ini, Pak Bayu?”
“Saya sendiri nggak tahu Pak, tapi sewaktu saya datang, Voni memang sudah melakukan bunuh diri.”
“Apakah Papa dan Mamanya sudah tahu tentang ke jadian ini, Pak?”
“Belum, saya sengaja nggak mengabari mereka, takut mereka jadi panik nantinya.”
“Ooo, begitu.”
Mesti Bayu berbohong, tapi Bramono tetap mempercayainya, karena Bramono tak tahu hal yang sebenarnya telah terjadi pada keluarga Voni.
Mereka berdua, sama-sama duduk di ruang tunggu menantikan kabar dari dokter yang coba menyelamatkan nyawa Voni.
Tak berapa lama kemudian, Bramono pergi meninggalkan Bayu yang masih duduk cemas di ruang tunggu. sesaat kemudian, lalu Bramono kembali lagi seraya membawa dua gelas kopi hangat.
“Nah, minum dulu Pak Bayu, biar nggak terlalu stress.”
“Makasih Pak.”
“Panggil saja saya Bram.”
“Makasih Bram.”
“Ya sama-sama Pak.”
Di saat kopi itu telah berada di dalam genggaman tangan Bayu, mereka berdua sama-sama meneguk minuman itu.
“Maaf Bram, kalau boleh aku tahu, gimana kelakuan Voni di sekolah?”
“Yeah! aku jadi serba salah kalau mengatakannya ke Bapak.”
“Ya, cerita aja, setidaknya aku bisa mendengarkan semua yang di lakukan Voni di belakang ku.”
“Maksud Bapak apa?”
“Sebenarnya?”
“Sebenarnya apa?”
“Ah sudahlah, nggak usah di lanjutkan.”
Mendengar jawaban dari Bayu, Bramono hanya diam saja, dia juga nggak bisa berbuat apa-apa.”
__ADS_1
“Kalau di sekolah, Voni aman-aman saja kan Bram?”
“Sebenarnya, Voni adalah gadis lain dari yang lain, dia selalu saja membuat masalah, baik dengan guru, maupun dengan teman-temannya. Dia bahkan sering mendapat hukuman di sekolah kami.”
“Voni itu sebenarnya anak baik, Bram. Mungkin karena pergaulannya, menyebabkan dia seperti itu.”
“ Bapak ini siapa sih sebenarnya?”
“Saya pamannya Voni.”
“Paman dekat atau Paman jauh?”
“Dikatakan dekat, ya dekat. Kalau dikatakan jauh, ya jauh juga, tapi pada intinya, saya begitu peduli pada masa depan Voni.”
“Voni sering kali begadang, sampai larut malam dan pulang pagi hari, ketika dia baru mulai tidur, di saat itu pula semua teman mau berangkat ke sekolahnya.
Selain itu, Voni suka mabuk dan merokok, saya sangat khawatir lama-lama anak ini akan mengkonsumsi narkoba.”
Mendengar penjelasan Bramono, Bayu hanya diam saja, hal itulah yang di takutkan Bayu selama ini, itu sebabnya Voni mereka kirim sekolah ke Desa, agar dia tak lagi mengkonsumsi minuman dan rokok.
Ketika mereka berdua sedang asik bercerita, tiba-tiba saja dari dalam ruang UGD, seorang perawat muncul dan memanggil nama Bayu.
“Pak Bayu!”
“Saya Sus.”
“Saat ini pasien yang bernama Voni sudah sadarkan diri, Bapak boleh lihat kondisinya sekarang.”
“Baik Sus, terimakasih.”
Karena telah mendapat izin untuk melihat kondisi Voni, maka Bayu dan Bramono langsung masuk kedalam ruang UGD.
Melihat kemunculan Bayu dan Bramono, Voni jadi sedikit kikuk. Voni tak menyangkan kalau Bayu yang telah menyelamatkannya.
“Bukan Om saja yang menemanimu Voni, ada kepala sekolah mu juga disini.”
Melihat Bramono muncul di belakang Bayu, hati Voni sedikit bergetar, dia takut sekali, kalau Bramono akan menghukumnya lagi.
“Pak.”
“Gimana Voni, kamu udah baikan nak?” tanya Bramono pelan.
“Udah Pak.”
“Kenapa sih, kamu bisa melakukan hal sebodoh ini Voni?” tanya Bayu, di hadapan Bramono.
Voni hanya diam saja, dia tak tahu mesti menjawab apa saat itu di depan Bramono. Jika saja dia berkata jujur, pasti Bramono akan mengetahui asal usul dirinya dan petaka apa yang telah di alaminya selama ini.
“Ya sudah kalau kamu nggak mau bicara, Om nggak bakalan maksa kok. Yang penting sekarang ini, kamu fokus saja sama kesembuhan mu.”
“Iya Om,” jawab Voni pelan.
Karena kondisi Voni belum stabil, untuk itu pihak rumah sakit memindahkan Voni keruang perawatan. Saat itu Bayu meminta pada perawat untuk memindahkan Voni ke ruangan VIP.
Setelah itu bayu melunasi semua biaya rumah sakit dan kembali datang ke kamar rawat Voni, yang saat itu ada Bramono bersamanya.
“Maaf Bram, sepertinya saya nggak bisa berlama-lama di sini, karena banyak pekerjaan yang mesti saya selesaikan. Jadi saya titip Voni pada mu, kau bisa menjaganya kan?”
Mendengar ucapan Bayu, Bramono jadi serba salah, jika di tolak tentu tak mungkin, sementara itu, tugasnya pun tak kalah banyaknya di sekolah, tapi demi gadis yang selama ini membuatnya penasaran, Bramono terpaksa bersedia menerima tanggung jawab itu.
“Baiklah, kalau begitu saya janji akan menjaganya dengan baik.”
“Terimakasih Bram, kalau begitu saya permisi dulu.”
__ADS_1
“Iya Pak,” jawab Bramono singkat.
“Voni, Om pergi dulu, nanti Om akan datang lagi kesini untuk melihatmu, kau jaga diri mu baik-baik.”
“Iya Om.”
“Jangan kau lakukan hal bodoh itu lagi nak.”
“Baik Om.”
“Ini uang belanja untuk mu,” ujar Bayu seraya menyelipkan di bawah bantal Voni uang dalam amplop berwarna coklat.
Setelah Bayu pergi, Bramono menatap Voni dengan pandangan yang penuh kecurigaan, Voni yang merasa bersalah hanya bisa memalingkan wajahnya.
“Sebenarnya kamu ini siapa Voni?”
“Untuk apa Bapak bertanya seperti itu?”
“Bapak melihat ada rahasia besar yang sedang kalian berdua sembunyikan dari Bapak.”
“Itu hanya perasaan Bapak saja.”
“Nggak Voni, Bapak bisa membaca semua yang ada di dalam pikiranmu itu.”
“Benarkah?”
“Bapak melihat, kau punya segudang masalah yang nggak sanggup kau selesaikan sendiri.”
“Kata siapa seperti itu?”
“Kata Bapak, buktinya kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri, dengan cara bunuh diri. kenapa kau nggak mau berbagi dengan Bapak Voni?”
“Berbagi apa Pak?”
“Berbagi penderitaan.”
Mendengar jawaban dari Bramono, Voni menjadi sedikit heran, dia tak mengerti apa yang di maksudkan Bramono saat itu. Namun Voni mencoba mengalihkan pembicaraan mereka ke yang lain.
“Aku mau pulang ke kos, Pak.”
“Pulang ke kos?”
“Iya.”
“Bukankah kau masih menjalani perawatan?”
“Aku udah sembuh Pak, aku bosan berbaring disini.”
“Tapi baru satu hari ini kau berbaring di sini Voni.”
“Aku mau pulang!”
Karena permintaan Voni ingin kembali pulang, Bramono terpaksa menemui petugas rumah sakit untuk minta izin kembali pulang.
“Sebenarnya Voni belum di izinkan dokter untuk pulang Pak, tapi karena dia maksa ingin pulang, dokter memberinya izin, tapi dia harus rutin makan obat.”
“Baik Sus, nanti saya sendiri yang langsung mengontrol keadaannya.”
“Terimakasih Pak.”
Sambil menunggu obat yang di berikan untuk Voni, Bramono mencoba membantu Voni turun dari tempat tidur dan mengantarnya keluar kamar, setelah dia keluar Bramono teringat dengan uang yang di berikan Bayu padanya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*