Terjebak

Terjebak
Part 15 Kebiasaan Voni


__ADS_3

Karena mendapat perintah dari Kepsek, Nita langsung mendatangi rumah Voni, setelah di panggil berulang kali, ternyata Voni tak berada di dalam rumah kosnya.


“Kemana dia? katanya tadi pulang, tapi kok nggak di rumah?” tanya Nita pada dirinya sendiri.


Ketika Nita hendak pergi, beberapa orang murid keluar dari kamar kosnya, Nita langsung menghampirinya.


“Kak, apakah Kakak lihat Voni?”


“Barang kali di kamarnya.”


“Tapi ku panggil beberapa kali kok nggak ada jawaban ya?”


“Tidur kali! emangnya kenapa kau mencari Voni?”


“Dia di suruh Kepsek menghadap ke ruangannya.”


“Wah, pasti Voni bikin masalah lagi! nggak ada jeranya ya anak itu.”


“Hei, siapa yang lagi ceritain aku, kalau mau jadi anak baik, pergi sana sekolah, jangan nyalahin orang melulu.”


“Voni!” teriak Nita yang berlari menghampiri Voni.


“Ada apa? kenapa kamu kesini?”


“Kau di panggil Kepala sekolah Voni?”


“Aduh, itu orang nggak pernah bosan lihat wajah aku ya?”


“Habis gimana lagi! kamu sih, pakai acara Bu Riska nangis lagi!”


Voni tak marah mendengar omelan Nita, dia hanya menatap Nita dengan sudut matanya yang tajam, Voni memang tak pernah marah pada sahabatnya yang satu itu, karena di dalam dirinya, hanya Nita yang paling baik di antara teman-temannya yang lain, yang mengerti akan dirinya.


“Kalau nggak, gini aja Nita.”


“Apa?”


“Bilang sama Kepala sekolah, kalau saat ini aku lagi nggak berada di rumah.”


“Nanti kalau Kepsek tahu aku berbohong, gimana?”


“Aduh! Kepsek itu nggak akan pernah tahu, kalau aku di mana saat ini.”


“Baiklah,” jawab Nita seraya meninggalkan Voni sendirian. Setengah perjalanan Nita kembali ingat dengan tiga orang kakak kelasnya tadi. “O iya Voni.”


“Aduh, apa lagi Nita?”


“Kamu sih enak, nggak kena marah Kepsek, tapi kalau ketiga Kakak tadi bilang kalau kau di rumah, gimana?”


“Udah, udah. Kau nggak perlu takut! Katakan saja sesuai dengan yang ku perintah.”


“Baiklah!”


Sebenarnya Nita begitu takut untuk berkata bohong. Namun karena Voni memaksa, akhirnya Nita terpaksa melakukannya.

__ADS_1


Perlahan Nita menghampiri ruang Kepsek yang letaknya terpisah dari ruang majelis guru. Dengan pelan Nita mengetuk pintu ruangan itu dari luar.


“Tok, tok, tok!”


“Silahkan masuk!” suara kepsek terdengar menggelegar seperti petir di telinga Nita, sehingga gadis itu terlihat gemetar di depan ruangan tersebut.


Karena tak kunjung muncul, lalu Kepsek bertanya lagi tentang siapa yang saat itu sedang mengetuk pintu ruangannya.


“Siapa di luar? silahkan masuk.”


“Saya Pak, Nita.”


“Ada apa Nita?”


“Voni nggak berada di rumahnya Pak.”


“Ooo, gitu. Nggak apa-apa.”


“Baik Pak, kalau begitu aku kembali ke kelas ya Pak.”


“Silahkan,” jawab Kepsek pelan.


Sembari meninggalkan ruangan Kepala sekolah, Nita menarik nafas lega. “Oh, syukur.” Lalu dia kembali berjalan santai menuju ruangan kelasnya.


Ketika Nita hendak masuk, ternyata Bu Nina sudah berada di dalam kelas, Nina saat itu mengajar pelajaran PKN. Lalu dengan pelan Nita mengetuk pintu dari luar.


“Tok, tok, tok! permisi Bu.”


“Tadi saya di suruh Kepala sekolah untuk menjemput Voni Bu.”


“Mana Voni nya, apakah dia nggak masuk hari ini?”


“Dia cabut Bu!” teriak David dari bangku paling belakang.


“Cabut lagi dia, anak itu selalu saja bikin masalah!”


“Minta di keluarkan itu Bu!”


“Hus! diam kamu David, itu bukan urusan mu.”


“Baik Bu.”


“Nah anak-anak! mari kita lanjutkan pelajaran kita hari ini!”


Usai dua jam belajar PKN, bel sekolah pun berdering menandakan seluruh siswa di perbolehkan pulang ke rumah masing-masing, begitu juga dengan Nita den teman-temannya yang lain mereka semua membubarkan diri.


Malam itu, mata Voni sulit untuk di pejamkan, dia sudah berusaha untuk membolak balikan badannya namun dia masih saja sulit untuk tidur. Diperhatikannya Lesti, Indan dan Intan, mereka bertiga begitu mudah sekali untuk tidur.


“Ya Allah mereka ini, anak-anak yang di sayangi oleh orang tuanya, mereka tak menanggung beban berat seperti aku, lalu bagai mana dengan nasib ku, apakah aku akan terus seperti ini?” Voni pun menangis dalam kesendiriannya. “Papa, apa yang mesti aku lakukan?” Voni benar-benar merasa terpuruk saat itu.


Lalu di raihnya jaket kulit yang tergantung di dinding kamarnya, di kenakan nya celana jins dan sepatu kulit pemberian almarhum Papanya.


Dengan melangkah pelan, Voni mencoba menyelinap dari balik pintu kamarnya. Cuaca dingin di luar sana, tak menyurutkan langkah kaki Voni untuk terus berjalan, sebatang rokok yang saat itu berada di tangannya di coba untuk menyulutnya dengan api.

__ADS_1


Persis seperti seorang preman, Voni pun melangkah meninggalkan rumah kosnya. Di tengah jalan Voni bertemu dengan seorang siswa pria yang tak lain adalah Kakak kelasnya, yang sering nongkrong bersamanya di kedai minuman.


Pria tampan itu pun menyapanya dengan senyum manis di bibirnya yang merah. Voni hanya menanggapinya dengan sinis.


“Bisa kita barengan?” ajak Rendi seraya menggandeng tangan Voni.


Saat tangan Rendi menyentuh tangan Voni, terasa ada yang berdebar di dalam dada gadis cantik itu, dia tampak berhenti melangkah dan diam untuk sementara waktu.


“Ada apa kok berhenti berjalan?”


“Nggak usah di pegangin.”


“Kenapa? kau takut?” tanya Rendi heran.


“Nggak! nggak apa-apa, hanya saja aku nggak biasa di sentuh laki-laki.”


“Lama-lama kau juga terbiasa kok.”


“Itu menurutmu bukan? menurutku sih, nggak.”


“Ah, yang benar saja kamu, kulihat hampir setiap malam kau bergaul dengan semua preman di kedai minuman itu, apakah nggak pernah laki-laki menyentuh mu?”


“Mereka itu sahabat ku Kak, mereka nggak ada yang kurang ajar pada ku!”


“Ya udah, akan ku lepaskan tangan ku,” jawab Rendi pelan.


Di luar dugaan Voni ketika tangan Rendi di lepas justru tangan itu pula yang tiba-tiba memeluk tubuh Voni dengan mesranya. Serta berulangkali mengecup bibir gadis itu dengan lembut.


Voni tak menolak saat itu, dia bahkan berusaha untuk menikmati apa yang telah di lakukan Rendi kepadanya. Nafas keduanya seperti berpacu, tak perduli mesti saat itu mereka berdua sedang berada di pinggir jalan.


Tak begitu lama kemudian, Voni langsung mendorong tubuh Rendi dengan pelan, sepertinya Voni tak ingin seperti itu.


“Kenapa kau menolak ku Voni?”


“Aku bukan gadis baik-baik, seperti yang ada di dalam pikiranmu Kak.”


“Aku nggak perduli Voni.”


“Ah, sudahlah, Kak. Ayo kita ke kedai.”


“Ayo.”


“Lebih baik kita berteman saja Kak, biar terlihat lebih akrap.”


“Tapi aku ingin lebih dari itu Voni.”


“Ah lupakan saja!” ujar Voni sembari terus menarik tangan Rendi ke kedai tempat biasa mereka mangkal.


Di tempat itu ada banyak pria yang datang dan pergi silih berganti. Namun mereka semua sangat menghormati dan menyegani Voni. Tak seorang pun di antara mereka yang bersikap kasar dan lancang pada Voni.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2