
“Iya, sekarang dia telah meringkuk di dalam sel, aku nggak pernah sudi melihat wanita berhati iblis itu, sampai mati pun, aku nggak akan pernah memaafkan semua kelakuannya, baik pada Voni mau pun pada putri kecil ku.”
Setelah mereka bercerita panjang lebar, lalu Bayu menyerahkan beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Voni, kemudian dia bertolak ke kota sore itu juga.
Tak terasa waktu terus saja melaju dengan kencang, menuju masa depan yang belum terarah, bergulir berpacu dengan cepat.
Berkat kegigihan Bramono yang terus mengajak Voni berobat kemana saja, akhirnya dengan pertolongan Allah, Voni menemukan seorang dokter yang bisa mengembalikan suaranya.
Bukan hanya itu saja, selain berobat dirumah sakit, Voni juga menjalani terapi berulang kali, dia mencoba berbagai macam cara yang di sarankan Bramono, bahkan meminum obat-obat herbal yang dapat membuat kesehatan tubuh Voni membaik dan stabil.
Beberapa bulan menjalani pengobatan dan terapi, akhirnya Voni sudah mulai bisa berbicara, suaranya berangsur keluar, mesti kecil dan begitu sulit sekali.
Tak terhitung sudah berapa banyak Bramono menghabiskan uang untuk pengobatan Voni, tapi dia tak pernah menyerah dan menyesalinya.
Demi orang yang sangat dia cintai, Bramono tak lagi memperdulikan uang yang telah dia keluarkan, asalkan Voni bisa berbicara itu telah membuatnya bahagia.
“Gimana sayang, cobalah bicara, apakah sudah bisa?” tanya Bramono seraya memegang punggung Voni.
“A, aku!”
“Alhamdulillah, kamu udah bisa bicara lagi sayang.”
“Iya Bram.”
Saat menyaksikan, Voni bisa bicara, hati Bramono begitu senang, dia tersenyum dengan cerah. Usaha yang dilakukannya tak sia-sia, mesti mengeluarkan begitu banyak uang, bagi Bramono itu tidaklah menjadi masalah, asalkan Voni bisa bicara lagi.
Setelah merasa berhasil, Bramono membawa Voni pulang ke rumah kontrakannya, dari hari ke hari, suara Voni sudah semakin jelas dan membaik.
Satu minggu setelah kesembuhannya, Voni mengikuti ujian akhir. Dia menjalani ujian dengan berhati-hati, agar mendapat nilai yang sempurna.
Seperti biasa, malam sebelum melakukan ujian, Voni melakukan sholat dan berdo’a kepada Allah untuk keberhasilan dan keselamatan kedua orang tuanya. Walau Luna tak lagi menyayanginya, namun Voni tetap berdo’a untuk keselamatan keduanya.
Semua itu sengaja dia lakukan agar Allah membukakan hijab, sehingga mudah bagi Voni untuk mengisi soal ujian.
Di saat yang sama, Luna yang selalu tersiksa oleh para nara pidana yang satu sel dengannya, merasa begitu tertekan dan mengalami depresi, di tambah lagi dia selalu melihat hantu Voni yang hampir setiap malam datang ingin menuntut balas padanya.
Pagi itu, Luna terlihat duduk diam di sudut penjara, seraya melihat semua orang sedang asik bermain Bola voli, dia tersenyum, menangis dan tertawa secara bersamaan, hal itu di laporkan oleh beberapa orang nara pidana pada penjaga penjara.
“Benar Ibu melihatnya seperti itu?”
“Iya, Bu.”
“Di mana dia sekarang?”
“Ada, saat ini dia sedang duduk di sudut sana Bu.”
“Baik, mari kita lihat dia kesana.”
Dengan bergegas, sipir penjara itu langsung melihat keadaan Luna yang terlihat persis seperti orang gila.
__ADS_1
“Hei! kamu ngapain di sana?” tanya sipir penjara pada Luna yang sedang asik bermain debu.
“Apa! kita main bersama yuk?”
“Baiklah, mari ikut saya, kita akan main di luar sana.”
“Hehe…main, haha, aku mau main, aku mau main…!” ujar Luna seraya tertawa senang.
Sementara itu, para nara pidana lainnya begitu terkejut melihat Luna menjadi depresi.
“Ada apa dengannya?” tanya Lola yang asik mengunyah makanan yang ada di tangannya.
“Dia itu mengalami depresi Bos.”
“Mengalami depresi? siapa yang membuatnya menjadi depresi?”
“Tapi bos sendiri kan, yang membuat dia depresi?”
“Hah, kau ini bicara apa?”
“Bukankah Bos selalu saja menekannya setiap hari, bukan hanya itu kan, Bos juga telah menyiksanya hingga menjadi gila.”
“Dia pantas untuk menerima semua itu.”
“Kenapa pantas Bos?”
“Karena dia membunuh putri kandungnya sendiri demi harta.”
“Heh, kamu ini bicara apa sih, apa mau ku buat seperti Luna?”
“Nggak Bos.”
“Bagus, kalau begitu tutup mulutmu dan menjauh dari hadapan ku.”
“Baik Bos.”
Karena di suruh pergi oleh Lola, Desi pergi melihat keadaan Luna yang tampak stres dan depresi.
“Emangnya dia itu kenapa Bu?” tanya Desi, ketika melihat Luna di masukkan ke dalam mobil tahanan.
“Dia mau di periksa.”
“Dimana diperiksa, Bu?”
“Di rumah sakit jiwa.”
“Ooo,” jawab Desi seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah Luna di bawa pergi dengan menggunakan mobil tahanan, Desi pun berlari melaporkan pada Lola, kalau saat itu Luna telah pergi.
__ADS_1
“Apa! Luna di bawa pergi menggunakan mobil tahanan?”
“Iya Bos.”
“Kemana?”
“Kerumah sakit jiwa, Bos.”
“Kasihan…!”
Setelah tiba di rumah sakit jiwa, Luna di keluarkan dari dalam mobil tahanan, ketika hendak turun, Luna melihat begitu banyak sekali mobil hilir mudik, saat itu timbul pada pikiran Luna untuk berlari mengejar mobil yang melaju di jalan raya.
“Hei! Bu Luna! kamu mau kemana? angkat tangan dan berdiri di tempat.
Mesti seruan petugas penjara terdengar jelas di telinganya, tapi Luna tetap berlari ke gerbang dengan kencang, sehingga kejadian yang tak terduga itu tak dapat di elakan lagi, sebuah mobil bus mini langsung menabraknya.
Luna terpental dan kepalanya membentur pagar rumah sakit, melihat kejadian itu para petugas berlarian untuk menyelamatkannya.
Luna kemudian mereka larikan ke dalam, dan mendapat perawatan yang intensif. Semua pihak merasa bersalah karena mereka lalai menjaga Luna yang sedang mengalami depresi.
“Gimana keadaan perempuan ini dok?”
“Sepertinya dia mengalami tekanan yang teramat berat, sehingga dia mengalami depresi.”
“Tapi dok, sewaktu kami memasukannya dalam tahanan, dia nggak seperti ini, dia bahkan kuat dan berani.”
“Berarti teman-teman yang ada satu sel bersamanya yang telah menekan dan menyiksanya.”
“Ya, aku rasa memang itulah yang selama ini terjadi di dalam sel itu.
Baiklah akan ku selidiki, apa benar itu yang terjadi selama ini.”
Setelah pembicaraan mereka selesai, Luna mereka titipkan di rumah sakit itu untuk mendapatkan perawatan yang baik, agar mentalnya kembali stabil.
Siang hari, ketika Voni selesai mengikuti ujian akhir, dia kembali kerumahnya, perasaannya merasa tak tenang, seperti telah terjadi sesuatu.
Saat tiba di rumah Voni duduk diam di depan teras, Anum yang melihat Voni termenung, dia ingin sekali mengetahui apa yang terjadi dengan anak asuhnya itu.
“Ada apa Non, kenapa diam saja?”
“Perasaan ku nggak enak Bi, seperti telah terjadi sesuatu.”
“Barang kali Mama Non, sakit.”
“Aku nggak tahu Bi, kalau benar dia sakit, pasti ada kabar dari penjara pada kita.”
“Dari mana orang penjara tahu, kalau Luna itu Mama Non? bukankah selama ini kita nggak pernah meninggalkan alamat pada mereka.”
“Iya juga ya?”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*