
Mereka semua tahu, kalau Voni adalah gadis yang loyal dan tak pernah pelit pada mereka, jika ada salah seorang di antara para preman itu yang butuh uang karena keluarganya, maka Voni tak segan-segan mengeluarkan uang untuk mereka. Apalagi jika hal itu berhubungan dengan Ibu dan Ayah mereka.
Sebenarnya tak ada yang di lakukan Voni di kedai itu selain merokok dan minum, dia hanyalah gadis yang butuh teman dalam pergaulannya.
Sambil menyulut sebatang rokok, Voni tampak duduk tenang dan santai, dia ingin melepaskan semua rasa sepi yang selalu merongrong perasaannya.
“Hai Voni! sapa seseorang dari meja sebelah kiri tempat Voni duduk.
“Hai Pendi! selamat malam,” jawab Voni dengan tenang.
“Nggak minum?”
“Nggak Pen, aku lagi nggak mut saat ini.”
“Kenapa? lagi ada masalah?”
“Oh, nggak!”
“Ayolah Voni, sedikit saja.”
“Eh Pendi, kalau Voni nggak mau jangan di paksa dong!” potong Rendi kesal.
“Lho, kok kau marah Ren?”
“Bukankah Voni udah menolaknya, lalu kenapa kau tetap memaksa?”
“Emangnya, apa urusan mu pake marah segala!” Pendi pun memukul meja dengan kuat dan keras.
Melihat Pendi udah mulai main kekerasan, Voni langsung angkat bicara, dia berdiri dan melerai keduanya agar tidak bertengkar.
“Kalian ini kenapa sih, hobi sekali berantem, yang menentukan minum apa nggak nya itu aku! bagai manapun Pendi memaksa aku minum, kalau aku nggak berminat, ya nggak minum!”
“Maaf, maaf! habis Pendi bikin kesal.”
“Kau lagi Pen! kau nggak perlu menawarkan aku minum, kalau aku mau aku bisa ambil sendiri minuman di meja sana.”
“Iya, iya! aku tahu.”
“Hanya masalah sepele gitu aja, kalian langsung berantem, kayak nggak ada pekerjaan aja, selain berantem.”
Mendengar Voni bicara seperti itu, Rendi dan Pendi hanya diam saja, mereka berduapun kembali duduk di kursi masing-masing. Sambil menikmati alunan musik yang mendayu, Voni tampak begitu rileks sekali malam itu.
Seperti biasa, saat subuh tiba barulah Voni kembali pulang ke rumah kosnya. Baru saja dia mulai memejamkan matanya, di situ pula seluruh anak-anak kos terbangun untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.
“Kamu nggak sekolah Voni?” tanya Lesti saat itu.
“Duluan dah, aku nanti saja menyusul.”
“Nanti kamu terlambat Voni.”
Voni tak menjawab, dia bahkan menarik kain selimutnya hingga menutupi bagian kepala. Melihat hal itu Lesti, Indan dan Intan langsung berangkat ke sekolah.
Sudah dua hari Voni tak masuk sekolah, dia enggan berangkat, sepertinya Voni lebih memilih diam sendiri di rumah kosnya ketimbang berangkat untuk belajar.
Saat Voni tak terlihat, Bayu ternyata datang menemui majikannya di rumah kos itu, karena terlihat sunyi, Bayu memutuskan untuk menunggu di luar sekolah.
Ketika bel sekolah berdering, Bayu cepat-cepat berdiri di gerbang sekolah menunggu anak-anak keluar untuk istirahat, dua orang anak perempuan tampak keluar dari pintu gerbang, lalu Bayu menghampirinya.
“Dek, mau tanya, boleh nggak?”
__ADS_1
“Boleh, Om mau tanya apa?”
“Kamu kenal Voni nggak?”
“Kenal, Om ini siapanya Voni?”
“Om, adalah Omnya Voni.”
“Oh gitu?”
“Voni nya ada?”
“Dia udah tiga hari nggak masuk Om?”
“Dia kemana?”
“Nggak tahu!”
Mendengar jawaban dari kedua siswi itu, hati Bayu menjadi tak tenang, lalu dia mencoba mendatangi rumah kos Voni.
Kebetulan sekali, waktu itu Ibu pemilik kos sedang berada di rumah, Bayu pun langsung menemuinya dan meminta Ibu itu untuk melihat Voni di dalam kamarnya.
“Baik Pak, kalau begitu tunggulah disini sebentar, saya akan panggilkan Voni.”
“Iya Bu, terimakasih.”
Dengan bergegas perempuan itu langsung menuju ruang kamar Voni. Baru saja pintu kamar Voni di buka Ranti langsung menjerit histeris. Hal itu membuat Bayu terkejut dan berlarian menuju kamar Voni.
“Ada apa Bu?”
“Lihat Pak!”
Ibu pemilik kos hanya menatap pilu dari depan pintu rumahnya.
“Rumah sakit ada di sebelah mana Bu?”
“Sebelah sana Pak.”
Seperti yang telah di beri tahukan Ranti pada Bayu, maka Bayu langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar dia bisa menyelamatkan nyawa Voni, dari percobaan bunuh diri yang dilakukannya.
“Voni, Voni. Kenapa kamu melakukan ini semua nak? Om sangat kasihan sekali melihat nasib mu sayang.”
Setiba di rumah sakit, Bayu langsung melarikan Voni kedalam, dia berteriak-teriak meminta bantuan pada perawat yang ada di sekitar tempat itu. Dengan cepat beberapa orang perawat langsung berdatangan memberikan pertolongan untuk Voni.
Voni langsung mereka bawa ke ruangan UGD untuk mendapat pertolongan medis. Saat itu Bayu menunggu di ruang tunggu dengan begitu cemas sekali.
Ranti yang sedang berdiri di depan rumahnya, dia baru sadar dan langsung melaporkan kejadian itu Ke Kepala sekolah.
“Kapan kejadiannya Bu?”
“Saya nggak tahu kejadiannya kapan Pak, tapi ketika saya membuka pintu kamarnya Voni telah melakukan bunuh diri.”
“Mana dia sekarang Bu?”
“Sudah di larikan Omnya ke rumah sakit.”
“Om nya? Om siapa Bu?”
"Pria yang waktu itu menitipkan Voni ke rumah saya Pak.”
__ADS_1
“Berarti orang yang sama, yang waktu itu menitipkan Voni belajar di sekolah ini.”
“Iya Pak, memang dia itu orang yang sama.”
“Di rumah sakit mana mereka Bu?”
“Di rumah sakit Yarsi Pak.”
“Baiklah, kalau begitu saya akan kesana sekarang. Sebaiknya Ibu nggak usah menyebarkan berita ini dulu pada yang lainnya, karena saya takut mereka semua pada panik.”
“Baik Pak,” jawab Ranti pelan.
Setelah Bramono pergi, Ranti pun langsung pergi, karena dia tak ingin bertemu dengan para guru lainnya, sebab Ranti telah berjanji tak akan menyebarkan berita itu ke yang lain.
“Eh, Bu Ranti, dari mana?” tanya Riska ingin tahu.
“Oh, Bu Riska. Nggak ada Bu.”
“Nggak ada? tapi Ibu kok berada di depan ruang Kepala sekolah.”
“Rencana saya tadi mau menemui Kepala sekolah, tapi nggak jadi.”
“Kenapa nggak jadi?”
“Kepala sekolahnya sedang pergi Bu.”
“Ooo, gitu.”
“Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu.”
“Iya, baiklah.”
Dengan tergesa-gesa, Ranti kembali pulang kerumahnya, sementara itu Bramono yang datang ke rumah sakit Yarsi, saat itu telah tiba di halaman parkir rumah sakit itu.
Bramono langsung mendatangi petugas rumah sakit yang sedang bertugas saat itu, untuk menanyakan keadaan Voni.
“Pasien yang bernama Voni saat ini, dia sedang berada di ruang UGD Pak.”
“Masih di ruang UGD ya Sus.”
“Iya Pak. dokter sedang menanganinya saat ini.”
“Bapak siapa?”
“Saya kepala sekolahnya.”
“Kalau begitu, silahkan Bapak langsung ke ruangan UGD.”
“Baik Sus.”
Dengan langkah cepat Bramono langsung menuju ruangan itu, di saat dia telah tiba di depan ruangan itu, Bramono melihat Bayu sedang duduk resah menunggu Voni sadar.
“Assalamu’alaikum,” ucap Bramono seraya menjabat tangan Bayu.
“Wa’alaikum salam,”sambil menyambut uluran tangan dari Bramono.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1