
“Ketika transaksi hendak berlangsung, satu kompi pasukan khusus anti narkoba datang dan menyergap mereka, semua orang yang berada di restoran itu di geledah dan di tangkap. Saat kedatangan pasukan itulah, mereka membuang barang haram itu.”
“Mereka membuangnya ke mana?”
“Ke bawah kaki ku.”
“Apa! mereka melemparnya ke bawah kaki mu?”
“Iya Bram, untung saat itu semua orang menjadi panik, maka kesempatan itu ku manfaatkan untuk menggeser barang haram itu ke bawah gorden. Setelah kami semua di bawa, di perjalanan aku membuat nego dengan mereka, aku memberikan barang bukti yang mereka cari, asalkan aku dan Indah di lepaskan.”
“Apakah negosiasi kalian berhasil?”
“Iya, mereka dapatkan barangnya, aku dan Indah mereka lepaskan.”
“Oh syukurlah.”
“Untung saat itu mereka mau bernegosiasi, coba kalau nggak, pasti kalian mereka bawa dan di tahan.”
Di saat Voni sedang asik bicara dengan Bramono, seorang tetangga datang, menemui Anum, dia mengantarkan sepucuk surat yang dititipkan tukang pos kepadanya. Surat itu di buka Anum dari amplopnya.
“Ya Allah, ini surat dari pengadilan negeri.”
Setelah surat itu di baca, Anum tampak sedikit resah, dia ingin sekali menyampaikan isi pesan itu pada Voni secepatnya.
Sementara itu Voni yang berada di rumah Bramono dia sedang asik menikmati makan malam bersama kekasihnya.
“Habis makan aku langsung pulang ya Bram.”
“Kenapa?”
“Kasihan Bi Anum, sendirian di rumah.”
“Ya sudah. Kayaknya semenjak ada Anum, Bapak selalu di nomor dua kan.”
“Hee..! itu bisanya Bapak aja kan!” ujar Voni seraya mencubit pipi Bramono.
Merasakan sentuhan tangan Voni, Bramono hanya bisa tersenyum manis. Namun dia tak mau menahan Voni untuk pulang.
“Ayo Bram, cepat dikit makannya napa sih?”
“Kenapa keburu-buru sayang? kan Bapak lagi makan.”
“Nanti aku kemalaman pulangnya.”
“Sekarang pulang kemalaman dikit aja, kamu udah mengeluh. Dulu, pulang sampai pagi, kamu kayaknya biasa aja tuh.”
“Sayang, sekarang aku nggak seperti dulu lagi, aku mau berubah untuk jadi orang baik. Bukankah itu harapan mu?”
“Iya sayang, Bapak sangat senang sekali mendengarnya, semoga harapanmu akan menjadi kenyataan.”
__ADS_1
“Nah kalau begitu aku pulang dulu.”
“Baiklah sayang, hati-hati.”
“Iya.”
Dengan perasaan bahagia, Voni pulang ke kontrakannya, dia berjalan santai di pinggir trotoar jalan menuju rumahnya, tiba-tiba saja, dari arah berlawanan, sebuah Avanza berwarna hitam, menabrak Voni.
Voni tak menyangka sama sekali, mobil yang awalnya berada jauh di sebelah kanan, tiba-tiba saja meluncur kearah dirinya, Voni pun tak dapat mengelak lagi dan akhirnya dia terpental begitu jauh dalam kondisi tubuh patah dan luka.
Darah segar berceceran di mana-mana, mobil yang menabrak Voni, bukannya berhenti untuk menyelamatkan dirinya, dia justru lari menjauhi korban.
Beberapa orang warga pun berdatangan memberikan pertolongan untuk Voni, sebagian diantara mereka memanggil Bramono dan sebagian lagi memanggil Anum.
Isak tangis pecah seketika, Anum tak kuasa menahan kesedihannya. Perempuan itu memeluk tubuh Voni yang berlumuran darah dengan erat sekali.
Bramono dengan mobilnya telah siap melarikan Voni kerumah sakit, gadis malang itu akhirnya mendapat pertolongan medis.
“Entah berapa kali lagi Voni harus tidur di ranjang itu,” ucap Anum pelan, ketika melihat Voni mendapatkan pertolongan medis di ruang UGD.
Beberapa jam menunggu di luar, seorang dokter datang menghampiri Bramono dan Anum, senyum dokter itu membuat hati keduanya sedikit lega.
“Gimana keadaannya dok?” tanya Bramono penasaran.
“Alhamdulillah, nasib gadis itu masih mujur, dia hanya mengalami patah di tangan sebelah kirinya, dan luka memar di bagian dada dan punggung, itupun nggak segitu parah.”
Disaat Voni di rawat di rumah sakit, mobil Avanza berwarna hitam itu ternyata di kendarai oleh istri Aswadi, perempuan itu sengaja melakukannya karena dendamnya pada Voni yang selalu menjadi masalah bagi suaminya.
Sebenarnya Fitri, sudah lama mencari momen seperti itu, namun selalu saja gagal, kebetulan waktu itu, hanya Voni sendiri yang berjalan, maka kesempatan berharga itu tak ingin di sia-siakan oleh Fitri.
Setelah menabrak Voni, malamnya Mata Fitri begitu sulit untuk di pejamkan, bayangan kematian Voni membuatnya menjadi gelisah dan takut.
Aswadi merasa heran, karena tak biasanya Fitri susah tidur, dengan lembut, Aswadi mencoba mengorek rahasia yang di sembunyikan Fitri.
“Kamu kenapa sih sayang? nggak biasanya kan, kamu susah tidur?”
“Iya Bang, aku juga nggak tahu.”
“Pasti ada sesuatu yang membuatmu sulit tidur, bicaralah, Abang akan mendengarkannya.”
“Nggak ada Bang, aku nggak punya masalah apa-apa kok.”
“Benar, kamu lagi nggak ada masalah?”
“Iya Bang.”
“Baiklah, tapi kalau nanti kamu punya masalah, kamu cerita sama Abang ya?”
“Iya.”
__ADS_1
Mesti mata Fitri begitu sulit untuk di pejamkan, namun waktu tak bersedia bekerja sama dengannya. Malam yang gelap itu secara perlahan berlalu menjemput pagi yang siap menjanjikan sejuta harapan.
Seperti biasa, pagi itu Aswadi berangkat lebih awal ke sekolah, sedangkan Fitri, diapun pergi meninggalkan rumahnya, untuk mendengar informasi dari warga yang menyaksikan kecelakaan yang menimpa Voni.
Dengan pelan Fitri menyusuri trotoar jalan, yang di lalui Voni hingga mengalami kecelakaan. Saat itu, Fitri berpapasan dengan seorang Ibu yang biasa berjualan di pinggir jalan.
“Bu Hasnah!” panggil Fitri yang bergegas menghampiri wanita tersebut.
“Eh, Bu Fitri, ada apa ya? tumben, pagi-pagi udah kesini, biasanya selalu berkurung di rumah.”
“Iya Bu, aku mendapat kabar, katanya tadi malam Voni mengalami kecelakaan ya, Bu?”
“Ooo, kejadian yang tadi malam itu?”
“Iya.”
“Bu Fitri memang benar, malam tadi Voni memang mengalami kecelakaan, kondisinya sangat parah, wajahnya hancur, seluruh tubuhnya mangalami patah tulang dan saat ini dia udah dilarikan kerumah sakit.”
“Lalu gimana keadaannya sekarang Bu?”
“Entahlah, kami semua belum mendengar kabar tentangnya, kalau di lihat dari luka yang di alaminya, aku yakin, sulit untuk Voni kembali membaik.”
“Wah, kasihan sekali dia.”
“Iya.”
“Apakah warga udah tahu, siapa yang menabrak Voni, Bu?”
“Nggak Fit, yang menabraknya melarikan diri, semua warga menyumpahinya, biar mendapatkan karma yang setimpal dari apa yang telah dia lakukan.”
Mendengar kata yang di ucapkan Hasnah, jantung Fitri berdebar begitu kuat, darahnya berdesir mendidih hingga ke ubun-ubun. Walau demikian, Fitri tak bisa berbuat apa-apa.
“Baiklah Bu, kalau begitu aku permisi dulu.”
“Iya Fit, iya.”
Walau Fitri kesal, namun dia terus saja berjalan menuju rumahnya, Aswadi yang saat itu sedang berada di rumah, dia melihat istrinya pulang dengan tergesa-gesa dalam keadaan tersenyum senang.
“Kamu dari mana, Fit?” tanya Aswadi.
Pertanyaan yang datang secara tiba-tiba itu membuat Fitri gelagapan, dia tak menyangka, kalau Aswadi suaminya telah berada di dalam rumah.
“Lho, Abang? ak…aku…!”
“Dari mana? kok kamu jadi gugup saat ku tanya?”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1