Terjebak

Terjebak
Part 73 Ketakutan Bayu


__ADS_3

“Apakah nggak ada orang di luar, sehingga kamu bisa masuk kedalam kamar ini diam-diam?”


“Nggak, kayaknya pembantu Bapak juga nggak ada di luar.”


“Dia pulang kampung, katanya anaknya sedang sakit keras.”


“Apakah dia akan kembali?”


“Katanya sih, nggak.”


“Aduh!”


“Kenapa?”


“Perempuan itu begitu lembut, aku merasakan kasih sayang darinya.”


“Nanti akan Bapak carikan perempuan yang lebih baik dari itu, agar kau bisa merasakan kasih sayang darinya.”


“Aku nggak mau Bram, perasaan itu sepertinya nggak bisa di buat-buat sesuka hati kita.”


“Iya, kau benar sayang.”


“O iya, kalau begitu kau istirahatlah dulu, Bapak mau mandi sebentar.”


“Jangan pakai lama Bram.”


“Iya sayang.”


Sewaktu Bramono pergi ke kamar mandi, Voni keluar dari kamar itu, dia langsung pergi ke dapur untuk memeriksa makanan Bramono.


“Hm, ternyata Bapak cuma masak telur.”


Saat itu Voni punya ide, dia mencoba membuka kulkas dan mencari bahan apa saja yang bisa di masak. Saat pintu di baka, betapa terkejutnya Voni, karena kulkas Bramono sangat padat dan banyak isinya.


“Astagfirullah, padat benar isi kulkas Bramono ini.”


Satu persatu bahan-bahan itu di keluarkan Voni dan di bawanya ke dapur, tanpa sengaja ternyata Voni memasak masakan kesukaan Bramono.


Setelah masakan selesai, lalu Voni duduk di depan meja makan sambil menunggu Bramono datang untuk makan.


“Kamu ngapain disitu?” tanya Bramono heran.


“Mau makan.”


“Mau makan? tapi Bapak nggak masak apa-apa hari ini sayang?”


“Tapi aku udah memasaknya.”


“Kamu masak apa?”


“Lihat aja sendiri."


Tak percaya dengan apa yang di lakukan Voni, Bramono langsung bergegas menghampiri meja makan dan melihat langsung apa yang di masak Voni.


“Ya ampun, kau memasak makanan kesukaan ku sayang.”


“O ya? Bapak dapat ikan gurami ini dari mana?”


“Kemaren, saat Bapak pergi ke pasar, Bapak melihat ada orang yang menjual ikan ini, jarang lho ada orang yang menjualnya di pasar,” ucap Bramono seraya menyicipi masakan Voni.


“Hm…!”


“Gimana rasanya Bram?” tanya Voni penasaran.


“Rasanya kayak…!”


“Kayak apa Bram?”

__ADS_1


“Kayak enak!”


“Ah…! kamu ini Bram.”


“Ternyata kamu bisa masak juga ya.”


“Bi Anum yang ngajari.”


“Kamu betah tinggal bersamanya sayang.”


“Iya, Bi Anum telah merawat ku semenjak aku bayi, bahkan dia belum berkeluarga karena ingin mengabdi pada keluargaku.”


“Kenapa kalian nggak menyuruhnya untuk berkeluarga?”


“Bi Anum nggak mau.”


Sore itu Voni dan Bramono menikmati makan berduaan, mesti Voni nakal dan suka mencari masalah, namun dia bukanlah tipe gadis yang seperti itu.


Sementara itu di tepat yang berbeda, Luna kembali mendatangi rumah Bayu, Luna ingin tahu di mana Voni tinggal dan menetap.


“Buat apa sih, Ibu menanyakan keberadaan Non Voni terus? apa Ibu mau menyakiti dia lagi?”


“Nggak Bay, aku mau meminta maaf padanya. Aku sadar, kalau selama ini aku terlalu keras pada putri ku sendiri.”


“Tapi aku benar-benar nggak tahu Bu.”


“Kau bohong Bay, aku tahu dari orang suruhan ku, kau sering mengantarkan berkas perusahaan pada Voni.”


“Itu karena Non Voni sendiri yang mendatangi ku, Bu.”


“Mendatangi gimana, maksud mu?”


“Dia menunggu ku di suatu tempat, lalu aku yang di suruh kesana.”


“Baiklah, kapan kau mengantarkan berkas itu lagi, aku mau ikut bersama mu.”


“Hm, baiklah, besok Ibu boleh ikut bersama ku."


“Makasih Bay.”


Kelembutan Luna kali itu membuat Bayu tak berdaya, Luna sepertinya benar-benar ingin berubah dan kembali menyayangi putrinya.


Malam itu saat Bayu tertidur dengan pulas, tiba-tiba saja dia tersentak dan langsung duduk, pikirannya tak tenang saat itu. Lalu Bayu membangunkan istrinya.


“Ada apa Bang? kenapa kau terlihat gelisah?” tanya Mega ingin tahu.


“Aku takut, Luna akan berbuat nekad dan kembali menyakiti Voni seperti di persidangan waktu itu.”


“Emangnya Bu Luna mau kemana?”


“Dia mau ikut bersama ku, menemui Voni.”


“Bu Luna itu licik orangnya, dia bisa berbuat nekad, jika keinginannya tidak terpenuhi.”


“Kau benar Ma, aku jadi takut sendiri.”


“Kalau begitu, coba Abang hubungi saja Voni, suruh dia berhati-hati jika Mamanya datang kesana.”


“Iya, Ma. Aku akan menghubunginya sekarang.”


Sesuai anjuran istrinya, Bayu langsung menelfon Voni malam itu juga. Anum yang mendengar ponsel Voni berdering berulang kali, dia langsung mengangkatnya.


“Hallo! dengan siapa ini?” tanya Anum ingin tahu.


“Bi, Non Voni ada?”


“Ooo, Om Bayu ya?”

__ADS_1


“Iya Bi.”


“Non Voni lagi tidur Om, apa perlu Bibi bangunkan?”


“Kalau bisa.”


“Baiklah, akan Bibi bangunkan dia.”


“Makasih Bi.”


“Iya sama-sama,” jawab Anum seraya menghampiri Voni.


Sementara itu Istri Bayu merasa resah menunggu Voni mengangkat telponnya, dia tampak duduk tak tenang di samping suaminya.


“Gimana Bang, apa kata Voni?”


“Yang tadi ngangkat telpon Bi Anum, katanya Voni lagi tidur.”


“Apakah Bi Anum mau membangunkannya?”


“Katanya sih, begitu.”


Di saat bersamaan, Anum dengan pelang datang menghampiri majikannya yang sedang tidur dengan nyenyak. Semenjak Anum tinggal bersamanya, Voni tak pernah lagi keluar malam dan merokok serta mabuk-mabukan. Karena hampir setiap detik Anum selalu mengingatkan gadis nakal itu.


“Non, Non Voni, Non, bangun.”


“Hm…! ada apa Bi? kenapa malam-malam begini Bibi membangunkan aku?”


“Ada telfon dari Om Bayu Non.”


“Om Bayu? dia menelfon malam-malam begini? ada apa ya Bi?”


“Bibi nggak tahu Non, tapi Bibi rasa ada hal penting yang ingin di sampaikan Bayu, barang kali.”


“Iya Bi, baiklah,” jawab Voni seraya mengambil ponsel itu dari tangan Anum.


Sebelum Voni berbicara dengan Bayu, suasana malam itu terasa begitu hening dan sunyi, jantung Anum berdebar kuat sekali rasanya.


“Hallo! Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”


“Ada apa Om?”


“Begini Non, tadi siang, Mama Non datang menemui Om.”


“Terus?”


“Mama Non ingin bertemu dengan Non, awalnya Om nggak mau ngasih tahu di mana Non tinggal, tapi Mama Non tetap maksa.”


“Mau ngapain dia ingin bertemu dengan ku, Om?”


“Katanya, dia mau damai, dan memaafkan semua kesalahan Non.”


“Apakah Om yakin, Mama akan memaafkan aku?”


“Itulah yang menjadi buah pikiran Om kali ini Non, gimana ini, soalnya besok Mama Non mau ikut bersama Om.”


Saat mendengar hal itu, Voni hanya diam saja, bukan dia tak mau bertemu dengan Mama kandungnya sendiri, tapi Voni tak yakin kalau Mamanya itu punya niat baik padanya.


“Gimana ya Om, aku nggak tahu jalan keluarnya.”


“Waduh Non, Om jadi pusing nih.”


“Kalau nggak, begini saja. Om berangkat saja besok diam-diam, setelah selesai sholat subuh.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2