Terjebak

Terjebak
Part 54 Penyesalan Rendi


__ADS_3

“Rencana apa itu?” tanya Rendi penasaran.


“Nanti kau ajak Voni ke rumah Kepsek, nanti aku bersama yang lain menanti di sana.”


“Apa alasan ku membawanya ke sana?”


“katakan kalau dia di panggil Bramono.”


“Aku nggak mau,” tolak Rendi terang-terangan.


“Dasar bodoh kau Ren, masa kau begitu mudahnya menyerahkan gadis yang kau cintai pada pria tua itu.”


Sebenarnya hati Rendi begitu menolak, tapi karena hasutan Heru yang membuatnya begitu yakin, itulah sebabnya, Rendi akhirnya menuruti kemauan Heru.


Seperti rencana yang sudah mereka sepakati. Sore itu, Rendi mendatangi Voni ke rumah kosnya, sebenarnya saat itu Voni merasa heran dengan kedatangan Rendi, tapi dia tak mau berfikir yang macam-macam pada Rendi yang baik padanya.


“Ada apa Ren? tumben kau datang kesini?” tanya Voni heran.


“Pak Bram memanggil mu.”


“Ah, masa!” jawab Voni tak percaya.


“Aku serius Von.”


“Aku nggak percaya Ren, itu pasti akal-akalan mu saja kan?”


“Aku serius, sebenarnya hati ku begitu sakit sekali saat dia memberiku perintah, tapi karena dia Kepala sekolah, aku terpaksa harus mengikutinya.”


“Dimana dia sekarang?”


“Dirumahnya.”


“Baik sebentar lagi aku akan kesana.”


“Tapi kata Kepsek sekarang Voni.”


“Kau ini kenapa sih Ren, siapa sebenarnya yang telah menyuruh mu? apakah Heru?”


Mendengar ucapan Voni, Rendi merasa sedikit ketakutan, karena dia bisa membaca pikiran Rendi saat itu. Voni merasa kedatangan Rendi yang tak biasa itu telah mengundang kecurigaan di hatinya.


“Baiklah, kalau begitu aku bersiap dulu.”


“Ya udah ku tunggu ya?”

__ADS_1


“Iya,” jawab Voni seraya bergegas mengganti pakaiannya.


Celana Jin dan kaos oblong yang sudah di potong tangan, menjadi pakaian favorit yang selalu di gemari Voni setiap kali dia berpakaian.


“Ayo Ren.”


“Ayo! kau tampak begitu cantik mesti berpakaian seadanya Von.”


“Nggak usah merayu ku Ren, aku ini udah menjadi kekasih orang.”


“O iya, aku lupa.”


“Apakah semua pakaianmu selalu Kenshi seperti ini Von?”


“Kenapa? apakah pakaian ku mengganggu pandangan mata mu?”


“Oh nggak.”


“Dulu aku ini seorang gadis pendiam dan tak banyak bicara Ren, tapi setelah Papa meninggal, aku mendapat masalah dan lama hidup di jalanan. Kau tahu nggak Ren, hidup di jalanan kota besar, jauh lebih berbahaya bila di bandingkan dengan di Desa.”


“O ya?”


“Iya.”


“Aku nggak melihat Bramono ada di rumah Ren?”


“Ada! dia sendiri tadi yang menyuruh ku memanggil mu.”


“Kau nggak lagi membohongi aku kan?” tanya Voni yang merasa khawatir saat itu.


“Nggak Von, Rendi itu nggak pernah berbohong, tapi aku yang mengajaknya agar dia mau berbohong pada mu.”


“Heru?”


“Iya! kenapa? kau kaget?”


“Bukan hanya aku doang kok, masih ada yang lainnya bersama ku.”


Lalu satu persatu anak-anak itu bermunculan di hadapan Voni, saat itu Voni benar-benar merasa sedikit takut saat melihat cara pandang anak-anak itu terhadap dirinya.


Heru yang pertama mencoba menghampiri Voni, langsung di lawan oleh Voni hingga dia merasa kewalahan, secara bersamaan Farel dan beberapa orang teman yang lainnya ikut membantu Heru untuk menghajar Voni. Akan tetapi, mereka juga merasa kewalahan.


Mesti Voni bertubuh kecil dan ramping, tapi kelincahan dan tendangan kakinya tak bisa di anggap remeh. Beberapa orang di antara anak-anak itu, ada yang terkapar di atas tanah dengan wajah memar dan terluka.

__ADS_1


Merasa dirinya dalam bahaya, dia berusaha untuk lari, tapi Heru menjerat kaki Voni, sehingga gadis itupun tersungkur dan keningnya membentur tanah.


Saat itu pandangan mata Voni sedikit kabur dan gelap, tapi dia mencoba untuk berdiri, mesti saat itu tubuhnya sedikit terhuyung.


Rendi yang melihat gadis yang di cintainya di perlakukan seperti itu oleh Heru, dia menjadi marah pada Heru, hingga adu kekuatan pun berlangsung diantara mereka berdua.


Di saat Rendi dan Heru berkelahi, Farel dan yang lainnya berusaha untuk mengikat tubuh Voni dan di larikan kedalam hutan karet.


Setibanya di hutan karet, Voni di lemparkan ke tengah hutan dalam keadaan tubuh terikat kuat dengan tali, mesti saat itu dia terus berontak, namun voni tak mampu.


Beberapa saat kemudian Heru datang, dengan santai, dia membuka sebagian tali yang mengikat tubuh Voni sementara kaki dan tangan gadis itu masih di ikat dengan kuat. Sedangkan mulut Voni mereka lakban.


“Kau kira, kau bisa lari dari Heru hah!” teriak Heru seraya membuka baju Voni.


“Kurang ajar kau Heru, kau bukan laki-laki berani, kau hanya seorang pengecut yang takut dengan seorang wanita!” gumam Voni di dalam mulut yang di lakban.


Tapi Heru bukannya merasa kasihan dengan Voni, dengan tenang dia melepas pakaian Voni, sehingga dengan jelas Heru bersama temannya yang lain melihat sebagian tubuh Voni.


Betapa bernafsunya mereka semua ketika melihat payudara Voni yang indah, mesti Heru berusaha untuk melakukan hal yang tak baik pada Voni, namun gadis itu tetap saja liar, sehingga hal itu membuat Heru berulang kali menampar wajah Voni, hingga gadis itu tak sadarkan diri.


“Ayo! siapa di antara kalian yang mau menodainya? akan ku bayar dua juta kes.” ujar Heru pada Farel dan temannya yang lain.


“Aku nggak mau!” ujar Farel dengan suara lantang.


“Bodoh! bodoh kalian semua, kenapa kalian nggak ada yang mau melakukannya?”


“Karena kami masih ingin sekolah Heru, kalau kau nggak takut pada Kepala sekolah, maka silahkan saja kau melakukannya sendiri!” jawab Farel dan yang lainnya seraya bergegas menuju sepeda motor mereka dan kembali keluar dari hutan karet.


Karena semua temannya sudah pergi, Heru merasa takut, dia juga takut di keluarkan dari sekolah, untuk itu dia hanya menggulingkan tubuh Voni kedalam jurang yang tak begitu dalam.


“Mampus kau di sana Voni, biar binatang hutan melahap tubuhmu yang wangi itu!” teriak Heru seraya meninggalkan Voni sendirian di tengah hutan karet.


Sementara itu Rendi yang telah mengalami luka memar di sekujur wajahnya, berusaha bangkit dan mencari keberadaan Bramono.


“Kemana Kepsek, kenapa dia nggak kelihatan? Ya Allah, padahal Voni dalam bahaya saat ini,” gumam Rendi pelan.


Tak berapa lama kemudian Rendi mendengar deru sepeda motor anak-anak yang keluar dari hutan karet.


“Ya Allah, itu mereka telah kembali, bagai mana dengan Voni saat ini? apakah dia masih di dalam hutan? atau mereka semua telah menodai gadis itu? oh tidak, kenapa kau begitu bodoh Rendi, ulah kelakuan mu, saat ini Voni terjebak di hutan karet sendirian,” lanjut Rendi seraya berjalan mencari keberadaan Bramono.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2