
Saat menyelamatkan Voni, Bramono tak mau kalau gadis kesayangannya di sentuh oleh muridnya yang sudah berbuat kriminal.
“Eko!” panggil Kepsek dari bawah tebing.
“Iya Pak!”
“Apakah kau ikut melakukannya?”
“Nggak Pak,” jawab Eko.
“Kalau begitu, bantu Bapak mengangkat tubuh Voni ke atas.”
“Baik Pak,” jawab Eko seraya bergegas turun dan membantu Bramono mengangkat tubuh Voni yang telah mereka buang ke bawah lereng tebing.
Dengan rasa sedih yang mendalam Bramono menggendong tubuh Voni yang belum sadarkan diri. Dengan sabar, Bramono menunggu Voni sampai sadar, begitu juga dengan Heru dan yang lainnya, mereka juga ikut diam menantikan Voni siuman.
Sesaat kemudian, Voni baru sadar dari pingsannya, dia melihat begitu banyak orang yang mengelilinginya.
“Eko, bantu Voni menaiki sepeda motor, biar Bapak yang mengendarainya.”
“Baik Pak,” jawab Eko pelan.
“Kamu bisa kan Voni?”
“Bisa Pak.”
“Apakah kau merasa sakit?”
“Nggak Pak.”
“Kalau begitu, mari!” ujar Bramono sembari membantu Voni untuk berdiri dan berjalan menuju sepeda motor miliknya.
Setelah Voni berada di belakang Bramono, lalu pria itu langsung mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Suasana hutan karet yang tadinya sepi kembali ramai oleh deru sepeda motor.
Setibanya di rumah Bramono, Voni langsung di bawa masuk kedalam, semua anak-anak yang tadinya ikut membantu Bramono, tetap berada di luar untuk menanti perintah dari orang nomor satu di SMA Semangat negeri itu.
“Kalian pulanglah, urusannya besok kita selesaikan!”
“Baik Pak.”
Setelah mendapat perintah dari Bramono, mereka semua kembali ke kosnya masing-masing. Suasana hati Heru dan yang lainnya tampak di landa kegalauan.
“Kenapa kau melaporkan kejadian itu pada Kepala sekolah Ren?” tanya Farel ingin tahu.
“Aku takut Voni kenapa-napa, kalian semua jahat dan nggak punya hati, jika saja Voni di mangsa oleh binatang buas, kalian kira kita akan terbebas begitu saja? nggak Farel.”
“Apa maksud mu Ren?”
“Kita udah melakukan perbuatan kriminal, dan hal ini bisa di laporkan ke polisi.”
“Tapi Ren, itu semua kan ide gilanya Heru, lalu kenapa kita bisa terbawa dengan masalah ini?”
“Kau lupa, siapa yang telah mengikat tangan dan kaki Voni serta membawanya ke hutan karet, kau kan? berarti kau telah membatu Heru dalam melancarkan aksinya.”
"Ya, kau benar Ren, kita semua pasti kena imbasnya."
"Berdo'a lah, semoga Kepsek mau memaafkan kita semua."
"Iya, hanya itu yang dapat kita lakukan saat ini."
__ADS_1
Sementara itu, Voni yang telah di bawa Bramono ke rumahnya, langsung di mandikan pembantunya. Gadis cantik itu terlihat diam saja, ke tika pembantu Bramono menyisir rambutnya.
“Kamu ini kenapa bisa di hutan karet sendirian nduk?”
“Aku kesasar Bu.”
“Apakah kamu nggak takut?”
“Nggak Bu, sebab aku nggak sadarkan diri.”
“Ooo, gitu?”
“Mereka melakukan apa pada mu Voni?” tanya Bramono ingin tahu.
“Heru menyentuh tubuh ku, Pak."
“Anak itu benar-benar udah keterlaluan!”
“Dia bahkan menyuruh temannya memperkosa ku.”
Setelah Voni di mandikan dan di ganti pakaiannya, lalu Voni minta izin untuk kembali ke rumah kos. Bramono pun mengizinkan nya.
Malam itu Voni tak bisa tidur, dia teringat dengan perbuatan Heru yang telah melecehkannya di hutan karet.
“Kurang ajar kau Heru, berani-beraninya kau menyentuh tubuh ku, kau rasakan nanti pembalasan ku!” celetuk Voni kesal.
Keesokan harinya, tanpa berfikir panjang Voni langsung bergegas menuju kelas Heru, dia melihat dari pintu kelas kearah dalam. Namun Voni tak melihat ada Heru disana.
“Kurang ajar ternyata dia nggak sekolah pagi ini.”
“Ada apa Voni?” tiba-tiba Voni mendengar seseorang memanggilnya dari belakang, ketika dia hendak berbalik.”
“Kamu nyarik siapa?”
“Heru Kak.”
“Heru di panggil Kepsek, dia disuruh menghadap.”
“Ooo, gitu ya? kalau begitu aku permisi dulu ya Kak.”
“Iya.”
Voni yang mengetahui kalau Heru sedang berada di ruang Kepsek, dia mencoba menguping pembicaraan mereka dari luar kantor.
“Selain kalian mengikat dan membawanya ke tengah hutan, lalu apa lagi yang kalian lakukan ke pada gadis itu?”
“Kami nggak melakukan apa-apa Pak.”
“Bohong! Bapak nggak percaya dengan ucapan kalian, kalau memang kalian nggak melakukan apa-apa padanya, kenapa baju Voni bisa terlepas?”
“Itu semua Heru yang melakukannya Pak,” jawab Farel pelan.
“Heru?”
“Iya Pak.”
“Benar itu Heru?”
“Benar Pak, tapi aku nggak melakukan apa-apa padanya Pak.”
__ADS_1
“Bapak nggak percaya, setelah kau membuka pakaian Voni lalu kau biarkan begitu saja, tanpa menyentuhnya terlebih dahulu?”
“Iya Pak, aku ngak melakukan apa pun padanya sore itu. melihat semuanya pergi, aku juga ikut pergi dan mendorong tubuh Voni ke bawah lereng.”
Voni yang saat itu berada di luar menguping pembicaraan mereka, menjadi marah. Tanpa berbasa-basi dia langsung masuk kedalam dan menghajar Heru dengan beringasnya. Bramono dan anak-anak yang lain berusaha untuk menarik tangan Voni, tapi gadis itu tetap bersikeras untuk menghajar Heru.
“Kau bilang kau nggak menyentuh ku Heru! kau benar-benar keparat Heru!”
Heru diam saja mendengar makian Voni, dia sadar kalau saat itu dia telah berbohong untuk menyelamatkan dirinya dari kemarahan Bramono.
“Jadi kau telah menyentuh Voni?”
“Saya hanya menyentuh sedikit saja Pak.”
“Bohong, kalau aku nggak berusaha berontak, pasti kau melakukan lebih dari itu.”
Setelah pengakuan Heru dan Farel, Bramono pun mengambil keputusan, kalau Heru bersama keempat temannya, di keluarkan dari sekolah.
Mesti Heru telah berusaha untuk meminta maaf pada Bramono, tapi keputusan Bramono telah di buat dan tak dapat di ganggu gugat.
Penyesalan mulai tergambar di wajah mereka berempat, perbuatan kriminal yang telah mereka lakukan, telah membuat nama sekolah tercoreng.
Pagi itu juga Heru dan yang lainnya mengumpulkan semua peralatan sekolah mereka dan meninggalkan rumah kos, untuk menuju kampung halaman.
Sementara itu, Indah dan Intan sudah kembali bersekolah pagi itu, tapi tak ada Lesti bersama mereka. Bramono yang melihat kedatangan mereka, langsung mengabarinya pada Voni.
“Benarkah itu Bram?”
“Iya, tapi nggak ada Lesti bersama mereka. Nanti, tolong kau panggil mereka, katakan pesan dari Bapak.”
“Baiklah, Bram. Mereka berdua benar-benar udah keterlaluan, begitu teganya dia meninggalkan Lesti sendirian di sana," gerutu Voni kesal. “Maaf Bram, aku harus menemui mereka dulu,” sambung Voni kemudian.
“Mereka siapa Von?”
“Indah dan Intan.”
“Nanti aja.”
“Nggak bisa, aku harus pastikan keselamatan Lesti dan bayinya.”
Dengan tergesa-gesa, Voni langsung menuju kelas Intan, saat itu mereka berdua masih berada di dalam kelas, lalu Voni memanggilnya dari luar.”
Kebetulan saat itu Bu Farida yang mengajar mereka di dalam kelas, kemudian Voni mengetuk pintu kelas itu dan menyuruh Intan dan indah keluar untuk menemuinya.
“Permisi Bu!”
“Ada apa Voni?” tanya Bu Farida ingin tahu.
“Aku ingin bertemu dengan Indan dan Intan.”
“Tapi mereka sedang belajar Voni.”
“Aku nggak perduli, aku butuh mereka sebentar Bu, ini menyangkut nyawa Lesti.”
“Baiklah.”
Dengan rasa resah Voni menunggu mereka berdua di luar kelas, lalu Intan dan Indah muncul dengan rasa tak bersalah mereka.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*