Terjebak

Terjebak
Part 87 Kesal karena di bebaskan


__ADS_3

“Aku ingin mengeluarkan Mama dari penjara!”


Mendengar ucapan Voni, sipir penjara tersebut lalu membuat surat pernyataan, sebagai jaminan pembebasan yang di lakukan Voni untuk Mamanya.


Voni pun mengeluarkan uang untuk membayar pembebasan Mamanya, kemudian dia bersama Bramono pergi tanpa bicara sepatah katapun pada Luna.


“Ibu sudah bebas, sekarang Ibu boleh keluar.”


“Saya udah bebas, Bu?”


"Iya."


“Oh, syukurlah…hahaha,” ucap Luna seraya tertawa senang.


“Silahkan keluar!”


“Baik Bu, baik.”


Di sepanjang jalan, Luna bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa kira-kira orang yang telah berbaik hati membebaskannya dari tahanan. Tak ingin membuatnya penasaran, lalu Luna menghampiri sipir penjara itu.


“Maaf Bu, boleh nggak saya tahu siapa kira-kira orang yang telah membebaskan saya.”


“Kenapa Ibu ingin tahu? karena orang yang telah membebaskan Ibu, minta kalau namanya di rahasiakan.”


“Ooo, begitu ya,” jawab Luna sedikit sedih.


“Tapi Ibu merasa senang kan jika di bebaskan?”


“Iya sih, tapi jika saya nggak tahu siapa yang telah membebaskan, pasti saya merasa telah berhutang budi padanya.”


“Tentu Ibu berhutang budi padanya, Ibu ingin tahu siapa dia?”


“Iya, Bu, Iya.”


“Dia orang yang sangat menyayangi Ibu!”


“Cukup! sekarang saya udah tahu, siapa yang telah berusaha untuk menjadi pahlawan itu, dia pasti Voni, anak durhaka itu!”


“Masih bilang dia anak durhaka?”


“Iya, dia itu anak durhaka, calon penghuni neraka!”


“Astaghfirullah, teganya Ibu bicara seperti itu pada darah daging Ibu sendiri.”


“Memang hanya kata-kata itu, yang tepat di ucapkan kepadanya.”


“Dasar orang tua nggak waras.”


“Kamu tuh yang nggak waras!”


“Sudah! sudah! sana pergi!”


“Huuh…!”


Sambil berjalan pelan, Luna terus saja menggerutu, dia begitu kesal, karena Voni telah membebaskannya dari penjara. Luna tak ingin putrinya itu menjadi besar kepala, karena telah berhasil menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


“Awas kau Voni, jangan kau kira dengan membebaskan Mama, kau langsung mendapat ucapan maaf. Mama bahkan akan membuat perhitungan dengan mu, Mama akan tuntut kau sampai menangis darah di pengadilan.”


Sumpah Luna tak main-main, segala cara pasti akan dilakukannya untuk melenyapkan Voni dari dunia ini, karena bagi Luna, Voni adalah musuh nomor satu yang harus dilenyapkan, agar seluruh harta Sanjaya jatuh ke tangannya.


Di tempat lain, Intan yang telah berhenti dari sekolahnya, memilih hidup menjadi wanita penghibur. Papa dan Mamanya udah tak bisa menghentikan sepak terjangnya.


Malam itu dengan mengendap-endap Intan keluar dari dalam kamarnya, dia sengaja pergi secara diam-diam agar Papa dan Mama tak melihat kepergiannya.


Malam itu dia berdandan sangat menor sekali, tiba-tiba saja dari arah timur sebuah sepeda motor berhenti tepat di hadapannya, lalu intan pun naik serta pergi bersama pria itu.


“Kita pergi ke hotel mana sayang?” tanya Robi pada Intan yang duduk menempel seperti perangko di belakang punggung pria itu.


“Terserah Abang saja.”


“Baik, kita ke penginapan saja, malam ini.”


“Kenapa, Abang udah kehabisan uang?”


“Uang ku hanya untuk membayar mu malam ini, nanti kalau aku menang taruhan judi, maka kita akan berkencan di hotel bintang lima.”


“Gombal! jangankan hotel bintang lima, hotel biasa saja, kamu udah nggak sanggup.”


“Kan tadi aku udah bilang, kalau aku lagi nggak punya uang.”


“Ya udah, terserah kamu aja deh!” jawab Intan pasrah.


“Apa sih enaknya tidur dan berkencan di hotel bintang lima itu?”


“Ya enaklah.”


“Hus…! jaga mulut mu, kalau bicara.”


“Emang benarkan?”


“Udah, nggak perlu di bahas, aku nggak suka.”


“Ya udah.”


Tak berapa lama kemudian, Robi dan Intan tiba di penginapan yang di tuju. Setelah berhenti mereka berdua langsung masuk kedalam penginapan yang telah dia pesan sebelumnya.


Bersama pria hidung belang yang telah membayarnya, Intan mendapatkan kenikmatan di malam itu, setelah selesai mandi, lalu pagi itu Intan diantar kembali pulang kerumahnya.


Saat Intan kembali, Yuli melihat putrinya berjalan pelan memasuki rumah, hatinya terasa begitu sakit sekali, melihat kelakuan Intan yang tak pernah berubah.


“Udah selesai jual dirinya!” bentak Yuli dengan suara keras.


“Eh, Mama ngomong apa sih?”


“Ngomong apa, ngomong apa? emangnya kau nggak punya telinga hah! atau jangan-jangan, kau juga udah kehilangan muka!”


Intan tak menjawab, dia hanya diam saja. Tak sepatah katapun yang bisa dia ucapan saat itu, karena kata-kata yang di ucapkan Mamanya, memang benar.


“Sekarang jawab Mama! dari mana saja kau?”


“Aku hanya pergi main sebentar kok Ma.”

__ADS_1


“Pergi main kata mu? pergi main dari semalam, pagi baru pulang?”


“Mama nggak usah cemas deh, aku bisa kok jaga diri, nggak perlu di ajari juga kali!"


“ Heh, Mama mengajari mu yang baik, agar kelak kau mendapat suami yang baik juga nak.”


“Suami? Suami apa Mam, aku nggak butuh suami, aku hanya butuh kesenangan saat ini!” bentak Intan, seraya berlari menuju kamarnya.


“Astaghfirullah, nak. Sadar kamu, sadar!” kata Yuli sembari terhenyak duduk di teras rumahnya.


“Ada apa Ma?” tanya Pak Aris, ketika melihat istrinya menangis di depan rumah.


“Intan Pa, Intan. Dia pulang pagi lagi,” kata Yuli, sembari menangis histeris di depan suaminya.


Perasaan Yuli, sangat sedih sekali. Pasalnya, Intan gadis kesayangannya justru berani berbuat asusila.


“Papa harus tegas padanya!”


“Tegas gimana Ma? kalau Papa tegas, maka Intan akan Papa usir dari rumah sekarang juga, apa Mama mau, Papa berbuat seperti itu?”


“Jangan di usir Pa.”


“Kalau nggak di usir, lalu Papa mesti gimana Ma!”


“Tegur saja, dia. Beri pengertian kepadanya, kalau perbuatannya itu telah mencoreng harkat dan martabat keluarga kita.”


“Emangnya, kita masih punya martabat ya, Ma?”


“Entahlah Pa.”


“Martabat kita telah di injak-injak oleh putri kita sendiri Ma.”


“Jadi kita mesti gimana Pa?”


“Gimana kalau kita suruh saja di keluar dari rumah ini, Ma?”


“Apa Papa tega, mengusirnya dari rumah ini? Papa tahu sendiri kan, Intan itu putri kita satu-satunya Pa.”


“Jika nggak seperti itu, dia nggak bakalan berubah Ma.”


“Jika dia diusir dari rumah ini, lalu dia di pelihara oleh orang yang berbeda agama dengan kita, gimana? apa Papa mau dia pindah agama?”


“Nggak sih, lalu apa yang mesti kita lakukan saat ini, Ma?”


“Entahlah Pa, Mama nggak tahu.”


Kesulitan hati kedua orang tua Intan, tak tahu kemana harus mereka adukan. Intan putri satu-satunya telah memilih jalan hidupnya sendiri.


Seperti biasa, sore itu Intan telah berdandan begitu menor dan mencolok, seluruh tubuhnya di semprot menggunakan Parfum kelas atas yang dia beli dari hasil jual diri.


Lima jam Intan berdiri di depan sebuah cafe tempat dia biasa mangkal, namun tak seorang pun pria hidung belang menawar dirinya malam itu.


Karena frustasi, lalu Intan membeli sebotol minuman dan dia meminumnya sambil menunggu tamu yang datang.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2