Terjebak

Terjebak
Part 54 Siasat jahat Heru


__ADS_3

“Dimana lagi?”


“Di pantai dan dirumah kosong yang ada di pinggir hutan.”


“Saat ini Lesti pergi untuk menggugurkan kandungannya, bersama Indah dan Intan. Jika saja terjadi sesuatu padanya, maka kau yang akan Bapak laporkan ke Polisi.”


“Kenapa mesti aku yang harus di laporkan Pak?”


“Bukankah kau yang menginginkan agar kandungan Lesti di gugurkan?”


“Iya Pak.”


“Kenapa? karena kau nggak mau bertanggung jawab, lalu kau menyuruhnya untuk menggugurkan?”


“Iya Pak.”


“Baiklah, sekarang kau boleh pergi, tunggu keputusan dari Bapak.”


“Baik Pak,” jawab Heru seraya melangkah pelan, meninggalkan ruangan kepala sekolah.


Heru yang merasa rahasianya terbongkar, dia merasa marah pada Voni, karena saat itu Heru begitu yakin kalau Voni lah yang melaporkan kejadian itu pada Bramono.


Tepat sekali waktu itu, Heru berpapasan dengan Voni yang hendak menuju kelasnya. Sambil berjalan santai Heru menyenggol tangan Voni dengan keras dan kasar.


Voni yang merasakan sakit, dia tersulut amarah saat itu, tanpa berfikir panjang Voni langsung menantang Heru dengan suara yang lantang.


“Kamu ini apa-apaan sih Heru, kau kira aku takut dengan mu! gara-gara kelakuan mu, saat ini Lesti sedang bertaruh nyawa di meja operasi, dasar laki-laki keparat kau, berbuat aja yang bisa tapi nggak mau bertanggung jawab!”


Mendengar ucapan Voni, darah Heru jadi mendidih, tanpa berfikir panjang lagi dia langsung meninju Voni, Voni pun mengelak, lalu dia membalas pukulan Heru dengan sangat keras.


Adu kekuatan terjadi begitu lama, sehingga beberapa orang guru berusaha untuk melerai mereka. Namun Voni terlalu tangguh untuk Heru, pria itu di hajar habis-habisan oleh Voni hingga wajahnya mengalami luka memar.


Tak berapa lama kemudian Bramono datang, dia melihat Voni menghajar Heru habis-habisan, saking marahnya Voni saat itu, dia sampai tak melihat kedatangan Bramono di dekatnya.


Dengan pelan Bramono langsung menarik tangan Voni, dan memisahkannya dari Heru. Voni yang tak melihat kedatangan Bramono dia langsung menarik tangannya agar terlepas dari pria itu, tapi Bramono terlalu kuat untuk melepaskan genggaman tangannya.


“Bapak!” ujar Voni seraya melemahkan tangannya dari genggaman Bramono.


“Sekarang bersihkan tubuh kalian, setelah itu datang ke kantor Bapak.”


“Baik Pak, jawab Voni dan Heru pelan.


Kemudian Bramono pergi meninggalkan mereka yang masih terdiam, sementara para guru yang hadir saat itu, merasa heran dengan permasalahan yang sedang di hadapan antara Voni dan Heru.


Di sekolah tak ada yang tahu tentang kehamilan Lesti, mesti anak-anak kos sudah ada yang tahu tentang kehamilan itu, tapi Voni menyuruh mereka semua tutup mulut.


Voni dan Heru yang di suruh membersihkan diri, sebelum menghadap ke kantor, mereka berdua sudah terlihat berdiri di pintu ruang kepala sekolah.


“Silahkan kalian masuk!” ujar Kepala sekolah


Kemudian Voni dan Heru masuk kedalam, mereka berdua duduk tepat di hadapan Bramono, mesti berdekatan tapi mereka saling emosi.


“Kenapa kalian bertengkar?”

__ADS_1


Keduanya saling diam, baik Voni mau pun Heru tak ada yang berani menjawab pertanyaan Bramono.


“Kenapa diam? tadi kalian persis seperti jagoan Bapak lihat.”


“Itu karena Voni yang memancing emosi ku terlebih dahulu, Pak,” jawab Heru berbohong.


“Betul begitu Voni?”


“Nggak Pak.”


“Kalau begitu, mana yang benar?”


“Begitulah kenyataannya Pak, Voni sengaja memancing emosi ku, hingga kami bertengkar.”


“Kayaknya, kau minta di hajar lagi Heru!”


“Apa maksudmu mau menghajar ku?”


“Ucapan mu itu! ternyata kau bukan pria yang jujur Heru, pantasan kau berusaha membodohi Lesti selama ini.”


“Apa maksud mu Voni?”


“Kau ingin tahu maksud ku!” teriak Voni seraya melayangkan pukulannya ke wajah Heru, sehingga Bramono yang saat itu sedang berada di hadapannya tak kuasa menarik tangan Voni.


“Voni!” teriak Bramono seraya mencoba berdiri.


Sementara itu Heru, yang di pukul oleh Voni langsung terjungkal bersama kursi tempat duduknya.


Bramono tak dapat berbuat apa-apa, karena saat itu dia merasa marah sekali, namun dia harus menahan emosinya.


“Aku nggak berbohong Pak.”


“Sekarang coba kau ceritakan pada Bapak dengan jujur ,Voni.”


“Baik. Tadi, ketika Heru keluar dari kantor, kami berdua berpapasan, dan dia menyenggol ku dengan kuat sekali.”


“Benar begitu Heru?”


“Nggak Pak.”


“Masih saja berbohong, apa kau mau Bapak keluarkan dari sekolah ini, Heru?”


“Nggak Pak.”


“Kalau begitu bicaralah dengan jujur.”


“Voni benar Pak.”


Setelah Heru berkata dengan jujur, lalu mereka berdua langsung di izinkan keluar kantor, walau telah mendapat izin, tapi Heru tak terima, dia bahkan menantang Kepsek mengeluarkannya.


“Baik, kau tahu, kenapa Bapak menyuruh kalian keluar?”


“Nggak Pak.”

__ADS_1


“Kau tahu siapa Voni?”


“Tahu, dia itu gadis yang memiliki segudang masalah, kepala Bapak pusing menghadapinya, untuk itu jangan kau pancing juga emosi gadis itu.”


“Itu karena Voni adalah kekasih Bapak!”


“Baik, sekarang terserah mu, coba kau katakan pada Bapak, mau mu Bapak mesti gimana?”


“Bapak mesti memarahi Voni, kapan perlu beri dia hukuman atau Bapak skor dia beberapa minggu dari sekolah ini!”


“Ooo, ternyata kau lebih hebat dari Bapak ya, lalu gimana dengan urusanmu yang menghancurkan masa depan Lesti? cepat jawab!” bentak Bramono keras.


Heru diam saja, dia tak menyangka kalau rencananya akan berbalik pada dirinya sendiri. dengan rasa kesal, Heru keluar dari kantor kepala sekolah. Hati Heru begitu sakit sekali, karena dia tak berhasil menghasut Kepsek untuk menjatuhi hukuman untuk Voni.


Malam itu, Heru tampak sangat gelisah, dia sepertinya sedang merencanakan sesuatu untuk Voni, tapi sejauh itu, Heru masih belum bisa mendapatkan cara yang tepat untuk menjebak Voni. Tak lama kemudian Heru mendatangi Rendi yang duduk di depan rumah kosnya.


“Hai Ren!” sapa Heru saat itu.


“Hai.”


“Tumben nggak keluar malam ini?” tanya Heru pada Rendi.


“Lagi malas,” jawab Rendi seraya pergi meninggalkan Heru.


“Tunggu dulu Ren?”


“Ada apa?”


Jangan masuk dulu, sebaiknya kita cerita dulu.”


“Aku capek Her.”


“Pasti masalah Voni.”


“Ah nggak!”


“Udah! nggak usah bohong. Kau pula, terlalu lemah! bukankah Voni itu kau yang mendapatkannya, kok seenaknya saja Bramono memetik hasilnya?”


“Maksud mu apa?”


“Apa kau nggak merasa sakit hati, melihat Voni bercinta dengan Bramono? Kalau aku sih nggak bakalan merelakannya.”


Mendengar hasutan Heru, Rendi merasa terpancing dengan tipu daya itu, dia yang awalnya hendak pergi, akhirnya kembali duduk di samping Heru.


“Maksudmu gimana?”


“Kau perkosa Voni, saat dia hamil, kau bisa mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu padanya, jadi secara tak langsung kau bisa menjadi milik Voni seutuhnya.”


“Kau benar juga Heru, tapi kau tahu sendirikan, kalau Voni itu jago bela diri.”


“Tenang saja, aku punya cara yang jitu untuk membungkamnya,” jawab Heru pada Rendi.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2