Terjebak

Terjebak
Part 30 Menemui Mama


__ADS_3

Lama Voni duduk diam di pinggir trotoar, namun dia tak punya pilihan selain pergi secara diam-diam, dengan menaiki taksi, Voni pergi menghampiri rumah peninggalan Papanya.


“Mau kemana Neng?” tanya sopir taksi pada Voni.


“Ke jalan Melati Pak.”


“Baik.”


Mobil pun melaju kencang di tengah keramaian kota, di bangku belakang tampak Voni diam saja, dia bahkan tak merasa takut sama sekali.


Udah tiba Neng,” ujar sopir taksi.


Hal itu mengagetkan Voni, lalu dia pun menoleh kearah luar, dia melihat rumah warisan untuknya terlihat kusam dan kotor.”


“Bisa Bapak tunggu sebentar?”


“Baik Neng,” jawab sopir taksi pelan.


Perlahan Voni turun dari mobil, dengan pelan dia berjalan menuju rumah mewah itu, sementara sopir taksi yang melihat Voni melangkah menghampiri rumah mewah itu, dia merasa heran.


“Ngapain gadis itu menghampiri rumah mewah itu, kurang kerjaan,” gerutu supir taksi pelan.


Dari jendela luar, Voni menoleh ke arah dalam, di bawah tangga rumah itu, Voni melihat seorang anak kecil berjalan.


“Ya Allah, apakah itu adik ku?” tanya Voni pada dirinya sendiri.


Dengan pelan Voni langsung masuk kedalam rumah mewah itu, saat pintu hendak di buka Anum tiba-tiba saja muncul.


“Non Voni!”


“Ssst…!”


Karena Voni menyuruh diam, Anum langsung diam. Lalu dia menghampiri Voni dan memeluk majikannya itu dengan lembut. Anum menangis histeris, begitu juga dengan Voni.


“Gimana kabarnya Non, udah lama kita nggak jumpa.”


“Iya Bi,” jawab Voni pelan.


Lalu Voni berusaha melepaskan pelukannya pada Anum, Voni kemudian bergegas menghampiri adiknya yang sedang berdiri di bawah tangga.


“Siapa dia Bi?”


“Dia Abi, adik Non Voni.”


“Adik ku.”


“Iya Non.”


Mendengar ucapan Anum, Voni menghampiri Abi yang menatap tajam kearahnya, belum sempat Voni menyentuh adiknya, tiba-tiba saja Luna datang dan melarang Voni mendekati putranya.


“Jangan sentuh dia!”


Voni kaget, mendengar suara Luna yang menggelegar di telinganya, Voni langsung terdiam dan kembali berdiri dengan pelan.


“Siapa kau berani sekali menyentuh putra ku!”


Voni diam saja, dia tak mau bicara, mesti saat itu hatinya mulai memberontak. Dia berdiri kaku seperti patung. Lalu Luna menghampirinya dan menarik Abi dari hadapan Voni.


“Usir dia Bi, jangan biarkan pembunuh ini masuk kedalam rumah!” teriak Luna marah.


“Aku bukan pembunuh, suami Mama yang berusaha memperkosa ku, lagian dia tak pantas menjadi Papa ku, dia menikahi Mama hanya karena harta Papa.”


“Diam kau! sekali lagi kau bicara, maka aku akan menendang mu keluar dari rumah ini.”


“Kau nggak akan bisa menendang ku dari rumah ini, karena kau tahukan, sebentar lagi umurku akan genap tujuh belas tahun, dan seluruh harta Sanjaya akan menjadi milik ku.”

__ADS_1


“Diam, nggak ada harta Sanjaya disini!”


“Kata siapa? aku sudah pernah melihat surat wasiatnya, lalu kita gantian, aku yang bakal mengusir Mama dari rumah ini.”


Mendengar ucapan Voni, Luna begitu marah dan menyuruh Anum untuk mengusir Voni. Sebenarnya Anum begitu keberatan, tapi karena Voni tak mau kalau Anum yang jadi sasaran Luna, makanya Voni keluar dari rumah itu secara pelan.


“Kau Mama yang jahat! kau mengusir putrimu sendiri demi harta dan cinta gila mu itu!”


“Diam! pergi kau dari sini, pergi!”


“Maafkan Bibi Non, Bibi nggak bisa berbuat apa-apa.”


“Iya Bi, aku mengerti.”


Tak berapa lama, Voni mendengar suara Luna yang berteriak keras, kalau dia akan mengajukan gugatannya ke pengadilan.


“Tunggu aku di pengadilan, kau nggak akan bisa mendapatkan semua harta ini sendiri!”


Voni mengabaikannya mesti saat itu dia mendengar dengan jelas perkataan Mamanya. Voni menghampiri taksi yang sengaja menunggu kedatangannya di luar pagar besi yang berdiri kokoh di depan rumahnya.


“Jalan Pak!” ucap Voni pada supir taksi.


“Itu rumah siapa Neng?”


“Rumah ku.”


“Ooo, rumah Neng, tapi kok Neng nggak tidur di rumah itu?”


“Aku sedang mengikuti perlombaan Pak.”


“Ooo, gitu.”


Setelah mendapat jawaban dari Voni, supir taksi itu tak lagi bertanya, dia hanya Fokus menyetir mobilnya, hingga ke gedung pertemuan.


Setelah turun Voni mengeluarkan uang lembaran seratus ribu dan menyerahkan pada supir tua itu.


“Tiga puluh lima ribu Neng.”


“Ini, Bapak ambil saja sisanya.”


“Tapi banyak sekali Neng.”


“Nggak apa-apa.”


“Terimakasih Neng.”


“Sama-sama.”


Saat turun dari taksi, ternyata Bramono telah menantikannya di depan pintu penginapan. Bramono tampak begitu marah sekali pada Voni.


“Jangan marah dulu, nanti ku jelaskan,” jawab Voni seraya berlari menuju kamarnya.


Melihat Voni berlari menuju kamarnya Bramono langsung mengikutinya dari belakang, dia ingin tahu apa sebenarnya yang telah di lakukan Voni di luar sana.


“Sekarang coba jelaskan pada Bapak, ke mana saja kau pergi barusan Voni?”


“Aku nggak kemana-mana Pak.”


“Nggak kemana-mana? udah jelas kau baru turun dari taksi, lalu kau bilang nggak kemana-mana?”


“Aku nggak kemana-mana Pak.”


“Kau tahu Voni, seisi gedung ini kacau, setelah Bapak mengabarkan kau menghilang. Lalu kami mencari mu kemana-mana. sekarang kau bilang kau nggak kemana-mana, Ya Allah hukuman apa yang kau berikan kepada ku.”


Melihat Bramono sedih, Voni tak tega, dia langsung menghampiri Bramono dan memeluknya dengan lembut.

__ADS_1


“Maafkan aku Pak.”


“Kenapa kau melakukan semua ini pada Bapak Voni?”


“Maafkan aku.”


“Hanya kata-kata maaf yang bisa kau ucapkan di saat kami semua merasa resah dan bingung.”


“Sebenarnya aku tadi dari rumah Mama.”


“Dari rumah Mama?”


“Iya.”


“Kenapa kau nggak ngasih tahu Bapak sebelum berangkat, agar Bapak dan semua orang di sini nggak kebingungan mencari keberadaan mu.”


“Ide itu muncul secara tiba-tiba tanpa aku konsep dulu.”


“Apakah kau bertemu dengan Mama mu?”


“Iya.”


“Lalu apa kata Mama mu?”


“Dia menyuruh ku datang ke pengadilan.”


“Sebenarnya apa sih urusan kalian berdua hingga berujung ke pengadilan?”


“Karena aku di tuduh membunuh Papa.”


“Jadi Papamu meninggal karena di bunuh?”


“Papa ku meninggal karena di racun.”


“Ya Allah, apakah ucapan mu itu benar Voni?”


“Iya, aku juga tahu siapa yang telah meracuninya.”


“Siapa?”


“Mama.”


“Ya ampun, lalu kenapa Mama menuduh mu membunuh Papa?”


“Dia hanya Papa tiri ku Bram.”


Jawaban Voni membuat Bramono menjadi bingung, dia tak mengerti sama sekali, masalah yang sedang di hadapi Voni saat itu.


“Ya udah, lain kali aja kita lanjutkan, sekarang kita fokus pada perlombaan ini.”


“Baik Pak.”


“Lain kali, kalau kamu mau pergi bicara dulu pada Bapak, jangan seperti ini lagi, bikin Bapak takut, tahu nggak.”


“Iya, iya!”


Malam itu setelah acara pendaftaran selesai, seluruh peserta di izinkan untuk beristirahat, begitu juga dengan Voni dia tampak diam di kamarnya sendirian.


Tak berapa lama kemudian, Bramono datang mengetuk pintu dari luar, dengan bermalas-malasan Voni pun membuka pintunya dengan pelan.


“Boleh Bapak masuk?”


“Silahkan.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2