
“Kau nggak mandi Voni?”
“Nggak cuma cuci muka doang!”
“Astaga…! kau nggak takut kalau Bramono mencium mu nanti.”
“Dia yang mau mencium kok, bukan aku yang menyodorkan diri, kenapa mesti takut.”
“Kau ini ya, bisa aja.”
“Tapi, mesti aku nggak mandi, kan tetap mirip orang mandi kan?”
“Oh, tuhan! kau begitu pandai mencari alasan Voni, terserah mu saja lah!”
“Kalau begitu mari kita berangkat, nanti kelamaan Bramono bisa marah pada ku.”
Habis waktu setengah jam menunggu kedatangan Voni, hal itu membuat semua siswa menjadi resah berdiri di lapangan. Setelah Voni menyatu dengan barisan, barulah Kepsek masuk kelapangan.
Di atas podium, tampak Bramono bicara dengan suara lantang, dia mengumumkan tentang keberhasilan yang di dapat oleh gadis yang selama ini selalu membuat onar di sekolah.
“ Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab anak-anak serentak.
“Baiklah anak-anak Bapak sekalian, hari ini adalah langkah awal sekolah kita mecapai prestasi, setelah sekian lama, kita tak mendapatkan apa-apa. melalui perlombaan Fisika antar propinsi dan pertandingan pencak silat yang baru saja, akhirnya Voni berhasil mengharumkan nama sekolah kita.
Mendengar kemenangan Voni seluruh siswa bertepuk tangan, begitu juga dengan para guru yang berbaris di bagian depan. mereka semua merasa senang dengan keberhasilan itu.
“Dan untuk anak kita Voni, Bapak persilahkan maju ke depan. agar bisa membagikan sedikit pengalamannya untuk para teman dan siswa yang lainnya.”
“Aduh kacau! kenapa mesti ke depan sih, kan aku nggak bisa bicara?”
“Ayolah Voni, kau pasti bisa,” ujar Nita seraya mendorong tubuh Voni, agar segara maju kedepan.
“Tapi aku nggak bisa Nit?”
“Kau pasti bisa, hanya bicara doang kok.”
“Tapi aku grogi, Nit.”
Karena Voni tak kunjung maju ke depan, Bramono mengulangi pemanggilan untuk Voni. Tapi Voni tampak tertunduk dan gugup.
Mesti saat itu dia tak sanggup, namun Voni tetap maju kedepan, dia harus menunjukan pada semua warga sekolah, kalau saat itu dia benar-benar mampu.
Di atas podium, tampak Voni berdiri degan tegar. Saat itu dia terdiam sejenak, karena tak tahu mesti bicara apa pada semua teman-teman yang ada di hadapannya.
“Baiklah teman-teman sekalian, sebenarnya begitu sulit bagi ku, untuk bicara di hadapan kalian. Tapi karena ini pengalaman ku sendiri, jadi aku akan membagikannya pada kalian semua.”
Suasana tampak begitu hening, saat Voni hendak memulai membagikan pengalamannya di hadapan seluruh teman-temannya.
__ADS_1
“Sebenarnya, kunci keberhasilan kita adalah doa’ dan dukungan dari seluruh guru, tanpa mereka, kita bukanlah siapa-siapa. Mesti selama ini kalian beranggapan aku suka berbuat onar dan jahat pada guru, tapi kalian harus tahu, kalau semua itu terjadi tentu ada alasannya.”
Dengan linangan air mata, Voni mencoba tetap tegar dan berdiri kokoh di hadapan semua teman-temannya.
“Karena motifasi dari mereka semua, saat ini aku bisa berdiri dengan tegar di hadapan kalian semua. Begitu juga dengan kepala sekolah kita, yang telah memberiku semangat dan motifasi yang kuat, agar aku bisa tekun dan giat dalam berlatih.”
Di penghujung kata itu, Voni menyempatkan diri untuk melirik Bramono yang berdiri tenang di dekat tiang bendera. Sekilas dia tampak tersenyum saat Voni memujinya.
“Nah, teman-teman, hanya itu sepenggal pengalaman yang dapat saya curahkan pada kalian semua, untuk itu manfaatkanlah semua ilmu yang telah kalian dapatkan selama ini dari para guru kalian. wabillahi taufik wal hidayah, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Rasa haru serta linangan air mata mewarnai kejadian pagi itu, semua guru tak pernah menyangka sama sekali, kalau Voni dengan lantang memuji para guru-guru yang telah berjasa padanya.
“Bagus sekali, terimakasih untuk anak kita Voni regina Sanjaya, yang telah mengukir prestasinya untuk pertama sekali di sekolah kita ini, untuk selanjutnya, semoga akan tumbuh Voni, voni yang lain yang akan melanjutkan prestasinya.”
Setelah Kepsek selesai memberi pengarahan diapun langsung turun dari podium dan berlalu meninggalkan seluruh siswa. Para siswa kemudian di bubarkan untuk menuju kelas masing-masing.
Tapi lain dengan Voni, gadis belia itu ternyata tak kembali ke kelasnya, dia menghilang setelah pertemuan pagi itu.
Setelah beberapa saat kemudian, Pak Tino masuk kedalam kelas Voni, guru IPS itu memeriksa semua siswanya.
Akan tetapi saat itu Pak Tino tak melihat Voni bersama siswa yang lainnya.
“Mana Voni? kenapa Bapak nggak melihatnya bersama kalian?”
“Barangkali dia cabut Pak!” teriak Afgan dari bangku paling belakang.
“Baik Pak.”
“Nita, kamu kan teman Voni, apakah kamu nggak tahu kemana Voni pergi?”
“Nggak Pak. lagian dia pergi aja, nggak ngomong kok.”
“Lain kali kalau dia cabut tolong kau tanya kemana dia perginya.
“Baik Pak,” jawab Nita seraya tersenyum manis.
Sebenarnya Nita tahu kemana Voni perginya, karena sebelum pergi Voni mengabarinya terlebih dahulu pada Nita.
Di rumah kos Rendi, Voni datang kesana, karena pagi itu Benu mengabarkan kalau dia sedang sakit. Lalu Voni memberanikan diri datang kesana sendirian.
Saat melihat Rendi terbaring lemah di atas tempat tidur, Voni masuk kedalam kamarnya dan memeluk tubuh Rendi dengan mesra.
“Voni?”
“Iya, aku. Kenapa?”
“Kamu nggak sekolah?”
__ADS_1
“Cabut, demi kamu, kali ini aku nggak belajar.”
“Kenapa cabut, nanti kau ketinggalan pelajaran.”
“Nggak penting, yang terpenting aku bisa melihat mu kesini. Kamu kenapa Ren? semalam masih sehat dan segar bugar. Kok, pagi ini mendadak sakit.”
“Entahlah, tapi kepala ku pusing semalaman.”
“Pusing kok sampai semalaman sih?”
“Voni, apa benar kata Benu, kalau kau telah menjalin hubungan dengan Kepsek?”
“Iya, Ren, aku telah menjalin hubungan dengannya.”
“Kenapa kau lakukan itu Voni?”
“Rendi, Rendi! siapa sih yang berani menolah perintah Kepsek, jangankan aku, kau sendiri pasti nggak mampu untuk itu.”
“Apakah dia mengancam mu?”
“Nggak, dia nggak mengancam ku, tapi dia masuk kedalam hati ku dengan cara yang lain.”
“Lalu bagai mana dengan hubungan kita Voni?”
“Lupakan aku Ren, aku nggak mau kau menjadi sakit hati, melihat kami berdua.
Lagian kau pria tampan yang pernah mengisi hari ku,” ucap Voni seraya mendekati Rendi dan memegang wajahnya.
“Tapi aku nggak sanggup berpisah dengan mu Von.”
“Kenapa nggak sanggup?”
“Karena aku sudah terlanjur mencintaimu, semenjak malam itu.”
“Tapi aku nggak mau kau sakit hati Ren?”
“Gimana kalau kita menduakan Bramono.”
“Gila kamu Rendi, aku nggak mau berbuat culas seperti itu, mulai sekarang lupakan saja aku, cari wanita yang lebih baik dan lebih cantik dari aku.”
“Nggak Voni, di sekolah ini, hanya kau wanita yang paling cantik.”
“Ah, udahlah! kalau begitu, aku permisi dulu.”
“Kau mau kemana Voni!” panggil Rendi seraya berdiri menghampiri pintu.
Tapi Voni telah pergi berlalu meninggalkan dirinya sendirian, hati Rendi benar-benar sakit saat itu, dia begitu kesal karena Voni lebih memilih pria tua itu ketimbang dirinya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*