
“Kau akan melihat kemarahan ku Bayu,” gerutu Voni yang langsung tak mengaktifkan ponselnya.
Karena ponsel Voni tak aktif, Bayu merasa heran, karena tak biasanya Voni berbuat seperti itu padanya.
“Ada apa ya? kenapa Non Voni nggak mengaktifkan ponselnya, apakah dia sedang marah saat ini padaku?”
Lama Bayu termenung, lalu diapun menelfon istrinya di rumah, mesti cemas, tapi Bayu tak memperlihatkan perasan itu pada Mega.
“Ada apa sayang, kenapa kamu menelfon ku pagi-pagi begini?”
“Apakah Voni pernah menghubungi mu?”
“Nggak.”
“Apakah di ponsel ku, Voni pernah menghubungi ku?”
“Iya, kalau nggak salah udah berulang kali.”
“Hah, benarkah? kok aku nggak melihat panggilan masuk darinya?”
“Udah ku hapus Bang.”
“Apa? kau menghapusnya?”
“Iya.”
“Kapan kau hapus?”
“Tadi malam, emangnya kenapa, Bang?”
“Kenapa kau begitu lancang menghapusnya sayang?”
“Biasanya, kan aku yang kau suruh untuk membuang semua sampah yang ada di ponsel mu, makanya ku hapus semuanya.”
“Tapi yang ini beda sayang, kamu tahu nggak, akibat dari keteledoran mu itu, Non Voni marah besar pada ku. Bahkan ponselnya nggak mau di hubungi lagi.”
“Ya Allah, Bang, aku nggak tahu sama sekali, masa hanya karena masalah sepele begitu saja, Voni langsung marah?”
“Masalah sepele kata mu?”
“Kalau bukan masalah sepele, lalu apa lagi, Bang.”
“Kau ini benar-benar bodoh sayang, kau sadar nggak, Voni itu siapa? dia atasan ku.”
“Iya aku tahu itu! kau nggak perlu berteriak-teriak padaku!”
“Dasar perempuan bodoh! kalau dia marah dan memecat ku dari tugas ini, lalu kita bakalan makan apa sayang?”
Mega hanya diam saja, dia sadar kalau dia telah teledor dan tak melihat dulu siapa yang telah menghubungi suaminya.
Merasa tak tenang, akhirnya Bayu datang sendiri ke rumah kontrakan Voni, Bayu tak ingin Voni marah besar padanya, atas kelalaian yang di lakukan oleh istrinya.
Ketika dia tiba di rumah kontrakan Voni, rumah itu kelihatan tertutup, Bayu pun mampir dan berusaha memanggilnya, setelah sekian lama menunggu, akhirnya Bayu duduk diam di depan rumah kontrakan itu.
“Non Voni kemana ya? kok nggak dirumah?”
Tak ingin menunggu lama, Bayu mendatangi rumah yang ada di sebelah rumah kontrakan Voni.
“Assalamu’alaikum, assalamu’alaikum.”
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam, siapa ya?” tanya seorang Ibu yang keluar dari dalam rumah itu.
“Bu numpang nanya.”
“Iya, mau nanya apa Pak?”
“Ibu kenal dengan penghuni kontrakan ini nggak?”
“Kenal, kenapa emangnya Pak?”
“Apakah Ibu, ada melihat kemana mereka pergi?”
“Nggak, Pak. Biasanya di rumah itu ada seorang pembantu, tapi sepagi ini rumah itu belum di buka, aku nggak tahu kemana dia pergi saat ini.”
“Ooo. Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu.”
“Iya, Pak. silahkan .”
Bayu pun kembali lagi kerumah Voni, dia duduk diam di depan rumah itu, seraya menghidupkan musik. Setelah sekian lama menunggu, namun Voni dan Anum belum juga kembali.
Bayu menjadi semakin resah, padahal dia telah menunggu begitu lama sekali, tapi tak seorang tetangga pun yang mengetahui kemana Voni pergi.
Mesti takut namun Bayu tetap mencoba untuk menghubungi Voni, agar kedatangannya ke rumah Voni kali itu tidak sia-sia.
Saat ponsel itu berdering, Voni sedang menyuapkan Anum makan, karena ponsel itu berdering terus, akhirnya Voni mematikannya.
“Dari siapa Non?”
“Dari Om Bayu Bi?”
“Kenapa di matikan, siapa tahu itu kabar penting?”
“Nggak Bi, nggak ada yang lebih penting selain keselamatan Bibi.”
“Iya Bi, aku tahu itu.”
“Nah sekarang coba Non hubungi dia kembali.”
“Baik Bi.”
Karena permintaan Anum, akhirnya Voni hanya menulis pesan pada Bayu, kalau saat itu dia bersama Anum sedang berada di rumah sakit.
“Astaga! ternyata Non Voni dan Anum berada di rumah sakit?”
Tanpa berfikir panjang lagi, Bayu langsung tancap gas, dia menuju rumah sakit terbesar yang ada di daerah itu, yaitu rumah sakit Ibnu Sina.
Dengan tergesa-gesa, Bayu turun dari mobil dan berlalu memasuki ruangan rumah sakit, setelah dia tahu di mana ruang rawat Anum, Bayu pun terus menuju kamar tersebut.
Di dalam ruangan itu, Bayu melihat Voni sedang menyuapi Anum, mesti kondisi Anum terlihat sangat pucat namun dia tetap berusaha menelan nasi yang di suapi Voni.
“Non!” sapa Bayu seraya masuk kedalam ruangan itu.
“Om kapan datang?”
“Pagi tadi, Om langsung berangkat Non.”
“Ooo,” jawab Voni seraya duduk di kursi yang ada diruangan itu.
“Bi Anum kenapa Non?”
__ADS_1
“Diracuni.”
“Diracuni? siapa yang meracuni Bi Anum Non?”
“Bukan Bibi yang ingin mereka racuni Om, tapi aku! aku yang ingin mereka racuni, agar aku nggak dapat datang ke persidangan hari ini. Tapi naas, Bi Anum yang kena imbasnya.”
“Siapa yang melakukan semua itu Non?”
“Kalau menurut Om, siapa kira-kira yang tega ingin membunuh ku?”
“Mama Non.”
“Tepat sekali, aku yakin, ini semua pasti ulah Luna, hanya dia wanita yang menginginkan kematian ku, sampai dia menyuruh orang untuk membunuh aku.”
“Ya Allah, kenapa dia bisa senekat itu.”
“Dia menaburkan racun itu di dalam nasi dan sambal yang akan kami makan.”
“Lalu apa yang harus ku lakukan Non.”
“Datang Om ke pengadilan, tunda persidangan sampai aku bisa datang kesana.”
“Tapi gimana caranya Non?”
“Katakan kalau aku sedang kritis karena keracunan, ini surat dari rumah sakit yang menyatakan kalau Voni dalam keadaan kritis.”
“Benar, Om akan mengantarkan surat ini ke pengadilan?”
“Iya Om, akan kita lihat nanti, apa reaksi Mama.”
“Baik, kalau begitu Om akan pergi sekarang.”
“Tunggu! aku jadi heran, bukankah Mama udah mengalami kekalahan dalam dua kali sidang, lalu kenapa dia begitu ngotot ingin kembali menuntut aku?”
“Maaf Non, Om bersama pengacara perusahaan, sengaja menyembunyikan hal ini pada Non Voni.”
“Apa itu?”
“Sewaktu Non meminta surat wasiat yang di tulis oleh Papa Non, malamnya kantor kita di satroni maling.”
“Disatroni maling? apa ada yang hilang?”
“Kalau barang-barang kantor nggak ada yang hilang, hanya fotocopy surat wasiat itu yang hilang, fotocopy surat wasiat itu kami buat sedemikian rupa sehingga sangat mirip sekali dengan surat yang aslinya, jadi surat itulah yang telah dicuri.”
“Pasti orang suruhan Mama yang telah mencurinya.”
“Om, juga berfikiran begitu.”
“Jadi, atas dasar surat itukah, Mama kembali menggugat aku di pengadilan?”
“Om rasa begitu Non.”
“Ya sudah, kalau Om mau pergi, silahkan, nanti keburu malam.”
“Baik Non, permisi dulu.”
“”Om, jangan lupa ke pengadilan.”
“Baik Non.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*