Terjebak

Terjebak
Part 74 Kegagalan Luna


__ADS_3

“Tapi Non, kalau Mama Non marah gimana?”


“Katakan saja, kalau Om keburu-buru.”


Jawaban Voni tak bisa menjamin Bayu di marahi oleh Luna, karena Luna sangat kasar sekali orang nya dia bisa berbuat nekad jika keinginannya tidak di penuhi.


“Ya sudah, Om mau istirahat dulu, nanti biar Om pikirkan sendiri solusinya.”


“Iya, silahkan.”


Seraya menyerahkan ponselnya pada Anum, Voni pun kembali tidur. Anum hanya bisa tersenyum saat melihat majikan kecilnya kembali tertidur.


Keesokan harinya, Bayu benar-benar mengikuti saran dari Voni, setelah selesai sholat subuh dia langsung pergi bertolak meninggalkan istri dan kedua anaknya.


Sekitar pukul delapan pagi, Luna pun datang bersama dua orang pria ke rumah Bayu, melihat kedatangan Luna Mega langsung berlari bersembunyi. Sementara Atun yang berdiri di luar di panggil oleh Luna.


“Bi, mana majikan mu?”


“Sudah pergi Nyonya.”


“Pergi kemana?”


“Kataya ke kantor.”


“Ke kantor?”


“Iya Nyah.”


“Apakah Ibu ada?”


“Dia lagi ke pasar Nyah.”


“Ke pasar?”


“Iya Nyah.”


“Emangnya, siapa yang berbelanja ke pasar selama ini?”


“Ibu Nyah.”


“Sudah berapa lama di pergi?”


“Dari tadi Nyah, selesai sholat subuh dia langsung berangkat, katanya takut macet.”


“Baiklah, kalau begitu biar aku tunggu di sini saja.”


“Iya Nyah,” jawab Atun seraya bergegas pergi ke dapur.


Saat wajah atun muncul dari balik pintu dapur, Mega langsung menarik tangan perempuan tua itu, Mega sangat cemas sekali, jika Luna curiga padanya.


“Apa yang di tanyakan Luna pada Bibi?”


“Dia bertanya, Tuan dan Nyonya.”


“Lalu Bibi jawab apa?”


“Bibi bilang, kalau Tuan pergi ke kantor, sementara Nyonya pergi ke pasar.”


“Aduh Bi, kalau Bibi bilang aku ke pasar, nanti dia bisa curiga.”


“Habis gimana lagi Nyah, kalau Bibi diam saja, justru itu yang membuatnya lebih curiga.”


“Ya udah Bi, kalau begitu Bibi nggak usah keluar lagi, tetaplah diam disini.”


“Baik Nyah.”


Lama Mega menunggu Luna pergi dari rumahnya, dia bahkan berdiri di belakang pintu kamarnya seraya mengintip terus keluar rumah.


Sementara itu Luna yang menunggu, hampir setengah jam, dia begitu resah sekali, lalu dia pun memutuskan untuk pergi. Saat dia hendak bangkit, Luna melihat ada mobil Mega sedang berdiri di garasi. Luna pun menghampiri mobil itu.


“Nggak salah lagi!”


“Ada apa Nyah?” tanya Rehan.

__ADS_1


“Kita ditipu, ternyata Mega dia ada didalam rumah saat ini.”


“Kok Nyonya tahu, istri Bayu ada di dalam rumah.”


“Itu mobilnya, Mega nggak akan pergi keluar jika dia nggak naik mobilnya sendiri.”


Karena emosi, Luna langsung menggedor-gedor rumah Mega, Bi Atun yang lagi bersembunyi di dapur merasa ketakutan saat itu, dia ingin sekali keluar untuk menemui Luna, tapi Mega melarangnya.


“Mega! Mega! keluar kau, ngapain bersembunyi di dalam hah!”


Mesti terdengar jelas di telinga Mega, tapi perempuan itu tak berani bicara sepatah katapun. Sementara itu, Atun yang gemetaran mencoba menghampiri majikannya.


“Gimana ini Nyah, Bibi takut sekali.”


“Yang penting Bibi jangan keluar, kalau Bibi keluar, nanti Bibi bisa di pukuli oleh orang suruhan Luna itu.”


“Baik Nyah.”


“Mega! Mega! keluar kau, aku tahu, kau pasti bersembunyi di dalam, kenapa? kau takut menemui ku? Iya hah!”


Mega tetap diam bersembunyi di dalam rumah, karena letih berteriak-teriak, akhirnya Luna lelah juga dan dia mengajak ke dua orang bayarannya untuk pergi bersamanya.


“Alhamdulillah! mereka telah pergi Bi.”


“Oh, syukurlah Nyah.”


Ketika Luna sudah pergi, barulah Mega keluar dari kamarnya, Luna begitu kesal sekali saat itu, di sepanjang jalan dia terus menggerutu, setibanya dia di depan perusahaan, Luna kembali di hadang oleh satpam penjaga.


“Lagi-lagi mereka membuat darah tinggi ku kumat.”


“Gimana ini Bu, mereka menghalangi jalan kita.”


“Berhenti disini saja!”


“Baik Bu.”


Setelah mobil berhenti, lalu Luna pun turun, dia menghampiri satpam penjaga yang saat itu sedang bertugas.


“Maaf Bu, ini perintah Non Voni.”


“Non Voni! Non Voni! selalu dia yang kalian jadikan alasan untuk menghadang mobil saya, apa nggak ada alsan kalian selain itu?”


“Nggak Bu.”


“Kalian tahu, kalau saya ini adalah Mamanya?”


“Tahu Bu, tapi saya hanya menjalankan tugas, saya nggak mau membantahnya.”


“Dasar bodoh kalian semua! ingat, jika nanti saya yang memimpin perusahaan ini, maka kalian semua akan saya pecat tanpa pesangon!” gerutu Luna seraya kembali menghampiri mobilnya.


“Gimana Bu? apakah kita kembali?”


“Nggak usah, kita di sini saja sampai Bayu keluar dari kantornya.”


“Baik Bu,” jawab Hamdan pelan.


Di atas mobil, Luna terlihat gelisah, sudah hampir dua jam dia menunggu, tapi dia tak melihat Bayu keluar dari dalam kantor.


“Sepertinya mereka telah menipu kita Bu.”


“Benar, mereka semua telah menipu kita, rasakan nanti pembalasan apa yang bakal akan ku lakukan untuk orang yang telah menipu ku,” ancam Luna kesal.


“Lalu bagai mana sekarang Bu?”


“Kalau begitu kita kembali kerumah saja!”


“Baik Bu.”


Dengan rasa kesal, Luna dan orang bayarannya kembali pulang kerumah, di dalam rumah itu, Luna terlihat duduk kesal, dia mengepal tangannya seraya memukul-mukul sofa.


Sementara itu Abi yang melihat kedatangan Mamanya, dia langsung berlari menghampiri dan memeluk Luna dengan lembut.


“Mama kemana aja?”

__ADS_1


“Mama pergi sebentar sayang?”


“Kata Bibi, Mama lama kembalinya.”


“Buktinya aja Mama udah kembali.”


“Mama jangan pergi lagi ya?”


“Kenapa sayang?”


“Abi takut sendirian di rumah.”


“Kan ada Bibi yang menemani Abi.”


“Tapi Abi melihat ada orang lain juga di rumah ini Ma.”


“Orang lain? orang lain siapa maksud mu sayang?”


“Abi nggak tahu.”


“Dia seperti Mama atau seperti Abi?”


“Seperti Abi.”


“Udah Tua atau masih kecil sayang?”


“Udah tua.”


“Dia bilang apa pada Abi?”


“Nggak ada.”


“Lalu apa yang dilakukannya pada Abi nak?”


“Dia hanya tersenyum lalu menghilang.”


“Astaga, siapakah pria itu Bi?”


“Aku nggak tahu Nyah, lagian aku nggak melihat siapa-siapa di rumah ini.”


“Tapi, kenapa Abi bisa melihatnya?”


“Barang kali dia itu penghuni rumah ini Nyah.”


“Nggak mungkin Bi, selama aku tinggal di sini, aku nggak pernah melihat pria tua di rumah ini.”


“Lalu siapa yang di maksud Abi Nyah.”


“Entahlah Bi, aku nggak tahu.”


Merasa penasaran dengan yang di katakan putranya, lalu Luna mengikuti Abi dari belakang, yang saat itu dia bergerak menuju meja makan.


“Apakah pria itu mirip dengan pria ini?” tanya Luna pada Abi, seraya menunjuk foto Sanjaya.


“Nggak Ma.”


“Lalu dia mirip siapa?” tanya Luna ingin tahu.


“Mirip itu!” tunjuk Abi pada foto Tio


yang tergantung yang tak jauh dari foto Sanjaya.


“Hah! benarkah pria itu mirip dengan foto itu?” tanya Luna tersenyum lebar.


“Iya Ma.”


“Dimana dia sayang?”


“Dia udah pergi.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2