Terjebak

Terjebak
Part 58 Meninjau perusahaan


__ADS_3

“Baik, saya pegang ucapan mu.”


“Indah! masuk kamu.”


Tak berapa lama Indah muncul dari dalam ruangan Kepala sekolah, mata Tino langsung saja tertuju pada siswi IPS itu.


“Sekarang kau ceritakan pada Bapak, berapa Pak Tino memberi mu uang, untuk aborsi Lesti.”


“Lima juta Pak.”


Ucapan Indah membuat Tino hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar, Tino tak dapat berbuat apa-apa, dia terpaksa harus diam saat itu.


“Kamu masih berusaha untuk mengelak, Tino?”


“Semuanya telah terjadi, sekarang Bapak sudah tahu sendiri kan.”


“Kamu tahu nggak Tino, perbuatan mu itu telah menghancurkan nama baik sekolah kita, kalau sampai terjadi sesuatu pada Lesti, apakah kau mau bertanggung jawab?”


Tino hanya diam saja, dia tak bisa membantah ucapan Bramono sedikit pun. Karena Tino sadar dengan semua perbuatannya.”


“Baiklah, karena ini ulah kelakuan mu, maka untuk sementara waktu, saya akan membebas tugaskan mu untuk beberapa bulan yang akan datang.”


“Apa maksud Bapak?”


“Kamu nggak tahu?”


“Saya nggak mengerti Pak.”


“Mulai besok, kamu nggak usah mengajar dulu di sekolah ini.”


“Sampai kapan Pak?”


“Sampai waktu yang saya tetapkan.”


“Saya mohon Pak, apakah Bapak nggak bisa memberi saya kesempatan untuk menebus semua kesalahan saya ini?”


“Itu adalah kesempatan yang paling baik untuk mu.”


“Bapak mencabut hak saya untuk mengajar, apakah itu kesempatan yang terbaik untuk saya?”


“Jika saya laporkan kejadian ini ke polisi, maka kau nggak punya kesempatan lagi untuk mengajar selamanya. Tapi saya masih menahan mu dan memberikan kesempatan itu nanti, setelah semuanya kembali normal.”


“Lalu bagai mana dengan gaji saya Pak.”


“Gaji mu sampai Lesti benar-benar sembuh, saya berikan padanya, tapi setelah Lesti sehat begitu juga dengan bayinya, maka akan saya pending dulu.”


Dengan rasa sakit yang tak dapat di ucapkan, Tino melangkah pelan keluar dari ruang Bramono. Begitu juga dengan Indah, yang telah terlebih dahulu mendapatkan hukuman.


Setelah semua urusan di sekolah selesai, Bramono dan Voni langsung bertolak malam itu juga ke rumah sakit tempat Lesti di rawat.


Di perjalanan, menuju rumah sakit, Voni melewati perusahaan milik Papanya, saat itu dia mengajak Bramono untuk berhenti.


“Kita mau kemana sayang?”


“Kalau Bapak nggak keberatan, aku mau ngajak Bapak ke suatu tempat.”


“Bapak nggak keberatan kok, kemana aja kamu mengajak, Bapak pasti ikut dengan mu.”


“Serius?”


“Iya sayang, bahkan saat ini Bapak benar-benar udah sulit untuk menjauh dari mu.”


“Ah, aku nggak percaya.”


“Ya udah, kalau nggak percaya, ya nggak apa-apa.”

__ADS_1


Lalu Voni turun dari mobil, menyusul sesudah itu Bramono yang tampak begitu heran melihat Voni mengajaknya ke suatu tempat.


“Sebenarnya kita mau kemana sayang?”


“Ke gedung yang besar dan tinggi itu.”


“Ngapain kesana?”


“Nanti akan ku beri tahu, sekarang Bapak ikut aja dulu.”


“Baik sayang.”


Baru saja Voni masuk kedalam gedung itu, beberapa orang karyawan tampak bersalaman dan menyambutnya dengan hormat.


“Gimana pekerjaan kalian, semuanya aman kan?”


“Iya, kami semua senang bekerja di sini.”


“Syukurlah.”


“Sebenarnya, ini ada apa Voni?” tanya Bramono yang masih penasaran.


“Ini perusahaan ku, Bram.”


“Kamu serius?”


“Iya sayang, ini perusahaan Papa yang di wariskan kepada ku.”


“Wow, kamu nggak salah sayang?”


“Nggak Bram, ayo kita kelantai atas!” ajak Voni seraya menggandeng tangan Bramono dengan erat sekali.


Sungguh di luar dugaan Bramono, ternyata Voni adalah seorang CEO yang memiliki harta triliunan. Mesti demikian, Voni bukanlah salah seorang gadis yang hatinya di penuhi kebahagiaan dan keceriaan.


“Selamat siang Non!” sapa para karyawan seraya membungkukkan badan mereka.


“Apa ada yang bisa saya bantu Non?” tanya Oktavia pada Voni.


“Iya, saya butuh uang sepuluh juta. Nanti setelah saya turun, kamu harus menyiapkan uangnya.”


“Baik Non.”


“O iya, kak. Apakah selama ini Mama pernah datang ke sini?”


“Pernah Non, tapi hanya sebentar saja, setelah itu dia langsung pergi lagi.”


“Ngapain Mama disini kak?”


“Sepertinya, Mama hanya memberi peraturan baru untuk perusahaan ini.”


“Peraturan baru?”


“Iya Non.”


“Peraturan apa itu, Kak?”


“Setiap karyawan harus disiplin nggak boleh tempo bekerja lebih dari tiga hari, mesti sakit.”


“Terus?”


“Nggak ada pesangon untuk karyawan yang berhenti sebelum masa kerjanya.”


“Terus apa lagi peraturan yang di buat oleh Mama?”


“Maafkan Kakak, tapi Kakak takut untuk bicara.”

__ADS_1


“Maksud Kakak apa?”


Oktavia hanya diam tertunduk, saat Voni bertanya padanya tentang peraturan yang telah di tetapkan Luna di perusahaan miliknya.


“Katakan saja, Kakak nggak perlu takut.”


“Kata Mama Non, kalau Non Voni datang ke perusahaan ini, usir saja, karena Non Voni nggak punya hak di perusahaan ini.”


“Begitu kata Mama?”


“Iya Non.”


“Berapa Mama mengambil uang perusahaan untuk biaya hidupnya setiap bulan?”


“Sepuluh juta, Non.”


“Sepuluh juta?”


“Iya, Non.”


“Kalau begitu, jika Mama datang kesini untuk meminta uang bulanannya, Kakak berikan empat juta saja, selebihnya, Kakak masukkan kedalam kas.”


“Nanti kalau nyonya marah gimana Non?”


“Katakan semua itu atas perintah ku.”


“Tapi Non.”


“Kakak nggak perlu takut, aku yang bertanggung jawab, karena perusahaan ini bukan milik Mama.”


“Baik Non,” jawab Oktavia pelan.


Sebenarnya Oktavia begitu cemas kalau Luna marah padanya, tapi karena itu atas perintah Voni, dia pun tak bisa berbuat apa-apa.


“Ya sudah, kalau begitu aku keatas dulu, untuk menemui Om Bayu.”


“Baik Non.”


“Sekarang silahkan kalian bekerja kembali.”


“Baik Non.”


Lalu Voni mengajak Bramono ke lantai atas untuk menemui Bayu yang saat itu di tunjuk sebagai pemimpin perusahaannya.


Saat Voni mengetuk pintu ruangan itu, Bayu langsung membukanya, betapa terkejutnya dia, ketika yang datang adalah Voni. Seraya membungkuk kan badannya, Bayu langsung memberi salam pada Voni dan Bramono.


“Gimana pekerjaannya Om? aman kan?”


“Aman Non. Silahkan Non masuk dulu.”


“Iya terimakasih Om.”


Setelah Voni dan Bramono di izinkan masuk kedalam, Bayu langsung memerintahkan office boy, untuk menghidangkan makanan untuk Voni.


Sementara itu, Voni langsung duduk di kursi direktur yang selama ini di duduki oleh Sanjaya. Voni memeriksa semua pembukuan perusahaan yang selama ini di kendalikan oleh Bayu, orang kepercayaan Sanjaya.


“O iya Non, ada beberapa berkas yang akan Non tanda tangani.”


“Kenapa nggak Om sendiri yang menanda tanganinya?”


“Partner kerja perusahaan kita. Menginginkan pemilik perusahaan ini langsung yang menanda tanganinya. Rencana Om, akan menemui Non besok, tapi karena Non telah datang, maka Non bisa tanda tangani langsung berkasnya.”


“Baiklah, mana yang mesti saya tanda tangani?”


“Ini Non,” ujar Bayu seraya menyodorkan berkas yang mesti di tanda tanganinya itu pada Voni.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2