
Ketika mendapat perintah dari Dani, kedua orang suruhannya langsung masuk kedalam sel serta memukul tangan Fitri hingga gemetaran menahan rasa sakit.
Saat itu juga Fitri terpaksa melepaskan tangan Mia yang patah. Gumpalan darah terlihat jelas di pergelangan tangannya. Bekas cengkraman tangan Fitri juga masih membekas di tangannya.
“Kau telah membuat kesalahan besar, mulai hari ini, hukuman mu akan di tambah dari lima tahun menjadi delapan tahun!” kata pimpinan lapas.
“Ibu nggak bisa gitu dong! seenaknya aja menambah hukuman orang.”
“Saya punya wewenang penuh disini, saya juga berhak menjatuhkan hukuman mati untuk mu!” kata kepala sipir penjara, seraya pergi meninggalkan ruangan isolasi.
Ketika pintu kembali di tutup, Fitri tampak tersenyum puas dengan apa yang telah dia lakukan, baginya, hari itu adalah permulaan untuk hari-hari berikutnya.
Disaat Dani, terus bekerja mencari bukti tentang kelakuan buruk Fitri. Luna yang berada di dalam ruang rawat rumah sakit, dia terlihat sudah kembali pulih, hanya saja perempuan itu tak ingat apa-apa lagi.
Pagi itu bersama perawat, Luna di bawa jalan-jalan di taman belakang rumah sakit, Luna hanya memandangi semua orang dari atas kursi rodanya.
Dari kejauhan Voni menatap hampa pada Mamanya yang berada di tengah-tengah taman yang cukup luas di belakang rumah sakit.
Tak terasa air matanya terus saja mengalir membasahi kedua pipinya, ingin sekali rasanya dia memeluk dan mencium tubuh renta itu, tapi dia begitu takut.
“Kamu yang sabar sayang,” ujar Bramono seraya menghapus air mata di kedua pipi Voni.
“Bram, jika aku udah tamat, aku ingin pulang kerumah, merawat rumah yang sudah lama tak terurus, sekaligus merawat Mama yang sakit.”
“Niat mu sungguh mulia sayang.”
“Kau setuju dengan keinginanku ini?”
“Tentu.”
“Lalu bagai mana dengan mu?”
“Aku akan tetap bekerja di sana.”
“Terus, bagai mana dengan hubungan kita?”
“Hubungan kita akan berjalan seperti biasa, mesti kamu jauh, Bapak akan selalu datang untuk mengunjungi mu.”
“Benarkah?”
“Iya sayang.”
“Baiklah. kalau begitu mari kita pulang.”
“Mari.”
Seperti rencana yang sudah di niatkan oleh Voni, setelah dia tamat, lalu Voni bersama Anum pulang kerumahnya di kota.
Beberapa orang pekerja di kerahkan untuk membersihkan rumah, halaman dan seluruh yang berada di sekeliling rumah besar itu.
Bukan hanya itu saja, Voni mengatur semuanya, dia mencari beberapa orang untuk di tugaskan bekerja di rumahnya, sementara Anum, hanya di jadikan sebagai pengatur dirumah itu.
“Hm, semuanya sudah beres, sekarang aku melihat rumah ini mirip dengan yang dulu lagi. O iya, aku harus menyingkirkan foto itu, karena dialah, aku jadi tersingkir.”
__ADS_1
Kemudian Voni mengambil foto Tio yang terpampang di depan pintu kamar Mamanya, sementara foto Sanjaya hanya di letakkan di sudut kamar paling ujung.
“Kau nggak pantas menempati rumah ku, pria durjana!” ujar Voni seraya menyuruh para pekerja untuk membakarnya.
“Kenapa mesti di bakar Non?”
“Karena dia nggak pantas berada di rumah ini.”
“Ini kan hanya foto Non?”
“Justru ini foto, maka harus di bakar sampai habis.”
“Gimana jika Abi bertanya, tentang foto Papanya Non.”
“Abi itu masih kecil, dia nggak boleh tahu, siapa Papanya. Yang paling penting, antara aku dan Abi, harus hidup sama dirumah ini.”
“Iya Non, iya.”
“Sekarang kalian bekerjalah sesuai dengan yang ku perintahkan.”
“Baik Non.”
Satu bulan menempati rumah mewah itu, Voni seperti seorang jutawan. Kemana saja dia melangkah semuanya telah siap untuk melayaninya.
Pagi itu Voni berniat untuk menjemput Mamanya yang sedang mengalami depresi, Voni ingin di usia tua Mamanya, dia dapat menikmati semua kemewahan yang di milikinya.
Terkadang timbul rasa syukur di hati Voni tentang penyakit yang di alami oleh Mamanya itu, sebab, jika Luna sadar, dia pasti sangat membenci putrinya.
“Assalamu’alaikum.”
“Saya putri dari Bu Luna.”
“Ooo, iya, saya baru ingat, apakah ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin membawa Mama pulang kerumah.”
“Kenapa di bawa?”
“Karena saya ingin merawat Mama saya sendiri di rumah.”
“Sangat berbahaya sekali, kalau adik merawatnya.”
“Kenapa begitu Bu?”
“Karena Bu Luna, bukan hanya kehilangan ingatannya, tapi dia juga mengalami depresi berat, orang yang mengalami depresi, biasanya cendrung berbuat anarkis dan menyakiti orang-orang yang berada di sekelilingnya.”
“Jadi kapan saya bisa membawa Mama kembali pulang dok?”
“Tunggulah sampai keadaannya membaik, setidaknya Bu Luna sudah nggak marah-marah lagi, atau sampai dia bisa sedikit tenang.”
“Emangnya sekarang Mama sering marah ya Bu?”
“Iya, dia sering ngamuk dan menyakiti dirinya sendiri.”
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, tapi kalau Ibu nggak keberatan, tolong Ibu kabari terus perkembangan yang di alami oleh Mama.”
“Baik, apapun itu perkembangan yang di alami oleh Bu Luna akan kami kabari pada adik.”
“Terimakasih.”
“Iya sama-sama.”
Setelah mengunjungi rumah sakit, Voni langsung ke rumah tahanan wanita. Di sana Voni bertemu langsung dengan pimpinan lapas. Perempuan itu menerima Voni dengan baik.
“Maaf, Bu. Saya ingin menanyakan tentang perkembangan laporan yang telah saya ajukan dua bulan yang lalu.”
“Saat ini pengacara adik, masih terus menyelidikinya, ada seorang nara pidana yang selama ini sudah kami curigai, tapi dia masih tetap bungkam hingga sekarang.
“Apakah Pak Dani sudah menyelidikinya Bu?”
“Udah, dek, bahkan nara pidana itu saat ini sudah kami pindahkan ke ruang isolasi, terpisah dari nara pidana lainnya, semua itu sengaja kami lakukan, agar kami bisa menggali keterangan yang lebih banyak darinya.”
“Apa dia belum bicara sampai saat ini, Bu?”
“Iya, dia masih bungkam, mesti kamu telah memasukannya kedalam ruang isolasi.”
“Baiklah Bu, kalau memang hingga saat ini Pak Dani masih bekerja, saya akan menunggu dengan sabar, hasil yang dia dapat dari usahanya itu."
“Iya, sebaiknya, adik bersabar dulu.”
“Yeah! kalau begitu apa boleh buat! saya akan kembali pulang, permisi.”
“Ya silahkan.”
Di luar lapas, Voni kembali menghubungi Dani yang telah di tunjuk Bayu menjadi pengacaranya. Sebenarnya saat itu Voni begitu kesal, karena Dani udah lebih dua bulan mengurus masalah itu.
“Hallo!”
“Hallo, Non.”
“Giman perkembangan kasus Mama yang saat ini sedang Bapak tangani itu, apakah Bapak telah menemukan pelakunya atau masih rancu?”
“Maaf sebelumnya Non, sebenarnya pelakunya itu udah di temukan, tapi masalahnya, dia itu hingga saat ini masih saja bungkam, padahal saya udah memasukannya kedalam ruang isolasi.”
“Kapan kira-kira Bapak akan mengunjungi perempuan itu?”
“Hari ini. Non.”
“Baiklah akan saya tunggu Bapak di lapas.”
“Emangnya Non…?”
“Tut, tut, tut, tut.”
“Aduh, mati lagi? jadi hari ini Voni sudah berada di lapas? wah gawat, kalau begitu aku harus segera kesana sekarang juga.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*