Terjebak

Terjebak
Part 50 Nasehat Voni untuk Lesti


__ADS_3

Di sepanjang jalan, Voni selalu teringat dengan kejadian sewaktu dia masih di alam bawah sadar, suasana yang sangat gelap dan menakutkan di alaminya di sana.


“Hm, jika aku kembali melakukan bunuh diri, pasti aku terus berada di alam yang gelap itu, sungguh suasana yang mengerikan,” gumamnya pelan.


Setibanya Voni di rumah kos, semua teman memandanginya dengan seribu pertanyaan, yang meraka tak akan pernah mendapat jawabannya.


Voni berjalan pelan melangkah memasuki rumah yang besar dan luas itu. di dalam kamarnya Voni mencoba merebahkan diri, menghilangkan beban yang selalu mengganjal di hatinya.


Tak terasa air mata gadis itu langsung mengalir membasahi kedua pipinya, Voni teringat dengan kejadian di ruang sidang, ketika Luna berlari kencang untuk menampar dan menarik rambutnya dengan kuat.


“Apa kesalahan yang telah aku lakukan Ma, sehingga kau begitu membenci ku seperti musuh.”


Gadis itu terlihat tak berdaya sama sekali, kegalauan hatinya seperti tak pernah ada tempat untuk berlabuh.


Saat dia baru memejamkan matanya, tiba-tiba saja pintu kamar Voni di ketuk dari luar oleh seseorang, Voni tampak terdiam sejenak, lalu dia pun bangkit dan berjalan untuk membuka nya.


Ketika pintu di bukakan, Voni melihat Lesti sedang berdiri menghadap kearah nya. Lesti yang mencium aroma kamar Voni, dia langsung mual dan muntah-muntah karena tak tahan dengan bau alcohol yang busuk.


“Kamu kenapa mual?” tanya Voni heran.


“Aku nggak tahan dengan bau kamar mu Voni, sangat busuk sekali.”


“Ah, nggak! itu karena kamu!”


“Ya udah, buka dong semua jendela kamarmu, aku mau bicara sebentar boleh nggak?”


“Mau bicara apa lagi Lesti?”


“Ada yang penting.”


Saat bicara dengan Voni, mata lesti melihat tangan Voni yang di balut dengan menggunakan kain kasa, ada bekas betadine yang terlihat dengan jelas dari bagian luarnya.


“Tangan mu kenapa Voni?” tanya Lesti heran.


“Ah, hanya bekas luka kecil aja kok.”


“Nggak mungkin, terlihat sangat lebar. Kau melakukan percobaan bunuh diri lagi ya?”


Voni tak menjawab, matanya yang indah terlihat redup, walau dia tak melihatkan penderitaan sama sekali, tapi orang lain bisa menilainya.


“Kau mau bicara apa Lesti?”


“Mereka menyuruh ku menggugurkan kandungan ini Voni?”


“Mereka siapa?”


“Pak Tino dan yang lainnya?”

__ADS_1


“Jangan lakukan itu Lesti, bayi yang ada di dalam kandungan mu sudah berusia empat bulan, kau nggak bakalan bisa membuangnya.”


“Tapi aku mau mengikuti ujian akhir Voni?”


“Percuma Lesti, ujian akhir hanya tinggal empat bulan lagi, kalau kau menggugurkan kandungan mu sekarang, maka kau nggak akan kuat untuk bisa mengikuti ujian itu.”


“Kenapa? bukankah waktunya masih empat bulan lagi?”


“Iya kalau kau selamat, kalau kau meninggal karena mencoba untuk membunuh bayi mu, apa yang mesti kau lakukan, kau akan kehilangan dua kesempatan sekaligus.”


“Dua kesempatan apa?”


“Pertama, kesempatan untuk hidup bahagia bersama dengan bayi mu, yang kedua kesempatan untuk dapat melanjutkan ujian akhir yang kau idam-idamkan.”


Ucapan Voni membuat Lesti termenung, mesti dia begitu sulit mencari jalan keluarnya, namun Voni berkata benar.


Keesokan harinya, ketika Voni kembali dari sekolah, Voni melihat Lesti sedang meminum cairan berwarna putih sedikit kecoklatan.


“Cairan apa itu Lesti?” tanya Voni seraya merebutnya dari tangan gadis malang itu. “Apa kau udah gila hah! kau ingin membunuh darah daging mu sendiri?”


“Oh, Voni. Apa yang harus aku lakukan sekarang ini? aku begitu tersiksa dengan kehamilan ini.”


“Jangan seperti itu Lesti, kau pasti kuat,” ujar Voni seraya merangkul tubuh Lesti dengan lembut. “Bayi itu suci Lesti, dia nggak berdosa sama sekali. Jangan pernah kau memberinya kematian karena dosa dan kesalahan yang kalian lakukan.”


“Tapi Voni, bagai mana dengan ujian ku, yang hanya tinggal sebentar lagi?”


“Pria itu bajingan Voni, setelah dia tahu aku hamil. Dia langsung mencampakkan aku seperti sampah.


Sungguh malang nasib ku Voni.”


“Sudahlah, semuanya sudah terjadi, tak ada yang bisa kita sesali lagi. Sekarang berpikirlah. Untuk jalan keluar yang terbaik.”


“Aku bingung Voni, aku nggak punya jalan keluar lagi untuk semua ini.”


“Kalau boleh aku tahu, sebenarnya apa yang kau minum itu Lesti?”


“Itu air ragi yang ku campur dengan soda, lalu ku diamkan selama tujuh hari.”


“Apakah kau tahan dengan baunya?”


“Nggak.”


“Lalu bagai mana cara kau meminumnya, sementara kau sendiri nggak tahan dengan aroma minuman itu.”


“Aku menahan nafas saat


meminumnya.”

__ADS_1


“Kau tahu akibat dari minuman yang kau racik itu Lesti?”


“Nggak, tapi yang jelas cairan ini bisa membuat aku keguguran.”


“Kenapa dengan mudah kau mempercayai orang begitu saja?”


“Aku nggak tahu Voni, aku nggak tahu! hiks, hiks, hiks…!”


“Bagai mana kalau bayi mu tetap hidup, sementara kau sudah sekarat.”


“Oh, aku pusing Voni, aku benar-benar pusing!”


“Kalau kau nggak menemukan jalan, maka ikutilah kata hati mu sendiri Lesti, dia pasti berkata jujur dan nggak akan pernah membohongi mu. Ingat Lesti, kandungan mu saat ini sudah empat bulan, sangat berbahaya sekali, kalau kau masih ingin membunuhnya.”


“Sia-sia sudah usaha ku selama ini, jika aku nggak dapat mengikuti ujian akhir Voni.”


“Berhenti berharap untuk dapat mengikuti ujian akhir, sekarang keluarlah dari sekolah dan besarkan kandungan mu, sampai bayi itu lahir ke dunia dengan selamat.”


“Oh! ya Allah!” rintih Lesti dengan deraian air mata.


Malam itu, di saat Lesti berdiri di depan cermin, dia melihat postur tubuhnya telah berubah, pinggangnya yang dulu langsing tampak memuai dan besar, berkali-kali Lesti memandangi cermin yang berdiri kokoh di hadapannya.


Bukan hanya itu saja, kecantikan yang dia miliki, sepertinya mulai memudar, Lesti harus meratapi nasibnya di depan kaca yang tak pernah membohonginya.


“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan saat ini, jika kedua orang tua ku mengetahuinya, maka hancurlah aku.”


Semalaman Lesti tak bisa memejamkan mata, pikirannya benar-benar kalut, keesokan harinya, Lesti meminta pendapat Indan dan Intan tentang kehamilannya.


“Sebaiknya kau gugurkan saja Lesti.”


“Tapi, bagai mana caranya?”


“Nanti aku minta pendapat Pak Tino dulu, siapa tahu dia punya kenalan dan bisa membantu mu mengugurkan kandungan ini.”


“Baiklah, akan ku tunggu.”


Ketika malam telah tiba, Intan pergi kerumah Tino untuk memberitahu tentang kehamilan Lesti pada pria itu.


“Benarkah?” tanya Tino terkejut.


“Iya Pak, saat ini kandungan Lesti udah masuk empat bulan. Padahal ujian akhir hanya tinggal sebentar lagi.”


“Ujian akhir hanya tinggal empat bulan lagi, kalau Lesti masih bertahan dengan kehamilannya, tentu perutnya sudah semakin membesar nantinya.”


“Iya, Pak, untuk itu dia minta bantuan ku dan Indah untuk bisa mengugurkan kandungannya. Apakah Bapak punya kenalan di kota?”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2