
Karena tak ingin majikannya menjadi marah, Dani langsung bergegas mengganti pakaiannya, bersama kedua orang suruhannya, Dani terburu-buru menuju lapas wanita.
“Kita mau kemana Pak?”
“Ke lapas.”
“Nggak seperti biasanya, Bapak keburu-buru begini, apa ada yang terjadi?”
“Iya, saat ini Voni sudah berada di lapas menunggu kedatangan kita.”
“Wah gawat, dia bisa marah besar pada kita nantinya.”
Dengan bergegas Dani dan kedua orang suruhannya datang kekantor polisi untuk menemui Voni, siang itu.
“Eh, Non. Udah lama menunggunya?”
“Nggak begitu lama kok, boleh nggak kira-kira aku melihat wajah perempuan yang telah menyiksa Mama.”
“Biasanya, nggak di bolehkan Non?”
“Kenapa?”
“Takut terjadi yang nggak diinginkan.”
“Ooo, begitu. Baiklah, semuanya ku serahkan pada Pak Dani, aku ingin dia mau mengkui semua kesalahannya dan menanggung akibat dari perbuatannya.”
“Baik Non, serahkan semuanya pada saya.”
“Baik, aku percaya pada Bapak,” jawab Voni seraya pergi meninggalkan Dani bersama kedua anak buahnya.
“Saya kira, dia orangnya sombong dan judes, ternyata dia nggak seperti yang ku bayangkan,” ujar Dani pelan.
“Tadinya aku juga beranggapan seperti itu, tapi nyatanya dia baik dan lembut.”
“Ya sudah, mari kita masuk kedalam.”
“Mari Pak.”
Setelah kasus Luna di serahkan sepenuhnya pada pengacara pribadinya, Voni hanya duduk tenang di rumah, tak terasa sudah lima bulan waktu berjalan. Siang itu Bayu datang menemui Voni, biasanya Bayu datang dengan pakaian kantor, tapi kali itu berbeda dari sebelumnya.
Saat itu bayu datang bersama istrinya Mega dan kedua putrinya, kedatangan keluarga harmonis itu di sambut baik oleh Voni.
“Maaf sebelumnya Non, Om sengaja datang ke sini untuk menemui Non secara pribadi, karena ada hal penting yang ingin Om selesaikan dengan Non.”
“Hal penting apa itu Om?”
“Saat ini Non, kan udah remaja, usia Non juga udah diatas tujuh belas tahun, jadi sesuai dengan amanah dari tuan Sanjaya, perusahaan seutuhnya akan Om serahkan pada Non.”
“Jadi Om nggak kerja lagi?”
__ADS_1
“Bukan Om nggak mau bekerja lagi Non. Kan Non lihat sendiri, saat ini Om udah tua, Om sering sakit-sakitan, jadi Om ingin mengundurkan diri dari perusahaan.”
“Tapi Om masih mau membantu ku, kan?”
“Tentu Non, tentu, asalkan Om masih sanggup bergerak, Om akan tetap membantu Non.”
“Baiklah, aku terima surat pengunduran diri Om, sebagai mana Om selama ini telah bersusah payah membantuku dalam menjalani roda perusahaan, untuk itu, aku akan menanggung biaya hidup Om dan keluarga.”
“Ya Allah, terimakasih atas kebaikan Non, pada kami.”
“Justru aku yang berterimakasih pada Om, aku juga akan membiayai sekolah kedua putri Om, sampai dia mendapat gelar sarjana, dan bisa bekerja di perusahaan ku.”
“Benarkah itu Non?” tanya Mega tak percaya.”
“Benar.”
“Hati Bayu dan Mega begitu senang sekali, karena di hari tua mereka tak lagi memikirkan beban hidup, karena semuanya akan ditanggung oleh Voni.
Setelah Bayu mengundurkan diri, dia masih tetap menempati rumah yang di beri perusahaan kepadanya, begitu juga dengan fasilitas lainnya, tetap di nikmati oleh keluarga itu, karena jasanya pada perusahaan Sanjaya grup tak dapat di nilai dengan uang.
Seperti pengusaha lainnya, Voni mulai aktif bekerja memimpin perusahaan yang telah di serahkan Bayu kepadanya. Di tangan Voni perusahaan berjalan lancar, bahkan keuntungan yang di dapat setiap tahunnya meningkat drastis.
Sore itu, tepat di hari ulang tahun Voni, seluruh karyawan telah sibuk menyiapkan acara kecil-kecilan sebagai perhatian khusus mereka pada Voni yang selalu memperhatikan kesejahteraan karyawannya.
Voni pun di panggil ke kantor, saat itu Voni benar-benar terkejut, karena tiba-tiba saja ponselnya berdering dan menyuruh Voni datang ke kantor.
“Ada apa ya? nggak biasanya, malam begini aku disuruh datang ke kantor, emangnya ada apa Lia?”
“Apa nggak bisa ditunda, sampai besok pagi?”
“Nggak Non, harus di tanda tangani sekarang, sebelum pukul delapan.”
“Sebelum pukul delapan? baiklah, aku akan segera kesana sekarang juga.”
"Iya Non."
“Anton!”
“Iya Non.”
“Tolong hantarkan saya ke kantor sekarang!”
“Malam-malam begini Non?”
“Iya.”
“Nggak biasanya, malam-malam Non, di suruh ke kantor, apa nggak di selidiki dulu Non.”
“Nanti aja diselidikinya, sekarang kita berangkat dulu.”
__ADS_1
“Baik Non.”
Mesti saat itu hati Anton dan Voni merasa tak tenang, tapi dia tetap berangkat menuju kantor. Ketika mereka berdua tiba di kantor, Voni melihat semua lampu kantor mati, hanya di bagian luarnya saja yang menyala.
“Kenapa mesti gelap ya Anton?”
“Saya juga nggak tahu Non, jangan-jangan ini jebakan untuk Non.”
“Jebakan apa Anton, kamu jangan ngarang deh. Kalau begitu mari kita masuk kedalam, siapa tahu satpam sengaja mematikan lampunya.”
Dengan menggunakan senter ponsel, Voni dan Anton langsung masuk kedalam kantornya. Ketika kaki Voni baru melangkah saat pintu di buka, tiba-tiba saja seluruh lampu menyala dan beberapa orang karyawan langsung menaburkan beraneka ragam kembang ke atas kepala Voni.
“Aaw…!” saking terkejutnya, Voni sampai menjerit histeris.
“Selamat ulang tahun, kami ucapkan…!”
Serentak lagu ulang tahun mereka nyanyikan bersama-sama, Voni yang tadinya tampak pucat karena terkejut, langsung tertawa ceria. Saat itu tak terlihat sedikitpun perbedaan diantara mereka, apakah dia karyawan maupun atasan.
Di saat keceriaan terlihat jelas di wajah Voni, tak disangka sama sekali oleh Voni, malam itu seperti yang telah di sepakati seluruh karyawan dan Bramono. Tiba-tiba saja dia muncul dari arah luar.
Ketika mata indah Voni melihat kehadiran Bramono, dia berlari mengejar pria itu, Bramono tampak tersenyum manis dan memeluk Voni dengan lembut.
Di hadapan seluruh karyawan, Bramono mengeluarkan cincin untuk melamar kekasihnya.
Momen bahagia yang tak diduga-duga itu, membuat Voni mengangis di pelukan Bramono, cincin itu di pasangkan di jemari tangan Voni, dengan malu, Voni hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Bukan hanya itu saja, satu minggu setelah Voni menerima lamaran Bramono, tiba-tiba saja Bramono bersama keluarganya datang membawa seorang penghulu, ternyata semua itu sudah di persiapkan oleh Bramono.
Di depan wali hakim, mereka berduapun resmi menikah. Karena Bramono telah resmi menikah, acara resepsi pun di gelar secara meriah, semua biaya di tanggung oleh Bramono.
“Apa kamu punya uang, untuk biaya ini?”
“Punya sayang,” jawab Bramono pada istrinya.
Di luar dugaan Voni, ternyata, Bramono juga seorang anak pengusaha sukses di daerahnya, perusahaan yag di kelola oleh Papa Bramono, otomatis akan jatuh pada Bramono seorang, karena hanya Bramono putra tunggal yang ada di keluarganya.
“Kenapa kamu nggak bilang, Bram, kalau Papamu itu seorang CEO.”
“Buat apa? biar di katakan kalau aku ini anak kesayangan Papa.”
“Ah kamu!”
Kebahagian Voni tak lagi ada batasnya, bukan hanya harta yang berlimpah yang dia miliki, tapi Voni dan Bramono juga memiliki hati yang bersih, mereka sama-sama suka berderma dan membantu sesama, serta mensejahterakan seluruh karyawannya.
Bertepatan sekali, saat itu Dani bersama dua orang perawat datang kerumah Voni seraya mendorong kursi roda. Luna yang masih sakit, terlihat diam saja tak berbicara.
Melihat kedatangan Luna, Abi berlari kencang, memeluk tubuh perempuan paruh baya itu. Dengan lembut Voni mengambil kursi roda itu dari tangan perawat dan mendorongnya menuju taman bunga yang ada di samping rumah mewahnya.
“Selamat datang Ma, ini adalah rumah kita, rumah yang akan menyatukan kita semua, di sini, aku akan menjaga dan merawat Mama selamanya.”
__ADS_1
Begitulah kehidupan, tak seorangpun yang bisa menakarnya, hanya Allah semata yang bisa menentukan, baik buruknya kehidupan seseorang, mesti Voni telah berulangkali terjebak dalam situasi yang paling sulit sekalipun, namun dia tetap berusaha bangkit untuk mendapatkan kehidupan yang sesungguhnya.
\*TAMAT\*