Terjebak

Terjebak
Part 93 Ingin bertemu Abi


__ADS_3

Seperti perintah Voni, siang itu dua orang pekerja di antar ke rumah mewah itu, untuk membantu keperluan Luna dan anaknya Abi.


“Tugas mu merawat keduanya dengan baik, sementara kamu, bertugas membersihkan kebun."


"Baik Pak."


"Nanti kalau terjadi sesuatu, pada kalian cepat hubungi saya.”


“Baik Pak.”


Setelah turun dari mobil, kedua pekerja itu langsung mendatangi rumah Luna, pertama mengetuk pintu, Luna pun membukanya.


“Kalian siapa?”


“Kami di perintah Voni untuk mengurus Ibu dan membersihkan rumah.”


“Aku nggak mau pertolongan kalian, pergi sana! katakan pada anak durhaka itu, aku nggak butuh bantuan darinya! Pergi!” teriak Luna seraya mendorong para pekerja itu keluar dari pintu rumahnya.


“Dasar Ibu nggak tahu diri, udah mau mati pun masih saja berlagak angkuh.”


“Kurang ajar! kalian berdua yang nggak tahu diri!”


“Ibu yang nggak tahu diri!” balas pekerja itu kasar.


Abi yang sedang tertidur langsung terbangun dan berjalan menghampiri Mamanya, dia menatap tajam kearah luar. Ketika Abi melihat dua orang itu keluar dari rumahnya, Abi bergegas memanggil mereka berdua.


“Abi! mau kemana kamu nak?”


“Tunggu sebentar Ma, Abi ada urusan.”


“Urusan apa sayang?”


Mesti terdengar jelas di telinganya, namun Abi terus berjalan dan mengabaikan ucapan Mamanya.


“Kalian berdua ini siapa?”


“Kami disuruh Kak Voni merawat kalian berdua, membersihkan rumah dan mengurus kebun, tapi Mama mu mengusir kami.”


Saat keduanya bicara tentang Luna, Abi memalingkan wajahnya kearah Mamanya yang kesakitan saat berdiri.


“Maafkan Mama ya Kak.”


“Iya sayang.”


“Apakah Kakak akan meninggalkan rumah ini?”


“Iya sayang.”


Setelah keduanya pergi, Abi berjalan pelan menuju Mamanya yang tampak duduk di depan pintu. Abi menatap wajah Luna dengan pandangan penuh amarah.


“Kamu kenapa nak?”


“Kenapa Mama mengusir kedua orang itu?”


“Karena mereka itu suruhan Kakak mu! merek pasti punya tujuan jahat pada kita nak.”

__ADS_1


“Terserah Mama!” jawab Abi seraya berlalu meninggalkan Luna sendirian.


“Abi tungguin Mama sayang!”


“jalan aja sendiri!”


“Kamu itu kenapa sayang? kaki Mama sakit nih, Mama butuh bantuan mu untuk membawa Mama kedalam.”


Abi yang mendengar panggilan Luna dia tetap mengabaikan dan pergi masuk kedalam kamarnya. Malam hari disaat Luna telah tertidur dengan nyenyak, Abi justru merasa sulit untuk tidur.


“Jika benar Kak Voni itu orang jahat dan membunuh Papa, lalu kenapa dia mengirimkan orang untuk membantu Mama. Atau jangan-jangan Mama yang jahat pada Kakak.”


Merasa bingung dengan keadaan yang ada dirumah itu, Mata Abi begitu sulit untuk di pejamkan, pikirannya teringat pada Voni.


“Sebenarnya apa yang terjadi antara Mama dan Kak Voni, mengapa Mama begitu marah sekali pada Kak Voni?”


Di saat Abi sulit memejamkan matanya, Voni juga merasakan hal yang sama. Malam itu, dia selalu teringat dengan Abi, yang selama ini tinggal bersamanya.


“Abi, kenapa kau menaruh dendam sebesar itu pada Kakak, padahal Kakak nggak pernah membunuh Papa mu, dia sendiri yang membunuh dirinya dengan pisau yang ada di tangannya.”


“Non Voni! kamu belum tidur sayang?”


“Belum Bi, mata ku sulit sekali untuk di pejamkan.”


“Non teringat apa?”


“Aku teringat Abi, Bi.”


“Bukankah saat ini dia udah aman tinggal bersama dengan Mamanya?”


“Bibi juga Non.”


Mereka sama-sama merasakan perasaan yang tak bisa di jelaskan dengan cara apa pun, perasaan itu tiba-tiba saja muncul dari kedua hati mereka.


“Kak Voni, Abi rindu sekali dengan Kakak.”


“Abi, kakak begitu merindukanmu sayang, kapan kita bisa bertemu lagi dek?”


Lama Voni tertidur malam itu, dia begitu sulit sekali memejamkan matanya, bukan hanya Voni yang merasakan hal itu Anum sang pengasuh setia juga merasa kehilangan anak asuhnya.


Mesti semalaman Voni tak bisa tidur dengan nyenyak, namun paginya dia tetap berangkat kesekolah, setiba di sekolah Voni belajar seperti biasa dengan teman-teman di kelasnya.


Setelah pelajaran usai, Voni datang ke rumah Bramono, dia menyampaikan perasaan sedihnya karena telah berpisah dengan adik kesayangannya Abi.


“Kamu yang sabar sayang, nanti kalau kita ada waktu Bapak akan mengantarmu untuk menemui Abi.”


“Tapi aku kangennya sekarang Pak.”


“Tapi jarak antara rumah mu dengan tempat tinggal kita sekarang ini, nggak dekat sayang, butuh waktu empat jam baru nyampe.”


“Ayolah Pak, kita lihat adik ku sekarang.”


“Gimana kalau hari minggu depan aja, kan sebentar lagi tu, hanya menunggu tiga hari lagi.”


“Itu kelamaan sayang, tiga hari itu adalah waktu yang sangat lama sekali.”

__ADS_1


“Jadi mau mu gimana?”


“Hantarkan aku kesana sekarang.”


“Baiklah, akan Bapak antar!”


Mendengar kata Bramono yang menyanggupi permintaannya, Voni langsung berlari menghampiri kekasihnya itu dan memeluknya dengan kuat.


“Aku janji, nggak bakalan nakal lagi jadi anak.”


“Udah, kayaknya janji mu itu udah berulangkali kau ucapkan.”


“Ah, Bram.”


“Ya udah, kalau begitu, mari kita berangkat.”


Setelah mengabari Anum, Voni dan Bramono langsung berangkat menuju kota, Voni yang sangat merindukan wajah Abi, dia hanya ingin melihat adiknya itu, setelah itu dia akan kembali pulang.


Di perjalanan, Voni terlihat senang sekali, dia bersenandung dan tersenyum bahagia. Bramono yang belum pernah melihat raut seperti itu dari wajah Voni, dia hanya memperhatikan saja dengan sudut matanya yang tajam.


Perasaan bahagia yang di rasakan Voni, juga dirasakan oleh Bramono. Pasalnya, selama ini Bramono belum pernah melihat Voni sesenang itu.


“Kamu kelihatan senang sekali? apa lantaran mau jumpa dengan Abi?”


“Iya Bram, nanti aku akan memeluk tubuhnya dengan erat, akan kucium dia dengan puas.”


“O ya.”


“Iya Bram.”


Seperti perasaan bahagia yang di rasakan Voni saat itu, seperti itu pula, cara Bramono menyetir mobilnya hingga melaju dengan kecepatan sedang, empat jam perjalanan tak terasa telah mereka tempuh, akhirnya tibalah mereka berdua di depan rumah mewah itu.


Dari dalam mobil, Voni melihat keadaan rumah sangat sepi sekali, seperti tak ada penghuni, lama Voni memandang di sekitar tempat itu.


“Kenapa sepi ya Bram? padahal aku udah menyuruh dua pekerja membantu Mama, mengurus rumah dan membersihkan halaman. Tapi kenapa semuanya tampak nggak berubah.


“Iya ya, apa mereka semua masih berada di dalam?”


“Entahlah.”


Tak ingin menjadi penasaran, Lalu Voni turun dari mobil dan berjalan pelan menghampiri pagar yang menjadi pembatas antara jalan dan halaman rumahnya.


“Kamu mau kemana sayang?” tanya Bramono ingin tahu.


“Aku akan mengecek keadaan rumah Bram.”


“Jangan sayang, nanti kalau di lihat Mama mu gimana?”


“Nggak apa-apa Bram, aku hanya melihat keadaan rumahnya saja, apa masih ada penghuninya atau nggak.”


Tak ingin kekasihnya mendapat masalah, lalu Bramono pun turun dari mobil dan berjalan mengiringi Voni dari belakang.


Dari balik jendela kaca yang berukuran besar, Voni menoleh kedalam, sejauh dia melihat, Voni tak menemukan siapa-siapa di dalam rumah itu, termasuk Abi dan Mamanya.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2