
“Sebenarnya kita mau kemana Neng?”
“Ke sekolah, SMP Kebangsaan Pak.”
“Baik.”
Taksi pun melaju, menuju SMP Kebangsaan, setibanya di sana, Yesi menyuruh satpam membayarkan ongkos taksi yang telah dinaikinya, karena saat itu dia tak punya uang sama sekali.
Setelah taksi pergi, Yesi baru bisa bernafas lega, mesti kondisi tubuhnya sangat lemah sekali saat itu.
“Kamu dari mana saja nak? semua orang di sini sibuk mencari keberadaan mu, begitu juga dengan polisi.”
“Aku di culik Om.”
“Di culik? siapa yang telah menculik kamu?”
“Aku nggak tahu, tapi Bibi itu pernah datang ke rumah ku, ku kira dia itu teman Mama, ternyata dia ingin menculik aku.”
“Lalu kenapa kau bisa bebas?”
“Putranya yang membebaskan aku.”
“Emangnya Ibu itu nggak di rumah?”
“Dia lagi tidur.”
“Kalau begitu, Om telpon orang tuamu dulu ya?”
“Iya Om, cepetan! nanti Ibu itu datang lagi untuk menangkap ku.”
“Nggak bakalan, karena saat ini kamu aman disini bersama kami.”
“Benar kah?”
“Iya sayang.”
Merasa aman berada di tempat itu, Yesi mencoba merebahkan tubuhnya di atas dipan. Sesaat kemudian Mega dan Bayu datang menjemputnya.
“Yesi!”
“Papa! Mama!” teriak Yesi seraya memeluk keduanya dengan senang.
“Siapa yang melakukan semua ini nak?”
“Ibu yang datang kerumah kita itu Pa.”
“Luna, maksud mu?”
“Iya, Pa. dia menyekap ku di dalam gudang.”
__ADS_1
“Jadi sewaktu Papa kesana, kau berada di dalam gudang itu?”
“Iya Pa, tapi mereka melakban mulutku, sehingga aku nggak bisa berteriak.”
“Kau keterlaluan Luna, kau kira aku akan diam begitu saja! tunggu pembalasanku Luna, lihat saja nanti!” gerutu Bayu seraya mengepal tangannya.
“Ucapan Bayu tak main-main, keesokan harinya dia membawa Yesi ke kantor polisi dan melaporkan ke polisi, kalau Luna telah menculik putrinya, hingga gadis itu mengalami trauma.
Polisipun bergerak cepat, rumah Luna di kepung dari luar, beberapa orang polisi langsung masuk kedalam rumah dan memeriksa seluruh ruangan.
Saat itu Luna sedang mandi di kamar mandi, diam-diam beberapa orang polisi menunggu di luar kamar mandi sampai Luna keluar.
Saat dia keluar, betapa terkejutnya Luna karena dia tak menyadari, puluhan polisi telah berada di dalam rumahnya, sementara itu kedua anak buah Luna telah terlebih dahulu di tangkap.
Begitu juga dengan pembantu Luna, dia ditangkap untuk di jadikan sebagai saksi. Luna tak bisa mengelak lagi, karena saat itu dia berada dalam posisi yang sangat sulit, mau tak mau dia hanya menerima kedua tangannya di borgol.
Ketika keluar dari rumah, Luna berpapasan dengan Bayu, Yesi serta istrinya, mata keduanya beradu, tampak seberkas dendam, membayangi tatapan keduanya.
“Tangan yang mencincang, maka bahu yang memikul!” bisik Bayu di telinga Luna.
Saat bisikan itu terdengar jelas di telinga Luna, perempuan itu langsung meradang, dia membalikkan tubuhnya dan menyerang Bayu bagaikan singa yang hendak mencakar mangsanya.
Tapi Bayu lebih gesit dari yang di bayangkan Luna, tangannya yang kekar langsung menarik rambut Luna dan menekannya kebelakang, sehingga perempuan itu tak berkutik sama sekali.
“Kau itu perempuan Luna, jangan coba-coba berlagak seperti jagoan di hadapan ku, akan ku patahkan lehermu ini.”
“Dasar brengsek! silahkan saja kalau kau berani!”
“Aww…! sakit!” jerit Luna seraya memegang tangan Bayu dengan kasarnya.
“Sekarang seret dia, jebloskan kedalam penjara, biar meringkuk kedinginan di sana.”
“Awas kau Bayu, setelah aku keluar nanti, akan ku balas semua perbuatan mu padaku!”
Walau Luna berteriak-teriak minta di lepaskan, namun Bayu mengabaikannya. Dia mengajak istri dan kedua anaknya pergi.
Hati Luna begitu sakit sekali, melihat Bayu bisa melenggang bebas menikmati udara segar, sementara dia yang seorang pewaris perusahaan Sanjaya, justru membungkuk dalam penjara.
Di kantor polisi, Luna di cerca dengan begitu banyak pertanyaan, sehingga perempuan itu terlihat linglung dan bingung.
“Ibu, jawab dengan jujur pertanyaan dari kami, kalau Ibu nggak mau menjawab dengan jujur, maka hukuman untuk Ibu akan kami tambah lebih lama lagi.
Luna diam saja, dia lebih memilih bungkam ketimbang berkata jujur, polisi di buat kesulitan untuk mendapatkan bukti kesalahannya.
“Sekali lagi, coba Ibu jawab dengan jujur, apakah benar Ibu yang telah melakukan penculikan itu?”
Seraya menundukkan kepalanya, Luna tampak tersenyum manis, dia memang sudah berencana untuk tetap bungkam.
Karena tak mendapat jawaban sama sekali dari Luna, polisi akhirnya memanggil Yesi, gadis yang telah berhasil lolos paska penculikan terhadap dirinya.
__ADS_1
Di dalam sebuah ruangan Luna di tinggal sendirian, sementara itu Yesi di ajak polisi untuk melihat dengan jelas, apa benar orang yang telah menculiknya itu Luna atau bukan.
“Kamu lihat kan, sayang? di dalam sana ada seorang perempuan, setelah melihat wajahnya kau pasti mengenalnya.”
“Siapa dia Om?”
“Lihatlah sendiri.”
Dengan tenang, Yesi memperhatikan perempuan itu dari luar. Akan tetapi, ketika Luna melihat kearahnya, Yesi malah menjadi takut, dia langsung menjerit dan berlari ketakutan.
“Ada apa sayang? kenapa kau menjerit dan berlari ketakutan?”
“Dia Bibi yang telah menculik ku, Om.”
“Benar dia yang telah menculik mu?”
“Benar Om, awalnya dia mengaku teman Mama, setelah itu dia bilang, Mama menyuruhnya untuk menjemput ku, tapi semua itu bohong, ternyata dia mau menculik ku.”
Walah Luna tak mau menjawab, Tapi Yesi telah bersaksi untuk Luna. Bersamaan dengan itu, Voni yang telah mendapat kabar, kalau Mamanya masuk penjara, Voni hanya bisa diam saja.
“Ada apa Non, kenapa diam saja?” tanya Anum ingin tahu.
“Mama udah ketangkap Bi, ternyata Yesi melarikan diri dari tangan Mama dan dia melaporkan kejadian itu ke polisi.”
“Mama Non itu, udah keterlaluan, dia bahkan berniat untuk membunuh Non, putri kandungnya sendiri. Non kenapa nggak mau membalas sih, kan Non jago karate?”
“Dia itu mama ku Bi, sejahat apapun dia, dia telah membuat aku ada di dunia ini, jadi aku nggak tega untuk melawannya, biar Allah saja yang menilai semuanya.
“Tapi Non menderita di buatnya, Mama macam apa yang selalu berniat untuk menghabisi putri kandungnya sendiri.”
“Udahlah Bi, saat ini Mama telah menerima akibat dari semua kejahatan yang dia lakukan, mudah-mudahan selama di penjara Mama bisa sadar.”
Setelah Luna dan semua orang bayarannya di jebloskan kedalam penjara, Abi yang saat itu masih tidur sibuk memanggil-manggil nama mamanya.
Saat itu, Voni teringat pada adiknya yang masih kecil, lalu dia bergegas mengambil ponsel dan menelfon Bayu.
“Iya Non, ada apa?”
“Saat Mama dan yang lainnya di tangkap, apakah Om melihat Abi di sana?”
“Abi?”
“Om nggak melihat ada Abi di sana.”
“Sekarang Om kembali kesana, tolong Om selamatkan Abi.”
“Baik Non.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*