Terjebak

Terjebak
Part 6 Di usir dari rumah


__ADS_3

“Anu apa, kau jangan bikin aku penasaran. Anu apa?”


“Tuan telah tewas Nyah.”


“Tuan tewas? tewas gimana maksud mu?”


“Tuan di bunuh oleh Non Voni, Nyah.”


“Apa! Voni telah membunuh suami ku! kurang ajar, dasar anak nggak berguna!” teriak Luna dengan suara lantang.


Sambil bergegas keluar kantor, Luna memanggil dua orang pria yang sepertinya, dia itu adalah orang suruhan Luna sendiri.


Kedua pria itu mengiringi Luna dari belakang, mereka berdua seperti seorang bodyguard, melihat dari postur tubuh yang tegap dan kuat. Setibanya Luna di rumah, dia langsung berlari masuk kedalam.


“Di mana Tuan saat ini, Bi?”


“Ada di atas Nyah?”


“Di atas? maksud Bibi?”


“Tuan ada di kamar Non Voni Nyah.”


“Tuan ada di kamar Non Voni?”


“Iya Nyah.”


Luna tak sabar lagi untuk melihat jasad Tio yang saat itu berada di kamar Voni, ketika dia hendak memasuki lantai atas, Luna melihat begitu banyak bercak darah yang berserakan.


“Ya Allah! Bang…!” teriak Luna seraya melihat jasad suaminya telah bersimbah darah di dalam kamar Voni.


Merasa sakit hati, lalu Luna berlari turun ke bawah untuk mencari putrinya Voni yang saad itu telah di amankan oleh Polisi.


“Mana dia Bi?” tanya Luna pada Anum yang saat itu berdiri di sudut ruangan itu.


“Siapa maksud Nyonya?”


“Voni, putri yang nggak tahu diri itu!”


“Dia telah di bawa ke kantor polisi Nya.”


“Polisi, kenapa polisi begitu cepat datangnya, akan ku bunuh gadis kurang ajar itu!”


Anum sangat ketakutan sekali saat itu, karena Luna begitu marah pada putrinya, padahal Anum tahu, kalau Tio lah yang selalu mengganggu Voni setiap malamnya.


“Sebenarnya apa yang telah terjadi Bi? Kenapa Voni bisa membunuh Papanya?”


“Aku nggak tahu Nya, tapi ketika aku masak, aku mendengar suara gaduh di kamar Voni, aku nggak berani naik keatas sendirian, lalu aku memanggil Niko, tapi semuanya telah terjadi Nyah, Voni keluar dari kamarnya tanpa menggunakan busana.”


“Kurang ajar! dia begitu tega tidur dengan Papanya sendiri.”


“Bukan begitu ceritanya Nyah!”


“Diam kau Anum! apa mau kau ku pecat!”

__ADS_1


“Nggak Nyah.”


“Kalau kau masih ingin bekerja di rumah ini, tolong kau jaga mulut mu itu!”


“Baik Nyah.”


Anum tak dapat berbuat apa-apa, mesti Anum tahu persis dengan hal yang sebenarnya. Dengan linangan air mata, perempuan itu langsung pergi ke dapur meninggalkan Luna dan yang lainnya.


“Danu, Leon, mari kita ke kantor polisi.”


“Baik Bu,” jawab Danu dan Leon serentak.


Tanpa berfikir panjang, Luna langsung menemui Voni di kantor polisi, Luna melihat Voni sedang bersama seorang polisi wanita datang menghampirinya.


“Boleh tinggalkan kami sebentar,” ucap Luna pada polwan tersebut.


“Nggak bisa Bu, karena Voni saat ini dalam tanggung jawab kami.”


“Apa-apaan kamu ini! bukankah dia itu putri ku!” ujar Luna seraya mendorong tubuh polwan itu.


“Heh, Bu. Jangan kasar gitu dong, saya ini seorang polisi lho, saya bisa jadikan Ibu tersangka dalam hal ini!”


“Apa maksud anda bicara seperti itu?”


“Kami sudah mengetahui semuanya, jadi Ibu jangan sok jadi jagoan disini.”


Voni yang melihat pertikaian itu, dia hanya diam saja, Voni tahu saat itu Mamanya tak akan mau memaafkan semua kesalahan yang telah dia lakukan.


“Aku nggak membunuhnya Ma.”


“Bohong, lalu kenapa perut Papamu mengalami robek?”


“Itu salah Papa sendiri, yang ingin memperkosa ku.”


“Kau bohong Voni, kau bohong, Mama yakin ini semua pasti akal-akalan mu saja, Mama nggak yakin kalau Papa mu tega melakukan itu semua.”


“Aku udah bicara dengan jujur, kalau Mama nggak percaya, terserah.”


“Dasar nggak tahu diri kau Voni, kau benar-benar anak durhaka! Mama bersumpah, mulai hari ini Mama nggak pernah punya anak seperti kamu, kau bukan anak ku lagi saat ini.”


“Ibu, Ibu nggak baik bicara seperti itu, Ibu tahu sendiri kan, kalau putri Ibu nggak bersalah.”


“Dia itu pembohong! dari pertama kalinya, dia juga nggak pernah suka dengan suami ku.”


Voni diam saja, dia tak mau melawan Mamanya, jika saja dia mau menjebloskan Mamanya ke dalam penjara, Voni bisa saja mengungkap kematian Papanya yang di racun.


Setelah dinyatakan tak bersalah, Voni di izinkan kembali pulang kerumahnya, namun Luna sudah tak mau menerima Voni tinggal bersamanya.


“Mulai hari ini, keluar kau dari rumah Mama!”


“Ini bukan rumah Mama, ini adalah rumah Papa ku.”


“Saat ini seluruh aset Papamu telah di serahkan ke tangan Mama. Jadi kau nggak punya hak untuk tinggal di rumah ini lagi."

__ADS_1


“Mama salah, seluruh aset kekayaan Papa telah di wariskan ke pada ku, jadi yang saat ini nggak punya hak itu adalah Mama, bukan aku.”


“Dasar anak kurang ajar, berani-beraninya kau bicara seperti itu pada ku!” bentak Luna keras. “Danu, Leon!”


“Iya Bu.”


“Seret perempuan kecil ini keluar dari rumah ku, kapan perlu kau lempar dia ke jalanan!”


“Baik Bu. Ayo keluar gadis kecil.”


“Aku nggak mau.”


“Ayo cepat, jangan sampai aku pakai kekerasan untuk mengeluarkan mu dari rumah ini!”


“Aku nggak mau, mestinya Mama yang harus keluar dari rumah ini, bukan aku!”


“Dia nggak mau Nyah.”


“Dasar bodoh! seret dia dan lempar ke jalanan!”


Voni yang saat itu masih duduk di bangku kelas tiga SMP, tak bisa berbuat apa-apa, Mamanya yang sudah kalap melempar Voni ke jalan tanpa memberi sepersen uang pun di tangannya.


Voni hanya bisa menangis histeris, di luar pagar rumahnya. Mulai saat itu Voni tak bisa masuk kedalam, untuk menikmati fasilitas dari Peninggalan Papanya.


Dinginnya angin malam membuat tubuh kecilnya menggigil, seluruh persendiannya pun merasa kaku, karena diterpa angin malam.


“Ya Allah, aku harus pergi kemana?” tanya Voni pada dirinya sendiri.


Tanpa memikirkan tujuannya, Voni terus berjalan mengikuti ke mana kaki nya melangkah.


Saat berjalan, Voni melihat ada sebuah gedung tua yang terbengkalai, dia pun menghampiri gedung itu dengan perlahan. “Ya Allah, lindungi aku dari segala marabahaya, yang datang mengancam jiwa dan raga ku, ya Allah,” gumam Voni pelan.


Mesti terasa ngeri, namun Voni tak punya pilihan, selain harus terus masuk kedalamnya. Di sebuah ruangan yang kosong, di sanalah Voni merebahkan badannya, tak ada kasur dan selimut, tak ada bantal dan cahaya lampu, Voni merebahkan badannya seraya menangis.


“Ya Allah. Beginikah akhir hidup ku ini, menjadi gadis yang terbuang.”


Sudah lebih satu minggu Voni tak masuk sekolah, seluruh guru merasa heran kenapa Voni tak pernah lagi datang ke sekolah. Lalu seorang guru mencoba mendatangi Mama Voni ke rumahnya.


“Maaf Nyah, di luar ada tamu untuk Nyonya,” ujar Anum pelan.


“Siapa Bi?”


“Katanya, guru kelas Voni.”


“Ooo, persilahkan dia masuk Bi.”


“Baik Nyah.”


Atas izin Luna, akhirnya Bu Lita masuk kedalam rumah Voni, dia tampak sedikit gugup ketika hendak melangkah memasuki rumah mewah itu.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2