
Setelah semua file itu di tanda tangani Voni, lalu mereka berdua memeriksa seluruh departemen, semua karyawan terlihat senang menyambut kedatangan Voni yang pertama kali di perusahaan Sanjaya.
Dengan ceria, Voni mengajak Bramono turun dari setiap lantai dengan menggunakan life. Setibanya di ruangan Oktavia, gadis itu langsung menghampiri Voni, seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat yang berisi uang sepuluh juta.
Saat uang itu telah berada di tangan Voni, gadis itu langsung memerintahkan karyawannya untuk memanggil pengacara perusahaan.
“Bisa saya bantu Non?”
“Kak Tuti, tolong panggil pengacara sekarang juga!”
“Baik Non.”seraya menunggu kedatangan pengacara, Voni dan Bramono duduk tenang di ruang sekretaris Sanjaya.
Tak berapa lama kemudian pengacara Sanjaya datang menghampiri Voni, saat dia melihat Voni, Pak Abdi langsung tersenyum lebar.
“Wah Voni! ternyata kamu udah gadis sekarang.”
“Gimana kabar Bapak, apa sehat?” tanya Voni seraya menyalami Pak Abdi.
“Alhamdulillah, sama seperti dulu, tetap sehat.”
“Apa ada yang bisa Bapak bantu, Voni?”
“Pak, aku butuh surat pernyataan itu sekarang.”
“Baik Voni, baik,” ujar Abdi seraya menyodorkan selebaran kertas yang telah di beri materai.
Saat itu, Voni membaca langsung surat wasiat yang di tulis tangan oleh Sanjaya, terlihat oleh Bramono kalau Voni sempat meneteskan air mata ketika membaca isi surat wasiat itu.
“Kamu yang sabar sayang.” Bramono berusaha menenangkan hati Voni yang saat itu terlihat sedih.
Sementara Itu Abdi yang duduk di samping Voni, dia langsung memberikan pena pada gadis cantik itu. lalu Voni mengambil pena itu sambil mengusap air matanya yang menetes.
“Di mana aku bisa menanda tangannya Pak?”
“Di sini Voni.”
“Baiklah.”
Dengan teliti Voni menanda tangani surat wasiat itu, mesti saat itu jantungnya berdebar begitu kuat, namun dia berusaha untuk bisa tenang.
Sesudah tangan selesai, kemudian Voni memanggil Oktavia dan bendahara perusahaan. Sambil menunggu mereka berdua datang menemui Voni, keduanya tampak duduk tenang.
“Bisa saya bantu Non?” tanya Oktavia pada Voni.
“Sekarang coba kalian jelaskan kepada ku, tentang keuangan perusahaan kita saat ini.”
“Mulai dari tahun berapa Non?” tanya Oktavia.
__ADS_1
“Kakak baca dari tahun sebelumnya aja.”
“Baik Non. Untuk tahun ini, bila dibandingkan tahun sebelumnya, pendapatan perusahaan kita meningkat drastis. Begitu juga dengan saham kita di berbagai sektor yang saat ini sedang memimpin delapan perusahaan terbesar di kota ini maupun di Jakarta.”
“Bagus, bagus! tolong kalian pertahankan itu. Jangan ada yang sampai kehilangan pekerjaan, oleh karena ulah seseorang yang bersifat pribadi. Mulai hari ini, seluruh laporan perusahaan, baik itu pemasukan dan pengeluaran, semuanya atas izin dan persetujuan dari ku.”
“Baik Non,” jawab seluruh karyawan serentak.
“Ok, mulai dari tahun depan, seluruh karyawan perusahaan ini akan mendapatkan Bonus dari keuntungan perusahaan. Jadi, bekerjalah dengan serius, agar perusahaan kita semakin maju tanpa ada kendala.”
“Baik Non.”
Melihat Voni bicara dengan seluruh karyawannya, Bramono berdecak kagum di buatnya. Voni bukan hanya cantik dia juga berwibawa di hadapan seluruh karyawannya.
“Dan satu hal lagi, jika ada karyawan kita yang sakit atau mereka mendadak butuh dana untuk kebutuhan tertentu yang sangat mendesak, saya memberi izin perusahaan untuk memberi mereka pinjaman untuk dua bulan gaji.
Terkhusus untuk karyawan yang melahirkan, biaya rumah sakit akan di tanggung perusahaan.”
“Alhamdulillah!” ucap semua karyawan Voni.
“Nah apa ada diantara kalian yang ingin bertanya?”
“Nggak Non.”
“Nanti kalau Mama datang dan bertanya pada kalian tentang keputusan yang telah saya buat, kalian nggak perlu buka mulut. Jika Mama tahu, saya telah membuat kebijakan, saya takut, Mama akan membatalkannya.”
“Baik Non.”
ajak Voni seraya menggandeng tangan Bramono di hadapan seluruh karyawannya.
Setelah Voni dan Bramono pergi, mereka semua bersorak gembira, karena Voni telah membuat kebijakan untuk kesejahteraan mereka semua.
Kebijakan yang di ucapkan Voni langsung di tulis oleh sekretaris dan di laporkan ke direktur perusahaan.
“Apa ini?” tanya Bayu pada Oktavia.
“Kebijakkan yang di buat Voni, Pak.”
Lalu Oktavia, memberikan surat itu pada Bayu dan Bayu membaca semuanya dengan tenang. Saat itu Bayu benar-benar kagum dengan semua kebijakan itu.
“Berhati-hatilah kalian bekerja, saat ini Voni telah remaja, dan perusahaan ini telah jatuh ke tangannya.”
“Baik Pak.”
“Simpan semuanya di dalam berkas perusahaan.”
“Baik Pak.”
__ADS_1
Saat bersamaan, Voni dan Bramono langsung melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah sakit, tempat Lesti di rawat.
“Ternyata kau di luar jangkauan ku Voni.”
“Apa maksud mu Bram?”
“Maksud ku, selain cantik kau juga berwibawa di hadapan karyawan mu sayang.”
“Itu semua berkat Papa, Bram. Dia telah mendidik ku menjadi anak yang sempurna, tapi…?”
“Tapi apa sayang?”
“Hiks…hiks…hiks!”
“Kalau kau nggak bisa menceritakannya, nggak usah di ceritakan."
“Iya Bram.”
Voni berusaha untuk tenang, agar dia bisa menghilangkan kesedihan yang sedang melanda dirinya. Namun perasaannya terasa sangat hancur, ketika dia kembali teringat dengan Luna, yang mengusirnya serta menarik rambutnya saat masih di persidangan.
“Dulu aku seorang gadis pendiam dan tak banyak bicara, jika Mama ingin bicara dengan ku, aku hanya menjawab satu pertanyaan dengan satu jawaban dan tak lebih. Tapi ketika aku melihat Mama meracuni Papa dan dia meninggal di hadapanku dengan mulut berbusa, aku jadi frustasi.”
“Emangnya, di mana Mama meracuni Papa mu?”
“Di meja makan, oh…hiks, hiks, hiks!”
“Kenapa Mama mu meracuni Papa mu, apakah dia punya masalah yang berat?”
“Iya, Mama berselingkuh di belakang Papa, mungkin Papa memergoki mereka.”
“Kamu harus sabar dalam menghadapi semua ini Voni, karena setiap cobaan pasti punya jalan keluarnya. Yakinlah Allah itu akan menguji hambanya sebatas kemampuan hamba itu sendiri.”
“Iya Bram. Semenjak kejadian itu, aku sering berkurung di dalam kamar, aku jarang bergabung dengan mereka, bahkan beberapa hari setelah Papa meninggal, Mama menikah dengan pria selingkuhannya itu.”
“Kalau memang Mama mu menikah dengan pria selingkuhannya, lalu kenapa kau mesti membunuhnya?”
“Dari awal mereka menikah, aku telah membaca gelagat Papa tiri ku itu, dia selalu memandangiku dengan tatapan penuh sahwat.”
“Tapi dia nggak mengganggumu kan?”
“Setiap malam dia selalu datang ke kamar ku yang berada di lantai atas, dia berusaha untuk membuka pintu dan mencongkel jendela kamar dari luar.
Karena takut, aku menyuruh Bi Anum untuk menemani aku tidur, malam itu Bi anum juga melihat pria busuk itu mencongkel pintu jendela.”
“Apa dia berhasil masuk?”
“Dia berhasil masuk kedalam kamarku, ketika pagi itu aku sedang mandi. Sementara pintu kamar terbuka dengan lebar. Dia berusaha untuk memperkosa ku, untung waktu itu, aku telah meminta Papa mencarikan guru ilmu beladiri, sehingga aku bisa mengelak dari kelakuan busuknya.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*