Terjebak

Terjebak
Part 80 Menjemput Abi


__ADS_3

Seperti perintah Voni, Bayu langsung bergegas menuju rumah Luna, ternyata apa yang di katakan Voni memang benar, saat Bayu tiba di tempat itu, Bayu menemukan Abi sedang menangis di depan rumahnya. Bayu tahu kalau itu adalah, putra kecil Luna.


“Abi?”


“Om Bayu?”


“Om lupa, kalau kau tinggal di rumah sendirian.”


“Mama pergi kemana Om?”


“Mama ada tugas di luar kota, jadi Abi tinggal bersama Om saja dulu ya.”


“Abi nggak mau Om.”


“Kenapa nggak mau?”


“Abi disini saja, menantikan Kakak.”


“Kakak?”


“Iya Om.”


“Kakak Abi itu ada di rumah Om, jadi Kakak menyuruh Om untuk menjemput Abi.”


“Benarkah Om?”


“Iya sayang, sini mari ikut Om.”


“Baiklah,” jawab Abi seraya menggandeng tangan Bayu.


“O iya, kita ambil pakaian Abi dulu, setelah itu baru kita berangkat.”


“Ok, Om.”


Bayu dan Abi kembali lagi masuk kedalam rumah mewah itu, guna mengambil pakaiannya, setelah semuanya selesai, Abi dan Bayu langsung berangkat.


Di rumah Bayu, Abi tak merasa canggung, karena ada Yesi di sana yang telah di anggapnya sebagai Kakaknya sendiri.


Bersama putri dan Yesi, Abi bermain dengan senangnya. Bahkan dia sendiri tak pernah mengingat Luna yang selama ini telah melahirkan dan membesarkannya.


Sedangkan Luna yang saat itu telah berada di dalam penjara, pikirannya selalu tertuju pada putra bungsunya itu. Luna bahkan merengek dan meminta polisi untuk mengantarkan putranya itu ke panti asuhan.


“Tolonglah Pak polisi, dirumah itu masih ada putraku yang masih kecil.”


“Ah sudahlah Bu Luna, nggak usah menangis, bikin ribut dan mengganggu nara pidana yang lain.”


“Tapi aku berkata benar Pak polisi.”


Ucapan polisi itu memang benar, sesama tahanan, mereka merasa terganggu dengan suara Luna yang terus menjerit dan menangis minta tolong.


“Heh! berisik tahu! aku mau tidur, mau istirahat!”


“Hus! diam kamu, kau kira kau itu siapa hah!” bentak Luna pada beberapa orang yang berada di belakangnya.


Karena nada suara Luna itu sangat keras, hal itu memancing para NAPI lainnya, mereka semua marah dan menghajar Luna hingga babak belur.


Luna menjerit-jerit kesakitan, lalu beberapa orang polisi datang membantunya. Luna mereka selamatkan di obati di ruang perawatan, pukulan yang di lakukan para NAPI wanita itu, telah membuat wajahnya mengalami luka lebam dan memar.

__ADS_1


Luna meringis menahan rasa sakit, Luna bermohon pada petugas, agar dia di pisahkan dari NAPI yang lain.


“Nggak bisa Bu, tahanan di sini, hanya ada delapan ruangan, jika Ibu menyendiri, maka NAPI yang lainnya pasti ikut minta agar dia jangan di digabung dalam satu sel.”


“Saya akan bayar, biaya selama di dalam sel.”


“Ibu mau bayar?”


“Iya.”


“Berapa Ibu sanggup bayar biaya untuk satu kamar?”


“Terserah, Bapak minta berapa.”


“Kalau begitu, saya minta sepuluh juta untuk enam bulan.”


“Hah! kenapa mahal sekali?”


“Kalau Ibu nggak sanggup, Ibu bisa kembali ke dalam sel dan gabung dengan mereka.”


“Baiklah, saya akan bayar.”


“Apa Ibu ada bawa uangnya?”


“Saya nggak bawa, tapi uangnya akan saya transfer ke rekening Bapak lewat pengacara saya nanti.”


“Baik, saya pegang ucapan Ibu, tapi ingat, jika Ibu mengingkarinya, maka hukuman Ibu akan saya tambah.”


“Lho, kenapa hukuman saya di tambah, kan saya udah bayar Bapak.”


“Itu, kalau Ibu menepati janji.”


“Celaka, jika aku nggak mendapatkan uang itu dalam enam bulan


, maka hukuman ku akan mereka tambah, berati aku akan sulit untuk melihat wajah Abi.”


Di dalam tahanan, Luna terus membayangkan kebersamaannya bersama Sanjaya, Tio, Voni dan Abi. Mereka semua seperti menari-nari riang di depan mata Luna, ingin sekali Luna menggapainya, tapi dia tak bisa.


“Anak-anak ku, maafkan Mama sayang. aku ini Mama yang nggak berguna, bertahun-tahun, aku mengabaikan putri kandung ku sendiri, hanya karena sikap ego yang ku miliki.”


Luna menyesali banyak hal dalam hidupnya, mesti jahat dan kejam, sebenarnya Luna bukanlah orang seperti itu, tapi pengaruh buruk telah merubah haluan hidupnya menjadi lebih jahat dan jauh dari nilai-nilai agama.


Di saat bersamaan, Voni meminta Bramono mengantarkannya ke kota, guna menjemput Abi yang telah di pelihara oleh Bayu.


“Baiklah, kapan kita kesana sayang?”


“Kapan Bapak punya waktu untuk itu.”


“Bapak selalu punya waktu untuk mu.”


“Baiklah, bagai mana kalau hari ini?”


“Boleh!”


“Baiklah, aku akan kembali lagi kesini.”


Dengan senang hati, Voni bergegas pulang ke kontrakannya untuk mengabarkan kepergiannya bersama Bramono ke kota untuk menjemput Abi.”

__ADS_1


“Iya, Non, Bibi sangat senang sekali mendengarnya.”


Siang itu juga, Voni dan Bramono langsung berangkat ke kota untuk menjemput Abi yang tinggal bersama Bayu.


Setibanya mereka di rumah Bayu, Abi terlihat diam saja, dia tak tahu kalau Voni itu siapa. Abi mengira kalau Voni adalah tamu Bayu.


“Abi! kesini sayang!” panggil Bayu dengan suara lembut.


“Iya Om.”


“Sini dulu, ada yang ingin Om


beritahukan pada Abi.”


“Baik Om,” jawab Abi seraya bergegas menghampiri Bayu.


“Abi, tahu nggak siapa mereka berdua ini?”


“Nggak Om.”


“Yang cantik ini namanya Voni, dia itu Kakak kandung Abi sendiri dan yang ini temannya.”


“Hah! kadi Abi masih punya Kakak lagi, ya Om?”


“Iya sayang, tapi Kak Voni ini, adalah Kakak kandung Abi sendiri.”


“Kata Mama, Kak Voni telah membunuh Papa Abi.”


“Itu bohong nak, Kak Voni nggak pernah melakukan semua itu, itu hanya karangan Mama mu saja.”


“Lalu Papa Abi, meninggalnya karena apa?” tanya Abi ingin tahu.


“Sayang, Papa Abi meninggal karena serangan jantung, saat itu Mama nggak di rumah dia pergi entah kemana, lalu Papa Abi nggak ada yang menolongnya.”


“Kasihan sekali Papa, dia baik, tapi meninggal, karena nggak ada yang menolongnya.”


“Abi nggak usah bersedih, Abi masih bisa berdoa kok, untuk Papa Abi yang telah meninggal dunia. Biar dia bisa damai di surga.”


“Emangnya kalau Abi berdoa, Papa bisa masuk kedalam surga Kak.”


“Tentu sayang.”


“Kalau begitu Abi berdoa dulu untuk Papa.”


“Iya sayang, silahkan.”


Bramono hanya tersenyum geli, melihat Abi yang lincah dalam berbicara, Bramono merasa ingin sekali memeluk anak kecil itu.


Setelah Abi selesai berdoa, kemudian dia datang menghampiri Voni dan duduk di sebelahnya, Bayu hanya tersenyum lebar saat itu.


“Apakah Abi udah selesai berdoa nya?”


“Udah Kak.”


“Kalau begitu, Abi ikut kakak ya, Abi tinggal bersama Kakak dan Bi Anum.”


“Apa? Bi Anum tinggal bersama Kakak?”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2