Terjebak

Terjebak
Part 108 Dinyatakan telah tiada


__ADS_3

“Kau ini benar-benar seorang anak nggak berguna voni, akan ku buat kau menyesal telah terlahir ke dunia ini!” teriak Luna seraya menarik Voni dan menamparnya, sementara kabel yang berada di leher Voni tak mau dilepaskannya.


Voni yang lehernya terikat, merasa kesulitan untuk bernafas, polisi datang dan memukul tangan Luna dengan kuat, sehingga Luna melepaskan pegangannya dari kabel itu.


Bramono dan beberapa orang lainnya berusaha menolong Voni yang telah kesulitan untuk bernafas. bersamaan dengan itu, ambulance telah siap mengatar Voni menuju rumah sakit, Bramono tak kuasa menahan tangisnya, pria itu benar-benar sedih melihat kejadian itu.


“Kau Ibu yang nggak berguna, percuma kau dititipkan amanah, jika kau menyia-nyiakan nya, sekarang kau tanggung sendiri penderitaan mu, di dalam penjara!” bentak Bramono pada Luna.


Diatas mobil ambulance beberapa orang perawat dan dokter berusaha memberi pertolongan untuk Voni, gadis malang itu, di beri kejut jantung agar dia kembali bisa bernafas.


Bukan itu saja, alat bantu pernafasan pun telah menyalur melalui hiidung, tapi sedikitpun Voni tak memperlihatkan tanda-tanda dia bisa menerima semua itu.


Bramono yang tak tega melihat Voni sekarat, dia menangis histeris di samping kekasihnya, saat itu Bramono benar-benar merasa kehilangan.


“Bangun Voni, bangun! jangan tinggalkan Bapak Voni, cepat bangun!” ujar Bramono seraya menepuk pipi Voni berulang kali.”


Sungguh tiada di sangka oleh semua orang, niat gila Luna telah mengakhiri hidup putri satu-satunya. Bramono yang tak ingin dipisahkan dari kekasihnya, berusaha memeluk Voni tanpa melepaskannya.


“Yang sabar dek, gadis ini telah tiada,” kata dokter yang menolongnya.


Mendengar kata dokter Itu, Barmono semakin tersiksa sekali, dia meratapi tubuh Voni yang berada di dalam pelukannya.


“Tidak…! jangan tinggalkan Bapak Voni.”


“Maaf dek, gadis ini telah tiada.”


“Nggak, dia belum meninggal, tolong dia dok, tolong dia, saya nggak percaya kalau dia telah tiada. Kalau kalian nggak sanggup menyelamatkannya, biar ku bawa dia kerumah sakit lain,” ujar Bramono seraya membawa Voni kemobil nya.


Dengan memacu kendaraannya, Bramono melarikan tubuh Voni kerumah sakit Yos sudarso yang berada tak begitu jauh dari gedung pengadilan.


Saat mobilnya memasuki halaman rumah sakit Bramono berteriak-teriak seperti orang gila seraya menggendong tubuh Voni untuk mendapatkan pertolongan dari rumah sakit.


“Tolong adik saya Sus.”


“Adiknya kenapa Bang?”


“Dia mencoba bunuh diri, saat ini dia udah tak bernafas lagi Sus!”


“Baiklah, akan kami bantu dia.”


“Tolong selamatkan dia sus, tolong selamatkan dia, berapa pun kalian minta saya akan membayarnya.”


“Baik Bang, baik.”

__ADS_1


Voni kemudian mereka larikan keruang UGD, dengan menggunakan peralatan modern dan canggih, Voni mendapat bantuan di rumah sakit tersebut.


Dengan dada yang terus saja berdebar, Bramono menunggu di luar. Satu detik pun Bramono tak pernah berhenti berdo’a untuk keselamatan Voni.


Beberapa jam kemudian, dokter yang menolong Voni keluar dari dalam ruang UGD, Bramono langsung mengejarnya.


“Gimana dok, gimana keadaan gadis tadi.”


“Sepertinya dia sudah tiada Pak, kami semua telah berusaha membantunya sekuat mungkin, tapi takdir berkata lain, Bapak yang sabar ya?”


“Oh tidak!” ujar Bramono seraya menarik rambutnya dengan kasar.


Kemudia Bramono berlari masuk kedalam ruang UGD, wajah Voni yang telah di tutup dengan kain putih, di tarik oleh Bramono dan di buang kebawah.


“Kurang ajar, kenapa kalian menutup wajahnya?”


“Tapi dia udah meninggal Pak.”


“Dia belum meninggal, siapa yang mengatakan kalau dia meninggal!”


“Dokter.”


“Dokter itu nggak tahu apa-apa, aku begitu yakin sekali, kalau gadis ini masih hidup.”


Saat itu Bramono masih merasakan denyut nadi Voni bergetar dengan pelan, tak yakin dengan apa yang di rasakannya, kemudian Bramono memanggil seorang perawat untuk memeriksa Voni.


Setelah di periksa dengan benar, ternyata ucapan Bramono tidak salah, Suster itu langsung berlari keluar untuk memanggil dokter. Bramono sangat senang air matanya yang mengalir telah berubah menjadi senyuman yang menawan.


“Bapak benar, gadis ini telah kembali, dia beruntung, bisa selamat dari jeratan tali yang melilit lehernya.”


“Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, engkau telah mengembalikan kekasih ku.”


Mesti Voni telah kembali, namun dia tetap koma, sementara Luna yang telah melakukan penyiksaan itu, dia di tahan dalam penjara.


Sepertinya Luna terlihat senang sekali, dia merasa usahanya telah berhasil, karena saat terakhir di lihatnya, Voni sudah tak bisa di selamatkan.


“Rasain kau Voni, kau kira semudah itu kau mengalahkan aku, kau mesti berfikir seribu kali untuk dapat menjatuhkan aku ke peringkat paling terendah.”


Sesaat Luna baru berkhayal, tiba-tiba seorang sipir mengeluarkan Luna dari dalam tahanan, Luna mengira kalau dia akan di bebaskan, namun apa yang ada di dalam pikirannya tak sama dengan apa yang bakal dia alami.


Bersama dengan para nara pidana lainnya, Luna mereka satukan. Di sana Luna merasa hidup tersiksa, para tahanan lainnya, selalu memaksa Luna untuk memijat mereka satu persatu, jika Luna menolaknya, mereka tak segan-segan menampar dan memukul Luna hinga menjerit kesakitan.


“Cepat dikit! pijit yang kuat, loyo banget!” bentak Lola, perempuan yang di penjara karena membunuh suaminya.

__ADS_1


“Iya,” jawab Luna pelan.


“Kenapa kau di penjara?”


“Karena aku mencekik putri ku sendiri.”


“Gimana, apa dia meninggal?”


“Iya.”


“Oh, dasar bodoh!” ujar Lola seraya menempeleng kepala Luna.


“Kenapa saya di pukul?”


“Karena kau itu bodoh! kenapa kau membunuh darah daging mu sendiri, sekarang kau masuk penjara, sementara anak yang kau cekik itu udah meninggal. Lalu siapa yang akan menolong mu nantinya!”


Lola yang bertubuh tambun, merasa paling jago diantara tiga orang lainnya, setiap perintah yang di ucapkannya harus di ikuti, jika tidak Lola akan marah dan dia dengan mudahnya menampar.


Itu sebabnya tak ada yang berani melawan perintah Lola, begitu juga dengan Luna, dia hanya di jadikan budak oleh Lola.


Malam itu, ketika Luna sedang tidur bersama nara pidana lainnya, tiba-tiba dia melihat Voni datang dan berdiri di luar jeruji besi, wajahnya sangat pucat, dia memakai pakaian putih bersih.


“Hah kau? kenapa kau kesini? apa yang kau cari di dalam penjara ini?”


“Aku mencari mu Luna, aku ingin menuntut balas semua perlakuan mu.”


“Oh tidak, kau nggak bisa melakukannya padaku, pergi kau, pergi!” teriak Luna yang ketakutan. Lola yang sedang tidur dengan nyenyak di sampingnya, langsung saja memukul wajah Luna dengan kuat, hingga mulut Luna berdarah.


Karena kesakitan Luna menangis di tengah malam, sipir penjaga yang saat itu sedang berada di luar mencoba masuk kedalam untuk memeriksa.


“Hei ada apa?”


“O, ini.”


Belum sempat Luna menjelaskannya pada sipir penjara, mulut Luna udah di bekap oleh Lola dengan kuat, sehingga Luna tak dapat berkata lagi.


“Tidur kalian, kalau nanti masih saja ribut, akan saya masukkan kedalam ruangan isolasi.”


Setelah sipir itu pergi, Lola langsung duduk dan menarik rambut Luna dengan kuat ke belakang, sehingga Luna merasa kesakitan. Saat itu Luna teringat waktu dia menarik rambut Voni ketika di persidangan.


“Ampun, ampun!”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2