
Setelah lampu sorot panggung melewati diri nya, Rei segera meminta ijin untuk ke toilet.
"Aku ke toilet dulu ya?"
"Cepat kembali ya"
Ucap Ravenda.
Rei segera melesat ke belakang gedung lantas mencari letak toilet. Setelah buang hajat, Rei bermaksud untuk segera kembali kepada teman-teman nya.
Brruuukkkk.
Rei menabrak seorang gadis, yang juga ingin ke toilet. Gadis itu mendongak, Rei mengulurkan tangan nya.
"Maaf nona"
"Ah iya"
"Apa ada yang terluka?"
"Tidak ada, terimakasih"
"Iya saya permisi"
Saluna mengangguk, lantas bergegas ke toilet.
'Pemuda tadi sangat tampan, aku seperti familiar dengan wajah itu'
Pikir Saluna.
"Hei lama sekali di toilet?"
"Iya"
Rei melihat sekeliling tak jauh dari nya ada gadis itu. Rei hanya melirik lantas mengangkat pandangan itu ke atas panggung. Disana menampakan pemandangan indah sebuah keluarga dengan keempat anak nya.
'Eh, bukan kah itu lelaki yang di copet di dekat toko buku'
Rei mengingat nya.
__ADS_1
'Ternyata orang kaya, pantas hanya diam saja, dompet itu tak ada harga nya'
Lirih Rei.
"Kenapa kau bengong?"
Ucap Aryos.
"Ayo kita makan dulu, setelah itu pulang"
Rav membawa Rei ke meja prasmanan sebelum semua nya habis.
Rei mengangguk lantas mengantri, tak lama mereka kembali mencari tempat duduk. Setelah menemukan meja mereka makan dengan lahap, sampai tidak melihat sekitar.
Buukk.....
Seseorang tersandung kaki salah satu nya. Seorang lelaki jangkung bangkit dan mendekat pada mereka bertiga. Mencengkram kerah baju bagian belakang milik Aryos.
"Ada apa ini?"
Rav berdiri karena merasa bawahan nya terancam.
Plaakkk........
"Lepaskan dia, kita bicara baik-baik"
Herdan tersenyum smirk, dia malah menendang sebuah kursi kearah tempat makanan berjejer. Sementara disana sudah antri semua anggota Alkatiri.
BUKK....
Rei langsung menghantamkan kursi lain nya agar kursi tendangan Herdan berhenti.
"Ahhhhh........"
Semua orang berteriak, Herdan melemparkan Aryos hingga terbentur kepala nya dan mengeluarkan darah. Sontak membuat Rei emosi, Rei hendak maju namun ketika tunduk akan mengarah pada diri nya itu segera ditangkap seseorang.
"Hei kau bocah Dimitri, minggir lah!"
"Jangan membuat kegaduhan di pesta milik papah Aksa, Herdan!"
__ADS_1
Ya yang menahan pukulan milik Herdan itu adalah Damian Dimitri. Dengan terpaksa kedua orang tua Herdan pun membujuk anak nya agar tenang.
Aksara masih terdiam, sementara Riana agak kaget ada lelaki muda yang menghadang kursi yang akan menimpa nya.
'Pakaian ini?'
Riana ingat pakaian yang digunakan lelaki muda dihadapan nya. Namun lelaki itu segera bergegas keluar membawa kedua teman nya. Riana mengejar keluar mencari lelaki muda tadi.
"Hei tunggu!"
Riana mengejar sampe ngos-ngosan.
Rei pun berbalik.
Deg .........
Semua bak mimpi, wajah itu benar bahkan tanpa celah wajah milik papah nya.
"Kenapa nona mengejar kami?"
"Terimakasih tadi sudah menyelamatkan ku"
"Ah tidak, tadi memang salah ku"
"Oh ya siapa nama mu?"
"Rei"
"Salam kenal Rei, apa kita bisa saling menghubungi?"
"Oh tentu simpanlah ini nomor ku"
Rei memberikan selembar kartu nama milik nya yang baru saja jadi.
"Terimakasih hati-hati di jalan"
Riana tersenyum puas, sambil melambaikan tangan nya. Dia melihat kartu nama AREI RAFIENSAH ARYANDY.
"Aryandy bukan kah ini nama keluarga konglomerat juga?"
__ADS_1
Sambil kembali kedalam gedung. Riana kembali berkumpul bersama keluarga nya.
BERSAMBUNG.