
KANTOR URUSAN AGAMA
Itulah papan nama gedung berada di depan mereka. Rindi melihat kesebelah sisi nya berdiri, terlihat lelaki matang yang tampan itu nampak datar saja dengan ekspresi nya.
'Apa aku tersesat?'
Ucap Rindi dalam batin nya.
Rindi menggelengkan kepala nya, tangan besar lelaki disamping nya menggenggam nya erat semenjak di dalam mobil hingga menuntun tangan nya untuk turun dari mobil mewah itu.
"Untuk apa kita kemari?"
Andra tersenyum hangat.
"Tentu saja untuk bertamu apa lagi?"
Rindi heran bukan kah ini kantor urusan agama yang pasti akan mencatat tentang agama. Apa lelaki di sebelah nya akan memasukan diri nya menjadi ahli agama atau membawa diri nya untuk mendengarkan ceramah tentang agama.
"Ayo!"
Memasuki kantor itu yang masih sangat ramai dengan orang berlalu lalang karena masih jam 9 malam.
"Apa kantor ini beroperasi 24 jam?"
"Tidak"
"Lalu?"
"Hanya sampai jam 22.30 saja"
"Oh"
Andra menarik tangan Rindi untuk menuju ke sebuah ruangan. Mereka berdiri beriringan dan langsung di suruh berpose berbagai macam gay dengan anggun.
"Roy"
Asisten Andra masuk dengan dua orang lain nya yang tak lain Anita dan Novan.
"Mari nona, kita ke kamar sebelah"
Tanpa banyak bertanya Rindi mengangguk mengikuti arah yang di tunjukan Anita.
"Nona silahkan ganti baju"
Rindi melihat baju yang tidak terlalu formal tapi sangat sopan dengan celana dan kemeja yang nyaman di gunakan. Rindi keluar sudah memakai baju dengan rapih, dan Anita melipat gaun malam yang Rindi kenakan ketika di pesta jamuan bisnis tadi.
"Ayo nona, tuan sudah menunggu"
Rindi mengangguk, mereka sampai di ruangan sebelah. Rindi melihat lelaki yang tadi membawa nya sudah memakai pakaian kasual yang menambah ketampanan nya seperti pria berusia 25 tahun saja.
Maskulin, matang dan berkharisma itu lah gambaran dari Andra bagi Rindi. Andra tersenyum menggapai tangan Rindi.
"Ayo kita foto dulu"
Rindi mengangguk, lalu seseorang menyerahkan berkas, Andra tanda tangan begitu pun Rindi. Mereka berfoto sekali lagi dan selesai.
"Kita sudah selesai"
Rindi mengangguk, Andra menautkan jari jemari nya pada sang istri meski dia tidak memberitahukan pada gadis polos itu.
"Ini simpan lah"
"Ini apa?"
"Hadiah"
Andra menyerahkan paper bag dan juga kotak kecil.
"Pakai ini"
__ADS_1
Andra menyematkan cincin di jari tengah Rindi, Rindi hanya memandang nya lalu tersenyum. Andra memakai sendiri cincin pernikahan mereka karena dia tidak ingin Rindi curiga atau tiba-tiba marah dan tidak terima.
"Kita makan dulu ya, aku sangat lapar"
"Iya"
Makan malam yang telat itu sengaja Andra persiapkan untuk gadis cantik yang baru saja dia nikahi.
"Apa suka?"
Rindi mengangguk.
Mereka menyantap hidangan makan malam spesial itu dengan bahagia.
"Bagaimana pernikahan mu waktu itu?"
Rindi bertanya setelah mengusap mulut nya yang tertanda selesai makan malam.
"Pernikahan yang mana?"
"Tentu saja dengan wanita pilihan mamah mu"
"Pertunangan maksud mu?"
"Mungkin"
Lirih Rindi.
"Kau cemburu sampai menghilang 5 tahun lama nya, kenapa tidak menunggu beberapa jam saja"
"Buat apa?"
"Aku membatalkan pertunangan karena di memfitnah ku menghamili nya, sejak itu aku tidak pernah menerima perjodohan lagi kenapa?"
Andra langsung bertanya dengan serius, sedang Rindi membuang muka nya karena malu menanyakan masalah 5 tahun lalu.
"Mau tanya apa lagi?"
"Ayo kita pulang?"
Andra mengulurkan tangan nya untuk menggenggam tangan Rindi. Ini terlihat janggal oleh Rindi, masalah 5 tahun lalu menguap begitu saja.
"Aku pulang ke rumah paman?"
"Tidak ingin pulang ke rumah ku?"
Rindi melihat kearah lelaki di samping nya.
"Kapan-kapan saja ini sudah malam"
"Justru lebih malam lebih baik"
Rindi tak menghiraukan ucapan Andra, tangan lelaki itu merapikan rambut nya yang panjang, hitam legam dan indah. Rindi melihat kesamping, tak Andra sia-sia kan segera ******* bibir manis gadis yang sudah sah menjadi istri nya itu. Cukup lama mereka saling ******* di perjalanan menuju rumah paman.
"I love you"
Bisik Andra setelah lelaki itu mengakhiri sesi ciuman nya itu. Rindi tersipu malu, baru saja bertemu malam ini tapi sudah beberapa kali di cium lelaki ini.
"Balas dong"
Ucap Andra lembut.
"I love you too"
Mereka bermesraan tak melihat tempat, bahkan Roy, Novan dan Anita merasakan hawa yang aneh. Novan kalang kabut karena pacar model nya sedang keluar negeri.
'Pasangan tidak ada etika nya, mesra-mesraan di mobil bikin pengen tau gak!'
Ucap Novan merenggut kesal.
__ADS_1
'Kok aku jadi merinding mana disebelah ku ada genderuwo mesum'
Pikir Anita dalam hati, mengatasi Novan genderuwo mesum' karena lelaki itu sering berpacaran dengan berbagai jenis wanita.
'Kok aku tiba-tiba jadi ingin menikah ya!'
Pikir Roy melihat tuan nya yang sangat agresif pada hal 5 tahun ini tuan nya itu sangat arogan tanpa tanding.
Andra memeluk Rindi erat, tangan mereka selalu bertautan.
"Tuan kita sudah sampai di rumah tuan Adidharma"
Andra menghela nafas.
"Aku pulang dulu ya"
Andra mengangguk lalu iku turun dari mobil.
"Mau kemana?"
"Mengantar mu tentu saja"
"Buat apa?"
"Mau nitipin kamu sama om"
"Paman sudah tidur pasti nya"
Rindi tak tahu jika sosok paman nya masih berdiri di teras rumah.
"Itu siapa?"
Rindi menoleh ke depan karena sekarang dia berbalik kearah belakang untuk berbicara dengan Andra. Rindi kaget melihat paman nya masih berpakaian lengkap sama seperti saat jamuan.
"Selamat malam om"
"Malam"
"Saya antarkan Arin pulang om"
"Baik lah nanti kau jelaskan pada ku?"
"Baik"
Andra tersenyum kikuk, Rindi diam menyimak obrolan aneh antara kedua lelaki beda usia itu.
"Ayo Rin masuk, biarkan dia pulang"
"Selamat malam"
"Selamat malam juga"
Rindi di bawa masuk oleh paman nya dengan segera tanpa percakapan lagi. Andra menghela nafas nya, dia sudah menikahi keponakan tanpa sepengetahuan paman nya. Hanya memberitahukan pada ayah kandung Rindi saja untuk menjadi wali nya.
Drrttt...drrt.....
"Iya dad!"
"Kenapa kau melakukan itu? Adidharma marah kau tahu!"
Andra hanya mendengarkan omelan Daddy nya, lantas tersenyum samar. Malam ini dia melakukan kegilaan tanpa batas.
"Dimana pikiran mu? kalau Rindi tidak mau kau nikahi minimal kau lamar dulu lewat paman nya atau meminta ijin dulu lewat paman nya untuk menikahi keponakan nya, kau ini!"
"Dari pada Andra langsung tiduri Rindi kan lebih baik dinikahi dulu dad, takut khilaf kalau nanti-nanti"
"Sudah lah, hadapi itu paman istri mu, Daddy pusing denger omelan Adidharma itu"
Tut......
__ADS_1
Sambungan ponsel dimatikan dari seberang secara sepihak. Andra tak pernah ambil pusing dengan semua perbuatan nya barusan.
BERSAMBUNG.