
Lampu kembali menyala setelah semua melihat dengan jelas. Jelas semua itu bukan acara pertunangan tapi menonton masal. Om Adidharma tersenyum penuh arti.
'Sayang nya gadis kecil ku sungguh tidak sabaran, kalau dia ada pasti acara ini menjadi acar pernikahan nya'
Gumam Om Adidharma.
"Arvin apa yang kau lakukan?"
Rei berbisik menegur anak nya.
"Itu bukan keinginan Andra, dad"
"Lalu?"
"Entah lah"
"Huhft, sekarang bagaimana?"
Andra hanya menggedigkan Bagu nya.
"Sudah buang-buang uang kamu"
"Tanya Tante Elian, dad"
"Huhft, ya sudah lah"
Sementara di meja para wanita sosialita, mata Elian menatap tajam layar dibelakang saudara sepupu jauh nya itu.
"Mah bagaimana ini?"
Camelia menghampiri Elian yang nampak tenang, dengan semua kecemasan.
"Aku sudah menduga mah, bahwa mereka itu tidak bersih"
Lanjut nya.
"Diam lah!"
Camelia melirik ibu angkat nya, dia nampak bingung.
"Panggil Ditya kemari"
Camelia bergegas pergi memanggil Aditya. Tak lama Aditya dan Camelia datang ke meja ibu angkat nya itu.
"Kenapa mah?"
"Jangan lakukan apa pun, biar ini jadi kesalahan mereka, aku tak mau keluarga kita hancur di depan rekan bisnis kita"
"Baik mah"
Mereka pun membiarkan keluarga Sisi saja yang digunjingkan dan viral di sosial media.
Andra naik ke panggung dengan mendorong kursi roda nya sendiri, dia terlihat tampan dan berwibawa.
"Selamat malam semua"
Mereka menjawab dengan serentak, suasana hening kemudian.
"Seharus nya ini malam pertunangan ku, tapi seperti nya saat ini sudah bukan lagi"
Andra menjeda kalimat nya.
"Tidak ada pertunangan karena mempelai wanita nya adalah kekasih orang lain yang sedang mengandung"
Dengan kalimat yang Andra sampaikan semua orang terlihat berbisik-bisik.
"Jadi ini hanya pesta saja, silahkan nikmati hidangan untuk menjamu kalian semua nya silahkan dinikmati"
Mereka bertepuk tangan, lantas Andra turun dari panggung dengan gagah meski memakai kursi roda.
"Kau menyelesaikan malam ini nak"
Andra hanya diam.
"Baik lah, aku permisi dahulu"
Ucap om Adidharma.
__ADS_1
Andra mengangguk kemudian pada sahabat Daddy nya.
"Kau tidak suka pesta ya, atau mau menjaga keponakan kecil mu itu"
Si om tersenyum lalu menggelengkan kepala nya.
"Tentu aku harus cukup istirahat besok aku harus bekerja"
"Baik lah, sampai jumpa"
Dari semua tamu ada yang langsung pulang ada juga yang disana menikmati pesta.
"Andra pulang dulu dad"
"Baik lah istirahat yang baik nak"
Andra mengangguk, berita tentang batal nya pertunangan itu sangat menggemparkan bagi media. Dalam hitungan menit saja sudah menyebar dan menjadi berita utama yang banyak dicari nitizen.
"Kita pulang"
"Baik bos"
Mereka asisten Andra menjawab dengan kompak.
Andra masuk ke mobil, dia tersenyum lantas memanggil salah satu nomor. Andra merasa aneh tiba-tiba nomor itu tidak aktif setelah dicoba memanggil nya beberapa kali.
'Mungkin sudah tidur, biar besok saja aku hubungi lagi'
Gumam Andra dengan semangat, dia sudah membayangkan jika gadis belia itu pasti akan menempel lagi pada nya.
"Kita sudah sampai rumah tuan"
"Iya"
Andra turun dari mobil lantas segera menuju kamar nya. Andra segera mandi untuk menyegarkan badan nya lantas bergegas melihat barang kali gadis itu ada memposting di laman situs berwarna hijau.
'Kenapa di hapus, pada hal setiap hari dia pasti akan memposting hal baru?'
Perasaan Andra sudah tidak enak.
'Ini pasti hanya dugaan ku saja, sudah lah kalau dia melihat berita nya juga dia akan datang menghubungi ku'
Keesokan hari nya Andra berangkat kerja dari sebelum mandi dia memanggil nomor itu lantas hanya operator yang menjawab. Kembali Andra hubungi saat sarapan, bahkan saat di mobil menuju jalan ke kantor.
'Kenapa tuan selalu menatap ponsel nya? apa yang dia lakukan?'
Gumam Roy dalam hati.
Andra menyenderkan kepala nya, niat nya memberi kejutan dengan diam nya diri nya pada Rindi namun saat ini entah dimana gadis itu.
"Roy"
"Saya tuan"
"Tidak ada"
Roy menebak jika tuan nya mencari gadis belia yang sudah mengejar nya dua bulan itu, gadis itu pergi setelah mendengar bahwa Andra akan bertunangan.
"Kita sudah sampai tuan"
Roy berkata demikian karena tuan nya yang memejamkan mata nya tanpa kunjung turun.
"Baik lah"
Andra turun lalu duduk di kursi roda nya, sebelum masuk ke lift Andra berbicara dengan Roy.
"Makan siang nanti kita ke restoran biasa"
"Baik"
'Nah kan betul sekarang mencari non Rindi'
Gumam Roy dalam pikiran nya tanpa sengaja tersenyum sendiri.
"Kenapa kau tersenyum, apa kau waras hah?"
"Tentu saja tuan"
__ADS_1
Roy serba salah lagian dia melamun di saat yang salah.
Pekerjaan yang menumpuk membuat waktu pun sekejap berlalu.
Tok.....tok.....tok.
"Masuk"
"Tuan waktu makan siang 10 menit lagi, saya sudah reservasi meja di restoran itu"
"Baik lah"
Andra dan Roy bergegas ke restoran dimana Rindi pernah muncul. Resto nampak biasa saja tidak terlalu ramai atau pun sepi ketika mereka telah sampai disana.
"Kau makan disini saja"
"Baik tuan"
"Pesan satu porsi dari tiap menu"
"Baik"
Andra sengaja membuat semua pelayan sibuk, agar gadis itu muncul dengan memesan banyak makanan di restoran itu.
Setelah menunggu 2 jam pesanan mereka datang, namun tidak yang Andra harapkan. Rindi tidak muncul bahkan parfum nya sekali pun.
Dengan cepat Andra memulai acara makan siang nya, setelah selesai makan Andra berlalu menuju mobil nya.
Sementara makanan masih banyak yang tak tersentuh, pelayan restoran menawarkan untuk membungkus makanan itu. Roy pun setuju saja.
"Ini tuan sudah dibungkus ya"
"Apa ada tambahan pembayaran?"
"Oh tidak tuan"
"Apa aku boleh bertanya?"
"Silahkan"
"Apa kau kenal dengan gadis di foto ini?"
Pelayan nampak melihat meski sedikit kaget namun ekspresi wajah pelayan itu kembali ramah.
"Maaf saya tidak mengenal nya tuan"
"Oh baik lah, ini tips dari bos untuk mu"
Roy menyelipkan amplop untuk pelayan itu setelah nya bergegas pergi.
"Kembali ke perusahaan bos?"
"Pulang"
"Baik lah"
Roy memperhatikan di jalanan bahwa tuan nya atau bos nya ini nampak diam.
"Saya bertanya pada pelayan restoran itu tentang non Rindi, namun dia tidak mengenal nya, tapi ekspresi nya agak kaget tuan"
Andra mendengarkan celoteh asisten nya itu meski mata nya terpejam.
"Apa perlu diselidiki ke rumah keluarga Mukti?"
"Tidak usah"
"Kenapa tuan?"
"Mungkin kami tidak berjodoh"
"Tuan non Rindi menyukai mu bukan rasa kagum bagaiman pun kaum hawa butuh kepastian takdir tidak akan terjadi jika kita tidak berusaha"
Ucap Roy seolah menasehati bos nya itu.
"Kau lebih tua dari ku jadi kau mau menasehati ku!"
Mata Andra terbuka dengan lebar, Roy terkejut yang memandang nya dari kaca spion.
__ADS_1
BERSAMBUNG.