
Tok.....tok.....tok.
Pintu petinggi perusahaan tertinggi itu di ketuk, terdengar derap langkah kaki beberapa orang.
"Silahkan kalian masuk"
"Baik pak Aryos terimakasih"
Nampak Bu Arini dan paman dari Andreas bersuara, terlihat wajah mereka pias juga kentara dengan tekanan.
"Kalian silahkan duduk"
Ucap Aryos, sementara Rei hanya berdiam saja di sofa. Suasana nampak hening, tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Kalian tahu mengapa di panggil kemari?"
Mereka semua menggeleng, tepat nya ada 4 orang yang dipanggil ke ruang kantor bos tertinggi mereka.
"Arini coba kau jelaskan tentang proyek resort di daerah pinggiran pantai xx"
"Saya mendapat design dari ketua divisi design, lantas rancangan nya kami buat sendiri"
"Lalu?"
"Kami segera membuat janji dengan pemilik tanah, namun mereka bilang jadwal di majukan dan meminta bertemu di cafe yang tak jauh dari kantor"
"Baik, teruskan"
"Sudah pak begitu saja, ada pun mereka sudah menyiapkan data nya sendiri kemari"
Aryos memandang Arini sebentar, dia melirik Rei yang sudah bergabung.
"Kalian tim design bagaimana?"
Andreas yang maju untuk menjelaskan di sertai bukti email, video juga foto para penipu
"Begitu lah kronologi nya tuan"
Rei mengangguk, Rei melihat dan menyerahkan semua pada Aryos.
"Teliti semua bukti ini, dan tahan mereka, awasi jangan ada yang keluar dari rumah, atau ke kantor"
"Baik tuan"
Aryos menjalankan rencana nya, mereka semua keluar satu demi satu.
"Ada-ada saja"
Rei melihat, istri belia nya ini tertidur di sore hari.
"Aihh, bisa-bisa nya tertidur di sore hari begini"
Rei mendekat kearah sofa, menyingkap rambut Min yang berantakan. Gaya tidur Min dengan mulut terbuka dan kaki yang sedikit terbuka pula.
"Gaya tidur nya sangat berbahaya"
Gumam Rei, lantas tersenyum smirk.
Rei mendekatkan wajah nya, bibir nya dia tempelkan perlahan. Mencecap manis madu yang menempel di bibir mungil itu, Rei juga tak ketinggalan tangan nya sudah tak terkondisikan.
"Membuat orang berhasrat saja"
20 menit kemudian jam kerja pun berakhir, Min kaget karena bel dibunyikan.
"Lelah sekali?"
Min menengok, mata nya sangat pedih karena masih mengantuk.
"Sudah mau pulang? ayo bangun tidur lagi di mobil"
Min mengangguk lantas pergi mengemasi tas nya, dan beberapa pekerjaan nya.
"Ngantuk dan lelah sekali"
Drrtt......drrtt.
"Iya"
"Aku sudah di parkiran"
"Iya"
klik.
"Gadis itu, apa mengangkat telepon juga malas?"
10 menit akhir nya Min keluar dari lift samping gedung, dia berjalan memasuki mobil Rei.
"Malas sekali"
"Masih ngantuk banget"
"Apa pekerjaan nya terlalu banyak?"
"Tidak, tapi Minggu-minggu ini aku sangat merasakan lelah"
__ADS_1
Di depan ada lampu lalu lintas menyala merah jadi Rei berhenti sebentar, dia menengok kesamping ternyata wanita belia nya itu sudah tertidur pulas.
"Dasar tukang tidur"
Tapi Rei akui sejak dia pertama kali meniduri wanita belia di samping nya hidup nya seakan berwarna tidak kosong. Rei kembali melajukan mobil nya untuk sampai ke villa.
"Dia sangat nyenyak, sudah lah gendong saja"
Rei menggendong Min masuk ke villa. Semua pekerja di villa tercengang karena selama ini mereka melihat tuan nya sangat dingin pada yang disebut nyonya di villa itu.
Rei meletakkan istri nya diatas ranjang, lantas diri nya sendiri mandi untuk menghilangkan lengket di badan nya.
Rei mendekat pada istri nya, lalu mengelus pipi chubby itu.
'Sudah gemukan rupa nya'
Rei tersenyum samar.
"Eunghh........."
Min menggeliat karena sentuhan dingin di pipi nya.
"Om, ini dimana?"
"Di villa cepat mandi, badan mu bau sekali"
Min dengan malas pergi ke kamar mandi, tiba-tiba kepala nya berputar untung berpegangan pada wastafel kalau tidak dia pasti akan terjatuh.
Drrtt....ddrrtt.
Ponsel Rei berdering menandakan diri nya ada yang menghubungi, apa lagi berdering di ponsel pribadi nya. Dengan segera Rei menuju balkon dan menutup nya, Rei duduk di kursi malas nya.
"Katakan?"
"Saya sudah menemukan mereka tuan"
Aryos video call dengan Rei memperlihat wajah kelima pembunuh bayaran itu.
"Cepat sekali"
"Mereka dipesan lewat agensi xx"
"Baik lah interogasi mereka"
"Saya sudah melakukan nya dan mendapat informasi tersebut, suara mereka sudah saya kirim via email ke email pribadi tuan"
"Baik lah bereskan mereka"
Tut.
Sambungan Rei matikan, lantas dengan segera membuka email. Dia mendengarkan semua kesaksian itu dan bukti nya.
Drrtt.....drrtt.
"Iya tuan"
"Kau bereskan file yang ku kirim Rave ingat jangan ada yang tersisa"
"Baik tuan"
Min sudah selesai berendam air hangat, dia sempat muntah sebentar namun dia tahan suara nya agar tidak terdengar keluar.
"Kemana si om?"
Min melihat om bos nya itu berada di balkon duduk sendirian dengan laptop yang menyala.
"Om"
Rei segera mematikan rokok yang dia hisap lantas meneguk minuman bening itu.
"Sudah mandi?"
Min mengangguk, Rei sangat menyukai gadis ini sehabis mandi, bersih dan cantik. Rei menarik tangan Min hingga terduduk di pangkuan nya.
"Wangi sekali"
Rei menduselkan kepala nya di pundak Min yang entah mengapa terasa segar.
"Kan habis mandi om"
"Sekarang semakin wangi saja"
Rei mencium bibir mungil istri nya itu, Min diam saja tidak menolak.
"Ayo kita makan malam dulu"
Rei mengajak Min turun, dari tangga terlihat jika ada sang mamah dan Riana yang berkunjung.
"Mamah disini?"
"Lalu mamah harus di luar begitu menunggu kalian turun"
"Tidak juga"
Rei menggaruk kepala nya, sang mamah melihat nya menggandeng tangan Min.
__ADS_1
"Duduk lah"
Di meja sudah banyak camilan kering, buah dan aneka roti. Begitu pun minuman nya aneka teh, jus juga susu.
"Lihat mamah membawa buah segar yang sudah dikupas untuk istri mu"
Rei mengamati sambil dia mengajak Min duduk.
"Itu apa? kok aneh?"
"Ini mangga muda"
Min langsung melihat nya dengan ekspresi yang sangat menginginkan.
"Sayang kamu mau coba?"
Tawar mamah Cinta.
Sebelum Min menjawab Rei lebih dulu menepis nya.
"Tidak nanti Min bisa mencret dan aku yang susah, itu asem banget loh mah"
Sang mamah hanya menghela nafas berat.
"Mamah kemari ada apa?"
"Kau masih bertanya? bukan kah mamah sudah menyuruh mu untuk mengadakan pesta resepsi pernikahan"
Rei terdiam, bingung mau menjawab bagaimana.
"Kau sudah menikahi istri mu 5 bulan loh, kapan mau resepsi? apa nunggu dia hamil besar dulu!"
Suara mamah Cinta menggelegar seperti petir mancak 9.
"Surat nikah sudah mamah ambil, ini"
Benar saja sang mamah membawa surat nikah itu kehadapan mereka.
"Kenapa tidak diambil dari awal?"
Sedangkan Min sudah memungut salah satu dari buku nikah itu.
'Ini asli milik negara'
Min meneliti barang kali ada yang palsu. Sementara Rei melirik istri nya yang nampak meneliti buku nikah itu dengan serius, juga wajah tegang itu.
"Jadi bagaimana?"
Rei kembali diam, karena niat nya tidak ingin pernikahan ini di umumkan di publik.
"Mah...."
Min berbicara, Rei menengok ke arah samping nya.
"Sebenar nya, aku yang belum siap, aku adalah pekerja biasa di kantor mas Rei, jadi kami sudah sepakat ketika 1 tahun pernikahan kami, kami pasti akan menggelar resepsi pernikahan ini dengan mewah"
Mamah Cinta dan Riana saling pandang kemudian mereka saling tersenyum. Mamah Cinta mendekati menantu belia nya yang cantik itu dan memegang tangan nya.
"Jadi ini keinginan mu sayang, maaf ya mamah kira keinginan Rei, anak mamah memang biasa nakal seperti itu"
"Iya ini keinginan Min sendiri mah, maaf ya"
"Tidak apa sayang"
Mamah Cinta memperhatikan raut muka Min yang agak pucat.
"Sayang, kamu habis mandi"
Min mengangguk.
"Hem, wangi sekali, kapan-kapan kita shopping ya ajak mamah beli sabun mandi yang wangi ini"
"Iya mah"
"Kamu sangat cantik"
Mamah Cinta juga menyentuh perut rata Min.
"Nak kalau ada cucu mamah, beritahu mamah ya agar mamah bisa menggendong cucu kesayangan mamah dari mu dan Rei"
"Iya mah, pasti"
"Baik lah, mamah akan pulang dulu"
"Loh kok pulang, makan malam disini saja"
"Ada papah mu yang akan menunggu mamah jika tidak pulang makan malam"
"Baik lah, hati-hati dijalan, mah, kak"
Riana mengangguk dia berjalan mengekor pada sang mamah. min melihat di dalam mobil jelas yang menyetir bukan supir tapi sang kakak lelaki nya. Min tersenyum sambil melambaikan tangan nya.
'Kakak semoga kau sehat dan kakak Riana'
Ucap Min dalam hati.
__ADS_1
Mereka mengantar ketiga orang itu hanya sampai dihalaman villa saja.
BERSAMBUNG.