TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.244


__ADS_3

Aku ingin tertidur selama nya, angin begitu tertiup sepoy-sepoy namun menusuk hingga ke tulang. Musim ketika hujan bertabur membasahi bumi bak sepasang kekasih yang sedang mendekap hangat segores mimpi.


Aku ingin esok ada mentari terbit menyapu rasa basah ini. Menciptakan gelungan hangat, asri dan bertabur aroma wangi.


Sejenak aku membuka mata, terlihat indah dunia. Apakah aku milik sebuah dunia yang hiruk-pikuk lagi carut marut. Aku bingung, ingin berlari mengejar sesuatu yang tak dapat ku ingat apa yang harus ku kejar.


Dunia ini terang benderang, namun apakah seterang keinginan ku. Aku sendiri dibalik gamang nya perasaan ku. Tak ada hangat hanya bergelung dalam dingin, lembab. Ingin rasa nya aku menjerit membuat seisi dunia membeku tapi suara ku tak sehebat hantaman ombak.


Rasa nya dada ku sesak, tak sanggup lagi diafragma ku mengempis.


Namun satu yang ku ingat, ada tangan lembut, hangat, mata yang penuh kasih, jernih bahkan senyum yang tulus. Aku bingung, takut dan ingin berlari, tapi apakah aku bisa?.


Aku hanya raga lemah, dengan kondisi penuh luka. Tidak....tidak boleh menangis, jika menangis maka kau akan kalah.


Seseorang yang pertama kali menggendong ku, hangat bak rasa seorang ibu. Ingin aku menjerit namun tak sanggup, mungkin dunia ku indah tapi tanpa irama dan suara.


Jingga yang membias di ufuk barat bak rona cinta dalam gelusan awan. Bak melodi rindu yang tak bernama, tapi apakah rindu?.


Apakah nama dunia ini? apa yang mereka kejar. Dari terang nya dunia hingga merangkak malam hanya bayang semu yang palsu.


Aku tak dapat berperan meski mata ku ini lelah dengan cahaya. Aku tak dapat bermimpi meski aku ingin raib. Apakah debu yang beterbangan lebih bebas dari jiwa yang terpenjara dalam raga.


Aku ingin berhenti namun hanya kegelapan yang ada dalam belenggu ku. Aku ingin bersama bayu tak terkalahkan menjelajahi dunia. Bak gerimis yang mengingatkan ku akan dunia. Apa arti perasaan jika sakit akan kehilangan itu perih. Tak berdarah namun terluka, dendam akan teraniaya, apakah ini takdir?. Tidak, karena dalam takdir terselip usaha, dalam wacana terselip tajuk.


Aku bukan pengecut, pecundang, apa lagi bajingan. Tapi apa karma masih ada?, keadilan mulai dibantai, kebenaran mulai di gamangkan. Apa ini? apa hanya uang yang disebut nasib, takdir dan karma.


Meski merangkak, mengiba, hingga menyembah namun tak ada lagi iba tak ada lagi hati. Raut wajah penuh dosa bak malaikat pembawa berkat. Suara bilah pedang yang menyayat hanya bak irama merdu di hari yang sendu.


Jeritan teriakan pengampunan bak syair terpanjang dalam nada yang indah. Tawa yang penuh kepalsuan seakan hanya desis angin lalu. Tak ada ucapan dalam drama dunia, hanya isyarat mata yang membuat bulu kuduk berdiri.


Ketika semua telah usai, hanya tersisa bau amis yang menghiasi udara. Menusuk hidung mengisyaratkan perpisahan dramatis yang tiada guna. Semua nya sunyi seperti khidmat penghormatan terakhir dalam jalan panjang ke tepian.


Air mata tak lagi berharga, sakit hati bahkan membuat luka. Tidak ada hari esok jika tidak berjuang, tak ada lelah untuk melangkah. Tak ada bimbang untuk sebuah taruhan yaitu TARUHAN NYAWA.

__ADS_1


Gerimis darah di bulan Juni.


ARVIANDRANA EXCEL PRATAMA


Andra menutup catatan akhir nya, seorang lelaki matang yang duduk di kursi roda. Namun dengan wibawa dan kharisma yang menawan, tampan lagi seorang yang kaya raya baik dari sisi keluarga bahkan usaha yang dia tekuni.


Lelaki matang berusia kepala tiga itu, menatap foto usang beberapa puluh tahun silam, dia selalu menatap sore hari yang penuh warna jingga dari kediaman nya yang mewah dengan memandang foto tersebut.


"Tuan"


Lelaki itu menoleh pada sepasang asisten wanita dewasa juga lelaki dewasa itu.


"Katakan?"


"Tuan besar menyuruh anda makan malam malam ini?"


"Katakan pada Daddy tersayang ku itu, aku sibuk suruh anak angkat nya saja yang mewakili"


"Jika beliau nekad?"


"Baik tuan akan kami sampaikan"


"Jangan lupa, orang tua itu akan berulang tahun, bawa hadiah mewah untuk nya agar dia merasa tidak ditinggalkan oleh kerabat nya"


"Baik tuan"


Pelayan rumah menghidangkan sarapan sehat yang mewah untuk tuan nya.


"Roy...."


"Saya tuan"


"Bagaimana organisasi kita?"

__ADS_1


"Berjalan baik tuan"


"Apa para klien masih percaya pada kita, meski aku jarang mengambil misi"


"Masih percaya dengan penuh tuan, apa anda mau berkunjung?"


"Tidak, aku sedang berkabung Roy"


"Tuan, anda"


"Ini hanya untuk mengenang mereka yang merawat tubuh ini dengan susah dan sabar"


"Sudah lah, bagaimana keadaan ayah?"


"Beliau memilih tinggal di panti jompo karena banyak teman sejawat"


"Awasi dia, berikan kenyamanan layanan yang baik, jaga dia seperti hal nya ayah sudah menjaga mommy ku selama aku tidak pulang"


"Baik tuan ada lagi?"


"Selalu beri bunga di nisan opa dan oma jika bunga kesukaan mereka layu"


"Baik"


"Tempatkan pengurus di rumah di negara A, jika suatu saat mommy bangun dia tidak akan kehilangan lebih banyak kenangan nya"


Roy mengangguk mengiyakan saja semua titah tuan nya yang sudah dia ikuti selama lebih dari 20 tahun itu.


"Aku akan beristirahat sejenak, jangan ada tamu untuk tiga bulan ke depan"


"Baik tuan ku"


Andra masuk ke kamar nya untuk beristirahat bagaimana pun dia sangat lelah untuk berpura-pua cacat didepan semua orang agar saudara angkat nya tidak ribut.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2