TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.212


__ADS_3

Sudah tiga Minggu sejak Min memberitahukan kehamilan nya, Rei masih tak ada respon apa pun.


Tok....tok.....tok.


"Masuk"


"Om"


Rei mendongak melihat wajah istri nya, dia memandang kearah perut wanita itu yang masih rata.


"Ada apa?"


Rei sambil bekerja menanyakan hal tanpa melihat atau memandang wajah istri nya.


"Aku ingin menggunakan sepeda motor lagi bolehkah om?"


"Gunakan saja sesuka mu"


"Terimakasih om, selamat malam"


Min hendak pergi menuju kamar nya dilantai atas.


"Jasmin!"


Min berhenti, baru kali ini suami nya memanggil nama lengkap nya.


"Iya"


Min kembali menghadap, seolah dia sedang di kantor bukan di rumah suami nya. Sang suami seolah musnah entah pergi kemana.


"Besok pindahkan barang mu ke kamar utama dibawah"


"Baik"


Min tidak bertanya apa pun, dia juga tidak membantah. Rei terdiam memandang punggung wanita itu hingga ditelan pintu.


Min tidak memindahkan barang nya untuk besok, tapi malam itu juga Min segera pindah ke kamar utama bawah yang khusus untuk tamu menginap ketika ada keluarga yang berkunjung.


Hari ini Min bekerja ke kantor, dia juga menghemat pengeluaran nya. Hanya untuk kesehatan janin saja Min rela merogoh uang nya lebih.


Waktu pulang kerja Min melihat jadwal cek up pertama nya, karena dia sudah mendaftar ke rumah sakit dengan anjuran terbaik nya.


"Loh mau kemana? kok buru-buru"


"Aku ada urusan pak Andreas"


Min segera menuju tempat parkir, dia segera mengendarai motor nya. Andreas hanya memandang gadis itu, dia sangat cantik. Namun dia berhubungan dengan petinggi kantor nya bekerja jadi dia tidak berkutik.


"Yang kuat ya nak, kita akan ketemu"


Min mengelus perut nya, menjalankan motor nya untuk menuju rumah sakit yang sudah di reservasi nya. Min sampai disana, semua ibu hamil rata-rata membawa suami nya. Mereka merawat istrinya, memperhatikan bahkan menjaga dengan perhatian yang lebih. Sementara diri nya, seorang diri bahkan suami nya tak ada bertanya apa pun.


"Silahkan ibu Jasmin"


Giliran Min yang diperiksa, semua cek kesehatan janin sangat lancar dan bagus.


"Semua nya normal dan bagus, dijaga ya Bu janin nya"


Min mengangguk dengan perlahan, dan segera meninggalkan dokter kandungan itu. Sementara Andreas melihat Min keluar dari bagian kandungan, lelaki itu sedang konsultasi dengan dokter masalah penyakit ibu nya.


"Sedang apa kau di depan ruangan ku?"


Andreas hanya nyengir kuda saja ditegur oleh Tante nya.


"Tidak, aku sedang konsultasi obat buat mamah, Tante"


"Oh"


Tante dokter nya akan kembali masuk, karena ingin minum teh sebentar.


"Tante boleh aku tanya?"


"Mau tanya apa? kau menghamili pacar mu?"


"Aku mana punya pacar?"

__ADS_1


"Terus?"


Andreas ikut masuk ke ruang praktek Tante nya, sang Tante sedang memakan camilan nya di ruangan nya.


"Wanita tadi itu siapa?"


"Yang mana?"


"Pasien terakhir"


"Oh, itu Jasmin"


"Kenapa dia kesini?"


PLAAKK......


Buku tebal catatan kunjungan pasien melayang kearah Andreas, lelaki itu terlihat meringis.


"Oh, ayo lah, buku setipis itu tidak mungkin mendarat di otak mu dan membuat mu gegar otak kan?"


"Itu sakit Tan!"


"Bercanda saja"


"Jadi untuk apa Jasmin kemari?"


"Masih tanya tentu saja dia memeriksa kandungan nya"


Bola mata Andreas melotot seolah keluar dari kelopak nya.


"Kenapa kau naksir dia?"


Andreas menggelengkan kepala nya.


"Pacar atau suami nya itu orang yang tak pantas aku saingi Tante"


"Bagus lah kau tahu diri"


"Sejak kapan dia periksa kehamilan, tapi perut nya kempes"


"Anak pertama, dan itu baru sekali ini cek up"


"Apa kau orag idiot? kalau sudah beberapa kali perut nya itu pasti membesar tahu?"


"Oh begitu ya?"


"Cepat pulang lah sudah hampir malam!"


Andreas segera keluar dari ruangan Tante nya yang sangar, dia segera melajukan mobil nya untuk pulang ke rumah.


Min menaiki motor nya secara perlahan dia memakai pakaian sedikit tebal. Terlihat Rei mau memasuki mobil, dia melirik istri nya yang baru pulang.


"Selamat malam om"


Rei hanya melirik tanpa ingin membalas sapaan tersebut. Rei keluar dengan mobil nya, dia pergi dari villa untuk mengunjungi restoran langganan nya.


Min memperhatikan ayah dari anak nya itu bergegas pergi dari villa. Rei juga tahu jika Min melihat diri nya dari balik tirai itu, namun dia mencoba tidak peduli.


Rei merasa frustasi, jujur dia rindu dengan istri nya. Wanita kecil itu membuat perasaan berbeda ketika Rei bersama dengan nya.


Drrtt.....ddrrrttt.


Rei merogoh saku celana nya, mengangkat panggilan nomor baru itu.


"Hei sobat"


"Rave!"


"Apa kau senggang hari ini?"


"Iya kenapa?"


"Aku ada di club, kita reuni bareng temen universitas"


"Dimana?"

__ADS_1


"Club xxx"


"Oke meluncur"


Rei bergegas menuju club yang Rave sebutkan dari pada perasaan nya selalu tidak karuan ketika bertemu dengan Min.


"Rei!"


Rave memanggil Rei yang sudah berada di pintu masuk lantas Rei juga melambaikan tangan nya.


"Duduk lah"


Memang benar ada reuni universitas, baik teman lelaki atau perempuan semua nya ada.


"Kenapa reuni disini?"


"Biasa lah bro, murah"


Ucap salah satu nya.


"Aku ada resort, kalau mau mengadakan reuni Akbar"


"Wah kau memang si kaya yang dermawan ya"


Ucap beberapa teman universitas nya itu, karena Rei membagikan voucher gratis resort nya.


"Sering-sering lah seperti ini bro, supaya tambah makmur, banyak anak juga"


Mereka semua tertawa atas doa salah satu teman mereka yang konyol itu.


"Ayo kita bersulang!"


Seru mereka, serempak bersulang dengan jus apel yang nikmat khas club' xxx itu"


Setelah 2 jam mereka semua bubar, berjabat tangan mengucapkan terimakasih karena Rei membayar semua tagihan nya.


"Mau ku antar bos?"


"Tidak aku bisa nyetir sendiri"


GGREEEPP......


Tubuh Rei ambruk, Rave menopang nya sekuat tenaga.


"Berat sekali, hei cepat keluar!"


Seru nya pada seseorang di kegelapan yang sejak Rei tiba sudah mengawasi.


"Kau tidak sabaran sama sekali"


"Kalau tidak cepat efek obat nya akan segera hilang!"


"Itu bukan obat mu, itu obat ku"


"Apa!"


"Benar kau hanya menjalankan rencana awal, sisa nya serahkan pada ku"


"Jangan lukai dia, ingat"


"Orang yang mati suri mau ku apakan, paling ambil Poto dan keuntungan gosip"


"Terserah kau saja, ingat dia kakak mu yang mengasuh mu dan bertanggung jawab atas diri mu dulu"


"Aku tahu, cerewet"


Rave bergegas dengan cepat untuk pulang. Sementara gadis yang tak lain adalah Elian itu melaksanakan semua yang akan menjadi sandiwara nya kelak.


"Ambil serinci mungkin dan sebagus mungkin jangan asal"


Mereka mengambil gambar dan Vidio mentah untuk di olah supaya menjadi Vidio yang bagus ketika di tonton publik.


"Selesai bos"


"Kerja bagus"

__ADS_1


Elian melempar amplop tebal pada mereka dan menyuruh mereka pergi.


BERSAMBUNG.


__ADS_2