TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.282


__ADS_3

"Lis"


Lisa yang sedang menyuap nasi goreng telor ceplok nya itu seketika kaget.


"Mamah bikin kaget aja sih"


"Kaget apa nya sih, orang mamah buka pintu terus jalan kok"


"Tapi jangan muncul tiba-tiba juga dong"


"Kan jalan mamah tuh"


Lisa diam saja, sementara sang mamah mencomot roti bakar yang Lisa buat. Melihat tampilan sang mamah Lisa jadi penasaran.


"Mamah mau kemana?"


Sejenak Melina berhenti lantas menoleh, lalu tersenyum manis pada putri tunggal nya.


"Ada deh"


"Ih mamah pake rahasiaan?"


"Memang, kamu sudah buat pagi mamah jadi buruk"


"Ih sebal"


Lisa melenggang ke kamar nya karena tiba-tiba mood nya buruk. Melina menggelengkan kepala nya lantas pergi berlalu. Niat Melina akan ke arisan namun dia teringat tatkala anak tiri nya tidak pulang sudah dua hari ini. Dia ingin menyambangi rumah sakit tempat suami melarat nya dirawat.


Awal pernikahan memang Afar pria yang sangat teramat romantis namun seiring pernikahan mereka yang tak kunjung memiliki keturunan lama kelamaan sedikit renggang. Afar bekerja sedangkan Melina selalu keluar dengan teman-teman kaya nya.


Namun bukan anak yang Afar masalahkan melainkan Melina cek in hotel dengan klien bisnis nya. Afar yang sedang makan malam dengan klien melihat istri nya cek in hotel. Sejak saat itu Afar tidak lagi tidur sekamar dengan Melina.


1 jam menaiki taksi akhir nya Melina sampai di ruang rawat suami nya. Lelaki itu agak kurus namun segar, tidak lusuh atau bersedih seperti bulan lalu diri nya menjenguk lelaki yang mulai keriput itu.


Lama Melina memperhatikan sang suami, Melina menuangkan obat anti nyeri kedalam gelas disamping ranjang pesakit itu. Tak lama Afar menggeliat, dia kaget hari ini di kunjungi istri pertama nya.


"Ada apa kau kesini?"


"Kok respon mu begitu pada ku mas?"


Melina seolah tak terima diri nya di curigai Afar.


"Jangan marah-marah mas, nanti kau tidak sembuh-sembuh"


Afar duduk bersandar di ranjang rumah sakit sambil memperhatikan Melina.


"Jangan curigaan, aku hanya ingin menanyakan apa Rindi menemui mu kemaren?"


"Iya, kenapa?"


"Dia lebih dewasa sekarang, dia sudah memiliki mobil sendiri dan juga kemaren memberikan 5 juta untuk uang dapur"


Melina pura-pura sedih, namun Afar tersenyum samar dan Melina melihat itu.


'Sebentar lagi putri kebanggan ku akan tiada, dan itu yang membuat dia menghilang adalah diri mu. Aku akan menyeret mu dalam setiap kasus yang ku buat untuk menjebak putri tersayang mu'


Gumam Melina dalam hati.


"Tapi kemaren putri bungsu mu tidak pulang"


"Mungkin mengunjungi teman"


Afar tidak pernah bercerita jika Rindi bertemu paman dari ibu kandung nya dan melanjutkan kuliah di luar negeri. Namun Afar mengatakan jika Rindi mendapat rekomendasi dari restoran internasional dimana Rindi bekerja untuk di mutasi ke luar negeri.

__ADS_1


"Putri mu sudah sukses, perusahaan bangkrut, dan rumah pasti akan disita pihak bank"


"Lalu aku harus apa?"


"Bicara pada nya, agar menandatangi pengalihan uang ibu nya pada mu"


"Bukan kah kau ibu nya"


"Ibu kandung nya"


"Lantas aku harus menjelaskan dari mana tentang ibu nya yang lain, coba kau pikir"


Melina pun terdiam memang ucapan Afar ada benar nya namun dia menampik itu.


"Kita ungkap saja jati diri nya"


"Lalu apa kau tidak peduli dengan perasaan nya, kau tidak tahu bagaimana ke depan nya hubungan kalian?"


"Sudah lah jangan banyak berdebat"


"Tidak"


"Apa!"


"Aku tidak mau berbicara apa pun pada nya, kau bicara saja sendiri"


Mendengar penolakan dari Afar, Melina mengepalkan kedua tangan nya. Jelas dia marah namun dia tahan, dia sekelebat teringat dengan dengan saran dari Lisa anak semata wayang nya itu. Melina menyeringai, lantas dia mengendurkan amarah nya, berpikir dengan otak yang dingin.


"Baik lah jangan dipikirkan"


Afar mengernyit heran, kenapa sikap Melina seketika berubah.


"Aku mau pulang, oh ya kau haus tidak? minum lah"


Afar ingin menjangkau Melina namun Melina menghindar. Melina segera bangun dari kursi yang ada disamping ranjang suami nya.


KREAAKK...


"Apa yang anda lakukan nyonya!"


Melina tersentak kaget.


"Tolong.... ada orang gila yang mau membunuh pasien"


Melina yang panik langsung kabur, sementara perawat tadi memanggil dokter. Hampir saja Afar kehabisan nafas, namun dokter segera melakukan tindakan yang benar. Meski demikian Afar tetap dirawat kembali, harapan nya besok akan pulang pupus sudah karena ulah Melina istri nya.


"Bagaimana keadaan pak Afar?"


"Baik"


Ucapan Afar lemah dan hampir tak terdengar lagi pula terpasang selang oksigen.


"Bapak istirahat saja"


"Sus, tolong jangan beritahu anak saya"


"Baik pak, lagi pula bapak bisa diselamatkan"


"Bilang saja kalau dia bertanya saya drop lagi"


"Baik pak"


Afar segera istirahat dengan tenang lagi pula Rindi menyewa dua perawat karena dia ingin melihat papah nya sembuh. Jadi Afar selama di rumah sakit itu di jaga dengan baik.

__ADS_1


Sudah berapa hari lewat, mengenai kejadian Afar.


Kasus mengenai mamah kandung Rindi selalu di usut, hingga memang tak sebentar waktu nya. Sang paman yang notabene adalah kakak dari mamah Rindi selalu memantau nya. Siapa pun tidak akan rela jika keluarga terdekat mereka disakiti oleh orang lain.


Rindi sedang berada di kamar nya, dia belum bekerja karena memang paman nya melarang dia bekerja untuk saat ini agar istirahat dahulu.


Tok....tok....tok.


"Masuk!"


"Kamu masih di rumah, tidak jalan-jalan?"


"Tidak paman, masih lelah"


"Oh"


"Tapi Arin bekerja"


"Jalan-jalan saja lelah apa lagi bekerja, aneh-aneh aja kamu"


Rindi hanya bisa tertawa lepas.


Drtt....ddrrtt.


Ponsel Rindi berdering dengan nyaring lantas Rindi melihat ponsel tersebut ternyata papah nya memanggil.


"Iya, pah"


"Papah sudah baikan nak, mau pulang ke rumah"


"Biar Arin jemput, pah"


"Tidak usah nak, papah di jemput asisten papah"


"Baik lah pah"


Sambungan ponsel pun diakhiri.


"Papah mu?"


"Iya paman"


"Kenapa?"


Papah ingin pulang ke rumah pada hal rumah sudah disita bank, entah bagaimana perasaan nya"


"Mungkin akan sedih, tidak mungkin papah mu tidak tahu itu"


"Iya juga sih paman"


"Baik lah paman mau bekerja dulu"


Sang paman beranjak dari kamar keponakan nya.


"Kok giliran aku mau kerja paman mau menahan nya ya"


Gerutu Rindi.


"Ya sudah lah sebaik nya ke rumah papah saja"


Rindu segera mengganti pakaian nya setelah dia mandi.dan turun untuk menuju ke rumah sang papah.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2