
Lisa adalah pewaris yang Aditya kira dari perusahaan milik Afar Mukti, ayah dari Lisa. Mereka pernah berjumpa beberapa kali karena terlibat kerja sama yang tak terduga.
Aditya memandang dari ujung rambut sampai ujung kaki, dahulu wanita itu tampil dengan sangat meski dandanan nya lebih mirip tante-tante girang.
Tapi sekarang lihat lah, dandanan nya jauh lebih terkesan sesuai dengan umur nya, cantik, alami dan dewasa. Lisa sangat cantik dengan dandanan natural.
"Ayo sarapan"
"Iya mas"
Lisa terpaksa bergabung sarapan, awal nya dia tidak ingin sarapan bersama. Awal nya Lisa ingin sarapan di kamar nya.
"Kamu kok bisa sampai di negara A ini?"
Lisa tersenyum, sedangkan William hanya melihat nya, seolah memantau Lisa dengan gerak-gerik nya.
"Cerita nya panjang mas, aku sekarang ini hanya pelayan nona Carmen"
Ujar Lisa, terlihat sekali wanita di hadapan Aditya ini selalu menunduk.
"Bagaimana dengan mamah mu?"
"Mamah sudah tiada saat sebelum aku di jemput papah kandung ku"
"Jadi kau bukan anak om Afar?"
Lisa mengangguk.
"Semua karena kejahatan yang mamah lakukan, dan aku yang tidak tahu apa pun justru ikut dengan nya tanpa memilah nya, mamah mencelakai mamah kandung Rindi, ternyata dia bukan adik kandung ku kami berbeda ayah dan ibu"
"Aku mengerti perasaan mu, aku pun demikian yang silau harta aku tidak sadar sebagai anak adopsi tapi yang tak ku tahu mamah Elian anak yang di kandung oleh wanita yang pernah menahan nenek nya Arvin, kesalahan ku juga bahkan sangat sangat besar"
"Kita adalah orang yang penuh dengan dosa ya mas?"
"Benar, bahkan yang lebih parah aku yang menyiksa dan menyakiti ibu kandung ku sendiri"
Lisa menatap tak percaya.
"Kau tahu saat aku terpuruk ternyata mereka keluarga ku sebenar nya tapi sayang mamah Elian sudah tiada, begitu pun Camelia dan suami nya, istri ku dan juga anak-anak ku bahkan aku tak pernah di beri kesempatan oleh mereka untuk meminta maaf atas dosa-dosa ku Lisa"
Ternyata orang yang lebih banyak dosa nya dari Lisa masih ada tapi asal bisa meminta maaf maka akan lega. Tapi lain hal nya jika orang yang kita sakit sudah tiada sebelum kita taubat maka akan semakin sakit hati kita.
"Aku sudah menuai karma sekaligus taubat mas, papah masih ada Rindi juga masih ada tapi aku hanya tak pantas menerima maaf dari mereka, aku bahkan di jual oleh papah kandung ku dan di pukuli adik kandung ku"
Mereka mendengarkan kisah Lisa sambil menyantap sarapan.
"Aku menjadi pengemis tapi aku bahagia karena aku memiliki satu keluarga yaitu anak ku, tapi mungkin tuhan tidak mengijinkan aku untuk bisa memiliki malaikat nya, aku terlalu hina hingga aku di tabrak oleh nona Carmen"
Lisa terdiam mengingat nyawa nya seakan di ujung tanduk.
"Anak ku tak selamat, aku koma, setelah sadar nona Carmen membuat ku seperti perawan, di rawat tapi haru menjadi budak nya dan dengan rela harus mematuhi 1 permintaan nya tanpa bantahan maka aku terlepas dari perbudakan nya"
William mengerti sekarang mengapa wanita yang dia tiduri ini tak mau menikah di hadapan khalayak banyak dan meminta pembatalan pernikahan mereka di catatan sipil.
"Kau yang betah disini, Will sangat baik jangan keluar aku rasa Carmen nanti akan mencari mu"
Ucap Aditya.
"Aku kerja dulu, dampingi adik ku, aku kira kau adalah jodoh nya dari pada si Carmen"
Lisa mengangguk, dia sudah selesai sarapan.
Aditya berlalu pergi ke luar rumah menuju perusahaan, sementara Lisa kini bangkit.
"Saya permisi tuan"
William tidak menjawab, tatapan mata nya dingin lagi datar.
Lisa segera menaiki tangga menuju ke lantai 3, lantai paling atas hanya ada kamar nya seorang dengan hanya gudang saja dan kamar William tentu nya.
Lisa berbalik terlihat William berada di belakang nya Lisa pun tak menaruh curiga karena kamar mereka bersebelahan. Hingga masuk ke kamar Lisa, Lisa tak mendengar derap langkah yang mengikuti nya hingga.......
KLEAK........
Lisa berbalik, kamar agak temaram karena gordeng tak di buka.
"Aku tidak mengunci pintu, kok terkunci sendiri"
"Aku yang mengunci nya"
Lirih suara William yang sangat Lisa kenal.
"Tuan William"
William mendekat pada wanita yang sudah berstatus menjadi istri nya namun Lisa terus mundur.
"Apa ada hal yang penting?"
Lisa masih bertanya pada hal dia tahu betul kondisi nya karena Lisa bukan wanita yang minim pengalaman.
Namun William tak menjawab dia hanya terus bergerak merangsek pada Lisa, hingga tubuh Lisa menabrak ranjang dan telentang diatas kasur empuk.
Alarm bahaya dari mengingatkan Lisa saat ini karena posisi nya ditindih oleh William. William pun langsung menindih tubuh mungil Lisa, memeluk nya erat.
"Tuan kita bisa bicara baik-baik"
Namun tak ada perkataan dari lelaki itu hanya dia mengeluarkan sebutir pil dari saku celana nya. Lisa memperhatikan semakin was-was, hingga lelaki itu mencium nya brutal lantas....
GLEK......
William meminumkan pil itu kedalam tenggorokan Lisa langsung tanpa menjeda ciuman nya. Lisa memberontak, agar bisa menahan pil itu memberontak sekuat tenaga dan semampu Lisa namun tetap saja gerakan nya tak berarti dibawah tubuh jangkung lelaki yang sudah menjadi suami nya.
Lisa tidak bisa menendang alt vital lelaki itu karena pasti itu akan berakibat fatal, lagi pula memang diri nya harus melayani lelaki itu karena ikatan nya sudah sah.
Setelah ciuman panas yang hampir 20 menit itu Lisa tak merasakan apa pun, Lisa berpikir jika itu obat perangsang, penambah stamina, karena William akan menggempur nya habis-habisan.
Lisa melirik lelaki yang masih diatas tubuh nya dengan nafas tersengal, terlihat lelaki itu tersenyum smirk.
"Tuan....aku!"
"Aku menginginkan mu"
Ucap nya Lirih.
"Tunggu tuan......itu"
Tanpa menunggu lama William sudah melucuti semua benang yang menempel pada tubuh Lisa. Tubuh Lisa polos, Lisa juga agak lelah karena penolakan yang dia lakukan karena lelaki itu memasukan pil ke dalam tubuh nya.
William langsung memasukan diri nya kedalam tubuh istri nya, melakukan nya secara sadar dan mabuk itu berbeda. Bahkan William terlihat bersemangat menjamah tubuh wanita yang menjadi istri nya itu
__ADS_1
Ternyata William tidak memiliki rasa bersalah, mungkin perasaan nya untuk Carmen hanya karena tak rela saja karena mengingat hubungan mereka yang sudah lama.
Entah sudah berapa jam William menggagahi tubuh istri nya, Lisa sudah terlihat acak-acakan. Rambut nya sudah basah, keringat mengucur deras meski memakai AC di kamar Lisa.
William bangkit dari tubuh Lisa, merebahkan diri nya disebelah istri nya. William mengelus pucuk kepala Lisa, Lisa kaget karena perlakuan hangat itu.
"Terimakasih, aku sangat puas"
Lisa hanya mengangguk, William memejamkan mata nya. Lisa pun kembali mengingat tentang pil tadi.
"Tuan.....itu tadi pil apa?"
Tanya Lisa meski diri nya sangat lelah, dia tidak mau terjebak dengan Carmen dan lelaki di samping nya.
"Pil penyubur"
"APA!"
Lisa yang sudah lelah dan ingin menutup mata kembali melebarkan mata. Namun Lisa tidak sadar jika lelaki itu masih disamping nya, Lisa turun dari ranjang hendak mencari pil kontrasepsi.
William segera menarik tangan Lisa dan memeluk nya.
"Cari apa?"
Lisa menggelengkan kepala nya, dia bertindak bodoh karena lelaki yang berstatus suami masih berada di kamar nya.
"Bilang"
"Tidak"
"Cepat bilang!"
William sudah menghisap leher Lisa dan mencengkram dada nya. Mata Lisa terbelalak sedetik kemudian dia akan menutup laci yang sudah terbuka dengan kaki nya namun William lelaki cerdik itu segera mengambil botol itu. Lisa menutup mata nya, seolah nasib nya tamat.
"Jadi ini.....?"
Lisa membuang pandangan nya.
"Berikan"
Lirih Lisa.
Pantas saja Lisa bersikeras untuk tidak mau melanjutkan pernikahan yang sudah tercatat di catatan sipil karena wanita itu meminum pil penahan kehamilan.
Will tersenyum manis.
"Mau ini?"
Lisa mengangguk.
"Kalau aku berikan apa imbalan nya?"
"Aku akan melakukan apa pun"
"Yakin?"
Lisa mengangguk.
"Baik lah"
Namun bukan nya memberikan pada Lisa, tapi William membuka tutup botol nya menuang isi nya ke lantai lantas menginjak nya hingga remuk.
"Apa Carmen yang membelikan nya?"
"Aku yang meminta nya"
"Kapan?"
"Saat aku menjadi pelayan nya"
"Apa dia menggunakan itu?"
Lisa mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Sebelum aku datang"
William mendekat, namun Lisa segera berjalan ingin ke kamar mandi. William kembali menarik tangan Lisa.
"Lepaskan, aku lelah, aku ingin mandi"
Lirih nya.
"Apa aku sudah mengijinkan mu?"
Lisa terdiam.
"Kau istri ku, bukan Carmen, aku mau kau layani, puaskan aku!"
William dengan garang nya kini kembali menggendong tubuh kurus Lisa kembali ke ranjang mereka untuk kembali melakukan pertempuran panas.
Lisa hanya bisa diam dan pasrah di naiki kembali oleh lelaki ini, memang sudah seharus nya melayani suami dan William juga tidak salah jika menginginkan anak dari nya. Ada trauma jika Lisa hamil apakah bayi itu akan hidup bersama nya atau memilih meninggalkan nya.
Di tengah pergulatan mereka, Lisa menitikkan air mata nya.
"Kenapa?"
William bertanya karena memang tindakan nya kasar kali ini tidak selembut tadi.
"Sakit?"
"Aku tidak ingin punya anak"
Lirih nya seraya air mata nya jatuh deras nya. William terhenti.sejenak namun detik berikut nya William seolah tidak terima karena wanita yang ada di bawah nya itu tidak ingin mengandung anak dari benih nya.
"Berhenti tuan, sakit"
Lisa lelah, dan juga sakit hingga Lisa mencakar punggung William.
"Aku tidak ingin berhenti, aku menginginkan anak dari mu"
Lisa menggelengkan kepala.
"Aku seorang pendosa tuan, kau bisa memilih ibu dari anak mu wanita yang baik, yang cantik tidak seperti ku"
William berhenti, dia bangkit dari tubuh istri nya.
"Apa maksud mu?"
__ADS_1
"Aku sudah pernah hamil tapi bayi ku mati sebelum di lahirkan, aku tidak mau hamil lagi"
"Tidur lah"
"Belikan pil yang ada di lantai itu, apa pun keinginan mu pasti aku turuti aku mohon"
William mengangguk.
"Aku akan membelikan nya"
Lirih William sendu.
"Benar kah?"
Mata Lisa berbinar, William segera bangkit dan menggendong Lisa menuju kamar mandi.
"Ayo mandi dulu"
Mereka mandi bersama Lisa menurut pada William.
"Aku akan membelikan obat itu tapi ingat janji mu kau akan melakukan apa pun untuk ku"
"Aku berjanji tuan'
"Termasuk menikahi ku dan tidak akan meninggalkan ku sampai kau mati"
Lisa mengangguk dengan tersenyum, William memandang wanita yang sedang dia mandikan itu. Hari nya sakit, meski pun dia mencintai Lisa, tapi wanita di hadapan nya seolah wanita tidak waras yang tak punya pikiran.
"Mulai sekarang kau istri ku dan aku suami mu, mengerti!"
"Iya suami ku"
William tersenyum.
"Besok malam kita adakan acara resepsi"
"Baik"
"Panggil aku suami ku sayang"
"Iya suami ku sayang"
Lisa lega karena William mau menuruti keinginan nya, Lisa bisa menjawab Carmen karena diri nya tak akan hamil benih lelaki yang memaksa menikahi nya.
Jadi Carmen bisa mengambil William kapan pun karena Lisa tidak akan mempunya ikatan selain pernikahan yang hanya dalam status. Dia tidak akan berani mencintai pria milik nona nya.
"Ayo kita ganti baju"
Lisa mengangguk, kini mereka sudah berpakaian.
"Aku mau ke kamar ku, nanti setengah jam lagi aku akan ke apotek untuk membeli obat mu"
"Terimakasih suami ku sayang"
William tersenyum.
"Baik lah kau mau makan apa?"
Lisa menggelengkan kepala nya.
"Aku mau tidur, aku ngantuk"
"Baik lah selamat tidur, jika lapar turun ke bawah atau ketuk kamar ku"
Lisa mengangguk saja, dia sudah bebas dengan beban nya yang satu itu.
"Baik lah, hati-hati ya"
William mengangguk, sesegera mungkin keluar dari kamar Lisa.
'Wanita bodoh dari planet mana, Carmen saja mengejar ku, tapi dia menolak ku bahkan anak ku'
Gumam Will dalam hati.
Dia menghubungi seseorang, mengirimkan pesan chat.
"Ada apa?"
"Seperti yang di chat?"
"Tumben, biasa nya kebalikan nya"
"Gue perjaka"
"Sekarang udah nggak"
"Semua karena hadiah Carmen"
"Wow memuaskan ya"
"Tentu bahkan sangat"
"Baik lah, datang lah ke apotek xxx"
"Rahasiakan"
"Aman dan beres"
Setelah nya sambungan ponsel terputus, William menghapus chat dan panggilan masuk ke ponsel pribadi nya tanpa ada yang tahu.
William segera berganti pakaian dan turun.
"Bik"
Pelayan rumah keluarga Lordian menghampiri nya.
"Jika nyonya Lisa bangun buatkan makanan enak atau sesuai yang dia inginkan, saya mau pergi sebentar, kalau ada yang penting hubungi saya ya"
"Baik tuan"
"Kalau Daddy dan kakak tanya, bilang saya ketemu klien di galeri seni"
"Baik tuan"
William keluar dari rumah nya lantas bergegas untuk mengendarai roda empat kesayangan nya dengan style yang cool. William juga tahu jika rumah nya sudah diintai oleh seseorang yang menginginkan diri nya keluar dari rumah oleh karena itu William memberikan kelonggaran pada orang itu agar bisa masuk kedalam rumah nya.
'Masuk lah aku ingin lihat apa yang bisa kau lakukan di rumah Daddy ku'
Ucap Will lantas pergi ke jalanan.
__ADS_1