TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.382


__ADS_3

Mommy Jasmin nampak cemas karena menantu nya sudah kedatangan sang paman, mommy juga takut jika sang paman membawa keponakan nya itu.


Mereka berbincang dengan ringan hingga tak terasa sudah memasuki waktu makan siang.


"Mom, dad, paman, ayo kita makan siang dulu"


Mommy Jasmin mengangguk lantas tersenyum membantu menantu nya menyusun makan siang yang diri nya bawa untuk di tata di meja makan.


Mereka makan dengan lahap, tak ada suara apa pun.


Rindi sedang menyantap puding melon nya itu lantas sang paman mengambil alih menyuapi nya.


"Bagaimana rencana mu nak?"


"Entah lah paman, Arin masih bingung"


Memang Rindi masih bingung akan perasaan nya yang terluka namun sangat mencintai lelaki yang terbaring lemah itu.


Mommy Jasmin datang mendekat pada menantu satu-satu nya itu, mengelus tangan nya dengan lembut.


"Mommy mohon nak, jangan tinggalkan anak semata wayang mommy sayang, sungguh mommy sedih dan mengerti bahwa kita seorang wanita tidak akan bisa menerima kesalahan apa pun, mommy tahu sebagai kamu pasti berat memaafkan suami yang bahkan sudah tidur dengan wanita lain di depan mata mu sendiri"


Lirih mommy Jasmin namun sebagai seorang ibu tentu saja dia tak menginginkan rumah tangga anak satu-satu nya hancur.


"Arin tahu mom"


Ucap Rindi seraya menunduk melihat lantai rumah sakit yang bersih mengkilap.


"Biarkan dia memilih sayang, Daddy tahu Rin kau sangat terluka, Daddy tak akan membela siapa pun, Daddy rela akan semua keputusan mu nak"


"Terimakasih Daddy"


"Aku setuju dengan mu, Arin memiliki beban dan tekanan batin sendiri jadi jangan pernah menekan nya lagi"


Paman mengelus pundak keponakan nya itu.


Rindi menatap suami nya yang masih terbaring lemah, mata lelaki itu masih tertutup rapat seolah tertidur dengan nyenyak.


Tak berapa lama profesor Andalas datang dengan segudang penelitian nya itu.


"Bagaimana prof?"


Tanya Daddy Rei.


"Maaf pak kesuburan putra anda tidak bisa dipertahankan karena obat itu juga mempengaruhi nya, kita masih beruntung bisa membuat penawar nya namun hanya untuk fungsi otak dan saraf motorik nya saja"


Daddy Rei menghela nafas, profesor Andalas segera bergegas menuju selang infus milik Andra yang baru saja di ganti oleh perawat lalu menyuntikkan cairan kuning itu.


"Itu apa prof?"


"Vitamin untuk merangsang kekebalan tubuh agar segera aktif kembali"


Daddy Rei mengangguk lantas segera kembali ke sofa saat profesor Andalas memeriksa tubuh Andra.


"Jangan lupa berdoa untuk kesembuhan putra kalian, mungkin seminggu atau lebih dia akan koma karena semua syaraf nya tegang"


Mereka mengangguk akan penjelasan profesor Andalas itu.


"Terimakasih prof"

__ADS_1


"Sama-sama, saya pamit dulu"


"Jangan terlalu di pikirkan ya nak"


Ucap paman Rindi, Rindi hanya mengangguk saja.


"Apa mau pulang ke rumah paman, atau liburan?"


Tanya sang paman, agar keponakan nya bisa membuat keputusan dengan kepala dingin.


Ya bagaimana pun, menurut paman tindakan Andra tidak bisa dibenarkan meski pun terkena racun tetap saja hati keponakan tunggal nya terluka.


"Arin nanti akan kabari paman kalau ingin berlibur"


Mommy Jasmin mengelus pucuk kepala menantu kesayangan nya.


"Mommy bersama mu sayang, benar kata paman kau butuh liburan tak apa Arvin ada mommy dan Daddy yang menjaga, ajak juga Lisa dia sedang hamil dan perlu untuk merefresh otak"


Ucap Mommy Jasmin seraya Rindi tersenyum pada mertua nya itu.


"Iya mom, nanti Arin ajak kak Lisa"


Ucap Rindi sumringah karena mendengar sang kakak sedang berbadan dua.


"Pergilah tengok kakak mu di ruang rawat sebelah"


Rindi mengangguk dengan riang bergegas keluar dari kamar rawat suami nya dan pergi ke kamar sebelah untuk menengok sang kakak.


Tok....tok....tok


Rindi mengetuk kamar rawat itu.


"Kak Lisa"


Ucap Rindi dengan semangat.


"Arin, sini sayang dekat kakak"


Rindi melihat banyak nya makanan, camilan dan buah untuk ibu hamil di meja itu.


"Kakak bosan sekali nih"


"Kenapa bosan?"


"Kakak seperti orang berpenyakitan saja , pada hal cuma hamil loh"


"Kenapa memang?"


"Tidak boleh melakukan apa pun termasuk istirahat kakak diatur, makanan dan gizi nya, mana makanan nya tidak ada yang enak loh"


Rindi tersenyum mendengarkan ucapan sang kakak, sementara William hanya terdiam karena jelas saja dia tidak akan protes semua kata-kata istri nya itu.


"Memang kalau ibu hamil kan harus menjaga pola makan, pola istirahat agar ibu dan bayi sehat tidak kekurangan gizi, tidak kelebihan gizi dan stabil berat badan ibu dan bayi nya"


Lisa melirik kearah William dengan kesal.


"Memang begitu orang hamil harus memberi gizi seimbang kepada adek bayi kalau kelebihan ntar bahaya kekurangan juga bahaya loh"


Lisa mencebikkan bibir nya mendengar penuturan dari sang adik, Rindi.

__ADS_1


"Dengar kan"


Lirih William, dia tahu mood ibu hamil suka berubah-ubah namun Will akan sabar pada istri nya dia ingin menjadi ayah dan suami siaga.


Meski ini pengalaman pertama untuk William namun William akan berusaha sebaik mungkin untuk menuju apa pun mau ibu hamil satu ini.


"Kakak bosen tidak disini?"


Lisa mengangguk, Rindi tersenyum manis.


"Bagaiman kalau kita jalan-jalan ke taman yang ada di bawah, tapi kita pakai kursi roda"


Lisa nampak berpikir akan usulan sang adik, dia harus menerima usulan itu meski tak nyaman dengan kata kursi roda.


"Baik lah, aku mau dek"


"Ayo kita jalan-jalan"


Ucap Rindi dengan semangat, dia sangat semangat pada kehamilan sang kakak dan melupakan sejenak masalah pelik yang menimpa rumah tangga nya itu.


William sudah siap dengan kursi roda nya, lelaki itu hanya menggunakan kaos dan celana biasa saja dengan rambut yang dibiarkan berantakan.


"Mas"


Ucap Lisa ketika Will sudah membopong istri nya untuk duduk di kursi roda.


"Iya sayang, kenapa?"


"Kok kamu ganteng banget sih"


Lirih Lisa, William mengerutkan kening nya, dia hanya mandi itu pun dengan kilat.


"Mas tidak dandan atau memakai pakaian branded"


Ucap William pelan.


Lisa mengernyit dan menatap suami nya sebentar.


"Tapi kau kok ganteng banget loh"


"Aku janji tidak akan melirik wanita lain"


"Aku percaya tapi bagaimana dengan wanita lain itu?"


Ucap nya dengan tegas, membuat Rindi terkikik geli.


"Kata nya si dedek cantik ini lagi cemburu Daddy nya sangat ganteng kak Will"


William hanya geleng kepala mendengar ocehan istri nya yang tak masuk akal bagi nya.


"Suda ayo mau ke taman tidak?"


"Tapi jangan lirik-lirik cewe ya?"


"Iya sayang kalau sampai taman mas akan tutup mata"


Lisa mengangguk saja lantas Will mendorong kursi roda nya menuju lift hendak ke taman lantai bawah.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2