
Pagi-pagi sekali tuan besar Alkatiri sudah mandi dan berpakaian rapih, memakai pakaian terbaik nya yang asisten nya siapkan.
"Dad mau kemana?"
Sang istri yang sudah menggeliat diatas tempat tidur merek meski di rumah sakit.
"Tidak apa, lanjutkan tidur mu"
"Kok aneh"
"Apa yang aneh"
Ditya Alkatiri duduk di sofa tunggal, di meja sudah ada menu sarapan sehat juga teh herbal yang wangi. Lelaki renta 82 tahun itu segera menyesap teh dan memakan salad diet nya.
Tling.
Ponsel pintar nya berbunyi lantas lelaki tua itu melihat nya dan tersenyum, hasil kerja keras nya juga dugaan nya ternyata benar. Istri nya sudah mandi dan berpakaian rapih juga.
"Tunggu cucu-cucu mu terbangun dan tunggui mereka, aku ada urusan sebentar"
"Baik lah"
Sangat aneh bukan, suami nya bertingkah seolah ada rahasia yang dia tutupi. Diah menghela nafas, dia duduk menikmati sarapan nya.
Ditya Alkatiri memasuki mobil nya yang di supiri asisten kepercayaan nya. Hampir 1 jam dia baru sampai di tujuan dan menemui scurity yang menjaga rumah seseorang yang hendak dia kunjungi.
"Laporkan pada majikan mu, kawan lama nya berkunjung"
"Baik tuan"
5 menit kemudian scurity sudah datang lalu melapor jika tamu itu sudah boleh masuk. Mobil yang di naiki Ditya masuk ke garasi mobil untuk parkir, lantas pria tua itu turun dari mobil kemudian melangkah mendekati pintu utama.
"Wah benar-benar nasib baik, bisa dikunjungi sobat dekat ku"
Si tua Aryandy juga sudah ada di pintu utama rumah nya, bermaksud menyambut tamu agung nya pagi ini yang mendadak datang.
"Oh sobat akrab ku"
Mereka berpelukan meski kakek Aryandy duduk di kursi roda.
"Ayo masuk lah"
Kakek Aryandi membawa masuk tamu nya ke ruang tamu, sementara opa Ditya hanya tersenyum smirk.
'Ada apa si tua ini tiba-tiba berkunjung, apa dia sudah menyelidiki tentang bocah lelaki milik ku'
Kakek Aryandy mengkerutkan kening nya.
"Kenapa kau serius sekali, apa yang kau pikirkan?"
"Ah, tentu tidak ada"
Mereka tertawa bersama, namun kakek Aryandy khawatir karena pasal nya ini jam-jam anak itu bangun.
Tap...tap....tap.
Ada langkah ringan yang menuruni tangga, raut wajah kakek Aryandy menegang itu tak luput dari perhatian opa Ditya.
'Kakek tua kau menyembunyikan cucu ku belasan tahun, awas kau'
Ucap Ditya dan hati dan gemas melihat sahabat nya curang itu.
Rei memang menuruni tangga untuk minum air putih juga memakan sarapan sehat nya. Tak lupa mengambil kue yang baru dibuat sang nenek.
"Itu yang manis milik mu"
"Iya nek"
"Pergi ke ruang tamu dan sapa tamu nya"
"Baik lah, sepagi ini kakek sudah punya tamu?"
"Itu sobat kakek mu"
"Oh"
__ADS_1
Rei berjalan ke ruang keluarga dengan madu menggunakan piyama nya, menaruh camilan, jus mangga. Lalu bergegas menuju ke ruang tamu, Rei kaget melihat tamu kakek nya. Sesaat Ditya dan Rei berpandangan sementara kakek Aryandy menghela nafas nya.
"Selamat pagi kakek, selamat pagi tuan besar Alkatiri"
Deg.......
Perasaan opa Ditya sangat kacau bagaimana tidak yang mengucapkan selamat pagi adalah cucu kandung namun dengan memakai embel-embel tuan besar betapa sakit hati nya.
"Selamat pagi nak"
"Rei pamit dulu"
Ditya mengangguk lantas Rei bergegas menuju ruang keluarga, memakan camilan serta meminum jus berwarna kuning. Lelaki muda itu juga menyalakan televisi menonton acara kesukaan nya. Ditya memperhatikan gerak-gerik dari cucu bungsu nya itu. Begitu pun Kakek Aryandy mengikuti arah pandang sahabat nya.
"Ekhhmm, jadi kau berkunjung untuk melihat cucu ku?"
"Kalau iya kenapa?"
"Sebaik nya kau pergi"
"Hei kau mengusir ku"
"Tentu"
"Kalau kau punya cucu, lantas dimana anak mu?"
"Jangn banyak tanya kau pergi lah"
Rei tidak mendengar perdebatan mereka, karena akan jam 9 Rei masuk ke lantai paling atas untuk bersiap ke kampus.
"Kalian kenapa?"
Nenek Aryandy datang untuk membawa camilan lagi. Menyedihkan teh herbal untuk suami dan tamu nya.
"Kami hanya berdebat saja"
Jawab mereka serentak, sementara Rei berlari menuju ruang tamu membawa tas juga dengan pakaian rapih nya.
"Hei mau kemana kau?"
"Tentu mau ke kampus kek"
"Apa kau sudah gila, kembali ke kamar dan istirahat"
"Aku buru-buru kek"
"Kau belum sembuh, luka di tangan mu belum kering kau mau apa hah?"
"Aku tidak apa kek"
"Coba kakek periksa"
Dalam pikiran Rei kakek nya hanya melihat, namun kakek Aryandy memegang tangan Rei. Wajah Rei merah padam menahan sakit yang luar biasa.
"Kau bilang tidak sakit kan?"
"Aku harus ke kampus"
Lirih Rei.
"Bawa serta paman mu Rei"
"Rei sudah besar lah kek, malu"
"Malu kenapa? apa kemaren juga menyelamatkan orang sampai harus mati juga malu"
Rei tertunduk diam.
"Lalu bukan paman mu yang datang apa sekarang kau masih bisa berdiri disini hah!"
Rei semakin menunduk.
"Kau bisa mengalahkan ratusan bahkan ribuan prajurit apa pun dengan tangan kosong kakek percaya, tapi bagaiman dengan senjata yang mereka miliki, kau cucu kakek satu-satu nya Rei"
Sang nenek sudah terisak menangis sedari tadi.
__ADS_1
"Kau sudah dewasa, bahaya akan mengancam mu di setiap langkah mu, jadi bawa paman mu serta mengerti"
"Baik"
Ditya memperhatikan semua yang ada dihadapan nya.
"Kemari dan peluk kakek mu ini"
Rei mendekat memeluk sang kakek, kakek Aryandy mengusap kepala cucu nya dengan sayang.
"Kau harta berharga kakek, jika kau pergi meninggalkan kakek lalu kakek harus bagaimana?"
"Maafkan Rei, kek"
"Cucu nakal kakek"
"Kok kakek nangis"
"Siapa yang menangis, cepat sana bawa paman mu ikut serta"
"Siap bos"
Opa Ditya memperhatikan interaksi cucu dan kakek itu, dia terdiam. Selama ini dia tidak pernah berinteraksi dengan cucu lelaki nya seperti itu, meski ada cucu sulung nya juga lelaki. Dia hanya melihat interaksi akrab Alan dan Damian, sungguh dia sangat iri.
"Kalian sangat akrab, ini pertemuan kita yang kedua setelah di rumah sakit itu, aku tidak menyangka pangeran penyelamat anak ku adalah cucu mu"
"Iya tuan besar"
"Panggil aku opa, aku seumuran kakek mu"
"Tapi dia cucu ku, kenapa harus memanggil mu opa?"
Sela kakek Aryandy.
"Oh ya ini hadiah pertemuan kita karena kau cucu dari kakek tua ini"
Rei dan Ditya tertawa, sementara muka kakek Aryandy sangat masam. Rei menerima hadiah itu karena opa Ditya memaksa nya, kalau tidak di terima itu tidak sopan nama nya.
Opa Ditya pulang ke rumah sakit, sementara Rei bergegas ke kampus bersama paman pria berjubah itu.
Sesampai nya di rumah sakit, opa melihat cucu sulung nya sedang berdebat dengan anak nya yang tiada lain adalah papah nya sendiri. Opa Ditya menghela nafas nya setelah menerangkan siapa pemuda yang menyebarkan putra nya.
Pukul 4 sore Rei baru keluar dari kampus.
"Paman apa boleh aku menengok tuan Alkatiri di rumah sakit?"
"Baik lah ayo kita kesana?"
Mereka meluncur ke rumah sakit terbesar di kota milik keluarga besar Alkatiri.
Tok.....tok.....tok.
Klek.
"Rei masuk lah!"
Yang membuka pintu adalah Riana gadis itu membawa masuk Rei dan pria berjubah.
"Pah lihat siapa yang datang?"
Raksa segera keluar ditemani Damian, sedangkan Rieka, Indri dan Saluna pergi mencari makan malam.
"Nak duduk lah"
Cinta menyambut kedatangan Rei, Aksara tersenyum.
"Bagaimana luka mu? kau malah menengok ku"
"Aku baik saja om"
Deg......
Seolah jantung Aksara berhenti, tatkala lelaki kecil itu memanggil nya dengan sebutan om. Mata Aksara membola, lelaki paruh baya itu menunduk mencoba meredam gejolak perasaan nya. Anak itu juga tidak lah salah jika memanggil nya seperti itu.
BERSAMBUNG.
__ADS_1