
Tidak ada keluarga yang berkunjung setelah sang mamah pulang, Min sudah terlelap karena obat yang dia minum. Rei segera menyelesaikan tugas nya karena akan segera menyusul sang istri bercumbu dengan mimpi.
Pagi hari itu, Rei sudah mengurus kepulangan istri nya. Biaya administrasi, obat yang harus diminum pun sudah ditebus.
Tok .....tok....tok.
"Masuk"
"Rei"
"Mamah kapan datang?"
"Baru saja, kata nya Min akan pulang hari ini jadi mamah juga mau menjemput nya"
"Benar"
Mamah Cinta, Riana, juga Herdan datang ke ruang pasien yang ditempati oleh Min.
Tiba-tiba saja ponsel Rei berdering, disana ada nama Aryos yang memanggil.
"Iya"
"Bos klien dari negara A datang untuk membahas kontrak lanjutan"
"Apa sudah di jadwal?"
"Maaf bos ini mendadak"
"Kenapa bisa demikian"
"Entahlah, beliau sudah menunggu di ruangan meeting kita"
"Baik lah katakan pada mereka untuk menunggu"
"Baik bos"
Rei segera mengakhiri panggilan nya bersama Aryos, terlihat Min sudah bangun dan sedang menyantap sarapan pagi nya.
"Mah, aku ada urusan mendadak di kantor ada klien penting"
"Kenapa tidak dijadwalkan dulu?"
"Mendadak mah"
Rei segera memakai kemeja dan pakaian kantor nya.
"Biar Min, kakak yang antar"
Ucap Riana menyela ibu dan anak yang sibuk sendiri.
"Tolong ya kak, merepotkan kakak"
"Tenang saja kakak dan mas akan mengantarkan istri mu pulang dengan selamat"
"Terimakasih kak"
Rei mengecup pipi Riana, dia segera bergegas setelah pamit pada sang mamah dan istri nya.
Rei segera terburu-buru agar sampai ke perusahaan dengan cepat untuk menangani klien.
Di rumah sakit mamah Cinta mengemasi barang-barang milik menantu bungsu nya itu.
"Biar Min saja, mah"
"Tidak apa sayang"
"Mamah sedang perhatian pada mu"
Ucap Riana dengan tersenyum manis pada adik ipar nya, memang Min adik ipar dari suami juga adik ipar dari adik bungsu nya.
Min tersenyum dengan manis, lantas mengangguk.
"Aku ganti baju dulu kak"
"Iya, kami tunggu ya"
Sementara Min ke kamar mandi, lalu pintu ruang pasien terbuka menampilkan papah Aksa yang sudah rapi dengan stelan kerja nya.
__ADS_1
"Papah kok kesini?"
"Kan mau jemput mamah"
Riana dan Herdan tersenyum melihat pasangan sepuh mereka.
Min sudah berganti baju, dia melihat lelaki yang mirip Rei tapi usia nya lebih tua.
"Sayang sini, kenalkan ini papah Aksa"
Min tersenyum, lantas menjabat tangan papah mertua nya.
"Ini Jasmin ya mah, menantu bungsu kita?"
"Iya, cantik ya pah"
Sang papah mengangguk, mengelus pucuk kepala menantu nya. Bukan hanya wajah Rei, kepintaran bahkan selera anak itu menurun dari sang papah.
"Baik lah, Herdan dan Riana akan mengantar Min ke villa"
"Ya sudah papah jemput mamah ya, kalian hati-hati lah, Herdan jaga menantu papah"
"Baik pah"
Mereka bertiga menuju tempat parkiran, Riana memapah Min sementara Herdan membawa barang bawaan milik Min. Herdan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang melaju dengan lancar di jalanan yang agak lengang karena belum menuju waktu makan siang.
"Kak, Min lapar"
"Baik lah kita ke resto itu saja"
Herdan segera menepikan mobil nya ke pinggir untuk masuk ke restoran bersebrangan dengan mal.
"Ramai sekali disana?"
"Itu mal terbesar di kota ini"
Min tersenyum mengangguk, mereka sengaja mencari tempat duduk di pinggir jalan. Kemudian memesan menu yang Min inginkan untuk makan karena pagi tadi hanya makan bubur 2 jam kemudian Min kembali lapar.
Pesanan sudah 1 jam dipesan namun belum juga muncul.
"Tenang sayang mungkin sebentar lagi"
Herdan menenangkan Riana yang kesal karena menu pesanan mereka tak kunjung tiba.
"Aku ke toilet dulu mas?"
"Mau ku antar?"
"Tidak kamu jaga Min saja, dia masih pucat mas"
"Hati-hati ya sayang"
Riana mengangguk dengan cepat dan bergegas menuju toilet. Herdan merasa aneh karena sudah 45 menit istri nya berada di kamar mandi.
"Kak Riana kok lama ya di toilet?"
"Iya ya dek"
"Kakak coba deh susul kak Riana, barang kali ada apa-apa"
"Tapi kamu sendirian"
"Min tidak akan apa-apa"
"Baik lah, tunggu disini ya jangan kemana-mana"
"Iya kak"
Herdan bergegas menuju toilet, mencari istri nya. Herdan sangat kaget melihat istri tercinta nya meringkuk di lantai, Herdan berlari menghampiri nya karena khawatir atas kondisi sang istri.
"Sayang......"
Herdan menggoyang pelan tubuh istri nya, memeriksa nafas nya ternyata masih bernafas. Herdan segera menggendong istri nya untuk dikatakan di bangku panjang dekat toilet. Herdan mencipratkan air pada muka istri nya beberapa kali.
"Eungghhh........"
"Sayang"
__ADS_1
Riana membuka mata nya, Herdan tersenyum manis karena pujaan hati nya sudah sadar.
"Sayang, kamu kenapa kok bisa tidur di lantai"
"Aku tidak ingat mas, tadi tiba-tiba saja kepala ku pusing"
"Untung tidak apa-apa, apa ada yang sakit coba mas periksa"
Herdan memeriksa jika ada luka luar nya yang ada di badan sang istri.
"Bagaimana mas?"
"Tidak ada, tapi nanti kita ke dokter saja barang kali ada luka yang serius yang tak terlihat"
"Baik lah"
Herdan memapah istri nya kembali menuju tempat duduk di restoran.
"Loh Min kemana?"
"Sebentar aku tanya pelayan ya"
Riana mengangguk.
"Pelayan kemana tadi gadis yang duduk bersama kami?"
"Oh gadis itu di bawa temen lelaki nya, kata nya mereka teman kerja tuan, nona itu juga membatalkan pesanan"
"Oh baik lah kalau begitu"
Herdan bergegas pergi membawa Riana untuk ke rumah sakit setelah memberi uang tips.
Mereka kini menuju rumah sakit untuk memeriksa tubuh Riana karena Herdan sangat khawatir akan istri nya itu.
"Bagaimana dokter?"
Riana sudah selesai di periksa oleh dokter saat ini.
"Istri anda tidak ada luka sama sekali pak"
"Tapi 1 jam yang lalu istri saya baru terjatuh di toilet dok"
"Benar tidak ada luka fisik hanya kelelahan saja"
"Baik lah"
Herdan segera membawa Riana pulang, mereka memutuskan untuk tidak datang ke kantor. Riana istirahat dengan ditemani suami nya itu.
Min membuka mata nya, dia berada dalam sebuah taksi.
"Pak kita mau kemana ya?"
"Loh bukan nya ini alamat yang nona tunjukkan sebelum naik tadi"
Min merasa linglung, karena seingat nya dia berada di restoran bersama kakak dan kakak ipar nya.
"Kapan saya naik taksi ya?"
"20 menit yang lalu nona, ada seorang lelaki yang menghentikan taksi saya lantas anda tertidur"
"Oh begitu ya"
Sang supir taksi mengangguk, lantas tersenyum miring memperhatikan penumpang nya. Tak lama mereka sampai di tempat tujuan.
"Sudah sampai nona"
"Ini ongkos nya"
"Ongkos sudah dibayar nona"
"Baik lah terimakasih"
Min segera masuk kedalam villa, hari sudah nampak gelap, sebentar lagi akan jam makan malam.
Rei dengan cepat menyelesaikan meeting meski sudah jam 2 siang Rei baru makan siang di kantor. Rei dengan cepat pula meminta jadwal kerja nya untuk hari ini karena dia ingin segera menemani Min di villa. Cita-cita hanya angan nyata nya Rei tidak bisa berkutik karena kerjaan yang menumpuk itu, lelaki itu pulang ke villa hampir tengah malam.
BERSAMBUNG.
__ADS_1