
Andra sedang serius-serius nya berkutat dengan laporan beberapa tender dan proyek yang sedang dia tangani.
Tok...tok...tok.
"Masuk!"
Suara Andra membuat orang di luar pintu masuk atas ijin nya.
"Tuan, ada nona Sisi yang datang berkunjung"
Andra mendongak, dia melihat Roy.
"Suruh masuk saja"
"Baik"
Tak berapa lama kemudian masuk lah orang yang mereka bicarakan, seorang gadis dewasa sekitar 28 tahun dengan rok diatas lutut dan kemeja ungu serta full make up.
"Hai, selamat siang!"
Andra menengok jam lantas, pantas wanita itu bilang selamat siang karena sudah pukul sebelas siang.
"Siang"
"Maaf ya aku ganggu kerjaan kamu, aku sengaja datang buat ngajak makan siang kamu"
Sisi terlihat canggung karena lelaki itu sangat acuh. Andra melihat jika gadis itu datang tidak membawa apa pun.
"Mau makan siang dimana?"
"Di luar ada resto yang enak, aku traktir"
"Baik lah, ayo"
Andra menggunakan kursi roda dan menjalankan nya. Sisi berjalan berdampingan dengan kursi roda itu.
Saat masuk lift mereka bergantian masuk, dan Roy berada di belakang mereka. Terlihat Sisi nampak sedikit tidak nyaman, tak berapa lama mereka sudah berada di parkiran. Dengan segera pergi berkendara menuju restoran yang dimaksud.
"Tuan, nona kita sudah sampai"
Ucap Roy.
Andra pun mengangguk dan segera turun untuk duduk di kursi roda. Sisi melihat nya sangat kesusahan dengan kursi roda itu.
Roy membukakan pintu mobil untuk Sisi dan segera mendorong tuan nya untuk masuk ke resto bintang lima itu.
"Kau mau menu yang mana?"
Sisi dengan elegan dan duduk di hadapan Andra.
"Salad dan susu saja"
"Kau sedang berdiet ya"
"Untuk kesehatan kaki"
"Memang kau tidak mau mencoba untuk terapi?"
"Belum bisa di terapi sebelum otot nya menyambung atau apa lah menurut dokter"
"Oh"
Sisi memesan menu yang dia sukai dan memesan menu untuk diet. Sedangkan Roy berada di meja yang lain terpisah dari kedua orang itu.
Tanpa sengaja paman Rindi melihat anak sahabat nya yang bersama seorang gadis itu makan di restoran nya.
"Bagaimana dengan Arin? bukan kah gadis itu ke kantor anak nya Rei? kok bisa dia ada disini?"
__ADS_1
Saat itu ada pelayan yang hendak mengantarkan pesanan pada meja Andra.
"Mau ke meja berapa?"
"Ke meja 15 bos"
"Kasih 1 menu spesial, bilang ini pelayanan istimewa dari restoran untuk mereka"
"Baik bos"
Si pelayan mengambil satu menu istimewa pembuka untuk meja yang ditunjuk oleh bos nya itu.
"Siang siang pak, ini pelayanan spesial dari restoran kami"
Andra dan Sisi mengangguk.
"Selamat menikmati"
"Terimakasih"
Mereka berdua terlihat mulai menikmati menu yang di suguhkan. Sementara sepasang mata menatap mereka lama sehingga kembali ke ruangan kerja nya.
Jam sudah menunjukkan sebelas empat puluh lima siang, dengan terburu-buru Rindi sudah sampai di lobi perusahaan. Satpam yang berjaga pun tersenyum pada nya, karena Andra berpesan agar ramah pada gadis ini.
"Selamat siang pak?"
"Selamat siang juga non"
"Aku naik ke atas dulu"
"Silahkan non"
Satpam tidak memberitahukan pada Rindi jika pimpinan tertinggi mereka telah keluar untuk makan siang.
Rindi dengan senang akan memberikan menu baru untuk layanan pesan online pada lelaki impian nya.
Lift sudah sampai, Rindi dengan senyum manis nya mendatangi ruang kantor milik Andra.
"Selamat siang!"
Krek....
Pintu Rindi buka, namun kosong tidak ada siapa pun. Rindi diam saja, mungkin Andra sedang meeting jadi belum datang ke ruangan nya.
Rindi duduk di sofa sambil berkeliling ruangan Andra, dia melihat satu demi satu dekorasi nya. Tak terasa waktu makan siang sudah habis lantas Rindi bangun dari duduk nya jenuh juga menunggu Andra kembali.
Rindi hendak pergi dan meninggalkan kotak makan itu, tapi di lorong menuju lift berpapasan dengan Anita.
"Non kok ada disini?"
"Aku anterin makan siang buat Andra"
"Bukan nya pak Andra itu janjian makan siang sama non ya, dari jam sebelas tadi sudah keluar"
"Oh, mungkin dia ada meeting di luar, kalau begitu aku pergi dulu ya"
"Hati-hati non"
Rindi pergi dari kantor Andra menuju halte bus, dia berniat untuk kembali di restoran karena paman nya juga disana.
"Siapa?"
Anita kaget karena Novan muncul tiba-tiba.
"Ngagetin aja, itu non Rindi"
"Loh nganter kotak makan siang ya"
__ADS_1
"Iya padahal kan bos kita pergi janjian dengan dia"
"Janjian dengan dia apa nya, orang non Sisi yang datang kok, wanita yang nyonya Elian sodorkan pada bos"
"Hah? tadi aku udah ngomong jika tuan pergi dari jam sebelas buat ketemu non Rindi"
"Ih bego banget sih, kenapa ngomong tanpa konfirmasi"
Novan menggelengkan kepala nya sementara Anita menjadi cengo.
Rindi sudah sampai di restoran mewah milik paman nya dan langsung masuk dari pintu pemilik restoran yang terletak di belakang restoran.
"Sudah kembali?"
"Iya paman"
"Kenapa kok lesu, biasa nya ceria?"
"Arin sedikit lelah"
"Kalau lelah itu istirahat bukan pakai pakaian pelayan restoran mereka masih full kan baru jam makan siang"
"Pengen aja, paling sebentar kok"
"Oke"
Rindi dengan semangat menuju dapur restoran.
"Nona mau apa?"
"Mau membantu kalian"
"Jangan nona nanti pak bos marah"
"Aku sudah ijin kok, tenang aja"
Para pekerja di restoran hanya menggelengkan kepala tanpa bisa menolak bantuan dari Rindi. Rindi mendapat bagian untuk melayani tamu, dengan senang hati Rindi menerima nya.
"Non ini pesanan meja nomer 15, mereka dari tadi makan disini"
"Oh, baik lah"
Sebelum mengantar Rindi memperhatikan kedua orang itu yang satu lelaki dengan kursi roda dan wanita seorang gadis dewasa yang cantik dan elegan.
Langkah kaki Rindi terhenti seakan kaku, dia tidak bisa berjalan dengan benar. Tentu hati nya menolak itu semua.
"Non kenapa? tidak enak badan"
Rindi hanya mengangguk, lantas menyerahkan menu itu pada pelayan tadi. Rindi berbalik kebetulan saat itu Roy menengok kearah Rindi.
'Aku seperti pernah melihat sosok itu, apa non Rindi ya, masa ada di restoran ini?'
Gumam Roy dalam hati.
Rindi berlari ke toilet melepas celemek tadi, bukan tak melihat sang paman pun memperhatikan itu.
'Lebih baik sakit sekarang dari pada aku menyesal saat adik ku jatuh cinta dengan lelaki brengsek itu'
Gumam sang paman dalam hati.
Di toilet Rindi mengunci nya, dia melihat pantulan wajah nya memang biasa saja, seperti gadis kecil yang imut. Mungkin juga Andra meremehkan nya, tidak menganggap diri nya sebagai lawan jenis hanya menganggap gadis kecil yang pergi bermain di kantor nya.
'Kenapa aku bodoh sekali?'
Rindi tentu sadar akan perbedaan penampilan nya dan penampilan gadis yang Andra bawa makan ke restoran ini.
Rindi menutup muka nya dengan tangan nya, dia memejamkan mata nya. Sakit di hati nya lebih perih dari luka siksaan oleh ibu tiri dan kakak tiri nya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.