TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.381


__ADS_3

"Loh kok Daddy pulang?"


"Iya mom, Arvin sudah ditangani oleh dokter, ada Arin dan kak Amelia yang menjaga. Daddy lelah mom"


Mommy Jasmin tentu tahu jika suami nya ini lelah.


"Rei!"


Daddy Rei tersentak kaget melihat Adi dharma paman dari Rindi datang kembali.


"Sobat kau datang?"


Paman langsung menepis tangan Daddy Rei.


"Jangan begini, kita bicara dan duduk dahulu"


Ucap mommy Jasmin.


"Tidak perlu, saya akan membawa Rindu pulang ke negara Z kembali"


Ucap paman kepada mommy dan daddy dari Andra.


"Jangan gegabah anak-anak kita sudah menikah!"


"Gegabah bagaimana maksud mu hah!"


"Kita berbicara dengan kepala dingin ya, jangan emosi dahulu"


Lirih mommy Jasmin lantas bergegas menuju ke ruang tamu.


"Mari silahkan duduk"


Paman Rindi pun menurut dan mengangguk pada istri dari teman nya.


"Berbicara lah dengan baik-baik jangan ada pertengkaran, ini bukan saat nya kita adu otot kita sudah sama-sama tua"


Ucap mommy Jasmin.


"Kau lelah baru tiba, istirahat lah dahulu jika Arin datang nanti kami memberi tahu dia"


"Baik lah"


Paman Adidharma segera diantar ke kamar tamu untuk sekedar beristirahat lantas mommy Jasmin mendekat kearah Daddy Rei.


"Bagaimana ini dad?"


"Siapa yang memberitahukan masalah ini?"


"Mungkin mas Afar atau Arin"


Daddy Rei mengangguk, dia juga akan menanggapi serius masalah ini.


"Ya sudah kita istirahat saja sudah malam dad"


Sedang di rumah sakit ibu Amelia dan Rindi beristirahat di ruangan Andra.


Andra sendiri di dampingi terapis dan dokter yang berjaga bergantian satu sama lain.


Lisa sudah sadar, wanita itu mengerjap pelan menyesuaikan kilau cahaya yang masuk ke mata nya.


"Silau sekali mas?"


"Kamu sudah bangun sayang?"


Bukan nya di jawab William pertanyaan Lisa malah balik bertanya seperti ini membuat Lisa jengkel dan malas.


"Aku ingin pulang"


"Kamu haru dirawat dahulu di rumah sakit sampai kamu benar-benar pulih"

__ADS_1


"Aku tidak mau mas, aku ingin pulang"


Lisa memaksa, namun sedetik kemudian dia mengeluh perut nya sakit. William segera memanggil dokter.


"Silahkan berbaring Bu, kami akan memeriksa kandungan ibu"


"Apa dok?"


"Ibu sedang hamil jadi jangan emosi yang berlebihan nanti membuat kram perut dan lebih parah kandungan ibu akan bermasalah"


Lisa terdiam menatap William pantas lelaki itu ngotot di rawat di rumah sakit hingga pulih rupa nya diri nya sedang hamil.


William mengangguk.


"Nah ibu kami infus ya, kami tidak bisa memberi obat penenang karena ibu sedang hamil, tolong di jga kandungan nya ya Bu"


"Baik dok"


"Terimakasih dok"


Ucap William, lelaki itu mendekat pada Lisa yang sudah berbaring di ranjang rumah sakit.


"Maaf"


Lirih Lisa pada Will yang duduk disebelah brankar nya.


"Jangan pernah bersedih lagi, dia sudah hadir di tengah-tengah kita"


Ucap William sambil mengelus perut rata milik istri nya itu.


"Iya aku janji akan menjaga nya sepenuh hati ku"


"Bagus lah, sekarang istirahat ya"


Ucap William membelai rambut kepala Lisa dengan sayang mengusap perut rata nya yang sudah bersemayam janin kecil yang akan menjadi kesayangan mereka.


William mengecup kening istri nya, lantas dia keluar sebentar untuk mengambil pesanan susu hamil, buah, makanan sehat dan juga camilan khusus ibu hamil.


"Will"


Seru lelaki baya itu pada anak kedua nya.


"Daddy kenapa malam-malam kesini?"


"Tadi mommy mu menelpon kalau istri mu sedang hamil dan dirawat di rumah sakit, ini Daddy berikan beberapa vitamin dari dokter kandungan"


"Terimakasih dad"


Daddy German mengangguk.


"Bagaimana keadaan istri mu sekarang?"


"Dia bik dad"


"Syukurlah Daddy khawatir, jangan terlalu memikirkan masalah Carmen nanti Daddy biar atasi dia"


"Iya dad, terimakasih"


"Ya sudah Daddy mau menemui mommy dahulu, apa mommy sudah menengok istri mu"


"Belum William ijinkan"


"Oh, ya sudah Daddy pulang lagi"


"Iya dad, hati-hati"


Daddy German segera pergi dari rumah sakit karena harus pulang untuk istirahat.


Pagi hari nya, Rindi sudah bangun, dia sudah mandi bahkan sekarang dia sudah berdandan dan turun ke bawah untuk mengambil makanan yang dia pesan.

__ADS_1


Ibu Amelia sudah mandi, di menunggu Rindi karena sudah 2 hari dia tidak pulang mengurus Daddy German.


"Bu, sudah bangun ya"


"Kamu kemana tadi?"


"Aku ke bawah mengambil pesanan makanan online ku"


"Oh begitu, hari ini ibu mau pulang dulu ya, kamu jaga diri disini"


"Iya Bu, ayo makan dulu"


Mereka berdua sarapan pagi dengan lahap, lelah pun terobati setelah istirahat dan perut kenyang.


Selepas ibu Amelia pergi kemudian datang lah Daddy Rei, mommy Jasmin dan paman.


KLEAK.......


Pintu ruang rawat terbuka menampakkan mereka bertiga.


"Paman"


Lirih Rindi.


"Kau berjaga sendirian?"


"Tadi ada ibu Amelia, dia pulang mau melihat Daddy German dulu"


Paman duduk di sofa melihat tubuh Andra yang terpasang alat dan sedang di detoks.


"Apa kamu baik saja nak, maaf paman baru datang lagi menjenguk mu"


"Siapa yang beritahu paman kalau kita ada masalah disini?"


"Papah mu, sangat khawatir pada mu"


Rindi mengangguk saja.


"Nak mommy bawa bekal buat makan siang nanti, ini juga ada puding melon kesukaan mu"


"Terimakasih mom"


Rindi menyimpan semua nya di lemari pendingin puding, jus dan minuman lain nya.


Di rak camilan dan wadah makanan hangat sudah dia tata rapih.


Mommy dan Daddy pun mendekat pada anak semata wayang nya yang sedang mendapatkan detok akibat obat *** dan halusinasi itu.


"Dad apa Arvin akan sembuh?"


"Entah lah yag pasti, mungkin kesuburan nya hanya 30 atau 40 persen saja mom"


Mommy membelai rambut anak tunggal nya dengan sayang.


"Semangat berjuang ya nak, mommy yakin kau pasti bisa"


Ucap mommy Jasmin, dia ingin anak nya hidup seperti orang normal lain nya lagi.


Rindi pun memperhatikan kedua mertua nya itu, ada iba namun bayangan Andra yang sedang menggoyang Carmen selama 4 jam itu masih Rindi ingat dengan jelas.


Paman mengelus pundak keponakan tersayang nya.


"Jangan ingat yang menyakitkan itu hanya akan membuat mu merasa sedih, buang jauh-jauh beban pikiran mu paman hanya mau kamu bahagia dan ceria"


"Iya paman, Arin mengerti"


"Ingat kau masih punya paman apa pun yang kau lakukan paman akan selalu mendukung mu, paman akan membuang yang tak kau sukai dan memungut apa yang paling ku sukai, jadi katakan apa saja keinginan mu tanpa ragu pada paman"


Rindi melihat sang paman langsung menghambur memeluk tubuh baya paman nya seraya menangis terisak, tangisan itu seolah menyayat hati dan sangat pilu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2