
Rindi sudah seminggu di larang ke kantor oleh sang paman.
"Aku sehat loh paman, tidak kena penyakit loh"
"Iya tapi kamu hamil loh, paman takut kamu kenapa-kenapa?"
"Tapi aku bosan paman"
"Kau bisa menonton drama kesukaan mu atau apa pun asal jangan sampai kelelahan"
Setelah berkata demikian paman berdiri dari kursi di Maja makan lantas bergegas menuju kantor.
Rindi mendengus karena keinginan nya tidak akan di kabulkan oleh sang paman. Rindi cemberut bahkan dari pagi ini sampai makan siang karena sama sekali tidak boleh ke kantor apa lagi ke mall.
"Kenapa non kok cemberut sih?"
"Arin bosan di rumah bik"
"Bosan kenapa non?"
"Sudah seminggu gak kerja, sekarang tidak boleh kerja juga terus tidak boleh ke mall atau kemana pun kan jenuh"
"Non kan sedang hamil, kalau banyak beraktifas atau kelebihan gerak, nanti dedek bayi kelelahan dan akan keluar sebelum waktu nya loh"
"Apa iya bik?"
Tatapan Rindi seolah tak percaya namun bibik meyakinkan setiap ucapan nya dengan pasti.
"Bibik juga kan punya anak dan keponakan yang ada di kampung non"
"Oh, jadi tidak boleh lelah begitu bik?"
"Benar"
Anita datang ke ruang makan itu dengan tersenyum senang sambil membawa susu buat ibu hamil dan buah yang baik untuk pertumbuhan janin.
"Non diminum susu hamil nya"
Ucap Anita seraya menyerahkan segelas susu yang baru saja dia buat.
"Terimakasih An"
Rindi nampak menghabiskan susu tanpa protes, lalu ponsel Anita berdering.
"Nona tuan Arvin menghubungi ku"
"Angkat saja"
Tut......
Anita lekas memencet tombol hijau hingga panggilan video call pun di lakukan.
"Selamat pagi tuan"
"Mana istri ku?"
Todong Andra langsung tanpa basa ditambah basi.
Anita segera mengarahkan kamera ke istri bos nya.
"Sayang ku"
Ucap Andra lembut memandang pada Rindi.
"Sudah tiga hari tidak kirim pesan atau video call, mas menikah lagi ya"
Raut wajah Andra terlihat mengkerut di seberang sana.
"Kok diem"
"Kan mas sibuk ngurus mommy, ibu dan bisnis disini yang"
"Sama aku tidak ingat ya"
__ADS_1
"Ingat loh yang, maka ini video call, karena apa coba?"
"Ya tidak tahu"
"Kok cemberut, sayang tidak kerja?"
"Di larang paman"
"Loh kenapa? Ayang sakit kah?'
Rindi menggelengkan kepala nya, sejenak mereka saling pandang, Andra tahu pandangan istri nya yang sangat merindukan kehadiran nya itu.
"Kapan pulang?"
"Kesini dong"
Rindi terdiam, tanpa sadar mengelus perut yang sangat rata.
"Kenapa? sayang sakit perut kah? Ke rumah sakit ya sama Anita"
Rindi menggelengkan kepala nya, lalu menyuapkan buah ke mulut nya. Rindi mengunyah buah itu di dalam mulut nya hingga terlihat imut sekali.
"Imut sekali jadi pengen makan buah juga"
"Maka nya pulang nanti aku suapi"
"Kesini dong, mommy sudah sadar kemarin loh yang, ibu juga sudah pemulihan mungkin ibu bukan depan pulang bareng papah"
"Papah sudah sehat ya?"
"Sudah dong, kenapa kamu kangen papah ya?"
"Kangen banget terutama sama yang lagi ngomong"
Andra tersenyum manis dan sangat tampan di mata Rindi.
"Kalau tidak kerja mending nyusul kesini temani mas sayang"
"Asekk, naik jet Daddy ya"
Rindi mengangguk.
"Kalau paman tidak mengijinkan maka aku tidak akan berangkat ya"
"Iya, biar mas yang ijin ke paman ya, kamu minta bantuan bibik saja packing barang nya"
"Oke tuan suami sayang"
Kembali Andra tersenyum dengan manis nya, membuat Rindi menatap suami nya yang lebih tampan.
"Ya sudah mas mau keluar dulu temani mommy terapi sama Daddy ya sayang"
"Iya"
Nampak Rindi cemberut.
"I love you"
"I love you too"
Panggilan di matikan dari seberang, ponsel Anita pun tampak dengan layar menggelap.
"Ini, terimakasih An"
"Sama-sama nona"
Lain hal nya Andra dan Rindi pasangan yang memendam kerinduan, sedangkan pasangan yang sudah menikah satu ini kembali sedang bergulat di ranjang. Pergumulan yang di mulai sejak jam 3 dini hari hingga sudah menunjukkan pukul 8 namun sang lelaki masih saja dengan perkasa nya menaiki istri nya.
"Mas aku lelah"
Will yang sedang bergairah tak mau menghentikan tindakan nya.
"Bukan kah semua keinginan ku itu harus kau patuhi ingat janji mu"
__ADS_1
Bisik Will di telinga istri nya karena tubuh mereka sedang menyatu apa lagi dibawah sana Will sengaja memacu kencang hingga tubuh istri nya terhentak.
Lisa sudah pasrah saja nampak nya, dia tidak bisa melarang tindakan suami nya karena janji yang dia buat.
"Apa Will sudah sarapan?"
Tanya German kepada kepala pelayan itu.
"Maaf tuan, tuan muda kedua belum turun sama sekali"
"Baik lah biarkan saja, mereka sudah menikah kalau ingin makan juga turun sendiri"
Kepala pelayan mengangguk mengerti.
Will nampak membopong istri nya ke kamar mandi, lelaki jangkung itu bahkan tampak kembali menggarap istri nya ketika di kamar mandi.
Will juga bingung pada hal diri nya baru kenal dengan Lisa tapi nafsu nya untuk wanita itu seakan mengerikan.
"Sudah"
Will menoleh saat Lisa sudah terbaring lelah di ranjang mereka.
"Kalu memang aku mau lagi kenapa? bukan kah kau istri ku lagi pula kau sudah berjanji bukan?"
Lisa mengangguk lantas tersenyum, mungkin dia akan menjadi budak nafsu lelaki tampan ini. Tapi Lisa berpikir tak masalah selama status jelas dan tidak di telantarkan.
"Aku lelah aku mau istirahat dahulu"
"Baik lah besok malam kita resepsi"
Lisa mengangguk mata nya sudah terpejam, baru saja semalam lelaki yang merupakan suami nya berkata tidak akan menjamah nya demi tidak kelelahan di hari resepsi tapi nyata nya pagi ini dia kembali digempur habis-habisan.
"Sudah lah, lagi pula tak apa, tak akan hamil anak nya juga"
Will memandangi Lisa yang sudah terlelap, dia segera bergegas untuk ke bawah sarapan.
"Tuan mau sarapan?"
Will mengangguk lantas pelayan itu melayani nya.
"Tuan besar tadi menanyakan tuan?"
"Oh, aku bangun kesiangan"
"Iya tuan"
Will menyantap sarapan nya hingga dua porsi, dia ingin tidur dengan kondisi kenyang.
Sementara Andra sedang menghubungi paman dari istri nya.
"Iya Vin"
"Apa boleh Arin, Avin jemput paman?"
"Jemput ke negara A maksud nya?"
"Iya paman"
"Paman belum bisa memutuskan karena beberapa waktu lalu Arin sakit jadi paman akan tanya ke dokter dahulu ya Vin"
"Baik paman, Avin akan menunggu keputusan dokter dari paman"
"Baik mungkin saat makan siang paman hubungi kami lagi ya"
"Iya paman, terimakasih banyak paman"
"Tidak usah sungkan Vin"
"Iya paman"
Sambungan ponsel terputus, Andra menghela nafas karena ingin bertemu dengan kekasih halal nya saja harus terhalang kondisi. Semoga paman mengijinkan hanya itu harapan Andra.
BERSAMBUNG
__ADS_1