
Malam itu hujan gerimis mengguyur kota kembang, jalanan agak licin. Beberapa jam yang lalu ketika kakak adopsi dan mamah adopsi Camelia sedang berunding. Camelia yang sudah siap berdandan dengan anggun nan cantik meski sudah memiliki 2 orang anak tiba-tiba perut nya mulas. Entah karena kedatangan tamu bulanan atau pun nasib nya memang mujur.
Dia hendak kembali menuju kamar nya, namun Camelia melihat kedua pelayan yang sudah papah adopsi nya sewa. Tingkah mereka tidak mencurigakan namun Camelia tetap memilih untuk waspada. Dia juga melihat sepasang pelayan itu tidak nampak seperti pelayan pada umum nya, Camelia melihat dengan jelas sepasang pelayan itu membuka pintu ruang kerja milik mamah adopsi nya dengan gampang sekali meski sudah di lengkapi sistem alarm alami.
'Pasti semua rencana mereka akan gagal!'
Camelia yang parnoan tapi jeli dengan situasi, dia bergegas ke kamar nya. Beruntung sang suami meski kadang sakit-sakitan itu belum keluar menuju tempat jamuan pesta megah yang papah adopsi nya atur.
"Mas!"
Dengan lirih Camelia berkata lantas menahan lengan lelaki itu.
"Ada apa?"
Ucap suami nya itu.
"Jangan pergi, seperti nya ada yang merencanakan sesuatu"
"Merencanakan apa? Ayo kita laporkan pada papah saja"
Suami Camelia ini terbilang jujur dan menganut hukum papah adopsi nya, Rei.
"Dengarkan dulu, ini menyangkut kita mas, keselamatan kita ada di tangan mu, ikuti rencana ku"
Suami Camelia melihat istri nya memohon maka dia pun tidak tega karena baru kali ini istri nya bersikap demikian.
"Baik lah, apa mau mu?"
"Kita pergi dari sini, bawa anak-anak"
"Baik lah, kita ganti baju"
Beruntung anak-anak nya masih tidur belum di bangunkan karena mereka berjanji pada anak-anak agar tidur dahulu supaya mereka bisa menyaksikan pesta meriah sampai tuntas.
"Apa yang kalian lakukan?"
Ucap seseorang yang tadi nya ingin mengetuk pintu, tapi urung dia lakukan Karen pintu sedikit terbuka.
"Kak, ayo masuk"
Yang datang adalah istri dari Aditya, Camelia menceritakan semua nya. Wanita itu juga setuju, mereka harus segera pergi agar tidak terlibat karena mereka hanya peran pendamping saja.
"Kita keluar dari pintu samping saja menuju pagar belakang ya, aku sudah meminta asisten ku untuk membawa mobil keluarga untuk kita"
"Baik lah"
Mereka dengan cepat bergegas, ada yang mengawasi ada yang jalan ke pintu samping. Pergerakan mereka sangat cepat karena pesta besar itu banyak orang berlalu lalang di luar rumah.
"Ayo masuk"
__ADS_1
"Tuan mau saya supiri?"
Ucap asisten suami Camelia, namun lelaki itu menggelengkan kepala nya.
"Baik, selamat jalan tuan"
"Terimakasih"
Suami Camelia juga memberikan amplop untuk terakhir kali nya pada asisten nya itu. Cuaca seperti nya tidak mendukung malam ini sedikit gerimis yang bisa membasahi jalanan meski pun semlawur saja.
Jalanan menjadi agak licin karena menanjak menuju perkampungan di kota kembang, berkelok di temani jurang curam dengan jalan yang sempit. Jika tidak pandai menggunakan mobil maka bisa saja terpeleset, Camelia agak takut karena melihat samping jalan itu curam.
Cepat mas, aku takut nih"
"Sabar sayang ini malam, mas gak bisa ngebut nih kita juga bawa anak-anak"
"Tapi aku takut banget mas"
"Iya kamu tenang aja, tidak ada yang mengejar kita kok"
Camelia bersama suami nya memboyong kedua anak mereka serta istri dari kakak adopsi nya pergi menuju kota kembang tempat kelahiran sang suami.
"Jangan panik Came, suami mu nanti tidak fokus"
Akhir nya Camelia diam, karena jalanan yang berkelok-kelok hingga menuju kelokan terakhir ada tanjakan dan persimpangan ke jalan lain.
SRAATT....DUAARR.....
Tak berapa lama sirene ambulan membawa kelima korban kedalam ambulan. Darah berceceran di jalan itu, segera di bersihkan warga dan lain nya. Untung sudah agak malam jadi tidak ada banyak kendaraan yang berlalu lalang jadi lalu lintas tidak macet. Korban dibawa ke rumah sakit untuk di otopsi karena setelah polisi datang mereka tak ada satu pun yang selamat.
Polisi menelpon keluarga mereka satu persatu hingga ditemukan nomor ponsel milik Daddy Rei. Pagi buta polisi menyambangi kediaman Daddy Rei.
"Permisi!"
Art yang sedang membersihkan halaman segera menyahut.
"Ada yang bisa kamu bantu pak polisi?"
"Apa ini kediaman bapak Arei Rafiensah Aryandy?"
"Benar pak, ada apa ya pak?"
"Begini buk, bisa minta tolong panggilkan bapak Arei?"
"Sebentar ya pak, silahkan masuk dulu pak, mohon di tunggu pak"
"Baik Bu, terimakasih"
Kebetulan Daddy Rei baru ingin turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi namun dia terkejut kedatangan dua polisi lalu lintas itu.
__ADS_1
"Tuan"
"Ada apa bik?"
"Ada polisi tuan, menanyakan bapak"
"Oh, saya akan temui mereka buatkan minum saja bik"
"Baik tuan"
Daddy Rei menuju ruang tamu menemui kedua polisi itu.
"Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?"
Setahu Rei proses dari kasus Elian dan Aditya akan di proses besok, mengapa mereka datang sekarang pikir Rei.
"Selamat pagi pak Arei, maaf kami menganggu begini pak, di kota kembang tepat nya di pertigaan memasuki jalan menuju kota ada kecelakaan tadi malam sekitar jam 1 dini hari, ada 5 korban 3 orang dewasa 2 lain nya anak-anak, kami menggeledah tanda pengenal merek semua bertempat tinggal disini, jadi kami kemari ingin melaporkan bahkan korban kecelakaan tabrak lari itu semua meninggal di tempat pak sebelum kami datang"
Daddy Rei sempat kaget.
"Terimakasih pak, nanti asisten saya akan mengurus kelima jenazah itu pak ke rumah sakit"
"Baik lah pak terimakasih, ini alamat nya dan kami permisi"
"Baik"
Daddy sangat syok mendengar kabar itu, entah bagaimana Elian dan Aditya mendengar kabar ini.
"Iya pak"
"Kabari Elian dan Aditya jika anak, istri dan cucu nya meninggal karena kecelakaan di kota kembang semalam, tolong kamu urus jenazah mereka agar langsung dikebumikan tidak usah dibawa ke rumah saya, ini alamat rumah sakit nya xxxxx"
"Baik pak, turut berduka cita pak"
"Ya terimakasih"
Daddy Rei tak memikirkan kelima korban itu, karena Camelia berada diantara mereka. Daddy Rei tak ingin terlibat lagi dengan keluarga pembohong nya.
Ponsel nya bergetar tiba-tiba.
"Iya"
"Tim dokter sudah datang dari negara A tuan"
"Baik aku segera ke sana, kalian jemput ibu Amelia dari rumah sakit jiwa kemaren"
"Baik pak"
Rei bisa bernafas lega saat ini untuk sementara karena semua perlahan bisa sedikit diatasi.
__ADS_1
BERSAMBUNG