
Sore hari Aksara baru membuka mata ketika sinar jingga menerpa wajah. Sungguh cantik bak bidadari nya yang sedang berdiri di balkon dengan dress salem itu.
Warna jingga mempesona
Balutkan rindu ku pada nya
Dalam lembut Bayu
Ku coretka narasi indah
Kekasih kusulamkan manik cinta
Ku pahatkan nama mu
Dalam paling jiwa
Bak setiap malam yang kelam
Ku bisikkan doa pada Tuhan
Karena kau jantung hati
Yang terselip di sanubari
Aksara tersenyum renyah, memandang istrinya rambut cantik itu bergelombang tesentuh angin. Aksara bangkit lantas berjalan mendekati sang istri.
"Sedang apa?"
Dagu nya ditempelkan pada bahu terbuka istri nya.
"Sudah bangun?"
"Ditanya kok balik tanya?"
"Bosan"
Lirih Cinta.
"Beberapa hari lagi kita akan pulang, sabar ya"
"Baik lah"
"Sekarang mo apa?"
"Pengen yang seger"
"Mau jus mangga?"
"Pengen rujak"
"Jangan makan yang pedes"
"Cuma pengen liat penjual rujak"
"Buat apa?"
"Kan tidak bisa beli rujak nya"
Aksara mengerutkan kening nya, masuk akal mungkin ingin lihat saja.
"Lagi pula kn ini namanya ngidam"
Lirih Cinta, yang masih di dengar oleh telinga Aksara. Aksara tersenyum manis mengusap puncak kepala istrinya.
"Semua sudah selesai sayang jangan khawatir"
"Baik lah"
Aksara agak aneh juga, melihat istri nya tanpa reaksi seperti ini.
Aksara membawa kursi roda untuk istri nya.
"Kita mau kemana byy?"
"Ke restoran sekalian jalan kata nya bosen"
"Iya"
Cinta tersenyum manis sambil sesekali mengelus lengan kekar sang suami nya.
'Semua sudah berakhir, kita akan segera berkumpul dan menjadi satu sayang'
Cinta bergumam sambil mengelus perut nya yang buncit.
Mereka makan di restoran yang menyajikan makanan sehat khusus ibu hamil.
"Bagaimana enak?"
"Enak"
Aksara tersenyum.
"Lusa kita bisa pulang"
"Benar kah?"
__ADS_1
"Iya, byy ada kejutan untuk mu"
"Apa itu?"
"Rahasia dong"
Mereka melanjutkan makan karena waktu hampir sore, sudah 2 jam juga mereka di restoran itu.
"Ayo kita pulang"
40 menit mereka sudah di ruang rawat kembali.
Drrttt......ddrrttt.
"Iya, baik lah aku segera datang"
"Ada apa?"
"Sayang, byy mau keluar sebentar ya"
"Baik lah, hati-hati di jalan"
"Byy pergi ya"
Aksara segera meninggalkan ruang rawat, dia meninggalkan Melki bersama istri nya juga beberapa pengawal handal.
Aksara tiba di penjara bawah tanah nya, lantas memasuki ruangan yang berbau amis darah itu.
Cetaakk.....
Seketika ruangan terang benderang, nampak beberapa tulang kering, tubuh yang sudah menjadi mayat bahkan disana ada tubuh kurus kerontang yang menempel ditembok.
"Bagaiman rasanya?"
"Kau....kau Wicaksara"
"Benar ini aku, Karenina?"
"Lepaskan aku kau bisa menemukan Sheyla tapi kau tidak akan menemukan bayi kembar mu"
"Terserah kau mau apa?"
"Kau akan menyesal karena kau sudah menyiksa ku!"
"Aku tidak membunuh mu, karena kau sedang hamil nak Kearo, kalau tidak kau sudah ku raibkan!"
Karenina kini hanya bak tulang belulang saja, kurus kering lagi berlumuran darah karena cambukan yang anak buah Aksara berikan.
"Urus kasus nya dan berikan ke kantor polisi"
"Baik tuan"
KRAAKK.....
"Ada apa ini?"
Aksara kaget karena semua barang berantkan, juga ada bau yang menyengat dengan kadar bius yang berlebih.
"Kenapa tuan?"
"Dari mana kau?"
"Saya membeli makanan untuk nyonya tuan"
"Cepat panggil dokter"
"Baik"
Melki segera berlari turun ke bawah, Aksara membuka semua jendela dengan lebar, termasuk menyalakan AC dengan kencang.
"Sayang....sayang bangun lah, sayang"
"Tuan dokter sudah datang"
"Disini bau obat bius sangat menyengat, ini dosis tinggi tuan"
"Cepat periksa istri ku dokter"
"Baik, harap minggir dulu tuan"
"Baik"
Dokter dengan sesegera mungkin memeriksa nya, mengantisipasi nya.
"Bagaimana dokter?"
"Untuk jendela nya di buka, AC dinyalakan dengan segera karena jika terlambat 5 menit lagi istri dan juga bayi-bayi anda akan jadi korban"
"Syukur lah dokter"
"Setelah diberikan oksigen maka 1 jam lagi istri anda akan sadar"
"Baik"
Para tim dokter sudah berlalu dari ruang rawat Cinta, kemudian Aksara duduk di sofa. Hampir saja tadi nyawa nya tercabut paksa, karena Cinta dalam keadaan bahaya.
__ADS_1
"Tuan"
"Bagaimana awal nya?"
Melki menunduk diam, Aksara paham cerita nya jika begini.
"Maaf tuan"
"Ceritakan saja"
"Sesaat setelah tuan pergi saya berjaga di kursi ini, lantas nyonya mendapat telepon"
"Telepon rahasia maksud mu?"
"Saya tidak jelas, karena tiba-tiba nyonya turun dari ranjang dan menuju balkon ketika mengangkat telepon tersebut"
"Lalu"
"Dari suara nya itu lelaki"
"Lalu"
"Sekitar 20 menit nyonya hanya mendengarkan orang itu berbicara, hanya mengangguk saja setelah nya dari balkon menyuruh ku untuk membeli makanan karena nyonya merasa lapar, dia menyuruh saya ke restoran itu, saya sudah mengusulkan agar tangan kanan Dino yang pergi tapi nyonya menolak, dia menginginkan saya yang membeli karena dia sedang ngidam, tapi kata nya sangat risau"
"Ada yang lain"
"Tidak tuan karena saya berlari ke restoran itu dan membayar makanan 3 kali lipat dari harga agar lebih cepat"
"Buang saja makanan itu"
"Baik tuan"
Melki hendak beranjak, namun segera berbalik menuju tuan nya kembali.
"Saya menerima hukuman saya tuan"
"Baik"
"Saya pamit berjaga di luar tuan"
"Ya, panggil juga Dino agar kemari"
"Baik tuan"
Berselang 2 jam kemudian Dino datang dengan pasukan khusus mereka.
"Tuan"
"Jemput semua keluarga ku di bandara antarkan sampai rumah dengan selamat"
"Baik tuan"
Mereka segera menuju bandara untuk menjemput kedua orang tua Aksara.
"Ada apa sebenar nya?"
Aksara mengelus kepala istri nya yang tertidur terkena obat bius. Tim dokter datang untuk memeriksa dan mengganti infus.
"Bagaimana dokter?"
"Sudah normal tuan, nyonya sedang tertidur!"
"Baik"
Benar saja yang dokter katakan jika istri nya 1 jam lagi bangun, tubuh dengan perut buncit itu mulai bergerak lantas perlahan membuka mata.
"Sudah bangun?"
Cinta tersentak mendengar suara suami nya, lantas dia sedikit ingin bangun. Aksara segera mendekat membantu istri nya untuk duduk karena kesulitan dengan perut nya.
"Bagaimana rasa nya?"
Cinta hanya mengangguk.
"Makanan yang Melki beli sudah dingin, jadi byy belikan yang baru untuk mu"
Cinta melihat sekilas makanan yang dia suruh Melki pesan.
"Buka mulut nya?"
Cinta membuka mulut nya, mengunyah dan menelan nya. Terasa kering melewati tenggorokan nya.
"Minum dulu ya"
"Terimakasih, aku sudah kenyang"
"Kenapa?"
"Aku sudah kenyang"
Aksara memandang Cinta, namun istri nya menundukan kepalanya.
"Katakan apa yang terjadi?"
Namun bukan nya menjawab Cinta malah menangis tersedu-sedu. Aksara segera memeluk wanita berperut buncit itu, dan juga menenangkan nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.