
"Lelah nya"
Rei telah berkutat sepanjang siang dengan laptop, mata nya lelah. Dia sedikit merebahkan tubuh nya di sofa.
Min segera mandi karena sore ini, si om akan mengajak nya untuk jalan-jalan di sore hari.
Klek.
"Sudah mandi?"
Min mengangguk dengan pasti lantas tersenyum simpul. Min mengenakan atribut casual, celana bahan diatas lutut berwarna abu-abu dengan kaos oblong berwarna putih yang adem dan menyerap keringat.
"Kita mau kemana?"
"Ke pantai"
"Oh"
Min menambahkan topi untuk aksesoris juga tas slempang kecil. Rei pun demikian hanya memakai celana bahan yang lentur panjang berwarna senada dengan celana milik Min.
"Ayo"
Mereka berjalan menaiki mobil untuk menuju resort.
"Ini resort milik kakek ku"
Min mengangguk.
"Lalu kakek dimana?"
"Dia sudah meninggal 15 tahun yang lalu"
Min menengok kan wajah nya, dia melihat kesedihan yang mendalam dalam raut wajah lelaki di samping nya ini.
"Maaf, aku tidak tahu jika kakek nya om sudah tiada"
"Tidak apa, sewaktu kakek meninggal kau mungkin baru berumur 3 tahun"
Min melihat lelaki itu terdiam pandangan nya lurus seolah hidup ini ada di genggaman tangan nya.
"Hidup memang penuh lika-liku om, Min juga begitu dengan mamah, Min tidak pernah ingat wajah papah"
Rei melirik Min.
"Apa papah mu tidak pernah menjenguk mu?"
Min menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
"Mamah bilang papah sudah tiada karena longsor saat Min berusia setahun"
Rei terdiam, dia tahu itu hanya karangan sang mamah dari gadis disebelah nya ini.
"Benarkah?"
Min mengangguk.
"Papah hanya pegawai kecil sebuah perusahaan jadi dia tidak punya tunjangan, sedangkan kak Herdan di sekolahkan oleh sepupu dari papah yang tidak memiliki keturunan"
Ucap Min dengan penuh kesungguhan.
'Eh, seperti nya gadis bodoh ini sangat mendewakan sang mamah, sudah lah'
Gumam Rei dalam hati.
"Sudah sampai"
"Wah indah sekali, aku ingin main di pantai"
"Pergi lah"
Min berlarian menuju pantai yang indah itu. Dalam warna jingga di ufuk barat dan semilir angin yang membentangkan kesejukan, Min seakan merasakan perasaan yang bahagia lagi damai.
Rei mendekat pada Min, dia duduk disebelah batu karang yang diduduki, Rei mengelus kepala gadis cantik disisi nya itu. Semakin lama Rei semakin mendekatkan wajah nya ke wajah Min, bibir mereka saling menempel. Entah siapa yang memulai duluan mencecap bibir lawan nya, namun terlihat sangat intim. Bahkan tangan Rei sudah menjelajah kemana-mana.
Suasana resort yang sudah tidak ada pengunjung disana, senja beranjak petang membuat Rei semakin leluasa melakukan aksi nya. Bahkan dia merebahkan istri nya di bebatuan karang itu, melanjutkan aksi nya yang semakin menggebu saja.
Rupanya cumbuan yang dilakukan Rei di bebatuan karang di pinggir pantai tadi berlanjut hingga ke dalam kamar. Dia bahkan sudah melucuti semua pakaian yang ada di tubuh Min. Min merasakan hawa dingin menyentuh kulit nya, gadis itu segera menahan dada Rei yang sudah berada diatas tubuh nya.
"Om....jangan"
Lirih nya.
"Kenapa, hem?"
Rei yang sudah terbakar gairah dan nafsu yang memuncak itu bertanya dalam keadaan yang dia sudah siap tancap gas.
"Kita....kita"
"Aku menginginkan mu sekarang, apa kau tidak menyukai ku?"
Sambil terus memberikan rangsangan pada gadis itu, Rei berkata.
"Aku ....aku"
Min bimbang di buatnya, namun memang sejak pertama berjumpa dengan lelaki yang saat ini berada diatas tubuh nya ini dia sudah jatuh hati.
__ADS_1
Rei tersenyum smirk, merasa istri gadis yang berada di bawah Kungkungan nya ini sangat imut saat ini. Disaat Min sedang bimbang dengan pikiran nya, Rei sudah menyatukan semua milik nya kedalam diri Min.
"Ahhhh......om!"
Min sempat merintih Bahkan menjerit namun secara naluriah Rei menenangkan gadis yang dia gauli itu. Hingga Rei dapat bermain sesuai keinginan nya dan Min hanya menerima perlakuan lelaki itu yang membuat jiwa dan raga nya melayang berkali-kali.
Hingga menjelang pagi, Rei baru selesai dengan kegiatan panas mereka berdua. Rei melepas diri nya dari diri istri nya, Rei berguling kesamping ranjang yang kosong disebelah gadis yang baru saja menjadi wanita sempurna itu.
"Ternyata kau masih perawan, memang seorang prawan sangat nikmat sekali meskipun harus menerobos nya berulang kali"
Rei berkata demikian dengan tersenyum smirk, sementara gadis yang baru menjadi santapan nya terkapar di ranjang setelah terjadi gempuran tiada henti pada diri nya itu.
Rei bergegas mandi dengan bersih lantas mengambil sebotol minuman untuk dia tenggak, menyalakan sebatang rokok mahal nya sambil melihat tubuh gadis yang sedang terpulas dengan rambut berantakan itu.
"Herdan, bunga cantik mu sudah ku petik dan ku hisap habis, ha....ha"
Rei tertawa, seraya bertepuk tangan untuk menyoraki diri nya yang sudah berhasil dalam sebuah misi.
5 jam kemudian Min membuka mata nya, jiwa nya belum terkumpul semua nya. Dia masih linglung dan bangun begitu saja, ketika duduk badan nya terasa sakit semua.
'Kenapa badan ku sakit semua?'
Gumam nya dalam hati.
Sementara Min tak menyadari selimut yang dipakai nya jatuh ke pangkuan nya.
"Sexy, apa masih mau menambah adegan yang semalam"
Min memandang ke arah samping, melihat lelaki berjubah handuk saja duduk dengan kaki menyilang. Min juga ikut memandang kearah yang jadi objek tatapan lelaki itu dengan aneh.
"Ahhh......."
Min segera menutup bagian atas tubuh nya yang terlihat, sementara Rei tersenyum senang. Min kini sudah mengingat kejadian semalam dan menundukkan wajah nya, Rei dengan segera duduk di samping Min.
Tak lama mereka bertatapan hingga terjadi kembali adegan semalam dalam 2 jam. Badan Min sangat lelah hingga terlelap kembali sehabis bertempur di Medan laga kolosal ciptaan Rei.
Rei dengan segera mandi dan memakai pakaian nya kembali, dia sangat fresh dan sangat bertenaga. Lelaki itu memesan beraneka macam makanan juga sup untuk pengembali tenaga untuk istri belia nya.
Rei makan terlebih dahulu supaya lebih kuat saat senjata rudal angkasa penembus petir nya itu bangun. Sesekali Rei melirik korban dari senjata nya, jangan sampai hancur karena selalu dia serang bertubi-tubi dan tanpa ampun.
Meski Min sangat kalem namun ketika bergulat wanita itu selalu mengeluarkan cakar besi nya dan lagi taring naga nya selalu mengoyak punggung Rei ketika saat senjata penghancur petir nya itu menembak ke sasaran yang tepat.
"Ganas juga, aku harus segera memotong senjata nya itu, kalau tidak tubuh ku pasti memar semua kan tidak lucu"
Rei menggelengkan kepala nya, 3 porsi steak, salad, 2 gelas jus habis ditenggak tak bersisa.
"Kenyang nya, mantap"
__ADS_1
Rei melihat seluruh Resort nya dari dalam kamar itu, sekaligus mengawasi jika-jika terjadi kerusuhan di resort nya.
BERSAMBUNG.