TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.184


__ADS_3

"Tuan sudah pulang?"


"Iya, cepat siapkan makan malam, aku makan di rumah"


Rei masuk ke dalam villa, disana ada bibi Annete yang sedang menyiapkan bahan masakan di dapur.


"Annet, masak apa menu malam ini?"


"Ada sup ikan, nasi bakar dan aneka lauk tuan"


"Oh, bagaimana luka nyonya"


Annete terdiam, karena dia sendiri juga tidak tahu.


"Tadi pagi sudah diobati, hari ini pasti akan sembuh lagi pula hanya luka kecil tuan"


Rei terdiam mendengarkan perkataan Annete, dia tersenyum miring lantas berlalu menuju keatas kamar nya.


"Apakah dia sedang memerankan petak umpet kucing liar dengan ku"


Gumam Rei dalam pijakan demi pijakan menaiki tangga villa nya, sementara hujan makin deras nya di luar.


Klek.


Kamar terlihat rapih, seprei putih di ganti menjadi warna monokrom. Bahkan bekas apa pun tidak ada, baik sampah atau seprei semalam. Rei berjalan menuju sofa, bahkan sofa itu sudah dingin, kemana gadis kecil yang kemaren malam meringkuk seperti kucing itu.


"Sudah lah mungkin dia sedang berada disudut villa yang lain"


Rei menenggak wine yang dia keluarkan dari lemari hias nya, duduk di sofa yang selalu istri gadis nya tiduri.


Min sudah selesai dengan laporan yang Elian berikan, tepat 2 jam setelah jam pulang kerja. Sementara di luar terlihat hujan deras yang sudah 2 jam lalu terjadi tanpa sedikit pun ada tanda-tanda akan berhenti.


"Kenapa masih deras?"


Min mengintip kearah jendela kantor nya, sementara sudah sepi. Hanya beberapa karyawan di bidang design perencanaan yang masih tersisa karena jam kerja mereka tidak tentu hanya menghasilkan sebuah ide untuk perusahaan.


"Kau dari bidang mana? kenapa belum pulang?"


"Saya ada tugas yang diberikan atasan"


"Semua karyawan sudah pulang kecuali bidang kami, tidak ada tugas tambahan, apa lagi semua tahu jadwal hujan topan malam ini"


Min berpapasan dengan lelaki tampan itu ketika dia hendak ke toilet.


"Aku Andreas Wirasta, kamu siapa nama mu?"


"Jasmin panggil saja Min, aku pegawai baru disini"


"Oh, kalau mau pulang 10 menit lagi akan reda, tapi harus cepat ya, ku pesankan ojek online saja bagaimana?"


"Baik pak, terimakasih"


"Jangan panggil pak, jabatan kita sama, hati-hati dijalan ya"


"Baik lah, terimakasih ya"

__ADS_1


Andreas mengangguk dengan senang, lantas kembali ke kantor nya.


"Gadis yang imut sekali"


Ada getaran aneh yang Andreas rasakan, selama ini dia hanya menekuni study nya tanpa ingin mengenal seorang gadis. Namun gadis ini berbeda bagi nya, mungkin gadis ini pengecualian untuk nya.


"Kalau berjodoh juga tak akan kemana kan?"


"Apa nya yang berjodoh?"


"Paman mengagetkan ku saja"


Paman dari Andreas adalah ketua divisi yang Andreas tekuni saat ini.


"Anak muda mulai jatuh cinta rupa nya"


Sang paman menuju pantry untuk membuat kopi.


Min segera berkemas untuk pulang ke villa, ojek yang dipesan sudah menunggu nya di depan lobi perusahaan itu.


"Ayo mang kita berangkat, ke alamat ini ya"


Sang ojek pun mengangguk, lantas berangkat membawa penumpang nya itu. Sekitar 1 jam mereka sampai di jalan villa, namun jalan itu menanjak, tukang ojek mencoba menaiki jalan meskipun sangat licin. Terlihat mesin motor menarik dengan keras beban yang dibawa nya.


"Non seperti nya motor mamang tidak kuat"


Ucap tukang ojek itu.


"Iya ya mang, jalan nya licin lagi menanjak"


"Ya sudah turun disini saja mang, ini ongkos nya"


"Terimakasih non, hati-hati ya berjalan naik nya"


"Iya mang, terimakasih"


Tukang ojek segera pergi, sementara Min berjalan perlahan sendirian. Saat ini tidak hujan namun gerimis saja, lagi pula waktu sudah malam sekitar jm 10 malam kalau Min tak salah menebak.


"Akhir nya sampai juga"


Scurity gerbang segera membukakan gerbang untuk Min.


"Nyonya baru pulang"


"Iya pak"


Min melihat mobil mewah milik Rei di parkir di halaman villa. Villa terlihat gelap, mungkin sebagian pekerja yang ada di villa sudah beristirahat.


Min memiliki kunci villa, di membuka pintu utama sendiri. Min tidak tahu jika sesosok tubuh tinggi tegap memperhatikan nya dari lantai tiga villa itu. Sosok itu menyeringai dengan ganas nya saat Min melangkah memasuki villa.


"Lelah sekali"


Baju kerja yang Min kenakan sedikit basah karena harus berjalan 20 menit menuju villa.


Min menuju dapur mengambil air hangat agar dingin segera pergi.

__ADS_1


"Dari mana?"


Rei tiba-tiba sudah muncul dihadapan gadis itu, Min sedikit kaget namun segera bersikap normal.


"Dari kantor tuan"


"Selarut ini?"


Rei mendekat, mengelus punggung gadis itu, terasa beberapa benjolan namun jika di lihat dari luar maka akan normal saja.


"Apakah luka kecil mu sudah sembuh?"


Rei berkata demikian sambil menekan tubuh Min ke tembok, Min terlihat mengepalkan tangan nya guna menahan sakit luka cambuk itu.


"Agak mendingan tuan, terimakasih"


Rei tersenyum miring.


"Mandilah, aku tidak mau kamar ku bau amis darah juga sofa kesayangan ku tidak boleh ada noda dari mu"


"Baik"


Min segera mengambil air panas untuk menyeduh mie cup nya, dengan cepat Min makan setelah nya meminum obat anti nyeri juga obat demam nya. Min memasuki kamar tempat Rei tidur, Min mengambil baju di dalam koper nya. Min mengelap tubuh nya serta mengganti obat nya dikamar mandi.


"Selesai juga"


Min membungkus bekas perban lalu keluar ke belakang villa untuk membuang dan langsung membakar nya di pembakaran sampah.


Min masuk kembali ke kamar, dia ingat jika Rei tidak suka sofa nya terkena noda. Min mengambil selimut tebal dalam koper nya, membentangkan nya untuk alas tidur. Min mencari tempat agar tidak mengganggu ruang gerak Rei dalam kamar itu. Min memakai baju tebal karena kamar milik Rei menggunakan AC, Min tidak memakai bantal hanya bertumpukan tangan saja.


Sementara Rei tidak peduli akan apa yang dilakukan gadis itu, dia tidur di ranjang nya dengan nyaman.


Pagi segera datang, Rei membuka matanya melihat gadis itu tidur di pojokan yang tidak membatasi pergerakan nya di kamar itu. Lagi pula istri gadis nya tidur dengan beralaskan selimut nya sendiri dan hanya bertumpu pada tangan nya saja.


"Bagus lah"


Rei bergegas mandi, lantas memakai pakaian kerja nya. Dia melihat gadis itu sudah tidak ada di tempat semula, Rei segera turun ke lantai bawah untuk sarapan.


"Dimana nyonya?"


"Nyonya sedang mandi di kamar tamu tuan"


"Bilang saya berangkat"


"Baik tuan"


Rei hanya melirik sarapan yang banyak itu, lantas pergi begitu saja. Min selesai mandi, dia buru-buru ke meja makan yang kosong. Hidangan yang dia buat masih utuh tanpa tersentuh.


"Paman James, semua nya bungkus di kotak makan ya, jus nya juga masukkan ke botol saya mau bawa"


"Baik nyonya"


Min tidak pernah sakit hati jika masakan nya tak sekali pun dimakan atau hanya dicicipi oleh Rei.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2