TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.394


__ADS_3

Rindi sudah menyelesaikan semua persiapan nya meski terburu-buru. Dia bergegas untuk menjemput ketiga pangeran tampan nya lantas sekalian pamit pada guru-guru mereka.


Rindi datang 30 menit lebih awal untuk menjemput ketiga balita nya itu. Dia segera bergegas menemui kepala taman kanak-kanak tersebut.


"Selamat siang nyonya, apa yang bisa kami bantu?"


"Maaf boleh saya mengajukan pengunduran diri ketiga putra saya"


Kepala taman kanak-kanak itu heran karena diri nya ketiga kembar itu tidak nakal atau ada masalah dengan teman nya itu.


"Apa ada masalah serius nyonya?"


Rindi langsung menggelengkan kepala nya.


"Lalu?"


"Jadi salah satu keluarga saya berada di negara Z, dia sudah tua karena saya meninggalkan nya cukup lama untuk hidup hanya berempat saja, dia sedang sakit jadi kami akan pulang ke negara Z"


Kepala taman kanak-kanak mengangguk tersenyum.


"Baik lah kalau demikian, kapan kalian akan pergi ke negara Z?"


"Nanti malam tentu nya"


"Baik lah, ini surat untuk ketiga nya"


Kepala taman kanak-kanak itu memberi 3 cap pada 3 lembar kertas yang di sodorkan nya itu.


"Terima Kasih ibu kepala, maaf saya membuat anda tak nyaman"


"Oh tentu tidak nyonya"


Rindi segera bergegas menuju gerbang untuk menjemput anak nya yang akan keluar dari kelas mereka.


Benar saja 10 menit kemudian dia akhir nya menjumpai anak-anak nya yang berlarian menuju kearah nya.


Mereka berebut untuk memeluk ibu mereka yang sudah tersenyum merentangkan kedua tangan nya.


"Abang, mas, adek tidak kebagian"


Mas dan Abang nya itu seperti nya sengaja ingin mengerjai adik cengeng nya.


"Sini jangan nangis dong"


Terlambat air mata bocah bungsu dari 3 bersaudara itu sudah menetes, suara nya mulai keluar.


"Cengeng.....!"


Ucap bocah sulung itu.


"Manja......!"


Ledek Abang nya, seraya bersedekap di dada.


"Ayo cepat naik ke mobil duduk dengan rapi hari ini kita makan di luar"


Mereka saling pandang lalu hip hip hore bertiga, segera masuk ke mobil dan duduk sesuai posisi nya.


Dengan cepat mereka bertiga para krucil tampan itu menempati kursi mobil sang ibu dengan tertib dan menurut.


"Ayo kita makan di restolan"


Ucap si bungsu yang sangat bahagia.


"Ingat pakai sabuk pengaman mu"


Ucap Rindi pada ketiga anak nya itu, lantas mereka segera menurut. Mobil membelah jalanan menuju ke pusat perbelanjaan.


Tak berapa lama mereka sudah sampai hanya 45 menit saja.

__ADS_1


"Ayo turun yang tertib jangan berebut"


"Oke mommy"


Si sulung turun dengan santai nya lalu membuka pintu di dekat si bungsu, sang mommy mendekat lalu menggandeng mereka bertiga.


"Jangan ada yang terpisah dari mommy ya"


Dengan segera Rindi menggendong si bungsu, lalu Rindi mengikat di sulung dengan ikat celana nya lantas si Abang dia gandeng dengan tangan yang bebas.


"Ingat kalau di keramaian jangan suka ngelamun ya"


"Oke mommy"


"Kita mau makan apa nih?"


"Aku mau mie"


Ucap si bungsu mengacungkan jari telunjuk nya.


"Tidak boleh nak, harus makan nasi"


"Ote...."


Rindi menuju ke sebuah tempat makan keluarga, dia memesan menu makanan yang sehat untuk ketiga perut kecil putra kembar nya.


Tak berapa lama mereka sibuk membersihkan tangan dengan tissu, karena makanan mereka sudah datang.


"Ayo dimakan ya"


Mereka bertiga mengangguk lantas menyantap makanan yang tersedia di meja meski itu hanya 2 porsi karena perut mereka kecil.


"Adek sudah kenyang"


"Loh itu kan masih banyak dek"


"Dah kenyang, mau puding"


"Ote bunda"


Mas dan Abang sudah tidak heran dengan tingkah aneh si bungsu yang lebih dulu memakan makanan yang di sukai nya, di kira takut di rebut.


"Ayo nasi nya di makan lagi ya"


Ucap Rindi lembut.


Si bungsu langsung dengan rakus memakan nasi di piring nya yang tinggal 2 sendok saja.


Ketika kedua kakak nya memakan puding, si bungsu hanya melihat nya sambil menelan ludah saja.


"Makan punya bunda sayang"


Si bungsu menoleh pada bunda nya, lantas tersenyum dan mengambil jatah puding milik bunda nya.


"Dia sendok saja ya sayang"


Sambil mengelus kepala bocah itu, si bungsu mengangguk meski agak manyun.


"Ah, kenyang"


Ucap si Abang putra kedua Rindi itu.


Mereka telah selesai makan siang dengan lahap nya.


"Nah ada yang mau mamah bicarakan dengan kalian"


Rindi melihat ketiga putra nya intens lantas mereka pun melihat sang ibunda dengan intens pula.


"Mamah di suruh opa pulang"

__ADS_1


Lirih Rindi pada ketiga anak nya.


"Opa sakit ya mah?"


Rindi mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu kita pulang saja"


Ucap si sulung menambahi sementara si bungsu hanya terdiam.


"Tapi kita tidak akan kesini lagi selama nya, kita tinggal sama opa sampai kalian dewasa nanti"


Mereka nampak berpikir, sementara si bungsu hanya terdiam saja.


"Mas tidak masalah"


"Abang juga"


Kini Rindi menantu jawaban si bungsu yang hanya diam mengaduk bekas makan nya.


"Dek, itu di tanya mommy?"


"Adek ikut saja"


Ucap nya sambil menundukkan kepala nya.


Rindi memperhatikan si bungsu nampak sedih sekali.


"Bunda janji jika kalian libur sekolah bunda ajak Ade liburan kesini mau?"


Si bungsu langsung mendongak dan mengangguk sambil tersenyum kepada bunda cantik nya.


"Adek punya banyak teman ya?"


Si bungsu mengangguk langsung.


"Kapan kita berangkat?"


"Nanti malam sayang"


"Bagaimana sekolah kita?"


"Mommy sudah ijin kalian mengundurkan diri"


"Ya sudah mas ikut mommy saja"


"Sudah kirim pesan kita akan pulang nanti malam mah?"


"Sudah dong nanti mamah kabari juga kakek"


"Memang kita punya kakek Bun?"


"Punya dong kalian nanti akan bertemu dengan saudara dari bunda sayang"


Mereka saling pandang dan tersenyum.


1 jam mereka sudah sampai di hotel mewah yang selama 6 tahun Rindi tempati.


"Ayo kalian harus segera mandi dan bersiap untuk ke bandara, 1 jam lagi taksi kita sudah datang ya"


"Oke mommy, mamah, bunda"


Ucap ketiga serempak lalu pergi ke kamar mandi bersama. Benar saja tak si sudah menunggu di depan hotel untuk mereka pergi ke bandara, dan 1 jam di bandara menunggu mereka sudah mengudara di sore hari.


Tiga balita tampan itu nampak duduk dengan tenang meski baru pertama kali naik pesawat saat ini.


Mereka semua keluarga Alkatiri menuju ke tempat pemakaman keluarga, lantas bersama-sama menghadiri pemakaman sang Oma.


Semua anak, cucu dan kerabat saling berduka. Ada beberapa wartawan ikut meliput eksklusif di siaran televisi nasional berbayar mereka.

__ADS_1


Beberapa kali mereka juga menyorot generasi ketiga dan keempat Alkatiri yang nama nya tersohor di penjuru negeri.


BERSAMBUNG.


__ADS_2