TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.246


__ADS_3

Kini Andra sedang berada di panti khusus orang tua yang kesepian. Dia melihat wanita paruh baya itu sedang memandang lurus taman bunga di depan nya itu. Begitu lama Andra berdiri memperhatikan wanita itu Amalia, dia wanita yang lembut penuh kasih dan baik hati. Kini wanita itu sebagian wajah nya kulit nya terkelupas.


Wanita paruh baya itu menengok kebelakang, lantas tersenyum pada diri nya. Dengan terseok-seok menghampiri diri nya.


"Nak kau sudah datang?"


Mengelus serta memeluk tubuh Andra. Andra hanya mengangguk, lantas wanita itu mengeluarkan sapu tangan yang sudah disulam huruf A.


"Ini ibu jahitkan untuk mu yang berwarna hitam sedangkan kakak mu yang berwarna kuning, lihat ini inisial nama kalian"


Andra mengangguk, lalu menyimpan kedua benda itu, Andra juga membawakan buah kesemek kesukaan wanita yang menamai diri nya ibu itu.


"Warna nya sangat merah, semerah bulan waktu malam itu"


Pukkk.....


Andra menepuk bahu wanita itu.


"Ibu tahu, ibu tidak sedih, ibu tidak menangis"


Andra mengisyaratkan tangan nya di dekatkan ke mulut yang arti nya menyuruh wanita itu untuk memakan buah yang dia bawa.


"Baik ibu mengerti, ibu pasti memakan nya habis"


Andra mengangguk, Andra segera memegang tangan wanita itu. Tapi untuk kesekian kali nya wanita itu menolak.


"Pergi lah, kau masih muda, jangan khawatir ibu akan menjaga diri disini, tenang saja ibu tidak akan nekad"


Andra segera mencium tangan wanita itu tanda dia sayang pada seorang ibu.


"Hati-hati di jalan nak"


Andra mengangguk, dia segera meninggalkan tempat asuhan khusus orang aneh yang dia bangun itu.


"Tuan"


"Perketat penjagaan untuk ibu Amalia"


"Baik"


Andra sudah merawat wanita sebatangkara itu dengan uang yang dia hasilkan dari misi, meski pun sang Daddy menyarankan agar di asuh oleh panti jompo. Andra tidak setuju dengan pemikiran Daddy Rei, dia tidak pernah percaya pada lelaki itu.


Andra segera pergi ke perusahaan nya untuk memeriksa semua pekerja.


Sementara di rumah besar keluarga Mukti terjadi kegaduhan yang sangat besar, bagaimana tidak nona besar keluarga Mukti semalam pulang clubing dalam keadaan teler dan lupa identitas.


"Papah jangan marah pada kakak?"


"Jangan marah kau bilang mah!"


"Kakak kan wanita dewasa, tentu dia melayani klien, jadi wajar salahkan saja karir nya yang meroket"


"Baik lah kali ini masih papah ampuni"


"Tidak usah urusi kakak, ada asisten nya, kita urusi saja si bungsu"


"Kenapa dengan Rindi?"


"Keluarga Braja ingin kita menghadiri makan malam dengan keluarga mereka besok, kata untuk keakraban dan saling mengenal antara calon pah"

__ADS_1


"Terima saja, bawa Arindi untuk berdandan, papah ke kantor nanti ketemu direstoran tempat acara saja"


"Oke"


"Ini kartu limit milik papah, pakai saja buat keperluan Arindi, mah"


"Sip pah, tenang saja nanti anak kedua mu akan mamah dandani seperti wanita dewasa"


Melina tersenyum manis, dia bisa juga ikut belanja perhiasan mahal untuk sekedar pamer pada geng sosialita nya.


"Semoga selalu begini, sebaik nya aku ke kamar si bungsu buat bawa dia ke salon"


Melina segera naik ke lantai atas yang rata-rata ruang kerja, perpustakaan dan hanya satu kamar yang di huni yaitu kamar milik Arindi.


Tok....tok....tok.


Pintu kamar Arindi diketuk dari luar, Rindi baru saja mandi pagi. Di sudah berpakaian lengkap namun malas untuk turun kebawah sarapan atau apa pun.


Rindi pura-pura tidak dengar dia memasukkan headset ke telinga nya itu. Meski tidak peduli namun pintu terus menerus diketuk.


"Masuk"


Kreekk......


Pintu kamar Rindi terbuka, senyum culas dan licik terpampang di wajah paruh baya itu.


"Sayang sudah bangun ya?"


"Iya mah"


"Kok anak gadis males sih, temenin mamah ke salon yuk"


"Yah, mamah ada arisan sama papah nih nanti malam, kakak kan mabuk karena menjamu klien, papah sibuk, tadi papah berpesan buat kamu nemenin mamah loh"


Rindi terdiam.


'Rubah tuan ini, bisa nya buat kesal saja'


Gumam Rindi dalam hati.


"Sayang kok bengong?"


"Indy ganti baju dulu ya mah"


"Eh, tidak usah ganti baju sayang, ini saja supaya cepet, mamah buru-buru loh"


"Oke deh, mamah turun dulu"


"Cepet ya"


Baammm...


Pintu kamar tertutup nampak wanita itu menuruni tangga.


"Sendiri nya kaya Mak jenglot kalau dandan, giliran aku anak muda disuruh dandan kaya babu nya"


Gerutu Rindi.


Rindi turun dengan kaos oblong putih tidak transparan, celana bahan coklat tuan, sepatu sport putih dan topi pantai nya saja.

__ADS_1


"Ayo mah"


"Ih, anak mamah cantik tanpa make up nih, apa ini aura-aura mau jadi manten ya"


Rindi tidak menanggapi, mang Ujang selaku supir hanya tersenyum geli karena ucehan majikan tua nya sedangkan si anak tidak perduli.


"Ayo jalan, Jang"


"Baik nyonya"


Mobil melaju di jalanan yang agak padat, karena ini mau menjelang jam makan siang para pegawai kantor.


"Macet kah mang?"


"Iya non, agak padat"


"Kita mau kemana sih mah?"


"Toko perhiasan langganan mamah lah sayang"


"Loh bukan nya toko langganan perhiasan milik keluarga Alkatiri sudah terlewat ya nyonya"


"Diam! toko langganan ku banyak, bukan itu saja"


"Oh, kirain hanya disana"


"Kan sudah saya kasih alamat nya ke kamu, tinggal nyetirkan beres, supir kok cerewet amat"


Mang Ujang kesel kalau nyupirin si nyonya keluarga Mukti yang sok pamer kekayaan pada hal tidak ada seupil pun kekayaan mereka dibandingkan keluarga lain.


"Nyonya kita sudah sampai"


Mang Ujang membukakan pintu mobil untuk nona nya.


"Loh kok bukan pintu sebelah ku Ujang!"


"Maaf nyonya, kata tuan dahulukan penerus"


"Penerus apa? itu Arindi loh bukan Lisa, ngerti kamu!"


"Maaf nyonya"


Rindi terdiam, kata-kata itu meski di tujukan pada Ujang namun hati nya sakit. Ya dia memang anak kedua dan bukan pemegang kendali ahli waris untuk perusahaan ayah nya. Dia juga tidak di ijinkan untuk berpartisipasi dalam acara pekerjaan apa pun. Diberi tunjangan pun sudah bersyukur.


"Mah kapan kita belanja nya?"


"Oh iya mamah lupa, ayo kita masuk!"


Melina menarik Rindi masuk ke sebuah pusat perbelanjaan yang mewah, megah lagi terbesar di negara Z.


"Mall ini sangat besar ya?"


"Iya, kenapa memang nya mah?"


"Andaikan kakak mu bisa menikah dengan pewaris dari keluarga besar Alkatiri pasti ini jadi milik kita"


Rindi hanya menanggapi perkataan wanita paruh baya disebelah nya itu dengan merotasikan bola mata nya. Jujur jengah dengan cita-cita mereka menjadi orang kaya. Rindi juga tidak lagi mendengarkan perkataan konyol yang terlontar dari mulut wanita itu.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2