
Rei larut dalam pikiran nya, dia terhipnotis dengan dunia khayalan mengenang masa lampau saat bersama sang kekasih Queena.
"Queena, jangan tinggalkan aku"
Rei nampak tergeletak tertidur di sofa dengan lelap nya. Pagi menjelang, suara kicau burung sangat merdu angin pagi terasa segera masuk melalui pori-pori jendela.
"Eenngghhh............"
Badan Rei terasa ringan, segar bahkan sangat senang, lelaki matang itu tersenyum mungkin efek bermimpi bertemu kekasih hati yang selalu ada di lubuk hati nya.
"Kemana gadis itu?"
Rei mencari sekitar kamar nya, tak menemukan batang hidung nya istri kecil nya memang susah diatur pikir nya.
Klek.
Rei yang berniat mandi menganga, melihat tubuh pucat seorang gadis dikamar mandi yang sudah lemah tak berdaya.
Deg.......
Sungguh Rei tak ingat jika diri nya semenjak sore merendam gadis itu. Rei segera membopong istri nya, membuka semua pakaian gadis itu lantas menyelimuti nya dengan tebal. Rei meraba tubuh gadis itu sudah dingin sedingin mayat, Rei panik dia keluar setelah menyelimuti istri nya dengan selimut tebal dan menyalakan pemanas.
Rei menelpon dokter pribadi nya, dia segera menggosok tangan serta kaki gadis itu dengan minyak penghangat.
"Kenapa aku bisa lupa? ya Tuhan apa yang ku lakukan kenapa di tidak bersuara sama sekali"
Rei memanggil James untuk membuatkan air hangat, Rei segera mengompres nya ke tubuh Min.
"Tuan, nyonya sakit apa?"
"Diam lah"
Tok....tok.....tok.
Dokter datang lalu Rei menyuruh semua pelayan nya itu untuk keluar.
"Bagaimana dok?"
"Kenapa dia seperti ini?"
Rei terdiam, ini semua salah nya yang menghukum gadis itu.
"Obati saja jika masih bisa?"
"Baik lah"
Dokter segera memberikan suntikan untuk pereda demam nya. Lantas memasang cairan infus, dan memasukan obat melalui infus tersebut. Lalu juga memasang alat bantu pernafasan untuk Min karena takut nafas nya sesak.
"Biarkan jendela terbuka, tidak usah menyalakan penghangat cukup dengan selimut tebal saja"
Rei menganggukkan kepala nya, seraya dokter pun pergi ke lantai bawah mereka menunggu nya karena itu dokter pribadi yang mengurus keluarga Aryandy.
20 menit berlalu baru lah tubuh Min berangsur tidak sedingin tadi, tubuh yang sedingin es kini mulai hangat.
__ADS_1
Dokter kembali setelah 30 menit memberi infus tadi, memeriksa Min tentang denyut nadi, juga pernafasan dan suhu tubuh nya.
"Bagaimana dokter?"
"Dia segera sembuh hanya lemas dan juga pingsan karena kedinginan"
Rei mengangguk.
"Kalau begitu kami kembali dulu"
"Baik"
"Jika ada apa pun yang terjadi lagi tuan tolong hubungi kami"
"Baik lah, dokter"
'Huhft, bikin kaget saja nyata nya tidak ada apa pun!'
Gumam Rei dalam hati, Rei menempelkan telapak tangan nya di kening Min gadis itu suhu badan nya sudah normal.
"Areta jaga nyonya mu"
"Baik tuan"
Rei berjalan menuju meja makan untuk melahap makan siang nya yang cukup terlambat karena sekarang sudah pukul 2 siang.
"Tunggui nyonya, aku mau ke ruang kerja dulu"
"Baik tuan"
"Kalian pulang lah, besok sampai bertemu di kantor"
"Baik tuan muda"
Kedua nya berlalu menuju tempat tinggal masing-masing.
Tok.....tok.....tok.
"Masuk!"
"Tuan, nyonya sudah siuman"
"Beri makan bubur hangat, dan suruh minum obat"
"Baik tuan"
Rei segera bergegas menyelesaikan pekerjaan nya yang menumpuk itu, agar segera bisa mendatangi istri nya.
Klek.
Rei kembali sekitar jam 9 malam, seperti biasa gadis itu sudah tertidur disebelah kiri nya nampak memunggungi tempat tidur yang tersisa untuk Rei.
Rei memperhatikan punggung kecil dan tubuh langsing milik istri gadis nya, rambut hitam panjang. Jika di peluk mungkin hanya seperti guling kecil saja.
__ADS_1
'Apa dia sudah tertidur?'
Gumam Rei dalam hati.
Rei pergi ke kamar mandi dahulu lalu setelah nya tidur disisi kanan istri nya. Sejak tadi Min tidak tidur dia hanya diam, ditambah seluruh tubuh nya masih lemas juga kepalanya yang agak pusing.
'Terserah lah, aku tidak peduli'
Gumam Min, sejak sore tadi Min menangis di kamar mandi namun lelaki itu tak kunjung datang melepaskan ikatan nya. Min berteriak, tapi tak ada jawaban sama sekali, hingga tubuh nya menggigil dan entah kapan dia terbaring di ranjang besar milik lelaki itu.
'Dia sudah tidur dengan nyenyak'
Ucap Min dalam hati.
Tenggorokan Min terasa kering namun tidak ada air di sisi tempat tidur. Min terbangun meski sedikit sempoyongan, dia turun ke bawah menggunakan lift. Min menuju dapur menyalakan lampu dapur, tiba-tiba juga perut nya lapar. Min membuat mie instan, membuat jus melon dengan sedikit campuran air lemon. Min makan dengan lahap, juga minum jus 2 gelas lalu menyimpan dalam botol kaca dan membawanya ke kamar.
'Aku sudah tidak bisa tidur'
Min menuju balkon kamar, meski angin malam agak dingin tapi Min memakai pakaian tebal.
'Mamah, Min rindu pada mu'
Air mata Min menetes membasahi kedua pipi mulus nya. Bibir nya bergetar, dengan segera Min menutup mulut nya. Saat ini, dia sungguh rindu sang mamah, rindu elusan tangan nya, rindu pelukan nya. Seumur hidup Min baru sekarang jauh dari mamah, Min mengeluarkan Isak tangis nya meski lirih. Menahan sesak yang menghimpit dada nya saat ini.
"Apa kau menangis?"
Min kaget dengan suara familiar itu, Min menoleh benar lelaki tinggi dan tegap itu bersandar di dinding tak jauh dari diri nya berdiri.
"Cengeng sekali, baru sakit seperti itu sudah cengeng, di mandikan air dingin saja pingsan!"
Rei tersenyum mengejek.
"Maaf saya mau tidur dulu, tuan"
Min berlalu tanpa menggubris perkataan Rei, lalu Min merebahkan diri nya di sofa dan memejamkan mata nya.
"Kau tidak boleh tidur di sofa, itu tempat tidur mu"
Rei menunjuk lantai yang sudah dialasi kasur tipis dan selimut. Min tanpa banyak bicara segera pindah ke kasur lantai tipis itu.
"Heh, menurut sekali"
Ucap Rei, namun Min segera memejamkan mata nya. Dia tidak ambil pusing dengan perkataan apa pun. Rei melirik gadis yang merebahkan diri nya dan membalut nya dengan selimut tebal nya itu.
"Apa dia sudah tidur?"
Rei membuka lemari pendingin yang ada dikamar nya itu. Rei terkejut karena ada jus melon disana.
"Siapa yang membuat jus melon ini?"
Rei menatap tubuh langsing itu kembali yang tergeletak di lantai.
"Tidak mungkin dia kan?"
__ADS_1
Rei mengambil segelas karena sudah dingin. Terasa wangi melon, tidak terlalu manis lagi ada rasa segar lemon juga di dalam tenggorokan nya. Hingga tinggal setengah yang tersisa karena Rei minum. Rei kembali ke ranjang nya untuk tidur dan melalui malam ini.
BERSAMBUNG.